#30 tag 24jam
DKP Ungkap Kendala Budidaya Lobster Laut di Perairan Sumbar
DKP Sumbar menghadapi kendala budidaya lobster laut karena sulitnya mendapatkan benih bening lobster (BBL) dan kurangnya kerjasama perdagangan dengan buyers. [518] url asal
#budidaya-lobster #lobster-laut #perairan-sumbar #kendala-budidaya #benih-bening-lobster #pasar-ekspor-lobster #pembesaran-lobster #dkp-sumbar #kkp-aturan-lobster #nelayan-lobster #potensi-pasar-lobste
(Bisnis.Com - Terbaru) 25/06/26 09:22
v/259203/
Bisnis.com, PADANG - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatra Barat menyebutkan ada sejumlah kendala untuk menjalankan keberlangsungan budidaya lobster laut yang ada di daerah itu meski ada potensi besar yang bisa digarap.
Kepala DKP Sumbar Syefdinon mengatakan sebelumnya telah dilakukan uji coba budidaya lobster laut di wilayah perairan Kabupaten Pesisir Selatan, dan belum mendapatkan hasil yang baik, karena secara kualitas lobster laut yang dibudidaya itu belum itu, belum memenuhi syarat ekspor.
“Pasar ekspor untuk lobster laut ini sangat bagus, sejauh ini telah banyak lobster laut di Sumbar yang diekspor, dan bahkan kebutuhan ekspor tersebut masih terus ada. Artinya potensi pasar ada, tetapi dari Sumbar terkendala untuk memasok lobster laut ke buyers nya,” kata Dinon kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).
Dia menjelaskan melihat dari hasil budidaya itu, ada sejumlah kendala untuk bisa membuat budidaya lobster ini bisa dilakukan secara berkelanjutan, sehingga bisa mendapatkan kondisi lobster yang dibudidaya tersebut, layak untuk mengisi pasar global.
Kendala yang dimaksud, mulai dari sulitnya untuk menyediakan benih bening lobster (BBL), karena di dalam aturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak diperbolehkan adanya perdagangan benih lobster laut itu. Artinya, untuk mendapatkan benih lobster itu tidak bisa dibeli, sementara kebutuhan BBL bersifat berkelanjutan.
“Budidaya lobster ini bisa dikembangkan, asalkan BBL nya tersedia dengan baik. Jadi apabila pembudidaya yang butuh BBL tidak mengajukan ke DKP, lalu akan diberikan secara gratis. Nah, untuk pengadaan BBL ini yang belum ada di Sumbar,” sebutnya.
Menurutnya meski DKP punya UPTD balai benih ikan, untuk mendapatkan bibitnya itu menjadi kendala yang belum ada solusinya saat ini. Akan tetapi, Dinon berpendapat, budidaya lobster bisa dilakukan di perairan Sumbar ini, bukan dimulai dari ukuran benih, tapi bersifat pembesaran lobster yang berukuran kecil, dan apabila sudah memiliki ukuran yang layak jual atau ekspor, barulah dipanen dari tambak.
“Jadi mengingat benih lobster dilarang perdagangannya, yang bisa dilakukan pembudidaya adalah untuk membesarkan lobster yang memiliki bobot masih kecil dan belum layak jual. Ditampung dulu, di kasih pakan di dalam tambak, tunggu tumbuh besar, ketika sudah punya bobot yang bagus, baru dijual. Pemasoknya bisa dari nelayan,” ujarnya.
Kemudian persoalan lainnya, jika pun budidaya dilakukan yang seperti itu, akan sulit untuk bisa bagi pembudidaya mendapatkan lobster dalam jumlah yang banyak dari nelayan. Padahal, kalau keperluan budidaya membutuhkan lobster yang banyak, dan berharap dari tangkapan nelayan, secara volume akan sulit didapatkan dalam jumlah besar.
Oleh karena itu, Dinon menegaskan untuk melakukan budidaya lobster ini, memang perlu dikaji lagi, mulai dari soal sumber benih atau BBL nya, apakah akan ada secara berkelanjutan.
