Bisnis.com, JAKARTA — Semakin banyak pemerintah dan perusahaan yang merespons peringatan yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang kebocoran metana meskipun tindakan yang diambil masih terlalu terbatas untuk mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Tingkat respons terhadap peringatan polusi dari Observatorium Emisi Metana Internasional PBB melonjak menjadi 12% dari 1% selama setahun terakhir.
IMEO telah mengeluarkan lebih dari 3.500 peringatan ke 33 negara sejak programnya diluncurkan pada tahun 2022.
Data atmosfer menunjukkan upaya untuk membatasi pelepasan sejauh ini hanya berdampak kecil terhadap volume emisi metana global, yang dihasilkan dari sektor-sektor seperti produksi minyak dan gas, pertanian, tempat pembuangan sampah, dan dari sumber alami seperti lahan basah.
Polusi metana telah menyumbang sekitar 30% dari kenaikan suhu global sejak Revolusi Industri.
Gas ini memiliki daya pemanasan lebih dari 80 kali lipat karbon dioksida dalam jangka pendek, yang berarti penanggulangan emisi ini dianggap sebagai salah satu tindakan tercepat dan paling efektif untuk membatasi pemanasan global.
Direktur Eksekutif Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Inger Andersen mengatakan menangani emisi metana dari bahan bakar fosil telah lama dipandang oleh para ilmuwan dan pembuat kebijakan sebagai salah satu hal yang paling mudah dicapai dalam perang melawan perubahan iklim karena dalam banyak kasus, mengekang emisi berarti hanya meningkatkan peralatan dan memperbaiki operasi.
"Ini adalah pembuangan gas, pembakaran gas, dan bentuk-bentuk pelarian lainnya dari infrastruktur yang ada, yang terkadang hanya perlu sedikit pengetatan, dan kita tidak bisa mengabaikan kemenangan-kemenangan yang terbilang mudah itu," ujarnya dilansir Bloomberg, Rabu (22/10/2025).
Dunia memiliki perangkat dan ilmu pengetahuan untuk mengurangi emisi metana dan mulai memanfaatkannya tetapi tindakan yang diambil masih terlalu lambat untuk mencapai tujuan iklim.
UNEP telah mengonfirmasi 25 kasus operator yang mengurangi emisi akibat peringatan IMEO, termasuk 19 kasus yang tercatat sejak November lalu. Pelepasan gas telah dibatasi atau dihentikan di berbagai lokasi, termasuk Irak, Yaman, Libya, dan Turkmenistan negara yang telah menjadi fokus upaya ekstensif para diplomat dan kelompok lingkungan untuk mendorong aksi iklim.
Kepala IMEO Giulia Ferrini menuturkan bberapa negara menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada yang lain. Negara-negara seperti Yaman, Argentina, dan Oman telah mencapai tingkat respons 100% atau hampir 100%, yang menghasilkan pengurangan emisi yang signifikan.
Badan tersebut telah melatih sekitar 2.000 insinyur, manajer aset, regulator, dan pembuat kebijakan dari 40 negara tentang cara menggunakan data tersebut.
Meskipun momentumnya semakin meningkat, tindakan yang lebih terpadu diperlukan untuk mencapai tujuan Global Methane Pledge, yang didukung oleh sekitar 150 negara dan bertujuan untuk memangkas emisi gas sebesar 30% pada tahun 2030 dari tingkat emisi tahun 2020.
Pelepasan metana dari produksi bahan bakar fosil masih mendekati level tertingginya di tahun 2019, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Meskipun sejumlah pemasok minyak dan gas telah berkomitmen untuk mengukur dan mengurangi emisi mereka, upaya tersebut saat ini hanya mencakup 42% dari produksi global industri tersebut, menurut UNEP.
IMEO juga berencana memperluas cakupannya untuk menargetkan emisi metana dari tambang batu bara dan lokasi pembuangan limbah.