Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia naik sebesar 10,05% pada Januari-Maret 2026. Kondisi ini didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal, mencerminkan peningkatan aktivitas produksi domestik di tengah pelemahan impor migas.
"Nilai impor Januari—Maret 2026 mencapai US$61,30 miliar, naik dari US$55,70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam keterangan pers, Senin (4/5/2026).
Lebih lanjut, Ateng mengatakan bahwa kenaikan impor Januari-Maret 2026 ini terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 12,16% menjadi US$52,97 miliar.
Sebaliknya, impor migas justru mengalami kontraksi 1,72% menjadi US$8,33 miliar. Penurunan ini menahan laju kenaikan impor secara keseluruhan, di tengah masih tingginya kebutuhan energi.
Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku dan penolong menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$43,17 miliar, naik 6,89%. Komponen ini menyumbang andil utama sebesar 5,00% terhadap kenaikan impor, mencerminkan aktivitas industri yang meningkat.
Impor barang modal mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 24,02% menjadi US$12,98 miliar. Lonjakan ini mengindikasikan adanya ekspansi kapasitas produksi dan investasi di sektor riil.
Sementara itu, impor barang konsumsi naik 6,12% menjadi US$5,15 miliar, menunjukkan permintaan domestik yang tetap terjaga meski tidak sekuat komponen produksi.
Dari sisi negara asal, China masih menjadi pemasok utama dengan nilai impor US$22,02 miliar, meningkat dari US$18,69 miliar. Kenaikan juga terjadi pada impor dari Asean menjadi US$7,89 miliar serta Uni Eropa menjadi US$3,36 miliar.
Australia mencatat lonjakan signifikan dari US$1,95 miliar menjadi US$3,14 miliar, sedangkan impor dari Jepang justru turun dari US$3,63 miliar menjadi US$2,90 miliar.
Ateng menyampaikan bahwa peningkatan impor terutama disumbang oleh bahan baku dan penolong. Struktur ini menunjukkan bahwa kenaikan impor lebih banyak didorong oleh kebutuhan produksi dibanding konsumsi, yang berpotensi mencerminkan penguatan aktivitas industri domestik.
Impor Mesin dan Plastik
Lonjakan impor komoditas utama nonmigas Januari-Maret 2026 didorong kuat oleh mesin dan perlengkapan industri, mencerminkan ekspansi produksi domestik yang semakin intensif.
BPS mencatat impor mesin dan peralatan mekanis tumbuh 22,10% menjadi US$9,44 miliar sepanjang Januari—Maret 2026. Komoditas ini menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 17,82% dari total impor nonmigas.
Kenaikan nilai tersebut sejalan dengan peningkatan volume sebesar 11,62% menjadi 1,12 juta ton. Perkembangan ini menunjukkan peningkatan kebutuhan peralatan produksi di sektor industri.
Sementara itu, impor mesin dan perlengkapan elektrik juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 17,91% menjadi US$8,02 miliar, dengan pangsa 15,14%. Lonjakan volume bahkan mencapai 50,82% menjadi 0,59 juta ton, menandakan percepatan adopsi teknologi dan peralatan elektronik.
Di sisi lain, impor plastik dan barang dari plastik tumbuh lebih moderat sebesar 1,50% menjadi US$2,55 miliar dengan pangsa 4,81%. Volume impor komoditas ini naik 7,42% menjadi 1,65 juta ton.
Struktur ini menunjukkan bahwa peningkatan impor lebih terkonsentrasi pada barang modal dan penunjang produksi, khususnya mesin dan peralatan, yang menjadi indikator ekspansi kapasitas industri dalam negeri.