Selain itu, lanjut Dinon, perlu juga ada pembahasan, terkait aturan yang memperbolehkan bagi pembudidaya untuk mendapatkan benih lobster yang diperdagangan secara legal atau berizin.
Selanjutnya, pemerintah perlu hadir dalam perdagangan lobster ini, karena sampai saat ini belum ada kerjasama yang tertulis di atas kertas antara pemerintah dengan buyers, sehingga perdagangan lobster hasil tangkapan nelayan dilakukan secara bebas oleh buyers, dan membuat harga lobster belum mendapatkan harga yang sesuai pasar.
“Kedepan, tentu kami akan wujudkan budidaya lobster laut ini bisa terus berlangsung di perairan Sumbar, seperti di Mentawai dan Kabupaten Pesisir Selatan, dengan catatan kendala-kendala yang ada saat ini, ada solusinya, tanpa ada merugikan pihak manapun,” tutupnya.
Ekspor Lobster Sumbar Turun Drastis, Budidaya Jadi Harapan Baru
Ekspor lobster Sumbar turun drastis akibat cuaca panas dan berkurangnya nelayan. Budidaya lobster jadi solusi potensial, didukung pemerintah dan pelatihan. [788] url asal
#ekspor-lobster #lobster-laut #penurunan-ekspor #nelayan-lobster #cuaca-panas #pasokan-lobster #budidaya-lobster #lobster-sumbar #lobster-mentawai #lobster-pesisir-selatan #harga-lobster #ekspor-ke-chi
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/06/26 12:30
v/258326/
Bisnis.com, PADANG — Ekspor komoditas lobster laut asal Sumatra Barat mengalami penurunan cukup drastis akibat turunnya hasil tangkapan nelayan dan berkurangnya pencari lobster di daerah tersebut.
Eksportir asal Padang, Misho, mengatakan penurunan sudah terjadi dalam setahun terakhir. Pasokan dari Mentawai dan Pesisir Selatan kini jauh berkurang akibat cuaca panas berkepanjangan yang membuat lobster sulit ditangkap karena tidak keluar dari karang.
Menurut dia, kondisi itu membuat banyak nelayan mengurangi aktivitas penangkapan. Hasil tangkapan yang masuk ke pengepul kini hanya dalam jumlah kecil, meski tetap dibeli dengan syarat hidup dan sehat serta mengikuti harga pasar.
Akibat penurunan pasokan, Misho tidak lagi mengekspor langsung dan memilih menjual ke Jakarta sebelum diteruskan ke China dan Taiwan karena volume tidak mencukupi untuk ekspor mandiri.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di daerah lain sehingga banyak eksportir beralih menjadi pengepul sebelum menggabungkan pasokan untuk ekspor.
“Keluhannya sama, hasil tangkapan nelayan di daerah lain juga turun akibat cuaca panas,” tegasnya.
Peluang Besar dari Budidaya Lobster
Misho menilai prospek pasar ekspor lobster Indonesia masih sangat besar karena permintaan dari China saja belum dapat dipenuhi secara maksimal. Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah mengembangkan budidaya lobster laut di Sumbar yang memiliki kondisi perairan cukup baik.
Namun, menurutnya, pengembangan budidaya perlu dibarengi peningkatan pengetahuan dan teknik pembudidayaan agar menghasilkan lobster berkualitas ekspor.
“Sekarang sebenarnya ada nelayan lokal yang melakukan budidaya lobster laut, yakni lobster jenis pasir dan mutiara. Saya sudah melihat hasil panennya, ternyata cangkangnya sangat lunak dan warnanya sedikit pucat. Kondisi tersebut tidak memenuhi syarat untuk ekspor. Namun, untuk memenuhi kebutuhan restoran atau rumah makan, hasil seperti itu sudah cukup bagus,” katanya.
Untuk meningkatkan kualitas budidaya, Misho berharap pemerintah daerah memfasilitasi studi banding ke Vietnam yang dikenal sebagai negara penghasil lobster budidaya berkualitas.
