#30 tag 24jam
Ekspor Lobster Sumbar Turun Drastis, Budidaya Jadi Harapan Baru
Ekspor lobster Sumbar turun drastis akibat cuaca panas dan berkurangnya nelayan. Budidaya lobster jadi solusi potensial, didukung pemerintah dan pelatihan. [788] url asal
#ekspor-lobster #lobster-laut #penurunan-ekspor #nelayan-lobster #cuaca-panas #pasokan-lobster #budidaya-lobster #lobster-sumbar #lobster-mentawai #lobster-pesisir-selatan #harga-lobster #ekspor-ke-chi
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/06/26 12:30
v/258326/
Bisnis.com, PADANG — Ekspor komoditas lobster laut asal Sumatra Barat mengalami penurunan cukup drastis akibat turunnya hasil tangkapan nelayan dan berkurangnya pencari lobster di daerah tersebut.
Eksportir asal Padang, Misho, mengatakan penurunan sudah terjadi dalam setahun terakhir. Pasokan dari Mentawai dan Pesisir Selatan kini jauh berkurang akibat cuaca panas berkepanjangan yang membuat lobster sulit ditangkap karena tidak keluar dari karang.
Menurut dia, kondisi itu membuat banyak nelayan mengurangi aktivitas penangkapan. Hasil tangkapan yang masuk ke pengepul kini hanya dalam jumlah kecil, meski tetap dibeli dengan syarat hidup dan sehat serta mengikuti harga pasar.
Akibat penurunan pasokan, Misho tidak lagi mengekspor langsung dan memilih menjual ke Jakarta sebelum diteruskan ke China dan Taiwan karena volume tidak mencukupi untuk ekspor mandiri.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di daerah lain sehingga banyak eksportir beralih menjadi pengepul sebelum menggabungkan pasokan untuk ekspor.
“Keluhannya sama, hasil tangkapan nelayan di daerah lain juga turun akibat cuaca panas,” tegasnya.
Peluang Besar dari Budidaya Lobster
Misho menilai prospek pasar ekspor lobster Indonesia masih sangat besar karena permintaan dari China saja belum dapat dipenuhi secara maksimal. Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah mengembangkan budidaya lobster laut di Sumbar yang memiliki kondisi perairan cukup baik.
Namun, menurutnya, pengembangan budidaya perlu dibarengi peningkatan pengetahuan dan teknik pembudidayaan agar menghasilkan lobster berkualitas ekspor.
“Sekarang sebenarnya ada nelayan lokal yang melakukan budidaya lobster laut, yakni lobster jenis pasir dan mutiara. Saya sudah melihat hasil panennya, ternyata cangkangnya sangat lunak dan warnanya sedikit pucat. Kondisi tersebut tidak memenuhi syarat untuk ekspor. Namun, untuk memenuhi kebutuhan restoran atau rumah makan, hasil seperti itu sudah cukup bagus,” katanya.
Untuk meningkatkan kualitas budidaya, Misho berharap pemerintah daerah memfasilitasi studi banding ke Vietnam yang dikenal sebagai negara penghasil lobster budidaya berkualitas.
Menurutnya, jika dilakukan secara serius dan konsisten, Sumbar berpotensi menjadi sentra lobster nasional dengan dukungan daerah pesisir seperti Mentawai, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat.
Misho bahkan menawarkan diri membantu proses belajar budidaya lobster ke Vietnam dengan biaya pribadi. Dia hanya meminta dukungan berupa surat resmi dari pemerintah daerah untuk memudahkan koordinasi dengan pelaku usaha budidaya di negara tersebut.
“Pemerintah daerah tidak perlu memikirkan biaya saya. Asalkan ada surat resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, itu sudah menjadi modal kuat bagi saya untuk pergi ke Vietnam,” ungkapnya.
Uji Coba Budidaya Lobster di Pesisir Selatan
Sebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar telah memulai uji coba budidaya lobster laut di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Sebanyak 700 ekor benih lobster dibudidayakan oleh nelayan Afrizal yang dikenal sebagai pelopor budidaya lobster di wilayah tersebut.
Program ini dimulai pada 2024 saat DKP Sumbar menggelar pelatihan budidaya lobster. Afrizal terpilih mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, salah satu kawasan perikanan besar di Indonesia.
Di sana dia mempelajari berbagai hal mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air, hingga menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal.
“Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu. Tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Sepulang dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmunya. Pada Oktober 2024, ia menebar 700 ekor benih lobster jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, dengan dukungan DKP Sumbar. Benih tersebut dirawat secara disiplin, diberi pakan berupa potongan kerang dan keong, ikan rucah, serta rajungan kecil setiap hari, sekaligus menjaga kebersihan air agar tetap jernih.
