Bisnis.com, DENPASAR – Bergeliatnya industri pariwisata dan belanja pemerintah mendorong ekonomiBali bisa tumbuh 5,58% (YoY) pada kuartal I/2026.
Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menjelaskan meskipun lambat dibandingkan kuartal I/2025, hampir seluruh lapangan usaha penyusun PDRB Provinsi Bali pada kuartal I/2026 tumbuh positif secara (yoy), kecuali jasa keuangan dan asuransi yang terkontraksi sedalam 5,01%.
Peningkatan nilai tambah tertinggi tercatat pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib yang tumbuh 16,67%.
Lima pertumbuhan tertinggi berikutnya tercatat pada lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh 8,93%, jasa pendidikan 7,70%, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor 7,25%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 6,98%, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 6,44%.
Pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib didorong oleh naiknya realisasi belanja pemerintah yang juga meningkat (YoY). Begitu juga, pertumbuhan lapangan usaha jasa pendidikan serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial didorong oleh peningkatan nilai tambah pada jasa pendidikan dan kesehatan yang diselenggarakan pemerintah.
"Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masing-masing sebesar 15% dan 24%," jelas Hendrayana.
Peningkatan nilai tambah pada lapangan usaha industri pengolahan sebesar 8,93% (yoy) sejalan dengan meningkatnya konsumsi listrik segmen industri. Berdasarkan data PT PLN UID Bali konsumsi listrik segmen industri naik sebesar 13% (yoy). Peningkatan aktivitas industri pengolahan tersebut turut menambah suplai domestik barang yang diperdagangkan, sehingga mendorong kinerja lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh 7,25% (yoy).
Selain itu, peningkatan suplai domestik juga bersumber dari komoditas pertanian dan penggalian yang juga tumbuh positif secara (yoy).
Lapangan usaha akmamin sebagai kontributor terbesar perekonomian Bali, tumbuh sebesar 6,44% secara (yoy) pada kuartal I/2026. Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Pada kuartal I/2026, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 1,47 juta kunjungan, meningkat dibandingkan kuartal I/2025 yang tercatat sebesar 1,45 juta kunjungan.
Sejalan dengan itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) terutama hotel bintang meningkat dari rata-rata 52,67% pada kuartal I/2025 menjadi 54,87% pada kuartal/2026.
Struktur PDRB Bali pada kuartal I/2026 masih didominasi lapangan usaha akmamin, dengan nilai tambah mencapai Rp17,20 triliun atau setara 20,95% dari total PDRB. Di urutan berikutnya, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi sebesar Rp10,96 triliun (13,33%). Sementara itu, lapangan usaha transportasi dan pergudangan menempati posisi ketiga dengan sumbangan Rp8,66 triliun atau 10,53% terhadap perekonomian Bali.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan pada kuartal I/2026 (yoy), ekonomi Bali yang tumbuh sebesar 5,58% bersumber dari lapangan usaha akmamin dengan sumbangan sebesar 1,20%, kemudian disusul oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 0,97%.
"Kontributor terbesar berikutnya yaitu dari lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan andil 0,70%. Sedangkan gabungan dari 14 lapangan usaha lainnya memberi sumbangan sebesar 2,72%," jelas Hendrayana.