JAKARTA, KOMPAS.com - Harga bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah anjlok tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan terbaru ini memunculkan kembali pertanyaan lama di kalangan investor, apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli di harga rendah, menjual dan keluar dari pasar, atau tetap bertahan untuk potensi jangka panjang?
Dikutip dari CNBC, Jumat (6/2/2026), harga bitcoin, mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, tercatat telah turun dari puncaknya di atas 126.000 dollar AS pada Oktober menjadi di bawah 64.000 dollar AS pada Kamis (5/2/2026) waktu setempat.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.Artinya, terjadi koreksi sekitar 50 persen hanya dalam beberapa bulan.
Penurunan ini terjadi bahkan setelah peluncuran dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund/ETF) Bitcoin spot pada Januari 2024. Ini merupakan langkah yang sebelumnya dinilai analis akan menarik lebih banyak investor institusi dan mendorong harga lebih tinggi.
Selain itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ramah terhadap kripto juga dianggap sebagai faktor pendukung harga oleh sejumlah analis.
Namun, realitas pasar menunjukkan dinamika yang berbeda.
Gejolak global dan sentimen risiko
Tekanan terhadap harga BTC muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, naiknya volatilitas pasar, serta tanda-tanda meningkatnya kehati-hatian investor. Situasi tersebut terjadi bahkan ketika perekonomian secara keseluruhan dinilai tetap stabil.
Secara historis, bitcoin dan mata uang kripto lainnya cenderung bereaksi lebih tajam dibandingkan aset tradisional saat pasar memasuki periode volatilitas tinggi.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.Tidak seperti saham atau obligasi, harga kripto sebagian besar didorong oleh perubahan sentimen investor dan likuiditas pasar.
Analisis tahun 2023 dari S&P Global Ratings menyebutkan bahwa karakteristik tersebut membuat kripto lebih sensitif terhadap perubahan selera risiko ketika pasar menjadi lebih berhati-hati.
Dinamika ini dapat memperkuat volatilitas ke dua arah. Saat minat beli menguat, harga dapat melonjak cepat. Namun ketika pembeli atau penjual menarik diri, penurunan juga dapat terjadi secara drastis.
John Blank, kepala strategi ekuitas di Zacks Investment Research, mengatakan dalam wawancara dengan CNBC, bitcoin sangat bergantung pada permintaan yang berkelanjutan.
Ia menyebut harga kripto tersebut dapat “meledak naik dan turun” ketika pembeli atau penjual menarik diri.
Bahkan, Blank memperingatkan bahwa bitcoin bisa jatuh hingga 40.000 dollar AS apabila penurunan semakin dalam.
Siklus kenaikan dan penurunan tajam
Bagi penasihat keuangan, aksi jual terbaru ini kembali menegaskan bahwa volatilitas merupakan bagian inheren dari kepemilikan bitcoin.
Secara historis, bitcoin bergerak dalam siklus yang relatif jelas. Kenaikan harga yang tajam sering kali diikuti penurunan yang sama drastisnya.
Dalam beberapa periode sebelumnya, lonjakan harga yang didorong momentum pasar mampu menghasilkan keuntungan signifikan bagi sebagian investor.
Namun, ketika sentimen berubah, penurunan hingga 60 persen atau lebih juga kerap terjadi.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin (BTC) kembali turun tajam hingga menyentuh level di bawah 76.000 dollar AS pada akhir pekan ini.Vered Frank, perencana keuangan bersertifikat dan pendiri StackWealth, mengatakan volatilitas terbaru ini menjadi pengingat penting mengenai sifat aset tersebut.
“Volatilitas Bitcoin baru-baru ini merupakan pengingat bahwa kripto masih merupakan aset spekulatif, bukan blok bangunan inti dari sebagian besar portofolio,” kata Frank.
“Penurunan besar setelah periode hype menunjukkan mengapa berisiko untuk mengandalkan bitcoin sebagai strategi pembangunan kekayaan yang berdiri sendiri," jelas dia.
Menurut Frank, peran kripto dalam portofolio sebaiknya tetap terbatas.