Hasilnya cukup menggembirakan. Setelah satu tahun, pertumbuhan lobster dinilai baik. Namun, untuk kebutuhan ekspor, kondisi cangkang masih tergolong lunak sehingga meningkatkan risiko kematian saat pengiriman.
“Ekspor lobster ini harus dalam keadaan hidup hingga sampai ke negara tujuan. Nah, hasil dari diskusi pengepul di Padang, ternyata tidak layak, risiko mati tinggi. Ke depan, tentu saya berharap ada solusi dari hal ini,” pintanya.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan optimisme terhadap prospek perikanan budidaya nasional.
"Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari US$414 miliar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” ujarnya, seperti dikutip dari situs KKP.
Program percontohan budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) di atas 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, sebagian besar lobster tumbuh hingga ukuran konsumsi ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster juga dinilai dapat menekan praktik penyelundupan benur yang masih terjadi.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.
Budidaya Lobster Laut, Harapan Baru Ekonomi Pesisir Sumbar
Budidaya lobster laut menjadi harapan baru ekonomi pesisir, mengurangi ketergantungan tangkapan liar. [1,210] url asal
#budidaya-lobster #lobster-laut #ekonomi-pesisir #budidaya-lobster-laut #keramba-jaring-apung #nelayan-sumbar #benih-lobster #pertumbuhan-lobster #harga-lobster #dukungan-pemerintah #ekonomi-berkelanju
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/11/25 20:58
v/24098/
Bisnis.com, PAINAN -Siang itu, di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, suara ombak terdengar bersahutan lembut. Air laut tampak jernih, sementara di kejauhan tampak beberapa keramba jaring apung (KJA) berjejer rapi di atas permukaan air.
Di salah satu keramba itu, seorang pria berkaos biru muda sedang sibuk memeriksa jaring-jaring yang tergantung di bawahnya. Dia adalah Afrizal, seorang nelayan lokal yang kini dikenal sebagai pelopor budidaya lobster laut di wilayahnya.
Dengan hati-hati, Afrizal menarik salah satu jaring ke permukaan. Seketika, tampak beberapa ekor lobster laut jenis pasir yang bergerak lincah, dengan warna cangkang kehijauan dengan ukuran tubuh yang tampak kokoh. Beratnya rata-rata sudah mencapai 400 gram per ekor. “Alhamdulillah, pertumbuhannya bagus sekali. Sebentar lagi bisa panen,” ucapnya dengan senyum bangga, Sabtu (1/11/2025).
Perjalanan Afrizal menekuni budidaya laut dimulai jauh sebelum lobster-lobsternya tumbuh sebesar sekarang. Sejak 2014, dia telah membudidayakan ikan kerapu menggunakan sistem keramba jaring apung. Dia belajar secara otodidak, bermodalkan pengalaman sebagai nelayan yang sudah puluhan tahun memahami seluk-beluk kehidupan laut.
“Dulu saya cuma tahu tangkap ikan di laut lepas, tapi lama-lama saya sadar, hasil tangkapan tidak selalu stabil. Makanya saya mulai mencoba budidaya,” ujarnya.
Awalnya, usaha itu dijalankan dengan peralatan sederhana dan modal terbatas. Namun berkat ketekunan dan kemauannya belajar, budidaya ikan kerapu milik Afrizal berkembang pesat. Kini dia memiliki beberapa unit keramba yang diisi ikan kerapu berukuran konsumsi dan siap panen di penghujung tahun 2025.
Keberhasilan itu membuat Afrizal semakin percaya diri untuk mencoba sesuatu yang baru. Kesempatan itu datang pada tahun 2024, ketika Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar memberikan program pelatihan budidaya lobster laut. Afrizal terpilih untuk mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, daerah yang dikenal sebagai salah satu kawasan perikanan yang cukup besar di Indonesia.
Di sana dia belajar banyak hal, mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air, hingga cara menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal. “Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu, tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Awal Harapan Baru
Sepulang dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmu yang diperolehnya. Pada Oktober 2024, dia menebar 700 ekor benih lobster laut jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, yang dibantu dan didukung oleh DKP Sumbar. Benih-benih itu dirawat dengan disiplin, diberi pakan berupa potongan kecil kerang dan keong, kemudian ada ikan rucah dan rajungan kecil setiap hari, serta dijaga kebersihan airnya agar tetap jernih.
Hasilnya tidak mengecewakan. Setelah setahun berjalan, pertumbuhan lobster sangat menggembirakan. Dari ratusan ekor yang ditebar, hampir semuanya bertahan hidup hingga kini.
Bobot rata-rata mencapai lebih dari 400 gram per ekor, tanda bahwa lobster siap dipanen pada pertengahan Desember 2025. Tingkat kematiannya bila dihitung dari benih menjadi 400 gram saat ini juga sangat rendah yakni hanya 10% saja. “Kalau panen nanti berhasil, ini jadi tonggak sejarah baru bagi kami di Sungai Bungin,” sebutnya.
