Penelitian baru menemukan spesies Homo Juluensis di China, dengan ciri mirip Neanderthal dan manusia modern. Fosil ini menambah pemahaman tentang hominin purba. [303] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan spesies Homo Juluensis atau kepala besar di Xujiayao China Utara. Fosil itu memiliki tengkorak berukuran besar dan lebar, sedangkan fitur lainnya disebut mirip dengan Neanderthal serta memiliki ciri-ciri seperti manusia modern dan Denisovan.
Temuan ini diterbitkan Mei 2024 oleh Christopher Bae dari Universitas Hawai'i dan Xiuju Wu dari Institut Paleontologi Vertebrata.
"Fosil ini menjadi bentuk baru hominin berotak besar (Juluren) yang tersebar luas di sebagian besar Asia timur pada kuartal akhir (300 ribu-500 ribu tahun lalu)," tulis studi itu, dikutip dari Live Science, Sabtu (15/11/2025).
Juluensis merupakan fosil dari 220 ribu hingga 100 ribu tahun lalu. Studi Bae dan Wu bukanlah yang pertama menemukannya.
Sebelumnya temuan serupa pernah terungkap pada 1974 di Xujiayao. Saat itu ditemukan 10 ribu artefak baru dan 21 fragmen fosil hominin mewakili 10 individu berbeda.
Fitur yang ditemukan saat itu mirip dengan yang dituliskan Bae dan Wu. Misalnya fitur otak besar, tengkorak tebal, serta memiliki kemiripan dengan Neanderthal.
Kemiripan itu kemungkinan karena Juluensis tidak terisolasi secara genetik. Spesies itu adalah hasil perkawinan sejumlah hominin lain dari Plesitosen Tengah termasuk Neanderthal.
"Mereka mewakili populasi hominin baru untuk wilayah itu, juluren artinya manusia kepala besar," tulis keduanya.
Keduanya juga menjelaskan perlu adanya terminologi baru soal Homo Purba. Yakni dengan membagi empat spesies menjadi H. floresiensis, H. luzonensis, H. longi, dan H. juluensis.
Studi baru menunjukkan manusia mungkin berevolusi lebih awal dari yang diperkirakan, dengan tengkorak berusia satu juta tahun yang ditemukan di Asia. [481] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Ternyata sejarah manusia berbeda dari teori-teori sebelumnya yang pernah ada. Hal ini terbukti dari rekonstruksi digital tengkorak berusia sekitar satu juta tahun lalu.
Studi baru menunjukkan manusia mungkin telah berevolusi dari nenek moyangnya 400.000 tahun lebih awal dari perkiraan, dan bukan di Afrika melainkan di Asia.
Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science ini didasarkan pada tengkorak yang ditemukan pada 1990 dan diberi label Yunxian 2.
Sebelumnya, fosil tersebut diyakini sebagai Homo erectus. Namun, berkat teknologi rekonstruksi modern seperti CT scan, pencitraan cahaya terstruktur, dan rekonstruksi virtual, para ilmuwan menemukan ciri-ciri yang lebih mirip Homo longi dan Homo sapiens.
"Temuan ini mengubah banyak pemikiran," kata Chris Stringer, antropolog dari Natural History Museum, London, yang turut terlibat dalam riset ini, dikutip dari CBS News, Minggu (19/10/2025).
"Hal ini menunjukkan bahwa sekitar satu juta tahun lalu, leluhur kita sudah terbagi ke dalam kelompok yang berbeda-beda, menandakan perpecahan evolusi manusia terjadi jauh lebih awal dan lebih kompleks daripada yang selama ini diyakini," tambahnya.
Xijun Ni, profesor di Universitas Fudan yang memimpin penelitian, mengaku terkejut. "Sejak awal kami sulit percaya, bagaimana mungkin ini terjadi jauh di masa lalu? Tapi kami menguji ulang semua model dan metode, dan kini kami yakin dengan hasilnya. Kami sangat bersemangat," ujarnya.
Para peneliti menilai, jika temuan ini benar, kemungkinan ada nenek moyang awal dari kelompok lain seperti Neanderthal dan Homo sapiens yang sudah ada lebih dini. Hal ini juga menantang teori lama bahwa manusia purba hanya menyebar dari Afrika.
"Ini bisa menjadi perubahan besar. Asia Timur kini berperan penting dalam evolusi hominin," kata Michael Petraglia, Direktur Pusat Penelitian Evolusi Manusia di Griffith University, Australia, yang tidak terlibat dalam studi.
Untuk memverifikasi, tim membandingkan model Yunxian 2 dengan lebih dari 100 spesimen lain. Hasilnya menunjukkan kombinasi ciri unik: bagian wajah bawah yang menonjol mirip Homo erectus, sementara kapasitas otak yang lebih besar mendekati Homo longi dan Homo sapiens.
Meski demikian, sejumlah pakar masih meragukan kesimpulan ini. Arkeolog Andy Herries dari La Trobe University menilai bentuk fosil tidak selalu mencerminkan riwayat genetik evolusi manusia.
Aylwyn Scally, ahli genetika evolusi dari Universitas Cambridge, menekankan perlunya bukti tambahan, terutama dari data genetik, sebelum hasil ini bisa dipastikan.
Penelitian ini menambah daftar temuan terbaru yang memperumit pemahaman kita tentang asal-usul manusia. Homo longi, atau dikenal sebagai "Manusia Naga", baru ditetapkan sebagai spesies baru pada 2021 oleh tim yang juga melibatkan Stringer.
"Fosil seperti Yunxian 2 menunjukkan betapa banyak hal yang masih harus kita pelajari tentang asal-usul kita," kata Stringer.
