Liburan ke Kuningan? Temukan penginapan bernuansa alam di kaki Gunung Ciremai. Nikmati kenyamanan modern dan akses mudah ke destinasi wisata. [887] url asal
Bisnis.com, KUNINGAN — Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus menegaskan posisinya sebagai destinasi liburan keluarga yang nyaman dan bersuhu sejuk.
Selain deretan wisata alam di kaki Gunung Ciremai, pilihan tempat menginap yang semakin beragam membuat wilayah ini kian diminati kala libur akhir pekan atau long weekend.
Berikut rekomendasi penginapan unggulan yang menawarkan pengalaman menginap dengan memadukan ketenangan alam dan kenyamanan modern.
Hotel Santika Premiere Linggarjati Kuningan
Hotel ini menjadi salah satu pilihan paling representatif bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman menginap dengan standar tinggi di Kabupaten Kuningan.
Terletak di kawasan Linggarjati, hotel ini berdiri di kaki Gunung Ciremai, memberikan lanskap alam yang langsung memanjakan mata sejak tamu membuka jendela kamar. Suasana kawasan yang relatif tenang membuatnya cocok untuk liburan keluarga maupun perjalanan pasangan.
Secara akses, hotel ini berada di jalur wisata Linggarjati–Cirebon dan dapat dicapai sekitar 25 menit–35 menit dari pusat Kota Kuningan. Jika datang dari arah Cirebon, waktu tempuh berkisar 40 menit melalui jalur utama Kuningan–Cirebon yang sudah cukup mulus.
Wisatawan yang membawa kendaraan pribadi akan sangat terbantu dengan area parkir luas dan sistem arah penunjuk lokasi yang mudah ditemukan di sepanjang jalan utama.
Fasilitas menjadi alasan utama hotel ini selalu masuk daftar teratas destinasi menginap. Kolam renang outdoor, restoran dengan menu lokal dan internasional, area bermain anak, hingga ruang pertemuan modern tersedia untuk mengakomodasi berbagai tipe tamu.
Kualitas tempat tidur, kebersihan kamar, serta pelayanan staf juga mendapat penilaian sangat positif dari banyak pengunjung, khususnya pada periode libur panjang.
Hotel Santika Premiere Linggarjati, Kuningan berlokasi strategis di Jl Raya Linggarjati di Cilimus, hanya 10 km sebelah utara kota Kuningan. /Istimewa-mysantika.com
Untuk wisatawan yang ingin menjelajahi sekitar, hotel ini berada dekat beberapa titik penting seperti Museum Linggarjati, Taman Nasional Gunung Ciremai, serta sentra kuliner khas Kuningan.
Keunggulan lokasinya memudahkan tamu membuat rencana perjalanan tanpa harus menempuh jarak jauh. Kombinasi ini membuat hotel tersebut ideal sebagai “basecamp” eksplorasi Kuningan.
Estimasi biaya menginap berada pada kisaran Rp900.000—Rp1,6 juta per malam, tergantung tipe kamar dan tanggal kunjungan, terutama saat high season long weekend. Harga ini sebanding dengan fasilitas premium yang diberikan, menjadikannya pilihan tepat bagi wisatawan yang mencari kenyamanan dan layanan berkelas.
Grage Resort Sangkan
Grage Resort Sangkan merupakan salah satu ikon penginapan bernuansa alam di kawasan Sangkanhurip, daerah yang populer dengan sumber air panas serta hamparan perbukitan hijau.
Posisi resor yang berada sedikit di ketinggian menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat dari rutinitas, terlebih saat libur panjang ketika kota-kota besar dipadati aktivitas wisata.
Akses menuju resor ini relatif mudah. Dari pusat Kota Kuningan, jaraknya sekitar 20 menit berkendara. Wisatawan dari Cirebon dapat mencapainya dalam waktu 50 menit–60 menit melalui jalur Arjawinangun–Kuningan.
Jalan menuju kawasan Sangkanhurip sudah cukup baik, sehingga aman dilalui kendaraan keluarga. Selain itu, banyak rambu wisata yang memudahkan tamu menemukan arah menuju lokasi.