Menurutnya, jika dilakukan secara serius dan konsisten, Sumbar berpotensi menjadi sentra lobster nasional dengan dukungan daerah pesisir seperti Mentawai, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat.
Misho bahkan menawarkan diri membantu proses belajar budidaya lobster ke Vietnam dengan biaya pribadi. Dia hanya meminta dukungan berupa surat resmi dari pemerintah daerah untuk memudahkan koordinasi dengan pelaku usaha budidaya di negara tersebut.
“Pemerintah daerah tidak perlu memikirkan biaya saya. Asalkan ada surat resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, itu sudah menjadi modal kuat bagi saya untuk pergi ke Vietnam,” ungkapnya.
Uji Coba Budidaya Lobster di Pesisir Selatan
Sebelumnya, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar telah memulai uji coba budidaya lobster laut di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Sebanyak 700 ekor benih lobster dibudidayakan oleh nelayan Afrizal yang dikenal sebagai pelopor budidaya lobster di wilayah tersebut.
Program ini dimulai pada 2024 saat DKP Sumbar menggelar pelatihan budidaya lobster. Afrizal terpilih mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, salah satu kawasan perikanan besar di Indonesia.
Di sana dia mempelajari berbagai hal mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air, hingga menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal.
“Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu. Tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Sepulang dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmunya. Pada Oktober 2024, ia menebar 700 ekor benih lobster jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, dengan dukungan DKP Sumbar. Benih tersebut dirawat secara disiplin, diberi pakan berupa potongan kerang dan keong, ikan rucah, serta rajungan kecil setiap hari, sekaligus menjaga kebersihan air agar tetap jernih.
Hasilnya cukup menggembirakan. Setelah satu tahun, pertumbuhan lobster dinilai baik. Namun, untuk kebutuhan ekspor, kondisi cangkang masih tergolong lunak sehingga meningkatkan risiko kematian saat pengiriman.
“Ekspor lobster ini harus dalam keadaan hidup hingga sampai ke negara tujuan. Nah, hasil dari diskusi pengepul di Padang, ternyata tidak layak, risiko mati tinggi. Ke depan, tentu saya berharap ada solusi dari hal ini,” pintanya.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan optimisme terhadap prospek perikanan budidaya nasional.
"Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari US$414 miliar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” ujarnya, seperti dikutip dari situs KKP.
Program percontohan budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) di atas 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, sebagian besar lobster tumbuh hingga ukuran konsumsi ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster juga dinilai dapat menekan praktik penyelundupan benur yang masih terjadi.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.
Budidaya Lobster Laut, Harapan Baru Ekonomi Pesisir Sumbar
Budidaya lobster laut menjadi harapan baru ekonomi pesisir, mengurangi ketergantungan tangkapan liar. [1,210] url asal
#budidaya-lobster #lobster-laut #ekonomi-pesisir #budidaya-lobster-laut #keramba-jaring-apung #nelayan-sumbar #benih-lobster #pertumbuhan-lobster #harga-lobster #dukungan-pemerintah #ekonomi-berkelanju
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/11/25 20:58
v/24098/
Bisnis.com, PAINAN -Siang itu, di perairan Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, suara ombak terdengar bersahutan lembut. Air laut tampak jernih, sementara di kejauhan tampak beberapa keramba jaring apung (KJA) berjejer rapi di atas permukaan air.
Di salah satu keramba itu, seorang pria berkaos biru muda sedang sibuk memeriksa jaring-jaring yang tergantung di bawahnya. Dia adalah Afrizal, seorang nelayan lokal yang kini dikenal sebagai pelopor budidaya lobster laut di wilayahnya.
Dengan hati-hati, Afrizal menarik salah satu jaring ke permukaan. Seketika, tampak beberapa ekor lobster laut jenis pasir yang bergerak lincah, dengan warna cangkang kehijauan dengan ukuran tubuh yang tampak kokoh. Beratnya rata-rata sudah mencapai 400 gram per ekor. “Alhamdulillah, pertumbuhannya bagus sekali. Sebentar lagi bisa panen,” ucapnya dengan senyum bangga, Sabtu (1/11/2025).
