#30 tag 24jam
Diplomasi ala Prabowo, Amerika dan Indonesia adalah Teman Sejati, Seberapa Dekat?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan hubungan "teman sejati" antara Indonesia dan AS, menyoroti kerja sama strategis dalam stabilitas global dan ekonomi. [1,191] url asal
#indonesia-amerika-serikat #hubungan-bilateral-indonesia-as #prabowo-subianto #teman-sejati #stabilitas-global #kerja-sama-ekonomi #indo-pasifik #politik-luar-negeri #jembatan-diplomasi #kemitraan-stra
(Bisnis.Com - Terbaru) 19/02/26 18:40
v/141247/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat merupakan “teman sejati” yang memiliki kepentingan strategis bersama dalam menjaga stabilitas global, memperluas kerja sama ekonomi, serta membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian agenda Business Summit dan Gala Iftar di U.S. Chamber of Commerce, Washington, D.C., Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Dalam forum yang mempertemukan pemimpin bisnis dan pejabat kedua negara tersebut, Prabowo menempatkan hubungan bilateral Indonesia–Amerika Serikat sebagai fondasi penting bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik dan pertumbuhan ekonomi global.
Dengan latar belakang sebagai mantan militer dan pelaku usaha, ia menyampaikan perspektif yang memadukan keamanan, stabilitas politik, dan kepastian hukum sebagai prasyarat utama investasi.
"Kami selalu mencoba meyakinkan Amerika Serikat, bahwa Indonesia adalah teman sejati, meskipun secara politik, kami memiliki tradisi politik luar negeri nonblok," ujar Prabowo.
Kunjungan Prabowo ke Washington terjadi pada momentum geopolitik yang sensitif, termasuk pembentukan Dewan Perdamaian Internasional (Board of Peace) untuk implementasi gencatan senjata di Gaza serta negosiasi perjanjian perdagangan besar antara Indonesia dan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, Indonesia memposisikan diri sebagai mitra strategis sekaligus jembatan diplomasi.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif, menghormati semua kekuatan besar, dan berkomitmen menjadi “honest broker” dalam konflik global. Namun, dia juga menekankan bahwa kemitraan dengan Amerika Serikat memiliki nilai historis dan strategis yang tidak tergantikan.
“Itulah tradisi kebijakan luar negeri kami. Kami mengambil posisi yang sangat menghormati semua kekuatan besar. Kami menghargai persahabatan dengan semua bangsa. Pada akhirnya, kami merasa dapat menjadi semacam jembatan, semacam perantara yang jujur (honest broker) di antara kekuatan-kekuatan besar dunia,” tuturnya dalam forum itu.
Hubungan Historis dan Persepsi Asia Tenggara terhadap AS
Prabowo secara eksplisit menyebut bahwa negara-negara Asia Tenggara secara historis memandang Amerika Serikat sebagai teman kuat dan pemimpin dunia bebas. Pernyataan ini mencerminkan posisi Indonesia yang realistis terhadap tatanan global, tanpa meninggalkan prinsip non-blok.
Dia menekankan bahwa Indonesia menginginkan kehadiran Amerika yang lebih kuat dalam ekonomi nasional, sekaligus menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan besar.
Prinsip yang dipegangnya selalu sama, yakni 1.000 teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak yang menjadi dasar pendekatan diplomasi Indonesia.
Prabowo menyoroti hubungan historis Indonesia dan Amerika Serikat yang telah terjalin sejak masa awal kemerdekaan. Dia mengingatkan bahwa dukungan AS, baik politik maupun ekonomi, berperan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menurutnya, bantuan melalui program PL 480 pada masa krisis pertanian era 1960-an menjadi salah satu contoh konkret dukungan tersebut. Dia menilai kontribusi itu signifikan dalam membantu Indonesia melewati masa sulit.
Indonesia yang Bangun dan Bukan Lagi Raksasa Tertidur
Prabowo menutup pesannya dengan pernyataan optimistis bahwa Indonesia bukan lagi “sleeping giant” atau raksasa yang tertidur. Dia menilai dunia mulai mengakui kekuatan ekonomi dan stabilitas politik Indonesia.
“Indonesia memiliki banyak potensi. Kami menyadari—dan saya rasa kawasan ini juga menyadari—bahwa Indonesia bukan lagi raksasa yang tertidur. Kami mulai bangun,” tegasnya.
Apalagi, kata Prabowo, dengan pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5%, inflasi terkendali, dan investasi asing yang meningkat, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di Indo-Pasifik.
Oleh sebab itu, dia mengundang investor Amerika untuk menjadi bagian dari transformasi tersebut, dengan janji pemerintahan bersih, kepastian hukum, dan kemitraan saling menguntungkan.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis hingga Februari 2026, Prabowo Subianto telah melakukan setidaknya empat kali kunjungan resmi ke Amerika Serikat sejak dia menjabat di pemerintahan (baik sebagai Menteri Pertahanan maupun Presiden).
