CIMB Niaga menyebut kredit bank swasta tumbuh terbatas awal 2026 karena rendahnya permintaan dari dunia usaha dan selektivitas bank dalam penyaluran kredit. [392] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mengungkapkan alasan penyaluran kredit bank swasta relatif terbatas dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga Maret 2026.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan, saat ini permintaan kredit, baik ritel maupun non ritel memang rendah lantaran dunia usaha maupun individual nampaknya belum terlalu agresif untuk menarik pinjaman.
“Hanya korporasi yang masih ada namun juga terbatas,” kata Lani kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).
Pada posisi April 2026, bank swasta terbesar kedua di Indonesia itu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 2,40% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp223,75 triliun. Dari total tersebut, Lani mengungkapkan bahwa penyaluran kredit didominasi oleh segmen korporasi yang tumbuh di atas 6% YoY.
Seiring dengan lesunya permintaan kredit dari nasabah, Lani mengakui bahwa bank menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Hal ini dilakukan untuk memastikan agar kredit tidak menjadi beban bagi nasabah.
“Bank juga selektif, untuk memastikan tidak menjadi beban bagi nasabah karena tidak mampu membayar,” ungkap Lani.
Untuk diketahui, Himbara mencatatkan pertumbuhan kredit yang jauh lebih agresif dibandingkan bank swasta hingga April 2026. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan pertumbuhan kredit 10,96% YoY menjadi Rp1.376,35 triliun, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan kenaikan 18,47% YoY menjadi Rp1.550,18 triliun.
Pertumbuhan tertinggi dibukukan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang menyalurkan kredit Rp919,50 triliun atau meningkat 21,37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, pertumbuhan kredit bank swasta cenderung lebih moderat. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan kredit sebesar Rp965,02 triliun atau tumbuh 4,54% YoY. PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) menyalurkan kredit Rp171,40 triliun atau naik 6,99%, sedangkan PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan pertumbuhan kredit sebesar 0,95% menjadi Rp163,87 triliun.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan kredit pada April 2026 sebesar 9,98% YoY, meningkat dibandingkan posisi Maret 2026 yang tumbuh 9,49% YoY.
Perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada April 2026 masing-masing tumbuh sebesar 19,48%, 6,04%, dan 6,13% YoY.
Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan mencermati strategi penempatan dana di Surat Berharga Negara (SBN) pada 2026. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan perbankan nasional di SBN terus meningkat pada awal 2026.
Hingga 8 Januari 2026, total kepemilikan bank di SBN mencapai Rp1.397,68 triliun, naik dari Rp1.326,33 triliun pada 2 Januari 2026. Nilai tersebut setara 21,11% dari total SBN yang dapat diperdagangkan, terdiri atas Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp1.131,38 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp266,30 triliun.
Adapun, kepemilikan terbesar berasal dari bank konvensional senilai Rp1.310,82 triliun, sementara bank syariah memegang Rp86,87 triliun seluruhnya dalam bentuk SBSN.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kepemilikan bank di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp618 triliun per November 2025. Selain itu, BI mencatat undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.509,4 triliun atau setara 23,18% dari total plafon kredit tersedia, mengindikasikan masih adanya ruang likuiditas yang belum sepenuhnya terserap ke penyaluran kredit.
Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perseroan saat ini masih memantau kebutuhan kredit sesuai dengan permintaan nasabah dan kondisi likuiditas.
“Kami monitor saja kebutuhan kredit sesuai dengan permintaan dari nasabah dan likuiditas. Saat ini likuiditas cukup baik dan kami lebih banyak fokus untuk mengarahkan kelebihan likuiditas selain kredit juga ke produk fee income wealth management,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (11/1/2026).
Sementara itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Hera F. Haryn menyatakan bahwa fungsi utama perbankan tetap sebagai lembaga intermediasi melalui penyaluran kredit. Hingga November 2025, kredit BCA secara bank only tumbuh sehat mencapai Rp921 triliun.
Pada saat yang sama, per November 2025 total dana yang ditempatkan BCA pada instrumen surat berharga tercatat Rp436 triliun, dengan komposisi terbesar pada obligasi pemerintah. Selain itu, BCA juga menempatkan dana pada SRBI dan surat berharga lainnya.
Menurut Hera, penempatan dana pada surat berharga merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung perekonomian nasional.
“BCA senantiasa menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat serta mengelola likuiditas secara pruden dengan prinsip kehati-hatian dalam manajemen risiko,” jelasnya.
Bisnis.com, JAKARTA – Himpunan bank milik negara (Himbara) telah merilis kinerja keuangan kuartal III/2025. Simak rangkuman kinerja bank-bank pelat merah sepanjang sembilan bulan tahun ini.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, BTN mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara kelompok bank ini. Hingga September 2025, laba bersih tahun berjalan BTN tumbuh 10,58% secara tahunan (year on year/YoY) mencapai Rp2,30 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp2,08 triliun.
“BTN kembali membukukan laba bersih pada kuartal III/2025 berkat konsistensi kami menjaga pertumbuhan bisnis terutama di pembiayaan sektor perumahan dan transaksi keuangan yang beragam agar bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Sementara itu, laba bersih tahun berjalan bank pelat merah seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menyusut pada kuartal III/2025, dengan BMRI mencatatkan penurunan terdalam di antara ketiga bank ini.