Perjalanan Afrizal menekuni budidaya laut dimulai jauh sebelum lobster-lobsternya tumbuh sebesar sekarang. Sejak 2014, dia telah membudidayakan ikan kerapu menggunakan sistem keramba jaring apung. Dia belajar secara otodidak, bermodalkan pengalaman sebagai nelayan yang sudah puluhan tahun memahami seluk-beluk kehidupan laut.
“Dulu saya cuma tahu tangkap ikan di laut lepas, tapi lama-lama saya sadar, hasil tangkapan tidak selalu stabil. Makanya saya mulai mencoba budidaya,” ujarnya.
Awalnya, usaha itu dijalankan dengan peralatan sederhana dan modal terbatas. Namun berkat ketekunan dan kemauannya belajar, budidaya ikan kerapu milik Afrizal berkembang pesat. Kini dia memiliki beberapa unit keramba yang diisi ikan kerapu berukuran konsumsi dan siap panen di penghujung tahun 2025.
Keberhasilan itu membuat Afrizal semakin percaya diri untuk mencoba sesuatu yang baru. Kesempatan itu datang pada tahun 2024, ketika Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar memberikan program pelatihan budidaya lobster laut. Afrizal terpilih untuk mengikuti pelatihan di Sibolga, Sumatra Utara, daerah yang dikenal sebagai salah satu kawasan perikanan yang cukup besar di Indonesia.
Di sana dia belajar banyak hal, mulai dari pemilihan benih, teknik pemberian pakan, sistem sirkulasi air, hingga cara menjaga kualitas lingkungan laut agar lobster tumbuh optimal. “Belajar di Sibolga membuka wawasan saya. Lobster memang butuh perhatian lebih dibanding ikan kerapu, tapi kalau dirawat dengan benar, hasilnya jauh lebih menjanjikan,” tutur Afrizal.
Awal Harapan Baru
Sepulang dari pelatihan, Afrizal langsung menerapkan ilmu yang diperolehnya. Pada Oktober 2024, dia menebar 700 ekor benih lobster laut jenis pasir di keramba miliknya di Sungai Bungin, yang dibantu dan didukung oleh DKP Sumbar. Benih-benih itu dirawat dengan disiplin, diberi pakan berupa potongan kecil kerang dan keong, kemudian ada ikan rucah dan rajungan kecil setiap hari, serta dijaga kebersihan airnya agar tetap jernih.
Hasilnya tidak mengecewakan. Setelah setahun berjalan, pertumbuhan lobster sangat menggembirakan. Dari ratusan ekor yang ditebar, hampir semuanya bertahan hidup hingga kini.
Bobot rata-rata mencapai lebih dari 400 gram per ekor, tanda bahwa lobster siap dipanen pada pertengahan Desember 2025. Tingkat kematiannya bila dihitung dari benih menjadi 400 gram saat ini juga sangat rendah yakni hanya 10% saja. “Kalau panen nanti berhasil, ini jadi tonggak sejarah baru bagi kami di Sungai Bungin,” sebutnya.
Dia menjelaskan jenis lobster pasir yang dibudidayakannya memiliki nilai jual tinggi. Di pasaran, harga lobster jenis ini bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp800.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas. Dengan hasil panen yang stabil, pendapatan dari budidaya lobster bisa jauh melampaui penghasilan dari menangkap ikan biasa.
Dukungan Pemerintah dan Semangat Gotong Royong
Keberhasilan Afrizal tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah. DKP Sumbar secara aktif memberikan bantuan teknis dan pendampingan kepada kelompok nelayan yang tertarik menekuni budidaya lobster laut. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ekonomi pesisir dan mengurangi ketergantungan terhadap tangkapan liar yang semakin menurun akibat perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan.
“Kami ingin nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkap. Budidaya seperti ini lebih berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Reti Wafda.
