#30 tag 24jam
3 Kasus Hantavirus Positif Ditemukan di Jakarta, Pemerintah Diminta Perkuat Surveilans
Tiga kasus positif hantavirus ditemukan di Jakarta. Pemerintah diminta memperkuat surveilans dan edukasi publik untuk mencegah penularan dari tikus. [907] url asal
#hantavirus-jakarta #kasus-hantavirus #positif-hantavirus #surveilans-hantavirus #penularan-hantavirus #hantavirus-tikus #gejala-hantavirus #hantavirus-indonesia #hantavirus-penularan #hantavirus-pence
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/05/26 14:08
v/224883/
Bisnis.com, JAKARTA - Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaporkan hingga saat ini terdapat tiga kasus positif hantavirus di Jakarta. Selain itu, enam orang yang berstatus suspek masih menjalani pemantauan intensif oleh otoritas kesehatan guna memastikan perkembangan kondisi mereka.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan sampai dengan saat ini, tercatat ada tiga kasus terkonfirmasi positif dan enam kasus suspek yang masih dalam monitoring ketat oleh tenaga kesehatan terkait Hantavirus.
"Kita masih menemukan ada tiga kasus positif yang kemarin sudah saya sampaikan, tapi ada enam suspek yang masih terus kami monitor sampai dengan hari ini," kata Ani di Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Senin.
Dinkes DKI, kata dia, telah menindaklanjuti surat kewaspadaan dari Kementerian Kesehatan terhadap penyebaran penyakit Hantavirus. Surat edaran kewaspadaan pun telah disampaikan ke seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta.
Selain itu, Dinkes DKI juga telah menempatkan beberapa RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk memberikan pengawasan yang lebih ketat terhadap suspek kasus Hantavirus.
"Juga ada tim gerak cepat yang terus melakukan sistem kewaspadaan dini apabila memang ada peningkatan kasus yang cukup signifikan," ujar Ani.
Dia menyebutkan Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui tikus. Maka dari itu, masyarakat diminta agar mengenali tiga jalur utama penularan virus tersebut sehingga dapat melakukan pencegahan secara efektif.
Masyarakat diminta agar mewaspadai saat membersihkan sarang atau tempat-tempat yang dihuni banyak tikus. Ani menuturkan masyarakat perlu menerapkan protokol pola hidup bersih dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
"Harus ada kewaspadaan karena penularannya ada beberapa macam," papar Ani.
Penularan penyakit tersebut dapat melalui inhalasi aerosol dari kotoran tikus, sekresi air liur, dan kencing. Jika kotoran itu mengering dan bercampur dengan partikel udara, maka bisa terhirup oleh manusia.
"Atau dengan kontak langsung kepada sekresi tikus yang terkontaminasi Hanta atau kemudian secara langsung dengan gigitan tikus," jelas Ani.
Oleh sebab itu, saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, dipastikan ventilasi udara dalam keadaan baik. Kotoran tikus juga perlu dibersihkan setelah disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu.
"Kalau di rumah, kita bisa menggunakan pemutih, cairan pemutih yang biasa ada di rumah sebagai disinfektan sebelum dibersihkan kotorannya," ungkap Ani.
Menurut epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, keberadaan tiga kasus positif dan enam suspek hantavirus di Jakarta memang patut diwaspadai. Kendati demikian, katanya, publik tidak perlu panik dan hanya perlu mengedepankan kewaspadaan saja.
Menurut Dicky, secara epidemiologis temuan kasus hantavirus di Jakarta sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sebab, keberadaan virus ini telah dikenali sejak dekade 1990-an sehingga kemunculan kasus di Jakarta merupakan hal yang normal.
Terlebih, Jakarta memiliki sejumlah faktor yang menjadikannya lingkungan ideal bagi terjadinya spillover atau penularan penyakit dari rodensia ke manusia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk yang sangat tinggi, kualitas sanitasi yang belum merata, sistem drainase yang buruk di sejumlah wilayah, banjir yang berulang, keberadaan pasar tradisional dan gudang makanan, hingga permukiman padat.
