#30 tag 24jam
BI Sumbar: Persoalan Cuaca jadi Penyebab Hasil Panen Hortikultura Turun
Cuaca ekstrem di Sumbar menyebabkan penurunan hasil panen hortikultura, memicu inflasi 4,52% pada Oktober 2025. BI dan pemda berupaya stabilkan pasokan. [1,157] url asal
#cuaca-ekstrem #hasil-panen-turun #inflasi-sumbar #cabai-merah #bawang-merah #tanaman-hortikultura #bank-indonesia-sumbar #petani-agam #pasokan-pangan #perubahan-cuaca #masa-tanam-bergeser #panen-bawan
(Bisnis.Com - Terbaru) 06/11/25 21:00
v/30335/
Bisnis.com, AGAM - Bank Indonesia turun langsung menemui petani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, untuk mencari tahu penyebab minimnya pasokan pangan ke pasar yang menyebabkan Sumbar mengalami inflasi 4,52% YoY pada Oktober 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, M. Abdul Majid mengatakan komoditas yang memberikan andil dominan pada inflasi Sumbar ini datang dari cabai merah, bawang merah, hingga komoditas lainnya, baik itu untuk laju inflasi secara bulanan (month to month/mtm) maupun kondisi secara tahunan (year on year/YoY).
“Kami telah turun langsung menemui petani di berbagai daerah, yang menjadi sentra tanaman pangan dan hortikultura di Sumbar. Seperti Kabupaten Solok, Tanah Datar, Pesisir Selatan, dan termasuk ke Kabupaten Agam,” katanya, Kamis (6/11/2025).
Dari hasil pantauan langsung ini, BI menemui para kelompok tani, dan dari sana mendapatkan adanya keluhan petani soal kondisi cuaca yang terjadi berada di luar dugaan, sehingga terjadi pergeseran masa tanam dan masa panen. Hal ini turut berdampak pada hasil panen dan kemudian membuat pasokan ke pasar jadi minim.
“BI telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, agar masing-masing kabupaten dan kota melakukan pendataan di lapangan, kawasan pertanian mana saja yang akan melakukan panen dalam waktu dekat ini. Tujuannya, supaya pemda mempunyai pedoman untuk mengambil kebijakan terkait menambah pasokan dari luar daerah,” jelasnya.
Oleh karena itu, dengan adanya upaya BI untuk turun langsung melihat kondisi yang sebenarnya terjadi di tingkat petani ini, inflasi Sumbar hingga penutupan tahun 2025 ini bisa direda.
“Langkah ini penting dilakukan, mengingat akan ada momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang artinya kebutuhan terhadap pangan akan meningkat. Makanya perlu untuk memastikan pasokan dan ketersediaan aman di pasar,” tegasnya.
Kepala Tim Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) BI Sumbar, Lukman Hakim menambahkan dari hasil pantauan langsung ke kawasan pertanian di Nagari/Desa Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, mendapati adanya keluhan petani terkait faktor cuaca.
“Untuk tanaman padi khusus di wilayah Canduang ini sekitar 15 hari lagi rata-rata hamparan sawah akan memasuki masa panen. Kenapa kondisi padi bisa tetap bagus, ternyata petani di Agam sudah banyak menerapkan sistem pertanian sawah pokok murah,” ujarnya.
Kemudian untuk bawang merah, kata Lukman, ternyata kondisi tanaman bawang merah ini terjadi pergeseran masa tanam dan masa panen. Penyebabnya, biasanya jelang penghujung tahun ini tengah terjadi musim hujan, ternyata yang terjadi malah terjadi musim panas.
“Biasanya 2 bulan sekali itu, panen bawang telah dilakukan. Tapi dikarenakan kondisi lagi panas dan hal ini mengancam keberlangsungan tanaman bawang merah, petani harus menunda masa tanam, dan hal ini membuat masa panen pun tidak sesuai rencana petani,” jelasnya.
Akibat dari kondisi panen bawang merah di Sumbar yang tidak stabil dan tidak sesuai dengan rencana, dan diperparah adanya kondisi pertanian di Pulau Jawa yang mengalami gagal panen, membuat kondisi semakin buruk bagi ketersediaan dan pasokan bawang merah ke sejumlah pasar di Sumbar.
“Kondisi membuat harga bawang merah di pasar jadi naik, dan menurut petani kondisi tersebut sudah terjadi sejak Mei 2025,” sebutnya.
Selanjutnya untuk pertanian cabai merah, persoalan yang dihadapi petani hampir sama dengan kondisi tanaman bawang merah. Cuaca panas disertai angin kencang atau dikenal dengan angin selembubu membuat kondisi tanaman cabai merah banyak layu, akibat akar banyak yang goyang bahkan tercabut.
“Kami melihat kondisi dan nasib yang dialami petani di Canduang ini memang terdampak adanya perubahan cuaca,” tegasnya.