Melihat hasil positif di lapangan, DKP berencana menambah jumlah benih lobster yang akan disebar di kawasan Sungai Bungin. Mereka juga tengah mendorong terbentuknya kelompok nelayan lainnya agar para nelayan bisa bekerja secara kolektif berbagi pengetahuan, peralatan, dan pemasaran hasil panen.
Afrizal sendiri sangat mendukung langkah itu. Dia menyadari, kesuksesan tidak akan berarti jika hanya dinikmati sendiri. “Saya ingin mengajak lebih banyak nelayan bergabung. Di sini masih ada sekitar 20 hektare hamparan laut yang bisa dikembangkan untuk budidaya lobster. Kalau semua bergerak bersama, Sungai Bungin bisa jadi sentra lobster laut di Sumbar,” tuturnya penuh semangat.
Di luar keuntungan pribadi, keberhasilan budidaya lobster laut membawa harapan baru bagi perekonomian masyarakat pesisir. Selama ini, sebagian besar nelayan di Sungai Bungin hidup dari hasil tangkapan harian yang tidak menentu. Cuaca buruk sering kali membuat mereka tak bisa melaut, sementara harga ikan tangkapan kerap turun di musim panen.
Dengan adanya budidaya lobster, roda ekonomi desa mulai berputar lebih stabil. Permintaan pakan, peralatan keramba, hingga tenaga kerja tambahan untuk perawatan lobster membuka peluang ekonomi baru. Beberapa pemuda yang sebelumnya merantau mulai tertarik kembali ke kampung halaman untuk ikut mengelola keramba.
“Sekarang sudah banyak anak muda yang bantu di sini. Mereka semangat, karena lihat hasilnya nyata,” kata Afrizal.
Selain itu, budidaya lobster juga memiliki potensi besar untuk ekspor. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu pemasok lobster laut dunia, meski banyak yang masih berasal dari hasil tangkapan liar. Dengan budidaya yang terkontrol, kualitas lobster bisa dijaga dan produksinya berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat menyaingi dominasi Vietnam yang selama ini menjadi pemain utama di pasar ekspor lobster Asia.
Menuju Desa Mandiri Pesisir
Afrizal memandang budidaya lobster bukan sekadar bisnis, tetapi juga sarana untuk membangun kemandirian masyarakat. Dia percaya, jika nelayan bisa mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan, kesejahteraan bukan lagi impian. “Kalau mau sukses, jangan sendiri-sendiri. Mari sukses bareng-bareng,” ujarnya sambil menatap hamparan laut di hadapannya.
Visi itu sejalan dengan semangat pemerintah daerah yang ingin menjadikan Sungai Bungin sebagai desa mandiri pesisir. Dengan potensi laut yang luas dan dukungan masyarakat yang kuat, daerah ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi biru berbasis masyarakat.
Harapan besar kini menggantung di atas laut biru Pesisir Selatan. Dari keramba sederhana milik Afrizal, semangat perubahan mulai tumbuh. Jika dulu nelayan hanya menunggu hasil tangkapan dari laut, kini mereka bisa menciptakan hasilnya sendiri.
Budidaya lobster laut di Sumbar bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang memberi harapan baru, bahwa laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga sumber kesejahteraan yang bisa dikelola bersama.
KKP Mendukung Penuh Budidaya Lobster dalam Negeri
Dalam situs resmi KKP, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan optimisme terhadap prospek besar perikanan budidaya nasional. "Sudah 2 tahun ini kami bekerja dengan riset dan uji coba. Kami memiliki bibit yang sangat melimpah. Pasar seafood dunia itu tidak kurang dari 414 miliar dolar, sementara ekspor Indonesia baru US$5 miliar. Potensi ini sangat besar, dan dengan dukungan berbagai pihak, kita optimis mampu mengejar ketertinggalan di sektor budidaya ikan,” jelasnya.