Selain itu, perubahan iklim, peningkatan suhu, serta populasi tikus perkotaan yang tinggi—sebagai spesies yang berkaitan erat dengan hantavirus—juga dinilai memperbesar risiko penularan.
"Penemuan kasus positif Hantavirus dan suspek di Jakarta ini bukan berarti outbreak besar atau adanya penularan antarmanusia secara luas. Ini penting saya sampaikan, karena mayoritas Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia," katanya.
Sejauh ini, penularan hantavirus umumnya terjadi melalui paparan aerosol dari urin atau feses tikus, debu yang telah terkontaminasi, maupun kontak erat dengan rodensia. Dicky menjelaskan, penularan antarmanusia tergolong sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain tertentu, seperti Andes virus.
Meski demikian, dia menilai temuan kasus di Jakarta harus direspons dengan cepat oleh pemerintah, khususnya dinas kesehatan. Salah satu langkah utama yang perlu diperkuat ialah surveilans aktif, dengan fokus pemantauan pada pasien yang mengalami gejala demam, trombositopenia, acute kidney injury, serta memiliki riwayat paparan terhadap tikus atau lingkungan yang berisiko
"Harus ada peningkatan active surveillance yang agresif, jangan menunggu pasien datang. Artinya, harus dilakukan active case finding, penelusuran kontak, dan surveillance di rumah sakit, puskesmas, maupun syndromic surveillance," imbuhnya.
Selain penguatan surveilans, Dicky menilai pemetaan epidemiologi spasial juga menjadi langkah yang sangat penting dilakukan. Menurutnya, dinas kesehatan perlu menyusun hotspot map yang mencakup lokasi rumah pasien, tempat kerja, pasar, gudang, sistem drainase, wilayah rawan banjir, hingga kepadatan rodensia. Hal itu dinilai penting karena infeksi hantavirus sangat berkaitan erat dengan faktor lingkungan.
Dia juga menekankan pentingnya investigasi rodensia sebagai bagian dari pendekatan One Health yang kerap luput mendapat perhatian. Investigasi tersebut, kata dia, perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian yang membidangi lingkungan hidup, balai veteriner, peneliti, epidemiolog lingkungan, hingga ahli rodensia. Di sisi lain, penguatan kapasitas laboratorium juga dinilai mendesak, termasuk melalui pemeriksaan PCR serta penerapan sistem biosafety yang memadai.
Kemudian, komunikasi risiko yang tepat juga menjadi aspek penting dalam penanganan kasus hantavirus agar tidak memicu pelaporan yang rendah (underreporting), penyangkalan, maupun kepanikan di masyarakat. Karena itu, pendekatan yang perlu dibangun adalah meningkatkan kewaspadaan publik tanpa menimbulkan rasa panik.
"Environmental health intervention merupakan inti pengendalian Hantavirus. Harus dilakukan pengendalian tikus, sanitasi pasar, pengelolaan sampah, kontrol drainase, dan pengurangan habitat rodensia. Karena tanpa itu, kasus akan terus muncul," tuturnya.
Pihaknya juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan fasilitas kesehatan (hospital preparedness) dalam menghadapi potensi kasus hantavirus. Kesiapan tersebut mencakup kemampuan deteksi dini atau early recognition, penanganan dan isolasi pada kasus berat, penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan, hingga kesiapan manajemen ventilator bila diperlukan.
Di sisi lain, integrasi pendekatan One Health dengan pemantauan iklim (climate surveillance) juga menjadi strategi jangka panjang yang tak kalah krusial. Menurutnya, pemerintah perlu membangun sistem surveilans urban One Health yang mampu menghubungkan data kesehatan manusia, hewan, lingkungan, iklim, hingga populasi rodensia untuk memperkuat deteksi dan mitigasi risiko penyakit.
