Prabowo Subianto mengamankan investasi baru senilai US$3,5 miliar dari Prancis, memperluas mitra investasi Indonesia ke Eropa, dengan fokus pada energi dan pertahanan. [1,281] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto telah menjalankan kunjungan kenegaraan ke Prancis dan telah meraup kesepakatan investasi baru senilai US$3,5 miliar atau Rp61,25 triliun. Dari kunjungan tersebut, terdapat peluang perluasan mitra investasi Indonesia, yakni menuju Eropa.
Prabowo telah menjalankan kunjungan kenegaraan ke Prancis pada pekan lalu dari 26-30 Mei 2026. Prabowo pun telah menggelar pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Les Invalides, Paris, Prancis, pada 28 Mei 2026.
Kunjungan Prabowo ke Prancis tersebut menjadi yang ketiga kalinya tahun ini. Sebelumnya, Prabowo telah mengunjungi Prancis pada awal tahun ini tepatnya 23 Januari 2026. Kunjungan itu disebut sebagai agenda diplomasi bilateral dalam memperkuat hubungan kerja sama strategis Indonesia dengan Prancis dan menghadiri jamuan santap malam pribadi bersama Macron di Istana Elysee.
Pada April 2026, Prabowo pun mengunjungi Prancis dan menggelar pertemuan bilateral membahas penguatan kerjasama strategis Indonesia-Prancis di berbagai sektor prioritas. Salah satu fokus pembahasan mencakup pengembangan kerjasama di bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang yang saling menguntungkan.
Kunjungan Prabowo ke Prancis terbaru telah menghasilkan sejumlah capaian dalam penguatan hubungan bilateral Indonesia dan Prancis. Dalam hal investasi, terdapat empat kesepakatan komersial baru senilai Rp61,25 triliun yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Capaian kesepakatan komersial baru itu dilakukan seiring dengan peluncuran France–Indonesia High Level Business Council (FI-HLBC). Peluncuran forum bisnis tingkat tinggi itu berlangsung pada 28 Mei 2026 dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto serta Presiden Macron.
Forum bisnis itu mempertemukan 30 pemimpin perusahaan dan pelaku industri utama dari kedua negara yang secara keseluruhan memiliki kapitalisasi pasar mencapai US$1,3 triliun.
“Ini [FI-HLBC] saya kira sangat penting dan kita akan sangat gembira dengan partisipasi dan kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis terus di ekonomi Indonesia, dan Prancis sebagai pemimpin Eropa akan terus memainkan peranan yang sangat penting di kawasan Asia Tenggara,” kata Prabowo.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan capaian itu menjadi tonggak penting dalam mempererat kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Prancis, sekaligus memperluas peluang investasi dan perdagangan yang saling menguntungkan.
Pemerintah pun menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Prancis hingga tiga kali lipat pada 2035.
“Kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia terus meningkat. Kesepakatan yang tercapai menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai mitra strategis yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang dan iklim investasi yang semakin kompetitif,” kata Rosan.
Diversifikasi Mitra Investasi
Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Prancis pun dinilai membawa peluang diversifikasi mitra investasi baru bagi Indonesia. Sebab, selama ini, negara penyumbang investasi di Indonesia didominasi Singapura, Hong Kong, dan China.
Rosan melaporkan bahwa realisasi investasi Indonesia per kuartal I/2026 mencapai Rp498,79 triliun. Realisasi investasi meningkat 7,22% secara tahunan (Year on Year/YoY). Dari realisasi investasi itu, porsi penanaman modal asing mencapai 50,11%.
Untuk penanaman modal asing terdapat sejumlah negara yang menyumbang investasi terbesar, yakni Singapura sekitar US$4,6 miliar, Hong Kong US$2,7 miliar, China US$2,2 miliar, AS US$1,7 miliar, dan Jepang US$1 miliar.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia APINDO Shinta W. Kamdani pun mengatakan bahwa penguatan kerja sama bilateral Indonesia dengan Prancis membawa peluang diversifikasi mitra investasi menuju Eropa. Sektor-sektor yang menjadi bidikan investasi pun berdiversifikasi.