Fasilitas di resor ini sangat ramah keluarga. Kolam renang luas, taman hijau yang terawat, area outbound, serta penginapan model villa menjadi daya tarik utamanya. Banyak tamu mengapresiasi suasana hening dan udara sejuk yang mengelilingi area resor.
Restorannya menyajikan menu tradisional Sunda yang menjadi salah satu pengalaman kuliner paling dicari wisatawan.
Keunggulan lain resor ini adalah kedekatannya dengan destinasi wisata alam. Pemandian Air Panas Sangkan, Taman Cisantana, dan jalur pendakian Gunung Ciremai via Linggajati berada tak jauh dari kawasan resort.
Grage Resort Sangkan yang berdiri sejak 17 April 1998, dibawah naungan PT Multi Bina Lestari merupakan salah satu unit usaha Grage Group. Memiliki kolam renang air dingin dan air hangat, air terjun, serta fasilitas lain yang dapat menunjang waktu rekreasi Anda. /Istimewa-grageresortsangkan.com
Kombinasi lanskap alam dan fasilitas liburan keluarga menjadikannya tempat favorit saat long weekend atau libur sekolah.
Untuk urusan biaya, tarif menginap di resor ini berkisar antara Rp700.000—Rp1,3 juta per malam, tergantung tipe kamar atau villa. Harga yang relatif moderat membuatnya menjadi pilihan seimbang antara kenyamanan dan keterjangkauan, terutama untuk rombongan keluarga.
The Icon Hotel Kuningan
The Icon Hotel Kuningan menawarkan pengalaman menginap yang lebih modern dan urban dibandingkan dengan dua destinasi sebelumnya.
Terletak di pusat kota, hotel ini cocok bagi wisatawan yang ingin menggabungkan liburan dengan kemudahan akses menuju pusat kuliner, belanja, dan transportasi. Kehadiran hotel berdesain kontemporer ini menjadi opsi menarik bagi tamu muda maupun pelancong bisnis.
Akses menuju The Icon Hotel sangat strategis. Lokasinya berada di jalur utama Kuningan, sehingga mudah dijangkau dari berbagai arah, termasuk dari terminal, pusat perkantoran, hingga area kota tua Kuningan.
Wisatawan yang datang dari Cirebon dapat tiba dalam waktu sekitar 45 menit melalui jalur utama tanpa perlu memasuki daerah pegunungan terlebih dahulu.
Fasilitas hotel ini meliputi kamar modern dengan desain minimalis, Wi-Fi cepat, ruang pertemuan, restoran yang nyaman, serta area parkir yang memadai.
Para tamu kerap memuji suasana kamar yang bersih dan pencahayaan yang hangat, menjadikannya tempat beristirahat yang ideal setelah seharian menjelajahi kota. Hotel ini juga menyediakan layanan ramah bagi tamu yang bepergian untuk urusan pekerjaan.
Dari sisi destinasi sekitar, tamu dapat mengakses sejumlah titik menarik dalam hitungan menit. Area kuliner pusat kota, alun-alun Kuningan, taman kota, serta pusat oleh-oleh berada dalam cakupan jarak yang mudah dicapai berjalan kaki atau menggunakan kendaraan online.
Bagi wisatawan yang ingin mengeksplor kawasan timur Kuningan, hotel ini menjadi titik awal yang tepat.
Biaya menginap di The Icon Hotel relatif terjangkau, yakni sekitar Rp450.000—Rp800.000 per malam. Kisaran harga ini membuatnya menjadi alternatif favorit bagi wisatawan dengan anggaran moderat yang tetap menginginkan kenyamanan dan lokasi strategis.
Bisnis hotel di Kuningan, Jawa Barat, menunjukkan pemulihan dengan peningkatan TPK pada Desember 2025, didorong oleh aktivitas liburan dan event akhir tahun. [516] url asal
Bisnis.com, KUNINGAN — Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Desember 2025 menunjukkan perbaikan signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan mencatat TPK gabungan hotel berbintang dan nonbintang mencapai 37,64% atau naik 5,12 poin dibandingkan November 2025.
