Pemerintah menetapkan 430 cagar budaya baru hingga 2026 untuk mempercepat perlindungan warisan budaya, meningkatkan jumlah total menjadi 743 objek. [282] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak 430 warisan budaya baru ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional hingga pertengahan 2026, di tengah tekanan pembangunan yang mengancam keberadaan berbagai situs bersejarah di daerah.
Penambahan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat perlindungan aset budaya yang belum seluruhnya memiliki status hukum.
Dengan tambahan itu, jumlah Cagar Budaya Peringkat Nasional kini mencapai 743 objek. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 1.750 objek pada 2026.
Objek yang ditetapkan berasal dari berbagai sumber. Selain usulan pemerintah daerah, terdapat pula koleksi Museum Nasional Indonesia dan benda budaya hasil repatriasi dari luar negeri.
Hingga Mei 2026, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah menerima 876 usulan penetapan. Usulan tersebut mencakup situs arkeologi, bangunan bersejarah, prasasti, fosil manusia purba, hingga koleksi museum.
Seluruh usulan harus melalui proses kajian sebelum ditetapkan. Tim ahli menilai nilai sejarah, tingkat keaslian, keterkaitan dengan peristiwa penting, serta signifikansinya bagi perkembangan peradaban Indonesia.
Pada tahap awal, sejumlah objek strategis telah direkomendasikan, antara lain fosil Homo erectus, Situs Gua Metaduno, Masjid Agung Banten, Rante Pallawa, dan Prasasti Canggal.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan menekankan bahwa penetapan cagar budaya menjadi dasar penguatan pelindungan sekaligus membuka peluang pengakuan global.
"Kalau situs cagar budaya memiliki nilai signifikan maka kita bisa usulkan jadi warisan budaya dunia," kata Restu.
Dia menjelaskan bahwa status cagar budaya peringkat nasional merupakan tahapan penting menuju pengakuan internasional serta memperkuat posisi Indonesia dalam proses nominasi global.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan percepatan penetapan merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga warisan budaya bangsa. Menurut dia, penambahan jumlah tersebut akan memperkuat daftar aset budaya yang tersebar di berbagai daerah.
"Penambahan yang signifikan ini akan memperkuat daftar kekayaan budaya dan aset budaya nasional yang tersebar di berbagai daerah," ujarnya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam teori evolusi, para ahli meyakini manusia modern tidaklah muncul begitu saja. Ada proses panjang perubahan bentuk tubuh hingga kognitif sejak manusia purba hingga melahirkan wujud yang kita kenal sekarang. Namun, dari peralihan bentuk primitif ke modern, sempat ada mata rantai yang hilang atau disebut missing link.
Kekosongan inilah yang memantik para ilmuwan dunia melakukan pencarian. Jika berhasil ditemukan, temuan itu ibarat harta karun yang mampu mengubah sejarah pemahaman evolusi manusia. Atas dasar inilah Eugène Dubois, seorang dokter anatomi di Universitas Amsterdam, Belanda memutuskan berhenti dari pekerjaannya demi berburu tulang-belulang manusia purba.
Dalam buku Mereka Menemukan Pulau Jawa (1990), kisah Dubois diceritakan penuh lika-liku. Dia hanya berbekal satu petunjuk, yakni wilayah tropis adalah tempat hunian manusia purba. Namun, tak diketahui di mana titik tepatnya tempat manusia purba itu.
Berbekal petunjuk penemuan manusia purba di daerah tropis bernama Hindia Belanda (kini Indonesia), dia memutuskan berangkat pada 1887 ke Hindia Belanda. Dia ditugaskan pemerintah kolonial Belanda sebagai dokter militer di Payakumbuh, Sumatra Barat. Di sana Dubois perlahan mulai menelusuri gua-gua, menggali tanah, hingga menemukan gigi geraham yang kelak diketahui sebagai fosil Homo sapiens berusia 63 ribu-73 ribu tahun.
