Bisnis.com, JAKARTA — Iran disebut meninggalkan kebijakan strategic patience atau strategi menahan diri yang selama ini digunakan menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Perubahan pendekatan tersebut menandai pergeseran strategi Teheran di tengah konflik yang masih berlangsung dengan kedua negara.
Sejumlah pejabat Iran menyatakan strategi baru akan menekankan respons yang lebih tegas terhadap tekanan militer dan politik dari AS serta sekutunya di kawasan. Pergeseran ini muncul di saat ketegangan di Timur Tengah meningkat, terutama terkait kontrol jalur pelayaran energi strategis di Selat Hormuz.
Meski mengambil pendekatan yang lebih keras, pemerintah Iran menegaskan tetap membuka jalur diplomasi dengan Washington. Namun, Teheran menekankan bahwa perundingan tersebut bukan berarti menyerah pada tuntutan AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dialog dengan Washington dilakukan untuk mempertahankan hak-hak negaranya.
“Pembicaraan dengan Amerika Serikat bertujuan untuk mempertahankan hak-hak bangsa Iran, bukan untuk menyerah,” kata Pezeshkian, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Senin (11/5).
Ia menegaskan Iran tidak akan mundur dari kepentingan nasionalnya dalam proses diplomasi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Iran juga disebut mengajukan sejumlah tuntutan dalam pembicaraan dengan AS, termasuk kompensasi atas kerusakan akibat konflik serta pengakuan terhadap kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Seorang pejabat Iran mengatakan Teheran menilai jalur perairan tersebut berada dalam wilayah kedaulatan strategisnya.
“Iran menuntut kompensasi dari Amerika Serikat dan menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz,” demikian laporan yang dikutip Anadolu Agency dari sumber pemerintah Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati perairan tersebut, sehingga ketegangan di kawasan itu berpotensi memicu dampak luas terhadap pasar energi internasional.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal terbaru Washington untuk mengakhiri konflik.
Trump menyebut tanggapan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
“Iran telah bermain-main dengan Amerika Serikat dan dunia selama 47 tahun,” kata Trump dalam pernyataan di media sosial, seraya menambahkan bahwa proposal Iran sama sekali tidak dapat diterima.
Trump juga menegaskan bahwa pembongkaran program nuklir Iran tetap menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan. Pemerintah AS menilai tawaran Iran belum memenuhi tuntutan tersebut.
Sebelumnya, Trump juga memperingatkan Iran bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai. Ia bahkan mengancam akan menghancurkan mereka habis-habisan apabila negosiasi gagal.
Pergeseran Iran dari kebijakan strategic patience menuju pendekatan yang lebih tegas diperkirakan akan memengaruhi dinamika konflik di Timur Tengah ke depan, terutama terkait stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi global di Selat Hormuz.
Catatan sepekan terakhir
1 Mei 2026
AS menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang disampaikan melalui mediator. Washington menilai proposal tersebut tidak memenuhi tuntutan utama terkait pembatasan program nuklir Iran.
7–8 Mei 2026
Penasihat senior Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan Teheran mengakhiri kebijakan strategic patience, menandakan pendekatan yang lebih keras terhadap AS dan Israel.
9 Mei 2026
Laporan intelijen menyebut Mojtaba Khamenei mulai terlibat dalam penyusunan strategi perang Iran dan pendekatan negosiasi dengan Washington.
10 Mei 2026
Kepemimpinan Iran mengeluarkan arahan baru kepada militer terkait langkah menghadapi ancaman dari AS dan Israel, termasuk kesiapan respons militer yang lebih cepat.
10–11 Mei 2026
Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian terbaru AS dan menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima,” sehingga pembicaraan antara kedua pihak kembali menemui jalan buntu.