FESyar Sumatera 2026 di Palembang memperkuat ekonomi syariah lewat digitalisasi, sinergi, dan transformasi. Acara ini mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. [654] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan resmi membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2026 di Palembang, Jumat (5/6). Mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, FESyar menjadi ajang strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah regional sekaligus rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, potensi ekonomi syariah global terus menunjukkan tren yang positif. Pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diprakirakan tetap kuat pada tahun 2025-2026, didukung oleh meningkatnya permintaan produk halal serta berkembangnya industri halal dunia. Di sisi lain, aset industri keuangan syariah global juga terus meningkat dan diproyeksikan mencapai sekitar USD9,72 triliun pada tahun 2029.
Lebih lanjut, Destry menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi syariah global. Khusus di Sumatera Selatan, dengan jumlah penduduk muslim mencapai sekitar 7,72 juta jiwa atau 97,22% dari total penduduk, terdapat modal sosial dan pasar yang sangat besar untuk mengembangkan berbagai sektor ekonomi syariah, mulai dari industri halal, keuangan syariah, pemberdayaan pesantren, hingga pengembangan zakat dan wakaf produktif. Menurutnya, FESyar hadir bukan hanya sebagai ajang pameran, melainkan sebagai wadah implementasi kebijakan yang mempertemukan pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pesantren, pemerintah, regulator, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang terintegrasi. "FESyar bukan sekadar pameran, melainkan wadah implementasi kebijakan yang mempertemukan pelaku usaha, pembiayaan, pasar, pesantren, dan masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi," ujar Destry.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sumatera Selatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan FESyar Sumatera 2026. Menurutnya, penyelenggaraan FESyar merupakan bukti nyata sinergi dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah di daerah. Herman Deru juga menegaskan bahwa berbagai program unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, seperti 100.000 Sultan Muda dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Goes to Pesantren, sejalan dengan upaya membangun generasi muda dan pondok pesantren yang mandiri, produktif, inovatif, dan berdaya saing.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai rangkaian kegiatan dalam FESyar Sumatera 2026 yang berlangsung pada 5–7 Juni 2026 dengan tiga pilar utama, yaitu Sharia Fair, Sharia Education, dan Sharia Economic Forum. Berbagai kegiatan diselenggarakan mulai dari pameran produk halal, business matching, seminar, pelatihan, kompetisi ekonomi syariah, hingga edukasi publik. Sebanyak 73 brand UMKM dari 13 Kantor Perwakilan Bank Indonesia di wilayah Sumatera turut berpartisipasi dalam Halal Mart guna memperluas akses pasar produk halal unggulan daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menyampaikan bahwa FESyar 2026 difokuskan pada penguatan ekosistem halal, perluasan akses keuangan syariah, serta peningkatan literasi ekonomi syariah masyarakat. Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah memerlukan kolaborasi lintas sektor dan dukungan transformasi digital agar semakin adaptif, inklusif, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Bambang menambahkan bahwa pengembangan ekonomi syariah tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, khususnya melalui Program 100.000 Sultan Muda. Oleh karena itu, berbagai rangkaian kegiatan dalam FESyar Sumatera 2026 diharapkan mampu melahirkan lebih banyak wirausahawan muda dan sultan muda yang berdaya saing, inovatif, serta menjunjung tinggi nilai-nilai ekonomi syariah.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah di daerah, Bank Indonesia juga terus mendorong replikasi tiga model bisnis unggulan Sumatera Selatan, yakni PESAT untuk penguatan ekonomi pesantren berbasis pangan, UNGGUL untuk optimalisasi wakaf produktif komoditas unggulan daerah, dan BERKAH untuk akselerasi sertifikasi halal serta pengembangan pariwisata ramah muslim.
Melalui penyelenggaraan FESyar Sumatera 2026, diharapkan kapasitas UMKM dan pesantren semakin meningkat, akses pembiayaan syariah semakin luas, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan semakin kuat, sehingga ekonomi dan keuangan syariah dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Informasi lebih lanjut mengenai rangkaian kegiatan FESyar Regional Sumatera 2026 dapat diperoleh melalui akun Instagram @bank_indonesia_sumsel.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah melalui penguatan peran pesantren, optimalisasi wakaf produktif, serta pembinaan dan percepatan sertifikasi halal.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan BI menggelar Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (FESyar) di berbagai wilayah di Indonesia untuk mendorong penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk peningkatan kapasitas UMKM dan generasi muda.
"Ekonomi dan keuangan syariah merupakan salah satu pilar penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional," ujarnya saat membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2026 di Palembang, sebagaimana keterangan resmi BI yang diterima di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Dalam FESyar Sumatera 2026, kata Destry, BI menghadirkan program unggulan, yakni Pesantren Sejahtera Terakselerasi (Pesat), Upaya Nasionalisasi Gerakan Wakaf untuk Komoditas Unggulan (Unggul), serta Bina dan Percepat Sertifikasi Halal untuk Pariwisata (Berkah).
Melalui program Pesat, BI mendorong penguatan peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sementara itu, program Unggul difokuskan untuk mengoptimalkan pemanfaatan wakaf guna mendukung pengembangan komoditas unggulan daerah.
Adapun program Berkah diarahkan pada pembinaan guna mempercepat sertifikasi halal sektor pariwisata sehingga dapat meningkatkan daya saing industri halal.