Di tengah jalan, perhatian Dubois kemudian beralih ke Jawa setelah mendengar laporan penemuan tengkorak manusia purba di Tulungagung oleh B.D. van Rietschoten pada 1889. Pada 1890, dia pun memindahkan riset ke Jawa dan melakukan penggalian di Campurdarat hingga berhasil menemukan fragmen tengkorak.
Pencarian berlanjut hingga ke Kedungbrubus dan Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Berdasarkan laporan warga mengenai penemuan tulang-tulang, Dubois melakukan penggalian intensif. Setelah berbulan-bulan bekerja dengan dua rekannya dari Belanda serta puluhan pekerja lokal, akhirnya pada 1891 dia menemukan fosil penting: bagian tengkorak, tulang paha, dan beberapa bagian rangka.
Foto: Tengkorak Yunxian 2 di Museum Provinsi Hubei. (Dok. Museum Provinsi Hubei) Tengkorak Yunxian 2 di Museum Provinsi Hubei. (Dok. Museum Provinsi Hubei)
Arkeolog Harry Truman Simanjuntak dalam Manusia-manusia dan Peradaban Indonesia (2020) menyebut penemuan ini membuat Dubois yakin telah menemukan missing link yang dicari dunia. Dia kemudian memberi nama fosil itu Pithecanthropus erectus atau "manusia kera yang berjalan tegak", yang kini dikenal sebagai Homo erectus.
Dubois mempublikasikan temuannya pada 1894 dan membawa spesimen asli kembali ke Belanda setahun kemudian. Analisis para ahli menunjukkan bahwa Homo erectus memang mewakili bentuk peralihan dari manusia primitif ke modern. Ciri-cirinya antara lain, 1) punya volume otak 750-1.300 cc atau lebih besar dari manusia purba sebelumnya, tetapi lebih kecil dari Homo sapiens, 2) dahi rendah dan menonjol, 3) rahang kuat, 4) postur tubuh sudah tegak.
Dubois kemudian membawa fosil tersebut dan ribuan jejak masa lalu lainnya ke Belanda. Sampai akhirnya, harapan untuk membawa kembali temuan Dubois muncul pada 2025 alias 134 tahun kemudian.
Repatriasi "Manusia Jawa"
Pada akhir September lalu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan menandatangani serah terima dari Pemerintah Belanda berupa 28.000 artefak fosil hasil temuan Eugène Dubois di Trinil pada 1891-1892. Proses repatriasi ini telah dilakukan tim Kementerian Kebudayaan sejak awal 2025.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kepulangan koleksi Dubois sebagai upaya menyatukan kembali serpihan sejarah yang hilang, sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan bangsa dengan peradaban tua.
"Dengan kepulangan dari koleksi Dubois, kita menyatukan kembali serpihan sejarah yang hilang itu, dan kita membalikkan memori itu ke tempat asalnya, ke dalam kesadaran kolektif kita sebagai bangsa. Bahwa kita ini adalah bangsa yang merupakan bangsa peradaban tua. Bukan bangsa kemarin sore, tapi kita ini bangsa peradaban tua," ungkap Fadli di Museum Nasional, Kamis (2/10/2025).
Fadli mengungkap pengembalian fosil diharapkan mulai dilakukan pada akhir tahun ini, terutama koleksi-koleksi masterpiece yang akan didahulukan. Nantinya, seluruh artefak tersebut akan dipamerkan di Museum Nasional dengan ruangan khusus yang sesuai, mengingat penyimpanannya harus menyesuaikan dengan standar teknis tertentu.
Dia juga memastikan Indonesia sudah siap dan tidak kalah dari Belanda dalam merawat koleksi Dubois.
"Mereka memang termasuk sangat serius di dalam merawat dan memperlakukan artefak fosil-fosil tersebut. Jadi kita juga akan melakukan tentu saja hal yang sama," ucapnya.
Bila sudah tiba di tanah air, Fadli berencana membentuk satu pusat data dan riset yang akan dikerjakan bersama berbagai lembaga penelitian, termasuk BRIN. Tujuannya agar museum tak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi pusat narasi kebudayaan.
(mfa/mfa)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56