Bisnis.com, SEMARANG - Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah (Jateng) mesti mempertimbangkan peran daerah tersebut sebagai lumbung pangan nasional.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, dalam konferensi pers yang digelar di Kota Semarang pada Rabu (19/11/2025) malam.
Rahmat menjelaskan bahwa hingga Kuartal III/2025, lapangan usaha industri pengolahan dan pertanian masih menjadi kontributor utama bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah. Namun demikian, ada catatan yang diberikan atas fenomena itu.
"Dua hal ini (pertanian dan industri) sebenarnya bisa saling berjalan dengan baik, bisa juga saling memakan. Kalau memang industri yang kita kembangkan tidak berkaitan dengan pertanian, maka lahan untuk produksi pangan pasti akan berkurang. Ini yang perlu keseimbangan yang optimal, antara sektor pertanian dan industri," ucap Rahmat.
Merespons hal tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah mendorong pemerintah daerah untuk bisa fokus melakukan hilirisasi pertanian.
Bukan berarti anti terhadap industri berteknologi tinggi, kata Rahmat, namun Jawa Tengah mesti mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan nasional di masa mendatang.
"Kami mencoba memfasilitasi investasi Business-to-Business (B2B), khususnya industri pengolahan hilirisasi pertanian dengan petani binaan kami," kata Rahmat.
Strategi itu dilakukan sebagai bukti bahwa hilirisasi pertanian dengan skala menengah bisa dilakukan di Jawa Tengah.
KPw BI Provinsi Jawa Tengah mendorong masuknya arus investasi ke sektor pertanian di Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya mempopulerkan prinsip green & circular economy.
"Supaya Jawa Tengah tetap berkesinambungan sebagai tumpuan pangan. Dia perlu lingkungan yang pro pertanian," kata Rahmat.
Secara umum, perekonomian Jawa Tengah pada Kuartal III/2025 tumbuh 5,57% year-on-year (yoy). Angka tersebut sedikit lebih tinggi ketimbang periode sebelumnya yaitu 5,28% (yoy) pada Kuartal II/2025.
Rahmat menuturkan bahwa laju pertumbuhan yang dicatatkan Jawa Tengah masih lebih tinggi dibandingkan angka nasional yaitu 5,04% (yoy) maupun keseluruhan Pulau Jawa dengan 5,17% (yoy).
"Pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,71% (yoy) sejalan dengan realisasi investasi hingga Kuartal III/2025 yang telah mencapai 84,42% dari target tahunan," kata Rahmat.