Program-program tersebut diperkenalkan dalam penyelenggaraan FESyar Sumatera 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
"Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) yang inklusif dan berkelanjutan ditujukan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah, meningkatkan daya saing eksyar Indonesia, serta mendukung terwujudnya visi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia," kata dia.
KalaFest 2026 di Kaltim genjot pembiayaan Rp3,29 miliar ke 20 UMKM syariah, didukung 7 lembaga keuangan, untuk mempermudah akses modal dan edukasi keuangan. [296] url asal
Bisnis.com, SAMARINDA — Aksesibilitas permodalan bagi pelaku usaha mikro berbasis syariah di Kalimantan Timur memperoleh terobosan konkret melalui penyelenggaraan Kaltim Halal Festival (KalaFest) 2026.
Dalam rentang tiga hari, sebanyak 20 pelaku UMKM syariah berhasil meraih pembiayaan senilai Rp3,29 miliar dari tujuh lembaga keuangan syariah yang terlibat dalam program Business Matching dan Edukasi serta Literasi Keuangan UMKM (BIMA ETAM).
Capaian pembiayaan tersebut menjadi sorotan utama dari rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia yang digelar di dua lokasi, yaotu Islamic Center Samarinda dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto menyatakan skema pertemuan langsung antara pelaku usaha dan penyandang dana ini dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi UMKM dalam mengakses modal produktif.
"Total pengunjung KalaFest 2026 mencapai lebih dari 24.815 orang dan menjangkau lebih dari 702.483 audiens melalui platform digital," ujarnya acara penutupan di Islamic Center Samarinda, Minggu (10/5/2026).
Dia menambahkan, program BIMA ETAM yang bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim-Kaltara ini menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha syariah untuk berhadapan langsung dengan tujuh lembaga pembiayaan.
Di luar skema pembiayaan, KalaFest 2026 juga menggelar Gerakan Pangan Murah serentak di tujuh wilayah a.l Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Bontang, Berau, dan Mahakam Ulu yang melibatkan puluhan UMKM dengan total transaksi mencapai Rp670,03 juta.
Tak pelak, langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada instrumen keuangan, tetapi juga menyasar pasar riil yang langsung dirasakan masyarakat.
Festival ini mengusung tiga tema strategis, pembiayaan dan keuangan sosial syariah, halal lifestyle, serta digitalisasi, literasi, dan edukasi ekonomi syariah.
Adapun, Bayu menuturkan ketiga pilar tersebut dirancang untuk memberdayakan, memperkuat, serta mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis nilai Islam di Benua Etam.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) kembali menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) untuk ke-12 kalinya pada 2025. Dalam momentum muhasabah, BI menilai ekonomi dan keuangan syariah Indonesia terus berkembang pesat hingga kini menempati posisi tiga besar dunia. Ke depan, BI menargetkan Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah nomor satu di dunia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, industri ekonomi dan keuangan syariah terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu pendorongnya adalah konsistensi penyelenggaraan ISEF setiap tahun sebagai ajang sinergi dan edukasi publik.
“BI, para stakeholder, bersama masyarakat secara berjamaah terus mendorong Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah global,” kata Perry dalam Pembukaan ISEF 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/10/2025) lalu.
Perry menuturkan, ISEF pertama kali digelar pada 2014 dan kini menjadi festival ekonomi syariah terbesar di dunia. Selama 12 tahun, ISEF berkontribusi besar terhadap pengembangan halal value chain, zakat, infak, sedekah, wakaf (ziswaf), serta ekonomi pesantren.
“Dua belas tahun lalu kita tidak tahu apa-apa. Sekarang Alhamdulillah, Indonesia naik dari peringkat 10 ke 3 ekonomi syariah global dalam 10 tahun. Insya Allah, ini dicatat sebagai amal jariyah kita bersama,” ujarnya.
Perry menjelaskan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, ekonomi dan keuangan syariah menjadi salah satu strategi utama untuk mendorong Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah global. BI pun mengembangkan tiga pilar utama, yakni halal value chain berkelanjutan, optimalisasi blended finance ziswaf, serta akselerasi digitalisasi syariah.
“BI berkomitmen memperkuat sinergitas jamaah agar ekonomi syariah kita terus maju dan memberi manfaat bagi umat. ISEF menjadi bukti kepemimpinan Indonesia di level internasional,” tegas Perry.
Dalam kesempatan itu, Perry meminta arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait empat agenda strategis ISEF tahun ini: peluncuran Master Plan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) 2025–2029, sinergi pusat-daerah, peningkatan investasi melalui sukuk dan operasi moneter syariah, serta peluncuran database ziswaf terintegrasi.
“Dalam ISEF ke-12 ini, niat kita adalah terus berjamaah dan berbuat kebaikan agar ekonomi syariah semakin berdaya,” ujarnya.
ISEF 2025 menjadi puncak rangkaian kegiatan yang dimulai sejak Juni 2025 melalui Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di tiga kawasan, yakni Sumatra (Lampung), Kalimantan Barat, dan Jawa Timur. Festival ini berlangsung lima hari, 8–12 Oktober 2025, menampilkan ratusan pelaku UMKM syariah, pameran produk halal, serta modest fashion show yang menghadirkan 11 desainer internasional dan lebih dari 1.000 karya nasional.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56