JAKARTA, KOMPAS.com – Wacana kenaikan tarif transportasi publik kembali mencuat seiring pembahasan penyesuaian tarif oleh TransJakarta.
Namun, kebijakan tersebut belum diikuti oleh moda transportasi lain, termasuk KRL Commuter Line.
Pihak KAI Commuter memastikan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan terkait penyesuaian tarif KRL. Perusahaan masih mengacu pada kebijakan yang ditetapkan oleh regulator.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menegaskan bahwa tarif KRL sepenuhnya mengikuti keputusan pemerintah sebagai regulator transportasi.
“Untuk tarif, kami mengikuti penetapan yang ditentukan oleh regulator. Saat ini belum ada pembahasan terkait penyesuaian tarif KRL,” ujar Karina kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Sebagai informasi, tarif KRL di wilayah Jabodetabek pada tahun 2026 masih mengacu pada skema progresif yang dirancang untuk menjaga keterjangkauan sekaligus menyesuaikan dengan jarak tempuh perjalanan.
Pada skema ini, penumpang dikenakan tarif awal untuk jarak tertentu, kemudian bertambah secara bertahap sesuai jarak berikutnya.
Untuk perjalanan hingga 25 kilometer pertama, tarif dasar berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 5.000, tergantung pada kebijakan terbaru yang berlaku.
Setelah melewati jarak tersebut, penumpang akan dikenakan tambahan sekitar Rp 1.000 untuk setiap kelipatan 10 kilometer berikutnya.
Sementara itu, tarif layanan bus Transjakarta yang sampai saat ini masih seharga Rp 3.500 sejak 2005.
Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan, kajian tersebut telah dilakukan dan keputusan akhir nantinya berada di tangan pemerintah daerah bersama DPRD DKI Jakarta.
“Kami sudah melakukan kajian terkait dengan kenaikan tarif yang saat ini masih di Rp 3.500 dari tahun 2005. Jadi kira-kira 21 tahun (tidak naik),” ucap Welfizon dalam paparan rapat bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Akhir tahun lalu, Pemerintah Provinsi Jakarta juga tengah mempertimbangkan penyesuaian tarif layanan bus TransJakarta.
Doc Transjakarta Modifikasi Rute 6D Stasiun Tebet-Bundaran Senayan/pGubernur Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyampaikan bahwa tarif yang saat ini masih berada di level Rp 3.500 berpotensi mengalami kenaikan.
Menurut Pramono, wacana tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai masukan yang diterima dari masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah usulan tarif baru yang muncul berada pada kisaran yang lebih tinggi.
“Saya mendengar rata-rata usulan dari masyarakat, termasuk yang masuk melalui media saya, berada di kisaran Rp5.000 sampai Rp7.000,” ujar Pramono Oktober 2025.
Sebagai informasi tambahan, dalam operasionalnya, TransJakarta menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG/CNG) dan Solar, yang jelas memiliki keterkaitan erat dengan krisis energi dan tantangan transisi energi di Indonesia.
Berbeda halnya dengan KRL yang menggunakan energi listrik atau yang dikenal dengan kabel aliran atas (LAA).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang