Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memperkirakan produk asuransi perjalanan atau travel insurance hingga akhir 2025 tetap tumbuh positif.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan membenarkan meningkatnya aktivitas wisata, kebijakan umrah mandiri, dan mobilitas masyarakat jelang musim liburan dan akhir tahun menjadi sejumlah katalis positifnya.
“Tren ini juga terlihat dari naiknya frekuensi penerbangan internasional dan domestik serta meningkatnya minat masyarakat terhadap perjalanan ke luar negeri pasca pandemi,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (30/10/2025).
Budi meneruskan bahwa sejumlah katalis positif itu tentu bisa memberikan dampak langsung terhadap peningkatan premi asuransi perjalanan, yang selama ini berfluktuasi mengikuti pola musiman.
Selain itu, imbuhnya, faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah di sektor pariwisata, kemudahan visa, dan promosi destinasi turut berperan penting dalam mendorong pertumbuhan lini bisnis ini.
Kendati demikian, dia mengingatkan tantangan dan faktor risiko yang perlu dicermati para perusahaan asuransi umum. Pertama, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
“Kedua, perbedaan persepsi terhadap manfaat asuransi perjalanan, serta tingkat literasi asuransi yang masih relatif rendah. Selain itu, kompetisi harga dan model distribusi digital juga menuntut pelaku industri untuk lebih adaptif dan inovatif,” ungkap Budi.
Oleh sebab itu, lanjutnya, inovasi produk dan strategi pemasaran menjadi kunci supaya asuransi perjalanan semakin diminati masyarakat. Misalnya mengembangkan integrasi dengan platform online travel agent (OTA) atau ekosistem digital perjalanan.
“Produk on-demand dengan premi terjangkau dan perlindungan yang relevan. Misalnya perlindungan keterlambatan, kehilangan bagasi, atau risiko kesehatan di luar negeri,” tuturnya.
Kemudian, Budi juga menyoroti pentingnya edukasi kepada publik bahwa asuransi perjalanan bukan sekadar syarat administratif, tetapi bentuk perlindungan finansial atas risiko yang nyata dalam setiap perjalanan.
Sementara itu, Wakil Ketua AAUI untuk Bidang Statistik dan Riset, Trinita Situmeang berpendapat pentingnya asuransi perjalanan ini sudah dipahami oleh para traveller.
“Sebab itu, liburan akhir tahun diharapkan menjadi kesempatan mendapatkan premi dari asuransi perjalanan,” ucapnya.
Trinita menyarankan agar pemasaran yang dilakukan perusahaan dapat bundling dengan paket perjalanan. Sementara itu, dia juga mengingatkan agar terus berinovasi produk yang simple dan mudah diakses dengan harga terjangkau.
Sementara itu, pengamat asuransi Wahyudin Rahman menyarankan agar produk asuransi perjalanan dijual secara digital melalui media sosial dan klaimnya bisa instan berbasiskan aplikasi.
Adapun, dia turut berpendapat bahwa prospek pertumbuhan asuransi perjalanan hingga akhir tahun ini cukup cerah. Hal ini karena didorong oleh kebijakan umrah mandiri, musim liburan, dan aktivitas belanja akhir tahun.
“Premi asuransi perjalanan diperkirakan tumbuh dua digit pada 2025. Kesadaran masyarakat terhadap perlindungan saat bepergian juga makin tinggi seiring pemulihan sektor pariwisata,” kata Wahyudin.