Bisnis.com, CIREBON - Kepala Badan Pengelola Kawasan Rebana (BP Rebana), Helmy Yahya, menilai ekonomi Rebana masih menyimpan potensi besar yang belum digarap maksimal. Dia menyebut kawasan ini ibarat “mutiara terpendam”, terutama di wilayah Indramayu dan Cirebon yang dinilai tertinggal dibandingkan daerah lain.
Dalam Cirebon Investment Summit di Kabupaten Cirebon, Kamis (27/11/2025), Helmy mengungkap koridor ekonomi terbesar di Jawa Barat tersebut memiliki infrastruktur kelas nasional, namun perkembangan antarwilayah belum berjalan seimbang.
“Ada daerah yang sudah sprint menarik modal, tapi Indramayu dan Cirebon masih jadi PR paling serius,” ujarnya.
Helmy memaparkan konsep Rebana sebagai pusat pertumbuhan baru Jawa Barat mulai terbentuk di Subang, Majalengka, dan Sumedang. Ketiga wilayah ini menikmati dorongan kuat dari hadirnya Pelabuhan Patimban, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, serta Tol Cisumdawu.
Subang kini berkembang sebagai pusat logistik dan ekspor otomotif berkat Patimban. Majalengka menikmati pertumbuhan investasi melalui Aerocity Kertajati yang disiapkan menjadi simpul industri penerbangan dan logistik udara.
Sementara itu, Sumedang semakin terintegrasi dengan kawasan pendidikan Jatinangor serta akses langsung menuju Kertajati melalui Tol Cisumdawu. Kombinasi tersebut menjadikan ketiganya magnet bagi modal baru di sektor industri terintegrasi, manufaktur, teknologi, hingga logistik.
Berbeda dengan tiga wilayah tersebut, Helmy memotret Indramayu dan Cirebon sebagai dua daerah yang belum mampu menampilkan daya saing kuat.
Indramayu masih bergantung pada migas dan pembangkit listrik, sehingga ruang untuk mengembangkan industri baru terbatas. Rencana kawasan industri belum menunjukkan percepatan signifikan, ditambah hambatan birokrasi perizinan yang dinilai belum cukup ramah bagi investor.
Helmy menekankan perlunya lompatan besar agar Indramayu bisa membangun kawasan logistik dan industri yang menyerap tenaga kerja lokal.
Cirebon menghadapi persoalan lain: tata kelola kawasan industri yang tidak terintegrasi akibat pemisahan administratif antara kabupaten dan kota. Lahan industri tersebar tanpa membentuk klaster besar, sehingga kurang menarik bagi investor global.
Pelabuhan belum menjadi motor utama ekonomi, sementara isu urban seperti banjir, kemacetan, dan kepastian tata ruang masih menjadi ganjalan. “Cirebon punya peluang menjadi koridor penting Rebana, tapi butuh percepatan yang konsisten,” ucap Helmy.
Helmy menekankan pembenahan Indramayu dan Cirebon merupakan kunci masa depan Rebana. Pemerintah daerah diminta memprioritaskan penyederhanaan perizinan, penetapan zona industri yang tegas, peningkatan kualitas SDM, hingga penyediaan utilitas dasar.
Dia juga mendorong kedua wilayah memiliki tema investasi yang jelas, sebagaimana Subang yang menguat dengan logistik maritim dan Majalengka yang mengusung konsep aerocity.
Menurut Helmy, peluang Rebana sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat nasional. Namun potensi tersebut hanya akan tercapai melalui kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan pemerintah pusat.
Tanpa pembenahan terstruktur, ia mengingatkan ketimpangan antarwilayah bisa melebar dan menghambat transformasi ekonomi kawasan timur dan utara Jawa Barat.