Program modeling budidaya lobster telah dimulai sejak akhir 2024 dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mencapai lebih dari 80% sebelum dipindahkan ke keramba jaring apung untuk tahap pembesaran. Hasilnya, kata sebagian besar lobster berhasil tumbuh dengan ukuran konsumsi ideal.
“KKP mendukung penuh budidaya lobster dalam negeri agar kesejahteraan nelayan dan pembudidaya meningkat serta menjaga keberlangsungan biota laut,” tegasnya.
Menurutnya selain mampu meningkatkan nilai ekonomi, budidaya lobster laut juga mampu menekan angka penyelundupan benur atau benih lobster yang masih sering terjadi.
“Pesan saya jelas bahwa budidaya akan dikembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budidaya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” tutupnya.
Optimisme Baru dari Laut Sumbar: Nelayan Lokal Menjajal Budidaya Lobster
Nelayan di pesisir Sungai Bungin jajal langkah besar budidaya lobster laut sebagai mimpi baru bertahan hidup. [916] url asal
#lobster #petani-lobster #budidaya #budidaya-lobster #budidaya-lobster-laut #lobster-laut #sumbar #nelayan-di-sumbar #nelayan-sumbar
(Bisnis.Com - Terbaru) 28/10/25 12:38
v/18348/
Bisnis.com, PADANG - Angin laut berhembus pelan di pesisir Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Di atas hamparan air biru yang jernih, beberapa nelayan sibuk memeriksa keramba kecil tempat ratusan lobster tumbuh dan berkembang.
Sejak hampir setahun terakhir, kawasan ini menjadi saksi awal dari mimpi besar Sumbar untuk membudidayakan lobster laut sebuah langkah berani di tengah fluktuasi hasil tangkapan yang selama ini menggantung pada kemurahan cuaca.
Bagi masyarakat pesisir, lobster bukan sekadar komoditas mahal, tapi merupakan simbol harapan baru bagi kehidupan yang lebih sejahtera.
“Dulu nelayan di sana hanya berharap dari tangkapan di laut. Kalau cuaca buruk, hasilnya juga buruk. Sekarang, semenjak adanya bantuan yang kami berikan, dan nelayan pun terlihat sangat serius dan antusias untuk budidaya lobster ini, alhamdulillah ada hasil positif yang terlihat,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Reti Wafda kepada Bisnis di Padang, Senin (27/10/2025)
Program budidaya lobster laut ini dimulai pada November 2024 lalu. DKP Sumbar menyalurkan 200 benih lobster kepada dua kelompok nelayan, lengkap dengan bantuan keramba dan kerangkeng.
Satu tahun berlalu, hasilnya mulai tampak menggembirakan. Berat lobster telah menembus 400 gram per ekor tanda panen pertama tinggal menunggu waktu.
Menurutnya alasan Sungai Bungin dipilih, karena memiliki karakteristik perairan yang sesuai, yakni ada terumbu karang, pasir putih, dan kondisi air yang stabil.
“Habitat alami lobster laut memang di perairan yang memiliki terumbu karang, dari pantai dangkal hingga kedalaman 100 meter. Kondisi di Sungai Bungin mendukung proses budidaya yang alami,” ujarnya.
Pakan yang digunakan pun bukan pelet buatan, melainkan daging kerang yang dipotong kecil-kecil agar para baby lobster bisa dengan mudah mengonsumsi pakan tersebut, dan kondisi ini juga ingin menciptakan kondisi seakan lobster ini hidup di alam bebas.
Reti bilang untuk keberanian memulai budidaya lobster tidak datang tanpa tantangan. Dari sisi teknis, perawatan lobster laut menuntut kesabaran dan ketelitian tinggi. Tapi yang lebih kompleks justru datang dari selera pasar.
Pasar yang Selektif
Missho, seorang pengepul lobster di Padang yang telah mengekspor hasil laut ke Hong Kong, menilai inisiatif pemerintah daerah patut diapresiasi. Menurutnya, Sumbar memiliki potensi perairan yang luas untuk menopang produksi lobster laut. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa pasar global memiliki standar yang sangat ketat.