Hantavirus Masuk Indonesia, Cirebon Mulai Pasang Status Siaga
Dinas Kesehatan Cirebon siaga hantavirus, edukasi masyarakat dan fasilitas kesehatan dilakukan. Virus ini menular dari hewan pengerat, bukan antar manusia. [493] url asal
#hantavirus-indonesia #hantavirus-cirebon #hantavirus-kewaspadaan #hantavirus-penyebaran #hantavirus-edukasi #hantavirus-pencegahan #hantavirus-gejala #hantavirus-penularan #hantavirus-tikus #hantaviru
(Bisnis.Com - Terbaru) 13/05/26 11:02
v/219923/
Bisnis.com, CIREBON- Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran hantavirus menyusul munculnya kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah di Indonesia.
Langkah antisipasi dilakukan melalui penyebaran surat kewaspadaan dini kepada fasilitas kesehatan hingga edukasi kepada masyarakat melalui Puskesmas dan media sosial.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih mengatakan, kewaspadaan dini sebenarnya telah disampaikan sejak 2025.
Namun, pada pekan ini pihaknya kembali menerima surat kewaspadaan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat setelah adanya laporan kasus hantavirus di wilayah Yogyakarta dan Semarang.
“Dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sudah mengeluarkan kewaspadaan dini. Ini langsung kami tindak lanjuti,” kata Mona, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, Dinkes Kabupaten Cirebon segera meminta jajaran Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) untuk menyusun surat edaran kepada seluruh rumah sakit di Kabupaten Cirebon.
Selain itu, kepala Puskesmas juga telah diminta melakukan promosi kesehatan terkait hantavirus kepada masyarakat.
Edukasi dilakukan melalui berbagai media, termasuk media sosial dan grup komunikasi internal tenaga kesehatan. Sejumlah Puskesmas bahkan mulai membuat video edukasi mengenai hantavirus sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Mona memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di Kabupaten Cirebon. Meski demikian, kewaspadaan perlu dilakukan karena penyakit tersebut telah terdeteksi di Indonesia.
“Hantavirus ini memang jarang, tetapi sekarang sudah masuk ke Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan hewan pengerat seperti tikus dan curut. Virus dapat menyebar ke manusia melalui partikel udara atau debu yang terkontaminasi urine hewan pembawa virus.
Berbeda dengan leptospirosis yang disebabkan bakteri dan masuk melalui luka atau selaput lendir, hantavirus dapat menular hanya melalui udara yang terkontaminasi.
“Kalau hantavirus ini, orang bisa tertular saat menghirup debu atau partikel udara yang mengandung virus,” kata Mona.
Menurut dia, berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan, hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan terjadi langsung dari hewan pembawa virus ke manusia.
Mona menyebutkan, gejala awal hantavirus umumnya berupa demam tinggi selama tiga hingga enam hari dengan suhu mencapai 39 derajat celsius. Penderita juga dapat mengalami mata merah, penurunan nafsu makan, nyeri pada bola mata, hingga penurunan tekanan darah.
Pada kondisi lebih berat, penyakit tersebut dapat menyerang ginjal yang menyebabkan produksi urine menurun drastis.
“Komplikasinya bisa sampai ke ginjal. Produksi urine di dalam ginjal itu bisa berkurang jauh,” ujarnya.
Masa inkubasi hantavirus disebut cukup panjang, yakni satu hingga tiga minggu setelah paparan. Dalam beberapa laporan kasus, gejala bahkan baru muncul setelah delapan minggu.
Selain itu, tingkat kematian atau fatality rate hantavirus tergolong tinggi tergantung jenis virus yang menginfeksi. Berdasarkan referensi yang digunakan Dinas Kesehatan, angka kematian dapat mencapai 1 hingga 50 persen.
“Kalau secara teori memang tingkat kematiannya lebih tinggi dibanding leptospirosis,” kata Mona.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menghindari paparan tikus. Warga juga diimbau berhati-hati saat mengonsumsi makanan atau minuman kemasan.
Menurut Mona, bagian atas kaleng atau botol minuman sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu karena dikhawatirkan terkontaminasi urine tikus.
“Karena kita tidak tahu apakah bagian atas kemasan itu pernah dilewati tikus atau terkena kencing tikus,” ujarnya.