Lukman menyampaikan dari kondisi yang ditemukan di tingkat petani ini, akan menjadi catatan penting, untuk dibahas bersama nantinya, bersama Kepala Perwakilan BI Sumbar serta pemerintah daerah.
“Jadi bukan soal kondisi kualitas benihnya, bukan terkendala pupuk juga, tapi soal faktor cuaca yang tak biasa terjadi di penghujung tahun, dan membuat tanaman hortikultura jadi terdampak,” tutupnya.
Selain itu, untuk mendukung optimisme petani ini, BI Sumbar juga turut membantu kelompok petani berupa satu unit becak motor. Dengan adanya becak motor itu, BI berharap adanya kelancaran bagi petani untuk mengangkut hasil panen untuk bisa dijual hingga pasar.
Ketua Kelompok Tani Marapi Millenial Nagari Canduang Koto Laweh, M. Ridha juga mengatakan bahwa kondisi yang dialami petani ini bukan hanya bagi petani di Canduang saja, tapi hampir merata di seluruh daerah di Sumbar. Hal ini dipastikannya, setelah melakukan komunikasi dengan berbagai petani di kabupaten dan kota lainnya di Sumbar, di mana kondisi cuaca benar-benar telah membuat petani jadi merugi.
“Petani Alahan Panjang yang menjadi sentra bawang merah juga mengalami hal yang sama. Jika cuaca terlalu panas, kualitas buah bawang jadi mengecil, tidak ada yang ukuran supernya. Jadi, tonase panen pun jadi turun, sementara dari sisi biaya dan tenaga lebih banyak diberikan pada kondisi cuaca panas,” ujar dia.
Ridha bilang untuk tanaman bawang merah ini, ancaman buruknya itu jika cuaca terlalu panas atau kering, dan apabila cuaca yang terjadi malah lebih sering turun hujan, juga membuat tanaman bawang merah terancam gagal panen.
Menurutnya tanaman bawang ini akan mendapatkan hasil panen yang optimal, bila kondisi cuaca tidak terlalu sering hujan dan durasi panas yang tidak terlalu lama.
“Terkait cuaca kering ini, kami telah melakukan upaya penyiraman secara mandiri yakni satu kali penyiraman per tiga hari. Tapi masalah yang dihadapi sekarang adalah sumber air untuk penyiraman pun cukup jauh untuk didapatkan. Jadi kami benar-benar merasa galau menghadapi kondisi ini,” sebutnya.
Kondisi normal pada tahun 2025 ini terhitung dari Januari - April 2025 saja. Pada awal tahun, cuaca terlihat stabil, terkadang hujan, dan terkadang cuaca panas. Namun, memasuki bulan Mei 2025 hingga sekarang, cuaca yang terjadi tidak menentu, dan bahkan lebih dominan terjadi cuaca panas.
“Kami melihat cuaca tahun ini benar-benar di luar dugaan dan di luar perhitungan,” ungkap Ridha.
Dari kondisi yang demikian, harga bawang merah di tingkat petani terbilang cukup baik yakni Rp22.000 hingga Rp25.000 per kilogram untuk kondisi kecil dan sedang. Sementara untuk bawang ukuran super tidak yang didapatkan oleh petani, karena cuaca panas, pertumbuhan buah bawang merah tidak maksimal.
Di kesempatan yang sama, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Canduang, Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Virgi Astuty menyampaikan kondisi yang dihadapi oleh petani itu, telah disikapi oleh Pemkab. Mulai dari soal tanaman padi yang terbilang sukses untuk dilakukan penyelamatan produktivitas menghadapi kondisi cuaca panas yang berkepanjangan.
“Beruntung petani Canduang telah banyak menerapkan sistem tanam sawah pokok murah, yakni memanfaatkan jerami sebagai wadah penyuburan lahan tanpa harus bergantung pada pupuk kimia. Sistem ini ternyata sangat membantu, dan membuat produksi padi tetap optimal,” kata dia.
Virgi menyatakan khusus untuk persoalan tanaman padi ini, Pemkab Agam sangat memperhatikan penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur seperti halnya saluran irigasi. Pemkab Agam telah cukup banyak membangun dan memperbaiki irigasi pertanian, sebagai upaya memastikan kebutuhan air bagi sawah tetap tercukupi.
Diakuinya adanya kondisi lahan yang terdampak cuaca panas ini, sebagian petani ada yang melakukan alih fungsi lahan, dari semula lahan sawah, menjadi menanam bawang merah, cabai merah, hingga ubi jalar. Cara ini dilakukan, agar lahan yang ada itu tidak dibiarkan tidur.
“Sudah hal yang biasa, memang terjadi alih fungsi lahan. Jadi menyesuaikan kondisi cuaca juga. Seperti halnya cuaca panas ini, ada juga petani yang bertanam cabai merah, dan baru memulai bertanam bawang, dengan harapan akhir tahun ini musim hujan terjadi di wilayah Agam,” tutup Virgi.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56