"Jadi, secara keseluruhan tidak hanya bermanfaat memperdalam dan memperkuat kerjasama supply chain yang sudah ada, tetapi juga menciptakan diversifikasi dan perluasan kerjasama ekonomi ke sektor-sektor lain yg sebelumnya belum menjadi core sector kerjasama Indonesia-Prancis," katanya.
Sektor-sektor yang khususnya memiliki potensi besar pemanfaatan kerjasama bilateral Indonesia Prancis antara lain sektor energi bersih, sektor infrastruktur dan logistik, hingga hilirisasi produk mineral kritis, termasuk kontribusi terhadap pembangunan ekosistem EV.
BUMN pun menurutnya akan menerima manfaat salam bentuk penguatan kapasitas local assembly atau bahkan potensi co-production untuk produk industri pertahanan tertentu.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga mengatakan bahwa dalam kurun waktu kurang dari setahun, Prabowo dan Macron sudah tiga kali bertemu. Dengan kondisi tersebut, terlihat bahwa Prabowo berupaya memperluas mitra investasi strategisnya.
Ditambah, Prabowo pun menjalankan kunjungan ke Inggris, Jepang, dan Korea Selatan tahun ini. Komitmen investasi pun diraih.
Kunjungan Prabowo pada 18—21 Januari 2026 ke Britania Raya menghasilkan komitmen investasi sebesar £4 miliar atau sekitar Rp90 triliun. Investasi ini difokuskan pada sektor maritim, termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan, penguatan pendidikan, serta pengembangan ekosistem industri terkait.
Kemudian, Prabowo menjalani kunjungan luar negeri ke AS pada 17—21 Februari 2026. Dalam lawatan tersebut, Indonesia berhasil mengamankan investasi senilai US$38,4 miliar atau sekitar Rp650 triliun melalui 11 nota kesepahaman (MoU)
Kesepakatan tersebut mencakup sektor strategis, antara lain mineral kritis dan mineral langka, pemulihan ladang minyak dan energi, komoditas pangan seperti jagung dan tekstil, teknologi semikonduktor, hingga pengembangan kawasan perdagangan bebas.
Memasuki akhir kuartal I/2026, Indonesia mengamankan komitmen investasi besar dari Asia Timur. Kunjungan ke Jepang pada 29—31 Maret menghasilkan investasi senilai US$23,63 miliar atau sekitar Rp401,71 triliun melalui 11 MoU.
Kerja sama tersebut mencakup sektor energi dan sumber daya alam, teknologi dan digital, keuangan dan investasi hingga gaya hidup (lifestyle).
Sementara itu, lawatan ke Korea Selatan pada 31 Maret—2 April membukukan komitmen investasi sebesar US$10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun melalui 10 MoU dengan sektor prioritas meliputi ekonomi, energi, digital, kesehatan, hingga industri masa depan.
"Terlihat ada upaya yang cukup konsisten untuk memperluas jaringan mitra strategis Indonesia. Dari pola ini saja sudah tampak bahwa pemerintah ingin membuka lebih banyak jalur kerja sama dan tidak hanya bertumpu pada satu atau dua negara," ujarnya kepada Bisnis pada Senin (1/6/2026).
Sementara menurutnya, yang menjadi menarik adalah bahwa langkah tersebut tidak berhenti pada simbol diplomatik atau foto bersama para pemimpin negara. Ada agenda ekonomi yang cukup jelas di belakangnya.
"Dalam kunjungan ke Prancis, misalnya, muncul komitmen investasi miliaran dolar yang diarahkan ke sektor-sektor strategis seperti hilirisasi nikel, kendaraan listrik, dan energi terbarukan. Sektor-sektor ini memang sedang menjadi fokus pemerintah karena dianggap dapat meningkatkan nilai tambah industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global," tuturnya.
Upaya diversifikasi mitra investasi menurutnya penting, sebab dalam situasi dunia yang semakin dipengaruhi persaingan AS dan China, terlalu bergantung pada satu mitra tentu bukan posisi yang ideal.
"Karena itu, Indonesia tampaknya ingin memiliki lebih banyak ruang gerak dengan memperkuat hubungan ke berbagai pusat kekuatan sekaligus," tuturnya.
Dalam konteks ini, menurut Yusuf, Prancis memiliki daya tarik tersendiri. Dibandingkan banyak negara Barat lainnya, Prancis sering berusaha menempatkan diri pada posisi yang relatif independen dalam berbagai isu internasional.