Hantavirus Bisa Menular Antar Manusia? Ini Kronologi Cara Penularan, dan Pencegahannya
Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menimbulkan kekhawatiran, meski penularan antar manusia sangat jarang. Pencegahan fokus pada kebersihan dan menghindari kontak dengan tikus. [827] url asal
#hantavirus #penularan-hantavirus #hantavirus-manusia #virus-andes #hantavirus-kapal-pesiar #hantavirus-penularan #hantavirus-pencegahan #hantavirus-gejala #hantavirus-indonesia #hantavirus-tikus #hant
(Bisnis.Com - Terbaru) 12/05/26 11:45
v/218817/
Bisnis.com, JAKARTA - Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran publik setelah dilaporkan menyebabkan sejumlah korban jiwa dan memunculkan dugaan penularan antar manusia.
Namun, otoritas kesehatan Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan bahwa penularan virus ini tidak semudah virus pernapasan lain seperti Covid-19 atau influenza.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan virus Andes merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, tetapi proses penularannya sangat sulit terjadi.
Direktur Divisi Kesehatan Migrasi Global CDC, David Fitter, menjelaskan bahwa hantavirus bukan patogen baru dan penyebarannya tidak mudah.
"Dan hantavirus ini, yaitu virus Andes, adalah satu-satunya strain yang bisa menular antar-manusia, tetapi sekali lagi, penularannya sangat sulit melalui kontak dekat dengan cairan tubuh, pernapasan, berbagi barang pribadi secara intim, seperti sikat gigi, dan sebagainya. Jadi, ini sangat berbeda dengan virus pernapasan," kata Fitter dalam konferensi pers di Washington, Senin (11/5).
Kronologi Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
Kasus bermula dari munculnya klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde melintasi Atlantik dan Afrika.
Virus yang teridentifikasi adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, jenis hantavirus yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dalam penelitian tertentu dapat menular antar manusia melalui kontak erat berkepanjangan.
Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization mengonfirmasi tujuh kasus infeksi dengan tiga kematian. Hingga 10 Mei 2026, laporan otoritas kesehatan Inggris mencatat total delapan kasus yang terdiri dari enam kasus konfirmasi dan dua probable dengan case fatality rate (CFR) mencapai 37,5 persen.
Kapal tersebut membawa 149 penumpang dari 23 negara dan tiba di lepas pantai Tenerife, Kepulauan Canary, pada Minggu (10/5).
Setelah evakuasi dilakukan, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat menyebut satu dari 17 warga Amerika yang dievakuasi menunjukkan gejala ringan paparan hantavirus. Sementara satu orang lainnya dinyatakan positif terinfeksi varian Andes.
Media NBC melaporkan pesawat evakuasi mendarat di Nebraska. University of Nebraska Medical Center kemudian menyatakan satu pasien positif terinfeksi virus, namun tidak menunjukkan gejala.
Apakah Hantavirus Mudah Menular Antar Manusia?
Otoritas kesehatan menegaskan penularan antar manusia pada hantavirus sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain Andes.
Kementerian Kesehatan RI melalui Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, mengatakan kasus di kapal pesiar berbeda dengan hantavirus yang ditemukan di Indonesia.
"HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia untuk tipe HFRS yang ditemukan di Asia dan Indonesia.
Kelompok yang Memiliki Risiko Tinggi
Menurut Kemenkes, penularan hantavirus lebih sering terjadi melalui paparan tikus atau rodensia, baik dari urin, feses, air liur, gigitan, maupun debu yang terkontaminasi.
- Petugas kebersihan dan pengangkut sampah
- Petani
- Pekerja bangunan lama
- Warga di daerah banjir
- Orang yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah
Situasi di Indonesia
Kemenkes menyatakan Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS seperti yang terjadi di MV Hondius. Sejak 2024 hingga 2026, Indonesia hanya mencatat 23 kasus HFRS dan belum ditemukan kasus penularan dari manusia ke manusia.
Penelitian Rikhus Vektora sebelumnya memang menemukan virus hanta pada tikus dan celurut di 29 provinsi, tetapi hingga saat ini belum ada bukti transmisi luas ke manusia di Indonesia.