Kepala BPS Kuningan, Urip Sugeng Santoso, mengatakan kenaikan tersebut terutama ditopang oleh performa hotel berbintang yang mengalami lonjakan cukup tajam pada periode akhir tahun.
“Hotel berbintang mencatat TPK sebesar 49,94% pada Desember 2025, meningkat 8,15 poin dibandingkan November. Ini menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan TPK secara keseluruhan,” ujar Urip, Kamis (12/2/2026).
Meski menunjukkan tren positif secara bulanan, Urip mengakui capaian tersebut masih berada di bawah kinerja Desember 2024 yang saat itu mencapai 54,37% untuk hotel berbintang.
Sementara itu, segmen hotel nonbintang juga mencatat perbaikan. Pada Desember 2025, TPK hotel nonbintang berada di angka 26,58%, naik 2,40 poin dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, kelompok ini menunjukkan tren pemulihan yang lebih kuat dengan kenaikan 9,44 poin dibandingkan Desember 2024 yang tercatat 29,16%.
Urip menjelaskan, peningkatan okupansi hotel pada Desember tidak terlepas dari tingginya aktivitas masyarakat selama periode libur akhir tahun. Berbagai agenda daerah, mulai dari festival budaya, pertunjukan hiburan rakyat, hingga perayaan Natal dan Tahun Baru, menjadi magnet kunjungan wisatawan.
“Rangkaian event pariwisata dan kegiatan komunitas di akhir tahun berkontribusi terhadap meningkatnya arus kunjungan. Hotel berbintang khususnya mendapat dampak signifikan karena banyak digunakan untuk kegiatan instansi, gathering, maupun event terorganisir,” katanya.
Selain kegiatan budaya dan hiburan, pelaksanaan event olahraga serta pertemuan komunitas turut mendorong kebutuhan akomodasi. Perayaan akhir tahun yang digelar di ruang publik dan kawasan wisata juga membuat wisatawan memilih menginap dibanding sekadar berkunjung singkat.
Menurut Urip, efek berganda dari kegiatan tersebut turut menggerakkan sektor pendukung seperti UMKM, kuliner, dan destinasi wisata lokal, sehingga memperkuat daya tarik Kuningan sebagai tujuan liburan akhir tahun.
Dari sisi rata-rata lama menginap tamu (RLMT), BPS mencatat kondisi relatif stabil. Pada Desember 2025, RLMT gabungan hotel berbintang dan nonbintang tercatat 1,10 malam, sedikit lebih tinggi dibanding November 2025.
“Secara umum durasi menginap masih berada pada pola kunjungan jangka pendek, namun ada kecenderungan menguat dibanding bulan sebelumnya,” ujar Urip.
Di hotel berbintang, RLMT total mencapai 1,16 malam. Angka ini didorong oleh tamu asing yang mencatat rata-rata lama menginap hingga 6,52 malam, meskipun jumlah kunjungannya terbatas. Sementara itu, tamu domestik di hotel berbintang rata-rata menginap 1,14 malam.
Pada hotel nonbintang, RLMT tercatat stabil di angka 1,00 malam, sama seperti bulan sebelumnya. Pola ini mencerminkan karakter wisatawan domestik yang umumnya melakukan kunjungan singkat dan terencana.
Urip menilai, data Desember 2025 menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas wisata tidak hanya berdampak pada jumlah tamu, tetapi juga pada kualitas kunjungan.
“Kita melihat adanya perbaikan dari sisi frekuensi kunjungan dan konsistensi lama tinggal, terutama di hotel berbintang. Ini mengindikasikan bahwa Kuningan semakin dipilih sebagai destinasi beristirahat saat libur akhir tahun,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan tantangan masih ada, terutama untuk mendorong okupansi agar bisa kembali melampaui capaian tahun sebelumnya. Penguatan promosi wisata, pengembangan event berkelanjutan, serta peningkatan kualitas layanan perhotelan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga tren positif tersebut.