Karakter seperti itu menurutnya cukup sejalan dengan pendekatan bebas aktif yang selama ini menjadi dasar politik luar negeri Indonesia.
"Jadi, yang terlihat bukan upaya memilih kubu tertentu, melainkan usaha memperluas opsi dan mengurangi risiko ketergantungan," katanya.
Namun, upaya diversifikasi mitra terutama ke Eropa menemui hambatan, di antaranya perbedaan cara pandang mengenai standar lingkungan dan keberlanjutan. Banyak kebijakan Uni Eropa yang dianggap sebagai bentuk perlindungan lingkungan, tetapi dari sudut pandang negara berkembang sering dipersepsikan sebagai hambatan dagang baru.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan karakter investasi Eropa. Dibandingkan investasi dari negara-negara Asia Timur atau China, proses pengambilan keputusan di Eropa umumnya lebih panjang. Banyak perusahaan harus melewati tahapan evaluasi internal yang ketat, mempertimbangkan aspek tata kelola, keberlanjutan, risiko politik, hingga kepatuhan terhadap berbagai regulasi.
Oleh sebab itu, tidak jarang terdapat jarak yang cukup panjang antara penandatanganan kesepakatan dan realisasi investasi di lapangan.
Terdapat pula pekerjaan rumah yang berasal dari dalam negeri. Menurutnya, investor terutama dari Eropa dikenal sangat memperhatikan kepastian hukum dan konsistensi kebijakan.
Investor biasanya tidak hanya melihat potensi pasar, tetapi juga stabilitas aturan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, promosi investasi di luar negeri harus berjalan beriringan dengan perbaikan iklim usaha di dalam negeri.
"Jika kepastian regulasi masih menjadi tanda tanya, investor akan cenderung mengambil sikap menunggu meskipun peluang bisnisnya menarik," kata Yusuf.
IPA Convex 2026 di ICE BSD sukses catat investasi energi miliaran dolar AS dan perkuat kolaborasi hulu migas nasional hingga internasional. [584] url asal
Tangerang: IPA Convention and Exhibition 2026 menjadi ajang kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan gairah investasi hulu migas. Tak tanggung-tanggung, acara tahunan yang di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City pada 20-22 Mei 2026
“IPA Convex 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran dan diskusi, tetapi juga menghasilkan komitmen nyata bagi pengembangan energi nasional. Salah satu pencapaian penting dalam penyelenggaraan tahun ini adalah terciptanya berbagai peluang kerja sama strategis dan investasi lintas sektor energi yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri energi nasional ke depan,” kata Presiden IPA, Kathy Wu, Selasa, 26 Mei 2026
Selama penyelenggaraan IPA Convex 2026, tercatat delapan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC), 16 perjanjian komersial dengan potensi nilai lebih dari USD30 miliar, serta lima kesepakatan pengembangan Carbon Capture Storage dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS). Selain itu, terdapat pula tiga kerja sama government-to-government (G2G) yang semakin memperkuat kolaborasi internasional di sektor energi.
Kathy Wu juga menegaskan bahwa selama penyelenggaraan IPA Convex 2026 terasa jelas bahwa energi merupakan fondasi penting pembangunan bangsa. Kolaborasi seluruh pihak menjadi hal yang penting untuk menghadirkan energi yang aman, andal, dan terjangkau bagi Indonesia di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Masa kini, kita harus bekerja bersama untuk menghadirkan energi yang aman, andal, dan terjangkau bagi Indonesia di tengah dunia yang kompleks. Kami juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan IPA Convex 2026 yang dinilai terus menjadi barometer perkembangan industri migas di Indonesia. Optimisme industri dinilai semakin meningkat seiring pengumuman pemerintah terkait peluang investasi baru di sektor energi nasional,” ujarnya saat penutupan IPA Convex 2026.
Selain itu, pihaknya sangat antusias atas pengumuman Bapak Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengenai penawaran 118 blok baru kepada investor, termasuk blok-blok yang diumumkan untuk tender oleh Bapak Laode Sulaeman selaku Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM pada pekan ini.