Kemenkes juga menerima notifikasi terkait seorang warga negara asing berinisial KE (60) yang berdomisili di Jakarta Pusat dan sempat satu penerbangan dengan pasien kasus kedua yang meninggal dunia. Namun, hasil tes PCR pasien tersebut dinyatakan negatif.
"Meski demikian, pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat," kata Andi. Saat ini pasien masih berada di RSPI Sulianti Saroso untuk observasi lanjutan.
Cara Mencegah Penularan Hantavirus
Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus maupun area yang berpotensi terkontaminasi.
"Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul aware terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus. Artinya, tikus itu jangan sampai berkeliaran dan lain sebagainya," ujar Andi.
Beberapa langkah pencegahan yang disarankan antara lain:
- Menjaga rumah dan lingkungan tetap bersih
- Menutup akses masuk tikus ke rumah
- Menghindari kontak langsung dengan urin atau kotoran tikus
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area kotor
- Tidak bermain di area banjir yang berisiko tercemar
- Menjaga makanan agar tidak terpapar tikus
Andi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap banjir sebagai tempat bermain karena berisiko menularkan berbagai penyakit.
"Jadi, ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut," paparnya.
Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memang menimbulkan kewaspadaan global karena melibatkan strain Andes yang dalam kondisi tertentu dapat menular antar manusia. Namun, otoritas kesehatan menegaskan penularannya sangat sulit terjadi dan membutuhkan kontak erat dengan cairan tubuh penderita.
Di Indonesia sendiri, hingga kini belum ditemukan kasus HPS maupun penularan antar manusia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus, terutama di wilayah rawan banjir dan sanitasi buruk.
Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Hantavirus, yang Tewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar
Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius tewaskan 3 orang. WHO pantau kasus, risiko penularan rendah. Hantavirus ditularkan oleh tikus, cegah dengan kebersihan. [689] url asal
#hantavirus #gejala-hantavirus #tanda-bahaya-hantavirus #kapal-pesiar-wabah #penularan-hantavirus #infeksi-hantavirus #gejala-infeksi-hantavirus #hantavirus-zoonosis #hantavirus-tikus #hantavirus-penul
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/05/26 03:50
v/212487/
Bisnis.com, JAKARTA — Kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik dilaporkan mengalami dugaan wabah hantavirus. Tiga penumpang meninggal dunia dan seorang warga Inggris dirawat dalam kondisi serius.
Kapal milik Oceanwide Expeditions itu kini berada di lepas pantai Cape Verde. Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di dalam kapal.
Dilansir dari BBC News, dua kasus hantavirus telah terkonfirmasi, yakni pada seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang kini dirawat intensif di Johannesburg dan pada seorang perempuan asal Belanda yang meninggal dunia. Sementara itu, penyebab kematian dua penumpang lainnya masih dalam penyelidikan.
Peristiwa ini bermula ketika seorang penumpang jatuh sakit di atas kapal dan meninggal pada 11 April. Setelah kapal sempat bersandar di Saint Helena pada 24 April, jenazah korban diturunkan, sementara istrinya yang juga turun dari kapal kemudian dilaporkan meninggal saat perjalanan pulang.
Beberapa hari kemudian, pada Senin (27/4), seorang penumpang asal Inggris mengalami kondisi kritis dan harus di evakuasi medis ke South Africa. Hingga kini, pasien tersebut disebut dalam kondisi kritis namun stabil setelah teridentifikasi terinfeksi varian hantavirus.
Di tengah situasi itu, seorang penumpang asal Jerman kembali meninggal dunia pada Sabtu lalu. Pihak operator kapal menyatakan penyebab kematian korban masih belum dapat dipastikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini ikut memantau perkembangan kasus tersebut. WHO juga tengah menyelidiki lima kasus suspek lain, termasuk seorang awak kapal asal Inggris yang mengalami gejala gangguan pernapasan.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, menegaskan bahwa infeksi hantavirus memang jarang terjadi. Namun dia menyebut risiko penularan ke masyarakat luas masih rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
“Hantavirus memang dapat menyebabkan gejala berat pada sebagian kasus, tetapi tidak mudah menular dari orang ke orang. Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” ujarnya dikutip dalam BBC News, Selasa (5/5/2026).
Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, menjelaskan pasien asal Inggris saat ini hanya mendapatkan perawatan suportif karena belum ada obat khusus untuk hantavirus. Petugas kesehatan juga sedang melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien tersebut.
“Seperti virus pada umumnya, hantavirus belum memiliki pengobatan spesifik sehingga pasien diberikan terapi sesuai gejala dan dukungan medis semaksimal mungkin,” terangnya.
Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat atau rodensia.
Kemenkes menjelaskan tikus menjadi reservoir utama virus dari genus Orthohantavirus. Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi membawa virus ini antara lain tikus got, tikus rumah, tikus sawah, hingga mencit rumah yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar manusia.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan air liur, urine, atau kotoran tikus. Virus juga dapat masuk melalui debu halus yang terkontaminasi lalu terhirup melalui hidung, mulut, atau mengenai mata dan luka terbuka di kulit.
Hingga saat ini, Kemenkes menyebut penularan hantavirus dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan di Indonesia. Karena itu, pengendalian hewan pengerat masih menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Secara klinis, Kemenkes membagi penyakit ini ke dalam dua bentuk utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah strain Seoul Virus yang umumnya menimbulkan gejala tipe HFRS.
Berikut gejala hantavirus yang perlu diwaspadai:
- Demam dan Sakit Kepala
Gejala awal biasanya mirip infeksi virus pada umumnya. Penderita dapat mengalami demam yang disertai sakit kepala, badan lemas, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.
- Nyeri Punggung dan Nyeri Perut
Keluhan ini sering muncul bersamaan dengan demam. Pada sebagian kasus, nyeri dapat disertai mual dan nafsu makan menurun.
- Mata Kemerahan dan Ruam
Kemenkes menyebut sebagian penderita juga bisa mengalami kemerahan pada mata dan ruam di kulit. Gejala ini perlu diwaspadai bila muncul setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus.
- Gangguan Pernapasan dan Ginjal
Pada tahap lebih lanjut, penyakit dapat berkembang menjadi lebih berat. Penderita berisiko mengalami gangguan pernapasan, penurunan produksi urine, hingga gangguan fungsi ginjal.
Selain mengenali gejalanya, Kemenkes juga menekankan pentingnya pencegahan dari lingkungan rumah. Langkah ini dinilai penting karena reservoir hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai habitat, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan.
Berikut langkah pencegahan hantavirus:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Gunakan alat pelindung saat membersihkan area yang dilewati tikus
- Bersihkan kotoran tikus dengan disinfektan
- Jangan menyentuh tikus secara langsung
- Rajin mencuci tangan
Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar Atlantik Terinfeksi Hantavirus, Kenali Gejalanya
Tiga orang meninggal di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan wabah hantavirus, penyakit zoonosis berbahaya yang disebarkan oleh hewan pengerat. [671] url asal
#hantavirus #hantavirus-gejala #hantavirus-penularan #hantavirus-pencegahan #hantavirus-kapal-pesiar #hantavirus-who #hantavirus-zoonosis #hantavirus-tikus #hantavirus-manusia #hantavirus-infeksi #hant
(Bisnis.Com - Terbaru) 05/05/26 07:25
v/211109/
Bisnis.com, BANDA ACEH — Hantavirus menjadi sorotan setelah tiga orang meninggal dalam dugaan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik dari Argentina menuju Cape Verde.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat satu kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek dalam kejadian tersebut. Seorang warga negara Inggris berusia 69 tahun dirawat di ruang perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan. Pejabat setempat kemudian menyatakan bahwa pasien itu terinfeksi virus tersebut.
Kapal tersebut dioperasikan oleh perusahaan tur Oceanwide Expeditions. Berdasarkan jadwal perjalanan di situs perusahaan, MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina selatan, pada 20 Maret dan dijadwalkan menyelesaikan pelayaran pada 4 Mei di Cape Verde.