“Alokasi 1 hingga 5 persen dapat masuk akal bagi investor dengan fondasi keuangan yang kuat dan toleransi risiko yang tinggi,” katanya.
“Penurunan tidak mengubah peran kripto, tetapi menyoroti ketidakpastiannya," imbuh dia.
Volatilitas sebagai ciri, bukan kekurangan
Pandangan serupa disampaikan Douglas Boneparth, perencana keuangan bersertifikat sekaligus salah satu pendiri Bone Fide Wealth.
Ia telah memiliki bitcoin sejak 2014 dan memandang volatilitas sebagai bagian dari karakter aset tersebut.
“Volatilitas adalah fitur, bukan kekurangan, pada bitcoin,” kata Boneparth.
Menurut dia, bitcoin dapat memiliki tempat dalam portofolio bagi sebagian investor dengan toleransi risiko lebih tinggi, terutama mereka yang memandangnya sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang, bukan instrumen perdagangan jangka pendek.
Dalam kerangka tersebut, aksi jual terbaru tidak serta-merta melemahkan alasan jangka panjang untuk memiliki bitcoin.
Dok. Shutterstock/Mega Bintang Ilustrasi BitcoinBoneparth menilai pasokan bitcoin yang terbatas serta independensinya dari pemerintah dan bank sentral menjadi faktor yang dipandang mendukung nilainya dari waktu ke waktu.
“Jika Anda memiliki bitcoin dengan keyakinan bahwa itu adalah kelas aset yang sah dengan peluang jangka panjang, Anda harus bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya berubah” dengan penurunan baru-baru ini, ujarnya.
Tanpa arus kas, bergantung pada apresiasi harga
Berbeda dari saham yang dapat memberikan dividen atau obligasi yang menghasilkan kupon, Bitcoin tidak menghasilkan pendapatan maupun arus kas.
Dengan demikian, potensi imbal hasil jangka panjang sepenuhnya bergantung pada apresiasi harga dan kesiapan investor untuk menanggung fluktuasi tajam.
Karakteristik tersebut membuat sejumlah perencana keuangan memperlakukan bitcoin sebagai investasi berisiko tinggi dengan porsi terbatas dalam portofolio.
Fluktuasi terbaru kembali menjadi pengingat bahwa kripto bukan elemen utama dalam perencanaan keuangan sebagian besar orang.
“Bagi kebanyakan orang, kripto hanya masuk akal sebagai bagian kecil dari portofolio yang terdiversifikasi dan dalam jumlah yang mampu mereka tanggung kerugiannya. Kripto tidak seharusnya menggantikan saham, obligasi, atau tabungan darurat,” kata Frank.
Keputusan bergantung pada rencana keuangan
Penasihat keuangan menekankan bahwa tidak ada satu langkah yang tepat bagi investor bitcoin selama atau setelah aksi jual.
Keputusan untuk membeli, menjual, atau menahan sangat bergantung pada bagaimana aset tersebut masuk dalam rencana keuangan yang lebih luas serta seberapa besar volatilitas yang dapat ditoleransi secara realistis.
THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi Bitcoin.Dalam konteks tersebut, berkonsultasi dengan perencana keuangan sebelum melakukan perubahan besar dalam portofolio dinilai sebagai langkah yang bijak.
Penurunan harga BTC dari lebih dari 126.000 dollar AS menjadi di bawah 64.000 dollar AS dalam beberapa bulan memperlihatkan seberapa cepat dinamika pasar kripto dapat berubah.
Di sisi lain, sejarah pergerakan bitcoin juga menunjukkan pola kenaikan dan penurunan ekstrem sebagai bagian dari siklusnya.
Dengan latar belakang meningkatnya ketegangan geopolitik, volatilitas pasar global, serta perubahan sentimen risiko, bitcoin kembali menguji keyakinan investor terhadap perannya dalam portofolio.
Bagi sebagian investor, fluktuasi ini mungkin menjadi peluang. Bagi yang lain, ini adalah pengingat mengenai risiko yang melekat.
Keputusan pada akhirnya kembali pada profil risiko, tujuan jangka panjang, dan fondasi keuangan masing-masing investor.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang