Bisnis.com, JAKARTA – Belakangan, aksibuybacksaham ramai-ramai dilakukan oleh emiten di pasar modal Tanah Air selepas valuasinya jatuh imbas pengumuman pembekuan dari MSCI. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah tekanan regulator untuk meningkatkanfree float15% dalam waktu dekat.
Dari Grup Barito misalnya, terdapat sedikitnya lima emiten yang akan melakukanbuyback. Kelima emiten Prajogo Pangestu itu telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai total mencapai Rp6,75 triliun.
Diperinci, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) berencana melakukanbuybackmasing-masing senilai Rp1 triliun. Sementara PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mengalokasikan masing-masing Rp2 triliun. Hanya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang mengalokasikan Rp750 miliar untukbuyback.
Aksibuybacktersebut dilakukan para emiten sejalan dengan kondisi harga sahamnya yang sempat ambles lantaran pengumuman MSCI Inc. mengenai pembekuanrebalancingindeks terhadap saham Tanah Air. Selama sebulan terakhir misalnya, harga BRPT telah ambles 34,17%, BREN terkoreksi 14,73%, CDIA melemah 34,99%, CUAN melemah 25,33%, dan hanya TPIA yang menguat 1,75% setelah sempat ambles sebelumnya.
Hanya saja, rencana aksi korporasi itu cenderung bersifat paradoksikal di tengah rencana BEI dan OJK untuk menaikkan batas minimum saham beredar di publik ataufree float. Pasalnya, berdasarkan dataBloombergper 2 Februari 2026,free floatBREN hanya sebesar 12,29% dan TPIA hanya sebesar 10,67%. Hal itu berarti, aksi korporasi ini berpotensi kian mengurangi jumlah saham beredar kedua emiten tersebut di publik.
Tidak hanya BREN dan TPIA. Sejumlah emiten lain di pasar modal yang tengah krisisfree floatjuga melakukan hal serupa. PT Bangun Kosambi Sukses Tbk. (CBDK) atau PT Paramita Bangun Sarana Tbk. (PBSA) juga melakukan hal yang sama. Sementara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) memilih melanjutkanbuyback.
Kondisinya serupa Grup Prajogo, selama sebulan terakhir, harga CBDK telah ambles 29,71%, PBSA terkoreksi 3,55%, BBHI terkoreksi 3,03%, dan TBIG telah longsor 32,12%.
Dalam laporan registrasi bulanan pemegang efek, CBDK hanya menggenggamfree floatsebesar 12,73%. Hal itu tampak dari kepemilikan saham masyarakat Indonesia dan asing dalam penitipan kolektif di KSEI. Sementarafree floatPBSA tercatat sebesar 14,42%, yang mengecualikan kepemilikan perusahaan terbatas NPWP dalam laporannya. BBHI tidak jauh berbeda, dengan kepemilikan publik sebesar 16,85%, yang mengecualikan kategori perseroan terbatas dalam kepemilikan saham pada laporan komposisi kepemilikan saham.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafimenilai aksi korporasi yang dilakukan oleh sejumlah emiten di tengahfree floatyang seret sebetulnya lebih bertujuan untuk menghentikan koreksi harga saham yang belakangan terjadi.
“Lebih kecrisis managementbuat menghentikan koreksi harga saham. Ini juga sinyal bahwa manajemen siap pasang badan menjaga kapitalisasi pasar meski harus menunda pemenuhan regulasi likuiditas,” katanya kepadaBisnis, Kamis (5/2/2026).
Pasalnya, selepas pasar modal Tanah Air berdarah-darah akibat pengumuman MSCI Inc., regulator kini tengah menggencarkan mengerek batas minimumfree float. Data hingga 2 Februari 2026 terdapat 248 emiten yang memiliki free float di bawah 15%. Bila diurutkan dari emiten denganmarket capterbesar, BREN dan TPIA ada di daftar teratas.
Meskipun aksi korporasi ini kemudian berpotensi membuat saham tersebut menerima sanksi lantaran tidak memenuhi aturanfree float, tetapi Wafi menilai bahwa emiten terkait biasanya telah memilikiexit plan.
“Ini menunjukkan kekuatan kas perusahaan. Ada risiko sanksi BEI tapi manajemen kemungkinan besar memiliki strategiexit, seperti jual kembali sahamtreasurysaat nanti harga sudah stabil untuk kembali memenuhi kuotafree float,” tambahnya.
Senada, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai bahwa aksi korporasi itu dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham usai pasar mengalami guncangan pada perdagangan pekan lalu.
"Buybackkemungkinan untuk menjaga stabilitas harga, mengelola valuasi saat pasar volatil, dan mengaturtimingpelepasan saham di harga lebih optimal di kemudian hari," kata David kepadaBisnis, Kamis (5/2/2026).
Wanti-wanti Investor
Di satu sisi, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati, mewanti-wanti investor ihwal trenbuybackyang belakangan terjadi. Pasalnya, sejumlah emiten di pasar modal telah mengumumkan hal serupa, selain dari Grup Prajogo.
Dari perbankan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga mengumumkan hal serupa belakangan. BBCA melakukanbuybackdengan nilai maksimal Rp5 triliun sementara BBNI berencana menggelontorkan dana senilai Rp1,5 triliun.
Seyogianya, kata Ike, investor mesti terlebih dahulu mengecek porsi saham beredar di publik sebelum memutuskan untuk membeli suatu saham yang tengah melangsungkanbuyback.
“Investor harus mengecek datafree floatmasing-masing emiten yang melakukanbuyback. Jangan sampaibuybackjustru menjadi pedang bermata dua. Tujuannya baik untuk stabilitas harga, tetapi tanpa mempertimbangkan adanya kemungkinan benturan kebijakanfree float15%,” katanya kepada Bisnis, Kamis (5/2/2026).
Senada, KISI juga menilai di tengah kondisi maraknya emiten melakukanbuyback, investor dapat memanfaatkan momentum tersebut secara jangka pendek. Terlebih,buybackdinilai akan menjadi salah satu opsi pertahanan emiten guna menopang valuasi saham mereka.
Hanya saja, secara jangka panjang, investor dinilai mesti berhati-hati lantaran dengan mengecilnya porsi kepemilikan publik terhadap suatu saham, mampu membuat saham tersebut tidak lagi dilirik oleh investor global.
“Trading buy jangka pendek untuk memanfaatkan momentumsupportyang dibuat emiten. Namun, investor jangka panjang perlu waspada karena mengecilnya porsi publik berisiko membuat saham ini keluar dari indeks global karena tidak investable,” tambahnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.