Kapal tersebut memiliki kapasitas 170 penumpang di 80 kabin, serta membawa 57 awak, 13 pemandu, dan satu dokter. Juru bicara Kementerian Kesehatan Afrika Selatan Foster Mohale mengatakan, terdapat sekitar 150 wisatawan dari berbagai negara di kapal tersebut.
Pejabat kesehatan menyebut laki-laki itu tiba-tiba jatuh sakit dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare. Dia meninggal saat tiba di Pulau St Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan.
Perempuan tersebut juga jatuh sakit di kapal dan dievakuasi ke Afrika Selatan. BBC melaporkan dia kemudian meninggal di rumah sakit di Johannesburg.
Kapal itu dilaporkan akan melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Canary, Spanyol. WHO membantu koordinasi antara negara anggota dan operator kapal untuk evakuasi medis dua penumpang bergejala, penilaian risiko kesehatan masyarakat secara penuh, serta dukungan bagi orang-orang yang masih berada di kapal.
Apa Itu Hantavirus?
Kemenkes menjelaskan penyakit virus Hanta merupakan salah satu penyakit zoonosis berbahaya yang disebarkan oleh rodensia atau hewan pengerat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus.
Hantavirus biasanya menular kepada manusia dari hewan pengerat melalui urine atau feses. Virus ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan berat dan dalam kondisi jarang dapat menular antarmanusia.
Penularan juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan pengerat, tetapi kejadian itu jarang. Kemenkes menambahkan penularan dapat terjadi ketika saliva, urine, atau feses reservoir mengenai kulit yang luka, membran mukosa mata, mulut, dan hidung, maupun melalui aerosol berupa debu atau partikel halus yang terkontaminasi.
Tikus Jadi Reservoir Utama
Kemenkes menyebut tikus dan celurut menjadi reservoir utama penyakit virus Hanta. Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi sebagai reservoir virus Hanta meliputi Rattus norvegicus atau tikus got dan Rattus tanezumi atau tikus rumah.
Kemenkes juga mencatat sejumlah jenis tikus lain sebagai reservoir, yakni Rattus tiomanicus atau tikus belukar, Rattus exulans atau tikus ladang, Rattus argentiventer atau tikus sawah, Mus musculus atau mencit rumah, Bandicota indica atau tikus wirok, dan Maxomys surifer.
Ciri-Ciri dan Gejala Hantavirus
US CDC menyebut HPS merupakan penyakit berat dan berpotensi mematikan yang menyerang paru-paru. Gejala HPS biasanya mulai tampak 1–8 minggu setelah kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.
Gejala awal HPS menurut US CDC meliputi: Kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan kadang bahu.
Sekitar separuh pasien HPS juga mengalami sakit kepala, pusing, menggigil, serta gangguan perut seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Empat hingga 10 hari setelah fase awal penyakit, gejala lanjutan HPS dapat muncul berupa batuk dan sesak napas.
Untuk HFRS, US CDC menyebut penyakit ini berat dan kadang mematikan karena menyerang ginjal. Gejalanya biasanya berkembang dalam 1–2 minggu setelah paparan, tetapi dalam kasus jarang dapat muncul hingga 8 minggu.
Gejala awal HFRS menurut US CDC meliputi: Sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam atau menggigil, mual, dan penglihatan kabur.
Cara Pencegahan Hantavirus
Langkah pencegahan menurut Kemenkes meliputi:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
- Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan alas kaki saat membersihkan rumah atau lingkungan yang dilalui hewan pengerat.
- Membersihkan kotoran, urine, dan sekreta lain dari tikus dengan disinfektan.
- Tidak menyentuh hewan pengerat secara langsung, baik hidup maupun mati.
- Menggunakan disinfektan dan alat pelindung diri lengkap apabila terjadi kontak dengan hewan pengerat.
- Melakukan pengelolaan sampah dengan benar.
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 40–60 detik atau menggunakan cairan antiseptik selama 20–30 detik.
Kemenkes mengingatkan penyakit virus Hanta dapat berpotensi menyebabkan wabah apabila reservoirnya tidak dikendalikan. Karena itu, pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan menjadi kunci pencegahan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56