Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) memperingatkan pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah kawasan industri mulai mengganggu aktivitas produksi pabrik alas kaki berorientasi ekspor. Gangguan pasokan listrik dikhawatirkan menghambat pengiriman pesanan ke pasar global hingga menggerus kepercayaan buyer internasional.
Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, hampir seluruh anggota asosiasi di sejumlah sentra industri alas kaki melaporkan terdampak pemadaman listrik dalam dua pekan terakhir.
Menurutnya, gangguan tersebut terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Jawa Timur seperti Jombang dan Sidoarjo, Jawa Tengah, Jawa Barat meliputi Sukabumi, Cikampek, dan Karawang, hingga kawasan industri Balaraja di Banten.
"Hampir semua anggota melapor terkait pemadaman listrik," ujar Billie kepada Bisnis, Selasa (23/6/2026).
Dia menjelaskan, pemadaman listrik secara langsung mengganggu proses produksi karena pabrik terpaksa mengoperasikan generator set (genset) sebagai sumber energi alternatif.
Penggunaan genset tersebut membuat biaya operasional meningkat lantaran perusahaan harus mengonsumsi solar dalam jumlah besar. "Sementara harga solar sudah tinggi sekali," keluhnya.
Adapun dari laporan yang diterima Aprisindo, durasi pemadaman bervariasi, mulai dari dua hingga enam jam. Bahkan, terdapat usulan agar jam istirahat pekerja diperpanjang hingga tiga jam untuk menyesuaikan kondisi pasokan listrik.
Di sisi lain, gangguan pasokan listrik dinilai berpotensi menghambat penyelesaian pesanan ekspor. Pasalnya, industri alas kaki merupakan sektor yang sangat bergantung pada ketepatan waktu pengiriman kepada buyer global.
Menurut Billie, apabila pemadaman terus berlanjut dan semakin meluas, lead time atau waktu pengiriman ekspor berpotensi mundur sehingga mengganggu komitmen perusahaan terhadap pelanggan di luar negeri.
Dia menambahkan, merek-merek global memiliki standar ketepatan pengiriman yang sangat ketat. Karena itu, gangguan produksi akibat listrik padam berisiko menurunkan tingkat kepercayaan buyer terhadap pemasok dari Indonesia.
"Jadi harus menjaga kepercayaan, jangan sampai kehilangan kepercayaan dari brand atau buyer untuk pesanan dari Indonesia," tegasnya.
Menurut Billie, kondisi tersebut menjadi semakin krusial setelah kebijakan tarif impor ke Amerika Serikat berubah. Saat ini seluruh negara dikenakan tarif global yang sama sebesar 10%, sehingga faktor daya saing tidak lagi hanya ditentukan oleh tarif, melainkan juga kelancaran operasional industri.
"Kalau harga dari Vietnam dan Indonesia sama, tetapi Indonesia terkendala masalah listrik, tentu akan memberikan dampak negatif terhadap pesanan dari Indonesia," katanya.
Aprisindo memperkirakan tekanan terhadap industri alas kaki masih akan berlanjut apabila persoalan pasokan listrik tidak segera ditangani. Bahkan, dalam dua hingga tiga bulan ke depan, kinerja industri diperkirakan terus melemah apabila gangguan listrik masih berulang.
"Kalau tidak berubah dalam dua sampai tiga bulan ke depan, kondisinya akan semakin merosot," pungkas Billie.