Hotel nonbintang di Ciayumajakuning sepi, dengan tingkat hunian hanya 21,76% pada Agustus 2025. Wisatawan datang tanpa menginap, lebih memilih homestay. [504] url asal
Bisnis.com, CIREBON — Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel nonbintang di wilayah Ciayumajakuning masih tertinggal dari rata-rata provinsi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan, pada Agustus 2025 tingkat hunian hotel nonbintang di provinsi ini hanya mencapai 21,76 persen, turun 0,92 poin dibanding Juli. Penurunan ini juga terjadi dibanding periode sama tahun lalu yang tercatat 22,69 persen.
Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menilai penurunan kinerja hotel nonbintang di sejumlah kabupaten dan kota bukan sekadar dampak musiman, melainkan cerminan stagnasi daya tarik wisata di luar destinasi utama seperti Bandung dan Bogor.
Menurutnya, wilayah Ciayumajakuning yang mencakup Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan masih menghadapi kesenjangan besar dalam okupansi dibanding daerah wisata mapan.
“Hotel-hotel nonbintang di Cirebon dan Kuningan masih bertahan di angka 20–22 persen, sedangkan di Indramayu dan Majalengka bahkan di bawah 20 persen. Ini menunjukkan wisatawan datang, tapi tidak banyak yang memutuskan untuk menginap,” ujar Darwis di Bandung, Rabu (19/11/2025).
Dia menambahkan, pergeseran tren perjalanan turut memengaruhi sektor penginapan. Banyak wisatawan domestik kini memilih homestay atau akomodasi daring yang tidak tercatat dalam survei resmi BPS.
Di sisi lain, pelaku usaha hotel di daerah menengah seperti Cirebon dan Majalengka kesulitan menarik tamu karena terbatasnya kegiatan konvensi, perjalanan dinas, dan agenda budaya berskala besar.
“Ciayumajakuning punya potensi besar, tapi belum ada integrasi antarwilayah. Wisatawan ke Cirebon hanya ziarah atau kuliner, lalu pulang. Kuningan memiliki alam bagus, tapi akses transportasi publiknya masih kurang. Majalengka sudah punya bandara, namun belum jadi magnet untuk wisata menginap,” katanya.
Kinerja lama menginap tamu juga memperlihatkan tren serupa. Rata-rata lama menginap tamu asing di Jawa Barat pada Agustus 2025 tercatat 2,72 malam, sedangkan tamu domestik hanya 1,31 malam. Angka di wilayah Ciayumajakuning bahkan lebih rendah, di kisaran satu malam untuk wisatawan lokal.
“Data menunjukkan tamu domestik di Cirebon dan Indramayu hanya menginap satu malam. Ini artinya, banyak kunjungan bersifat perjalanan harian. Potensi ekonomi yang seharusnya bisa diperoleh dari penginapan, kuliner, dan transportasi lokal akhirnya hilang,” kata Darwis.
Sebagai pembanding, daerah industri seperti Karawang dan Purwakarta justru mencatat lama menginap wisatawan asing tertinggi di Jawa Barat, masing-masing 7,73 malam dan 7,17 malam. Kondisi ini memperlihatkan dominasi kunjungan bisnis yang lebih stabil dibanding pariwisata berbasis rekreasi.
Darwis menilai pemerintah daerah di Ciayumajakuning perlu memperkuat sinergi lintas kabupaten. Menurutnya, pengembangan pariwisata tunggal di setiap wilayah sulit menandingi daya saing kawasan seperti Bandung Raya yang memiliki konektivitas tinggi dan agenda wisata reguler.
“Sudah saatnya Ciayumajakuning dikembangkan sebagai koridor wisata terpadu. Konektivitas jalan tol Cisumdawu dan Pantura bisa jadi tulang punggung. Jika promosi bersama dilakukan, wisatawan bisa datang ke Cirebon, lanjut ke Kuningan, lalu ke Majalengka tanpa perlu keluar wilayah,” ujarnya.
Dia menegaskan, peningkatan TPK dan lama menginap tidak hanya bergantung pada pembangunan hotel baru, melainkan pada kemampuan daerah menciptakan alasan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama. Event budaya, festival musik, atau agenda olahraga berpotensi memperpanjang masa kunjungan.
“Turis tidak datang hanya untuk tidur di hotel. Mereka butuh pengalaman. Begitu itu terbentuk, data hunian hotel nonbintang akan bergerak naik secara alami,” tutup Darwis.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56