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam teori evolusi, para ahli meyakini manusia modern tidaklah muncul begitu saja. Ada proses panjang perubahan bentuk tubuh hingga kognitif sejak manusia purba hingga melahirkan wujud yang kita kenal sekarang. Namun, dari peralihan bentuk primitif ke modern, sempat ada mata rantai yang hilang atau disebut missing link.
Kekosongan inilah yang memantik para ilmuwan dunia melakukan pencarian. Jika berhasil ditemukan, temuan itu ibarat harta karun yang mampu mengubah sejarah pemahaman evolusi manusia. Atas dasar inilah Eugène Dubois, seorang dokter anatomi di Universitas Amsterdam, Belanda memutuskan berhenti dari pekerjaannya demi berburu tulang-belulang manusia purba.
Dalam buku Mereka Menemukan Pulau Jawa (1990), kisah Dubois diceritakan penuh lika-liku. Dia hanya berbekal satu petunjuk, yakni wilayah tropis adalah tempat hunian manusia purba. Namun, tak diketahui di mana titik tepatnya tempat manusia purba itu.
Berbekal petunjuk penemuan manusia purba di daerah tropis bernama Hindia Belanda (kini Indonesia), dia memutuskan berangkat pada 1887 ke Hindia Belanda. Dia ditugaskan pemerintah kolonial Belanda sebagai dokter militer di Payakumbuh, Sumatra Barat. Di sana Dubois perlahan mulai menelusuri gua-gua, menggali tanah, hingga menemukan gigi geraham yang kelak diketahui sebagai fosil Homo sapiens berusia 63 ribu-73 ribu tahun.
Di tengah jalan, perhatian Dubois kemudian beralih ke Jawa setelah mendengar laporan penemuan tengkorak manusia purba di Tulungagung oleh B.D. van Rietschoten pada 1889. Pada 1890, dia pun memindahkan riset ke Jawa dan melakukan penggalian di Campurdarat hingga berhasil menemukan fragmen tengkorak.
Pencarian berlanjut hingga ke Kedungbrubus dan Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Berdasarkan laporan warga mengenai penemuan tulang-tulang, Dubois melakukan penggalian intensif. Setelah berbulan-bulan bekerja dengan dua rekannya dari Belanda serta puluhan pekerja lokal, akhirnya pada 1891 dia menemukan fosil penting: bagian tengkorak, tulang paha, dan beberapa bagian rangka.
Foto: Tengkorak Yunxian 2 di Museum Provinsi Hubei. (Dok. Museum Provinsi Hubei) Tengkorak Yunxian 2 di Museum Provinsi Hubei. (Dok. Museum Provinsi Hubei)
Arkeolog Harry Truman Simanjuntak dalam Manusia-manusia dan Peradaban Indonesia (2020) menyebut penemuan ini membuat Dubois yakin telah menemukan missing link yang dicari dunia. Dia kemudian memberi nama fosil itu Pithecanthropus erectus atau "manusia kera yang berjalan tegak", yang kini dikenal sebagai Homo erectus.
Dubois mempublikasikan temuannya pada 1894 dan membawa spesimen asli kembali ke Belanda setahun kemudian. Analisis para ahli menunjukkan bahwa Homo erectus memang mewakili bentuk peralihan dari manusia primitif ke modern. Ciri-cirinya antara lain, 1) punya volume otak 750-1.300 cc atau lebih besar dari manusia purba sebelumnya, tetapi lebih kecil dari Homo sapiens, 2) dahi rendah dan menonjol, 3) rahang kuat, 4) postur tubuh sudah tegak.
Dubois kemudian membawa fosil tersebut dan ribuan jejak masa lalu lainnya ke Belanda. Sampai akhirnya, harapan untuk membawa kembali temuan Dubois muncul pada 2025 alias 134 tahun kemudian.
Repatriasi "Manusia Jawa"
Pada akhir September lalu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan menandatangani serah terima dari Pemerintah Belanda berupa 28.000 artefak fosil hasil temuan Eugène Dubois di Trinil pada 1891-1892. Proses repatriasi ini telah dilakukan tim Kementerian Kebudayaan sejak awal 2025.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kepulangan koleksi Dubois sebagai upaya menyatukan kembali serpihan sejarah yang hilang, sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan bangsa dengan peradaban tua.
"Dengan kepulangan dari koleksi Dubois, kita menyatukan kembali serpihan sejarah yang hilang itu, dan kita membalikkan memori itu ke tempat asalnya, ke dalam kesadaran kolektif kita sebagai bangsa. Bahwa kita ini adalah bangsa yang merupakan bangsa peradaban tua. Bukan bangsa kemarin sore, tapi kita ini bangsa peradaban tua," ungkap Fadli di Museum Nasional, Kamis (2/10/2025).
Fadli mengungkap pengembalian fosil diharapkan mulai dilakukan pada akhir tahun ini, terutama koleksi-koleksi masterpiece yang akan didahulukan. Nantinya, seluruh artefak tersebut akan dipamerkan di Museum Nasional dengan ruangan khusus yang sesuai, mengingat penyimpanannya harus menyesuaikan dengan standar teknis tertentu.
Dia juga memastikan Indonesia sudah siap dan tidak kalah dari Belanda dalam merawat koleksi Dubois.
"Mereka memang termasuk sangat serius di dalam merawat dan memperlakukan artefak fosil-fosil tersebut. Jadi kita juga akan melakukan tentu saja hal yang sama," ucapnya.
Bila sudah tiba di tanah air, Fadli berencana membentuk satu pusat data dan riset yang akan dikerjakan bersama berbagai lembaga penelitian, termasuk BRIN. Tujuannya agar museum tak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi pusat narasi kebudayaan.
(mfa/mfa)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56