Salah satu sorotan utama dalam IPA Convex 2026 tahun ini adalah pemerintah mengumumkan rencana penawaran 118 blok migas baru kepada investor, termasuk sejumlah blok yang telah diumumkan untuk tender pada pekan ini.
Dari sisi penyelenggaraan, IPA Convex 2026 mencatat pertumbuhan positif dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah exhibitor meningkat dari 216 perusahaan pada 2025 menjadi 233 perusahaan pada 2026. Jumlah delegasi juga naik dari 3.005 menjadi 3.326 peserta, sementara jumlah negara delegasi bertambah dari 15 negara menjadi 20 negara. Hal ini menunjukkan meningkatnya minat dan partisipasi internasional terhadap industri hulu migas Indonesia.
Antusiasme pengunjung turut mengalami peningkatan signifikan dengan total 37.323 pengunjung, naik dibandingkan 32.016 pengunjung pada tahun sebelumnya. Partisipasi mahasiswa juga meningkat dari 1.786 menjadi 2.550 peserta, menunjukkan semakin besarnya ketertarikan generasi muda terhadap industri energi nasional.
Penyelenggaraan IPA Convex 2026 di ICE BSD turut memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi dan pariwisata di kawasan BSD City dan sekitarnya. Kehadiran puluhan ribu pengunjung dan delegasi internasional turut menciptakan multiplier effect terhadap berbagai sektor pendukung seperti transportasi, perhotelan, kuliner, retail, hingga UMKM lokal selama periode penyelenggaraan acara.
Kehadiran delegasi dan pelaku industri dari berbagai negara juga turut memperkuat posisi BSD City sebagai salah satu destinasi business tourism dan MICE unggulan berskala internasional di Indonesia. Sebagai venue penyelenggara, ICE BSD kembali menunjukkan kapasitasnya dalam mengakomodasi event berskala internasional melalui fasilitas exhibition dan convention yang terintegrasi dalam satu kawasan.
Dengan total area penyelenggaraan mencapai gross 20.000 sqm, ICE BSD mampu mendukung kebutuhan exhibition, conference, business matching, hingga networking session secara optimal, didukung akses strategis, fasilitas modern, hotel, transportasi umum, pusat kuliner, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya di kawasan BSD City.
Presiden Prabowo ke Jepang 29-31 Maret 2026 untuk perkuat kerja sama energi, kelautan, dan investasi. Bertemu Kaisar Naruhito dan PM Sanae Takaichi. [282] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto bertolak ke Jepang untuk memperkuat kerja sama sektor energi hingga kelautan dengan Jepang.
Prabowo menjalankan kunjungan resmi ke Jepang pada hari ini, Minggu (29/3/2026). Prabowo bersama rombongan terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 10.35 WIB.
Presiden dalam penerbangan menuju Jepang ditemani oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Teddy menjelaskan bahwa dalam kunjungan resmi tersebut, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan sejumlah agenda penting. Salah satu agenda adalah Prabowo melakukan state call kepada Kaisar Jepang Naruhito.
Selain itu, Presiden Prabowo diagendakan untuk melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang akan berlangsung di Akasaka Palace, Tokyo.
Teddy menjelaskan bahwa kunjungan Prabowo ke Jepang menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral serta meningkatkan kerja sama strategis antara Indonesia dan Jepang.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang.
"Ada beberapa kerja sama di bidang investasi, energi, kelautan, dan digital," kata Teddy dalam keterangan tertulis pada Minggu (29/3/2026).
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan kunjungan Prabowo ke Jepang itu berlangsung pada 30–31 Maret 2026.
Setelah dari Jepang, Prabowo melanjutkan kunjungan kenegaraan ke Seoul, Korea Selatan pada 1 April 2026. Kunjungan tersebut dalam rangka memenuhi undangan dari Pemerintah Jepang dan Pemerintah Korea Selatan.
"Kunjungan ini ditujukan untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia dengan kedua negara termasuk mendorong kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional di bidang perdagangan, investasi, industri, energi, dan teknologi," ujar Yvonne kepada Bisnis pada Kamis (26/3/2026).
Menurut Yvonne, dalam kunjungan tersebut juga akan dibahas mengenai berbagai isu regional dan global yang menjadi perhatian bersama.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56