Bisnis.com, JAKARTA — Gejala super flu terbilang mirip dengan gejala flu biasa dan Covid-19. Namun, Dokter Spesialis Anak Eka Hospital Cibubur Meisy Grania Amalinda Salekede menyebut, tetap ada perbedaan yang bisa diperhatikan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini.
Flu biasa umumnya bersifat ringan dengan demam yang tidak terlalu tinggi dan sembuh dalam hitungan hari.
Sementara itu, Covid-19 seringkali memiliki masa inkubasi yang lebih lama dan gejala yang sangat bervariasi, mulai dari gangguan indra penciuman hingga sesak napas yang khas.
Di sisi lain, Super Flu (H3N2) dikenal karena kecepatan serangannya. Jika flu biasa berkembang perlahan, super flu bisa membuat seseorang terlihat sehat di pagi hari, lalu demam berat di sore hari.
“Rasa nyeri otot pada super flu juga biasanya jauh lebih intens dibandingkan flu biasa,” ujar Meisy dalam keterangannya, dikutip Bisnis, Jumat (30/1/2026).
Lebih rinci, Meisy menerangkan bahwa mereka yang terinfeksi super flu biasanya mengalami demam tinggi secara tiba-tiba, bahkan bisa melonjak di atas 38,5 derajat Celcius dan bertahan selama beberapa hari.
Kemudian, timbul nyeri otot dan sendi yang hebat sehingga membuat penderitanya sulit beraktivitas. Pasien juga mudah lelah tubuhnya terasa sangat lemas meskipun sudah banyak beristirahat.
Lalu, timbul gejala saluran pernapasan seperti batuk kering yang intens, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat. Begitu pula dengan gejala pencernaan.
“Pada beberapa kasus, terutama pada anak-anak, super flu juga bisa disertai mual, muntah, atau diare,” tambah Meisy.
Ya, penyebarannya super flu terbilang cepat dan membuat banyak negara, termasuk di Indonesia, mewaspadai jenis flu ini. Menurut data Kemenkes, tercatat 62 kasus super flu yang terjadi hingga akhir Desember 2025 lalu.
Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi tiga provinsi penyumbang kasus terbesar. Virus ini perlu diwaspadai karena bukan hanya dapat menyerang orang dewasa tetapi juga anak-anak.
Anak-anak di bawah usia 5 tahun terbilang lebih rentan terinfeksi virus ini karena sistem imun yang masih berkembang membuat. Selanjutnya lansia di atas 65 tahun karena penurunan fungsi tubuh secara alami dan meningkatkan risiko keparahan.
Ibu hamil juga rentan lantaran perubahan hormon dan fisik selama kehamilan memengaruhi daya tahan tubuh. Penderita penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung juga menjadi sasaran virus ini.
Adapun super flu disebabkan oleh strain virus flu H3N2, subclade K, yang masih satu kategori dengan jenis flu lain yang menyebabkan demam berat. “Nama super flu sendiri didapat karena kemampuannya yang menyebar lebih cepat dari virus influenza biasa,” jelasnya.
Super flu terjadi akibat mutasi genetik virus flu H3N2 yang membuatnya lebih mudah menyerang sistem imun tubuh manusia. Penyebaran virus ini dapat terjadi melalui batuk, bersin, dan berbicara berhadapan dengan penderita.
Selain itu, menyentuh area yang terkontaminasi droplet berisi virus juga dapat membuat seseorang terkena super flu.
Agar terhindar dari infeksi virus ini, Meisy menyarankan masyarakat mendapatkan vaksin flu tahunan yang mencakup perlindungan terhadap strain H3N2. Jaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer setelah menyentuh fasilitas umum.
Gunakan masker terutama saat berada di kerumunan atau transportasi publik, mengingat penyebaran virus ini melalui droplet. Terapkan etika batuk dan bersin. “Selalu tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam untuk memutus rantai penyebaran,” imbau Meisy.