Bisnis.com, SEMARANG - Viral di media sosial, seorang sopir bus tengah mengisi bahan bakar minyak (BBM) gasoil Dex di salah satu SPBU di wilayah Ambarketawang, DI Yogyakarta. Sopir tersebut menunjukkan kekecewaannya lantaran kesulitan mendapatkan Biosolar di sepanjang perjalanan.
Kejadian tersebut tak cuma terjadi di DI Yogyakarta, pelaku usaha logistik di Jawa Tengah mengaku ikut mengalami hal yang sama. Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah-DI Yogyakarta, Bambang Widjanarko, menyebut kelangkaan Solar biasanya terjadi di pengujung tahun. Namun untuk tahun ini, sejak pertengahan tahun, pelaku usaha mulai kesulitan untuk mengakses BBM jenis gasoil tersebut.
"Biasanya kelangkaan Biosolar itu terjadi Oktober, November, Desember, tetapi ini sudah mulai terasa. Sejak pertengahan tahun ini sudah mulai sulit. Dari anggota Aptrindo melaporkan sudah terjadi di semua tempat, tidak cuma di Jawa Tengah, tapi juga sampai di Pulau Sumatera, Kalimantan apalagi," ungkapnya saat dihubungi Bisnis pada Rabu (24/6/2026).
Bambang menyebut, saat ini sopir truk memang masih bisa mendapatkan Biosolar di beberapa SPBU, namun prosesnya memakan waktu berjam-jam lantaran harus mengantre dengan pengguna jalan lain. Hal ini, kata Bambang, menimbulkan masalah baru. "Kalau sopir mengalami kelelahan fisik dan mental setelah antre BBM, bisa berbahaya bagi keselamatan, karena antrean itu tidak bisa ditinggal tidur," imbuhnya.
Antrean tersebut juga ikut memengaruhi ritase atau jumlah perjalanan pulang-pergi dari satu armada truk. Bambang menyampaikan, antrean BBM membuat pelaku usaha khawatir ketika harus mengangkut barang-barang yang rawan busuk seperti sayur atau buah, juga barang-barang yang mendesak seperti paket atau dokumen dengan batas waktu pengiriman tertentu.
"Kerugiannya jelas penurunan ritase, sekitar 30-40% dari hari biasanya. Padahal orderang kita lagi kencang-kencangnya, kebanyakan antar kota antar provinsi. Kalau barat ya ke Jakarta, timur ya ke Surabaya. Banyak juga yang ke Sumatera," ungkap Bambang.
Sebagian pelaku usaha mulai menaikkan biaya pengirimannya, imbas dari sulitnya mengakses BBM jenis Biosolar tersebut. Bambang menyebut, ada pelaku usaha yang menaikkan ongkos muat hingga 15%, meskipun masih ada juga yang mempertahankan ongkos sebelumnya. Diperkirakan, kenaikan ongkos pengiriman itu masih akan berlangsung dan akan mengalami kenaikan secara bertahap.
Di sisi lain, Bambang mengaku tak berharap banyak terhadap pemerintah ataupun Pertamina, karena kelangkaan BBM tersebut diyakini sebagai dampak dari perang Iran-Amerika Serikat yang entah sampai kapan akan berlangsung. "Semoga bisa cepat berdamai dan pulih semuanya. Karena kalau suplai BBM dari Timur Tengah ini semakin sulit, efeknya ke kita juga. Semoga saja tidak benar-benar kosong ya, paling tidak masyarakat dan pelaku usaha seperti kami masih bisa mengakses, walaupun sulit yang penting kita masih bisa jalan," tuturnya.