Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor bahan baku/penolong kembali mengalami tren penurunan pada 2025. Sementara itu, impor barang modal terus mengalami kenaikan.
Pada Januari-November 2025, nilai impor barang modal mencapai US$44,81 miliar atau melonjak 18,54% secara tahunan, dengan kontribusi terhadap kenaikan impor sebesar 3,28%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini menyampaikan berdasarkan penggunaan barang, peningkatan nilai impor terutama disumbang oleh kelompok barang modal.
"Barang modal menjadi kontributor utama kenaikan impor tahun ini," kata Pudji dalam rilis BPS, Senin (5/1/2026).
Pudji merinci bahwa lonjakan impor barang modal terutama berasal dari mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), serta kendaraan udara dan bagiannya (HS 88).
“Komoditas tersebut mencerminkan kebutuhan investasi dan modernisasi industri," terangnya.
Di sisi lain, impor bahan baku dan barang penolong justru mengalami penurunan. Nilainya tercatat turun 1,46% menjadi US$153,20 miliar pada Januari-November 2025.
Secara bulanan, nilai impor bahan baku/penolong juga turun 3,56% menjadi US$13,60 miliar dibandingakan periode November 2024 sebesar US$14,10 miliar.
Kondisi serupa juga terjadi pada impor barang konsumsi yang melemah 2,02% menjadi US$20,01 miliar. Kendati demikian, secara kumulatif total nilai impor Indonesia tercatat sebesar US$218,02 miliar atau tumbuh 2,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Secara keseluruhan, nilai impor masih tumbuh positif secara tahunan,” ujarnya.
Dari sisi komoditas, impor migas justru mengalami kontraksi. Pudji menjelaskan nilai impor migas mencapai US$29,42 miliar atau turun 10,81% secara tahunan.
“Penurunan impor migas dipengaruhi oleh penurunan volume dan harga pada beberapa komoditas energi,” katanya.
Sebaliknya, impor nonmigas masih menjadi penopang utama kenaikan impor nasional. BPS mencatat nilai impor nonmigas mencapai US$188,61 miliar atau meningkat 4,37% dibandingkan tahun lalu.
Berdasarkan negara asal, BPS mencatat peningkatan nilai impor terutama berasal dari China dan Amerika Serikat. Sementara itu, impor dari Jepang, negara-negara Asean, dan Uni Eropa tercatat mengalami penurunan pada periode yang sama.