Sebelum menjadi presiden, Prabowo melakukan kunjungan penting ke AS pada 15–19 Oktober 2020 saat menjabat Menteri Pertahanan. Lawatan ini menjadi kunjungan perdananya setelah larangan masuk ke AS dicabut, dengan agenda memenuhi undangan pemerintah AS untuk membahas kerja sama pertahanan di Pentagon.
Kunjungan tersebut membuka babak baru hubungan militer Indonesia–AS dan menjadi fondasi bagi diplomasi pertahanan yang berlanjut di masa pemerintahannya.
Sebagai presiden, kunjungan pertama Prabowo ke AS berlangsung pada 10–14 November 2024. Dalam lawatan kenegaraan tersebut, ia bertemu Presiden AS saat itu, Joe Biden, di Gedung Putih untuk membahas penguatan hubungan bilateral, stabilitas kawasan, serta isu keamanan global.
Pada September 2025, Prabowo kembali ke AS untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80 di New York. Dalam forum global tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya terhadap multilateralisme, perdamaian dunia, serta peran aktif di tengah dinamika geopolitik global.
Kunjungan terbaru pada Februari 2026 menandai pertemuan Prabowo dengan Presiden AS Donald Trump. Dalam pertemuan ini, kedua negara membahas penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang bertujuan menurunkan tarif dagang dan meningkatkan arus perdagangan bilateral.
Selain agenda ekonomi, Prabowo juga menghadiri KTT perdana Board of Peace (BOP) yang berfokus pada upaya perdamaian global, termasuk isu Timur Tengah.
Sementara itu, Donald Trump belum pernah melakukan kunjungan resmi ke Indonesia selama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (baik pada periode pertama 2017–2021 maupun awal periode kedua yang dimulai Januari 2025).
Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Amerika Serikat sebagai “teman sejati” mencerminkan momentum krusial dalam hubungan bilateral kedua negara, terutama menjelang negosiasi tarif dan forum perdamaian internasional.
Dalam keterangannya kepada Bisnis, Kamis (19/2/2026), Rezasyah menyebut pernyataan tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks strategis yang tengah dihadapi Indonesia.
“Ini detik-detik penting untuk tarif kedua negara dan momentum penting bagi forum perdamaian. Tampaknya Presiden Donald Trump mencoba merayu Presiden Prabowo,” ujarnya.
Rezasyah mengingatkan bahwa hubungan Indonesia–AS tidak selalu mulus. Dia menyinggung sejumlah peristiwa historis yang kerap menjadi catatan kritis dalam relasi kedua negara, seperti kasus pilot CIA Alan Pope pada akhir 1950-an hingga dinamika geopolitik saat krisis Timor Timur 1975 dan tekanan internasional pada krisis ekonomi 1998.
Menurutnya, latar sejarah tersebut menunjukkan bahwa penyebutan “mitra” atau “teman sejati” perlu dipahami dalam kerangka kepentingan nasional masing-masing.
“Boleh saja menyebut mitra, tetapi di masa lalu juga pernah mengecewakan Indonesia. Jadi ini tampaknya juga ingin menguji mental Pak Prabowo,” katanya.
Rezasyah menilai pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump melihat momentum ini sebagai peluang untuk mendorong Indonesia melunak dalam isu tarif perdagangan dan kesepakatan internasional lainnya.
Di sisi lain, Indonesia berkepentingan menurunkan tarif serta memastikan ruang diplomasi yang tegas dalam forum Board of Peace yang membahas isu konflik global.
“Ini pertarungan yang luar biasa bagi Indonesia. Masuk ke dalam forum perdamaian saja awalnya mendapat penentangan dari dalam negeri, meski kini tensinya mulai menurun,” ujarnya.
Prabowo Dinilai Konsisten dan Tidak Mudah Ditekan
Rezasyah meyakini latar belakang militer dan pengalaman panjang Prabowo di pemerintahan akan membuatnya tidak mudah goyah dalam menghadapi tekanan negosiasi.
Dia menilai situasi menjelang pertemuan internasional besar kerap diwarnai upaya mengganggu konsentrasi pihak tamu agar menyetujui rancangan kesepakatan tertentu.
“Ada masyarakat melihat Pak Prabowo sangat konsisten dengan prinsip. Ini suasana menjelang event besar di mana tuan rumah mencoba mengganggu konsentrasi tamu agar menyetujui draft yang disiapkan,” pungkas Rezansyah.
Pernyataan tegas Prabowo bahwa Amerika Serikat dan Indonesia adalah “teman sejati” bukan sekadar retorika diplomatik. Pernyataan itu mencerminkan strategi besar: membangun kemitraan berbasis kepercayaan, stabilitas, dan kepentingan bersama di tengah dinamika geopolitik global.
Bagi komunitas bisnis, pesan tersebut jelas bahwa Indonesia membuka pintu, menawarkan kepastian, dan mencari mitra jangka panjang. Bagi dunia politik, Indonesia menegaskan perannya sebagai jembatan antara kekuatan global.
Dan bagi Prabowo, hubungan bilateral ini bukan hanya soal perdagangan atau investasi, melainkan tentang membangun masa depan bersama di mana kemakmuran lahir dari stabilitas, dan stabilitas tumbuh dari kepercayaan.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56