Dia menjelaskan jenis lobster pasir yang dibudidayakannya memiliki nilai jual tinggi. Di pasaran, harga lobster jenis ini bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp800.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas. Dengan hasil panen yang stabil, pendapatan dari budidaya lobster bisa jauh melampaui penghasilan dari menangkap ikan biasa.
Dukungan Pemerintah dan Semangat Gotong Royong
Keberhasilan Afrizal tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah. DKP Sumbar secara aktif memberikan bantuan teknis dan pendampingan kepada kelompok nelayan yang tertarik menekuni budidaya lobster laut. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ekonomi pesisir dan mengurangi ketergantungan terhadap tangkapan liar yang semakin menurun akibat perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan.
“Kami ingin nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkap. Budidaya seperti ini lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Reti Wafda.
Melihat hasil positif di lapangan, DKP berencana menambah jumlah benih lobster yang akan disebar di kawasan Sungai Bungin. Mereka juga tengah mendorong terbentuknya kelompok nelayan lainnya agar para nelayan bisa bekerja secara kolektif berbagi pengetahuan, peralatan, dan pemasaran hasil panen.
Afrizal sendiri sangat mendukung langkah itu. Dia menyadari, kesuksesan tidak akan berarti jika hanya dinikmati sendiri. “Saya ingin mengajak lebih banyak nelayan bergabung. Di sini masih ada sekitar 20 hektare hamparan laut yang bisa dikembangkan untuk budidaya lobster. Kalau semua bergerak bersama, Sungai Bungin bisa jadi sentra lobster laut di Sumbar,” tuturnya penuh semangat.
Di luar keuntungan pribadi, keberhasilan budidaya lobster laut membawa harapan baru bagi perekonomian masyarakat pesisir. Selama ini, sebagian besar nelayan di Sungai Bungin hidup dari hasil tangkapan harian yang tidak menentu. Cuaca buruk sering kali membuat mereka tak bisa melaut, sementara harga ikan tangkapan kerap turun di musim panen.
Dengan adanya budidaya lobster, roda ekonomi desa mulai berputar lebih stabil. Permintaan pakan, peralatan keramba, hingga tenaga kerja tambahan untuk perawatan lobster membuka peluang ekonomi baru. Beberapa pemuda yang sebelumnya merantau mulai tertarik kembali ke kampung halaman untuk ikut mengelola keramba.
“Sekarang sudah banyak anak muda yang bantu di sini. Mereka semangat, karena lihat hasilnya nyata,” kata Afrizal.
Selain itu, budidaya lobster juga memiliki potensi besar untuk ekspor. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu pemasok lobster laut dunia, meski banyak yang masih berasal dari hasil tangkapan liar. Dengan budidaya yang terkontrol, kualitas lobster bisa dijaga dan produksinya berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat menyaingi dominasi Vietnam yang selama ini menjadi pemain utama di pasar ekspor lobster Asia.
Menuju Desa Mandiri Pesisir
Afrizal memandang budidaya lobster bukan sekadar bisnis, tetapi juga sarana untuk membangun kemandirian masyarakat. Dia percaya, jika nelayan bisa mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan, kesejahteraan bukan lagi impian. “Kalau mau sukses, jangan sendiri-sendiri. Mari sukses bareng-bareng,” ujarnya sambil menatap hamparan laut di hadapannya.
Visi itu sejalan dengan semangat pemerintah daerah yang ingin menjadikan Sungai Bungin sebagai desa mandiri pesisir. Dengan potensi laut yang luas dan dukungan masyarakat yang kuat, daerah ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi biru berbasis masyarakat.
Harapan besar kini menggantung di atas laut biru Pesisir Selatan. Dari keramba sederhana milik Afrizal, semangat perubahan mulai tumbuh. Jika dulu nelayan hanya menunggu hasil tangkapan dari laut, kini mereka bisa menciptakan hasilnya sendiri.
Budidaya lobster laut di Sumbar bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang memberi harapan baru, bahwa laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga sumber kesejahteraan yang bisa dikelola bersama.
KKP Mendukung Penuh Budidaya Lobster dalam Negeri
Dalam situs resmi KKP, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan optimisme terhadap prospek besar perikanan budidaya nasional. "Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari 414 miliar dolar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” jelasnya.
Program modeling budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mencapai lebih dari 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, kata sebagian besar lobster berhasil tumbuh dengan ukuran konsumsi ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Menurutnya selain mampu meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster laut juga mampu menekan angka penyelundupan benur atau benih lobster yang masih sering terjadi.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56