“Permintaan dari luar negeri masih didominasi lobster hasil tangkapan laut, bukan dari budidaya,” kata Missho. Masalahnya, lobster hasil budidaya ini lebih rentan mati, sehingga sulit dikirim dalam keadaan hidup. Kalau mati di perjalanan, harganya jatuh jauh.
Dia juga menjelaskan perbedaan yang sering menjadi pertimbangan buyer internasional warna cangkang.
“Cangkang lobster budidaya biasanya lebih pucat dibandingkan lobster tangkapan laut. Buyer bisa tahu dari warna saja,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pembudidaya lobster di Sumbar. Jika ingin menembus pasar ekspor, mereka perlu memastikan lobster hasil budidaya memiliki daya tahan dan kualitas yang setara dengan hasil tangkapan liar.
Missho bahkan menawarkan diri membantu pemerintah daerah belajar ke Vietnam, negara yang sukses mengembangkan budidaya lobster laut hingga diterima pasar global.
“Silakan Pemprov Sumbar bersurat ke Vietnam. Saya siap bantu fasilitasi kunjungan belajar ke sana, biayanya saya tanggung. Asal ada izin resmi, supaya langkahnya jelas,” ucapnya.
Belajar dari Vietnam hingga antusiasme yang tinggi...
Vietnam selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling berhasil mengembangkan budidaya lobster laut. Dengan teknologi dan manajemen rantai pasok yang terintegrasi, lobster budidaya dari negara itu mampu bersaing di pasar internasional baik dari sisi kualitas maupun ketahanan hidup, dan itulah model yang ingin dicontoh oleh Sumbar.
Reti menyampaikan DKP juga membuka peluang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas pembudidaya lokal.
“Kami sadar, ini langkah awal. Karena itu, kami terbuka untuk masukan dari para pelaku usaha dan ahli yang sudah berpengalaman,” katanya.
Pada tahap awal, fokus pemerintah daerah adalah menguatkan pasar domestik. Restoran dan hotel di kota-kota besar seperti Padang, Bukittinggi, dan Jakarta bisa menjadi sasaran utama.
“Pasar dalam negeri juga sangat potensial. Tapi tetap harus dijaga agar lobster dikirim dalam kondisi hidup dan segar,” tambahnya.
Untuk menekan risiko kematian lobster dalam pengiriman, beberapa nelayan di Sungai Bungin mulai berinovasi. Mereka memanfaatkan air laut yang diolah dengan sistem aerasi sederhana, menjaga oksigen tetap stabil selama transportasi. Meskipun masih eksperimental, cara ini terbukti bisa memperpanjang daya tahan lobster hingga dua hari lebih lama.
Antusiasme yang Menular
Meski masih dalam tahap awal, semangat nelayan di Sungai Bungin menular ke daerah lain. Beberapa kelompok nelayan dari Pesisir Selatan dan Padang Pariaman sudah menyatakan minat bergabung. DKP Sumbar pun merespons cepat. Dalam anggaran perubahan 2025, pemerintah berencana menambah bantuan benih sebanyak 8.000 ekor lobster serta membangun 150 kerangkeng baru.
Reti optimistis program ini bisa menjadi penggerak ekonomi baru di pesisir Sumbar. “Lobster laut punya nilai jual tinggi. Kalau budidaya ini berhasil, dampaknya bisa besar sekali untuk masyarakat. Kami ingin nelayan tak hanya bergantung pada cuaca,” tegasnya.
Harapan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan global terhadap lobster terus meningkat, terutama dari Tiongkok dan negara-negara Asia Timur.
Harga di pasar internasional terbilang mahal, dan tergantung jenis serta ukuran. Bila Sumbar mampu menghasilkan lobster budidaya berkualitas, peluang ekspor sangat terbuka lebar.
Di satu sisi, optimisme menyala di antara nelayan Sungai Bungin yang mulai melihat hasil kerja kerasnya. Namun disisi lain, ada kesadaran bahwa perjalanan menuju pasar global masih panjang. Dari kualitas pakan, desain keramba, hingga distribusi logistik semuanya membutuhkan perbaikan berkelanjutan.
Bagi nelayan setempat, keberhasilan tidak diukur dari cepatnya ekspor, melainkan dari keberlanjutan. Tapi yang mereka inginkan bisa hidup layak dari laut, tanpa harus bergantung pada nasib.
Kini adanya perhatian DKP Sumbar terhadap budidaya lobster laut memberi harapan baru bagi ekonomi pesisir. Program ini diharapkan terus berlanjut, karena bisa jadi sumber penghasilan tetap bagi nelayan, bukan hanya saat musim tangkap.
Pemprov Sumbar Siapkan 8.000 Benih Lobster
Untuk mendukung budidaya lobster, Pemprov Sumbar bakal mengadakan 8.000 benih. [373] url asal
#benih-lobster #budidaya-lobster #sumatra-barat-lobster #sungai-bungin-budidaya #pesisir-selatan-lobster #terumbu-karang-lobster #lobster-laut #pasar-lobster #ekspor-lobster #bibit-lobster-lokal #keram
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/10/25 21:01
v/12764/
Bisnis.com, PADANG—Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bakal mengadakan 8.000 benih lobster untuk mendukung program budidaya produk perikanan.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat memilih wilayah Sungai Bungin, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, sebagai tempat untuk melakukan budidaya lobster laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar, Reti Wafda mengatakan minat masyarakat yang besar dan pasar yang menjanjikan membuka peluang bagi pengadaan benih lobster.
“Dibutuhkan sekitar 8.000 benih lobster, dan bantuan benih lobster ini ada pada anggaran perubahan,” ujarnya Rabu (22/10/2025).
Pengadaan 8.000 benih lobster menyusul program yang dimulai pada November 2024. Kala itu, dua kelompok pembudidaya mendapatkan 200 ekor lobster. Dalam waktu dekat, dia menyebut lobster bisa dipanen.
Lebih lanjut, dia menyebut bahwa budidaya lobster pun tak bisa sembarangan. Laut yang memiliki terumbu karang dan pasir putih akan menjadi tempat yang pas bagi budidaya lobster berkualitas.
“Karena habitat alami lobster laut ini adalah kawasan terumbu karang di perairan pantai dari yang dangkal sampai 100 meter di bawah permukaan laut dan 200 meter dari bibir pantai.”
Di Sungai Bungin itu, DKP Sumbar tidak hanya membantu 200 benih lobster, tetapi juga memberikan bantuan berupa keramba dan kerangkeng serta sekitar 200 benih bening lobster. Kini, dari tahapan demi tahapan yang dilakukan kelompok nelayan membuahkan hasil.
“Dari kondisi ini ternyata muncul banyak peminat untuk memperluas budidaya lobster. Kami memastikan untuk budidaya lobster ini memang akan menjadi salah satu prioritas DKP, agar lobster ini bisa berkembang dan baik, karena dampaknya sangat besar bagi perekonomian,” jelasnya.
Reti menyebutkan selama ini lobster laut menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dibutuhkan bagi pasar dunia, salah satunya Hong Kong yang menjadi tujuan ekspor.
Adanya potensi perikanan budidaya di Sungai Bungin yang dinilai sangat menjanjikan ini, Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni menyampaikan wilayah tersebut memang sangat ideal untuk pengembangan budidaya lobster laut maupun ikan kerapu.
“Hal ini tentunya memberikan dampak yang positif bagi perekonomian masyarakat, dan tentunya harus didukung,” ungkapnya.
Hendrajoni juga menyoroti potensi bibit lobster yang tersedia di Laut Pesisir Selatan. Dia menegaskan bahwa semua kebutuhan bibit bisa dipenuhi secara lokal tanpa harus mendatangkannya dari luar daerah.
“Bibit di Pesisir Selatan ini kan banyak dan cukup bagus. Tak perlu cari ke luar, cukup di Pesisir Selatan saja, dan bisa mendapatkan bibit unggul untuk budidaya,” ungkapnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56