Merujuk laporan keuangan perseroan, laba bersih Bank Mandiri susut 10,22% YoY menjadi Rp41,37 triliun pada kuartal III/2025. Pada periode yang sama tahun lalu, bank dengan logo pita emas itu membukukan laba bersih senilai Rp46,08 triliun.
Selanjutnya, ada BRI yang meraih laba senilai Rp41,23 triliun, turun 9,10% YoY dari sebelumnya Rp45,36 triliun dan BNI yang tercatat turun 7,32% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp16,43 triliun menjadi Rp15,23 triliun pada kuartal III/2025.
Namun jika dilihat dari raihan laba bersih tahun berjalan, Bank Mandiri menempati posisi teratas dengan capaian laba sebesar Rp41,37 triliun, BRI Rp41,23 triliun, BNI Rp15,23 triliun, dan BTN Rp2,30 triliun hingga September 2025.
Penekan Laba
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebut penurunan laba bersih yang terjadi pada Bank Mandiri, BRI, maupun BNI sejalan dengan kondisi aktivitas ekonomi Indonesia yang belum tumbuh agresif.
“Pertumbuhannya belum agresif masih di kisaran level mendekati 5% kuartal I, kuartal II [2025] dan kemungkinan juga kuartal III/2025 juga masih di kisaran 5%,” kata Myrdal kepada Bisnis, dikutip Senin (2/11/2025).
Tak berhenti di situ, Myrdal menyebut adanya iklim perang bunga antar bank juga menjadi pemicu merosotnya laba bersih tahun berjalan sejumlah bank pada kuartal III/2025.
Selain itu, kondisi global yang tidak kondusif membuat para bankir relatif berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Dia mengatakan, Perkembangan global yang paling kentara adalah harga komoditas ekspor andalan Indonesia yang tidak mengalami kenaikan signifikan, seperti batu bara dan kelapa sawit.
Nasabah mengakses aplikasi mobile banking Livin' by Mandiri di Jakarta, Minggu (15/6/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha
“Jadi itu yang pada akhirnya juga memengaruhi aktivitas bisnis perbankan untuk di wilayah berbasis ekspor terutama yang ada di luar Jawa,” ungkapnya.
Di wilayah Jawa sendiri, lanjut dia, iklim bisnis cukup terdampak dengan adanya perang dagang. Dia menyebut, kedua kombinasi ini turut menjadi kontributor menyusutnya laba bank pelat merah.
Namun, dia memperkirakan laba bersih tahun berjalan Bank Mandiri, BRI, dan BNI tumbuh pada kuartal IV/2025. Keyakinan ini mempertimbangkan kebijakan injeksi likuiditas ke Himbara sebesar Rp200 triliun serta agresivitas pemerintah dalam mendongkrak aktivitas ekonomi.
“Ini yang kita lihat bisa menjadi faktor positif yang bisa mendorong performa dari Bank Mandiri, BRI ataupun juga BNI,” ujarnya.
BTN juga diperkirakan masih akan melanjutkan kinerja positif pada kuartal IV/2025. Apalagi, kata dia, pemerintah kian gencar mendorong program perumahan rakyat, yang merupakan fokus utama dari bisnis BTN. "Ditambah lagi juga iklim suku bunga yang turun lebih sehat. Jadi kita harapkan margin keuntungan mereka pun juga membaik,” ucapnya.
Rekomendasi Saham
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut BTN yang mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal III/2025 sesuai dengan ekspektasi Mirae Asset Sekuritas. Sebab sejauh ini, kinerja bank tergolong solid dibandingkan Bank Mandiri, BRI, dan BNI.
Kendati begitu, Nafan menilai bahwa pergerakan saham BBTN masih cenderung mendatar atau sideways dalam jangka menengah hingga panjang. Secara teknikal, dia menyebut bahwa saham BTN saat ini belum menunjukkan arah tren kenaikan yang kuat.
Sementara untuk BMRI, BBRI, dan BBNI, Nafan melihat pergerakannya kini mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah melewati tekanan harga pada periode sebelumnya.
“Jadi untuk Bank Mandiri, BRI, dan BNI itu memang kalau dilihat dari kasat mata kan major sideways, tapi saya katakan major accumulation phase, mengingat sebelumnya fase markdown itu sudah terlewati dengan baik,” tutur Nafan kepada Bisnis.
Nafan menuturkan saham BBNI dan BBRI saat ini berada pada fase akumulasi, dengan harga sudah mulai stabil setelah mengalami tekanan. Rekomendasi untuk keduanya adalah pembelian bertahap (accumulative buy) guna memanfaatkan potensi kenaikan di periode mendatang.
Adapun saham BBTN dinilai telah berada di level oversold atau jenuh jual, yang menandakan peluang rebound. Saham ini juga direkomendasikan untuk dikoleksi secara bertahap.
Sedangkan saham BMRI disebut memiliki potensi kenaikan yang semakin kuat (escalating potential), sehingga juga disarankan untuk accumulative buy.
Menjelang akhir tahun, Nafan juga menyoroti adanya potensi momentum positif di pasar saham. Dia menyebut, biasanya pada kuartal IV muncul fenomena window dressing, yakni strategi investor institusi untuk mempercantik portofolio dan meningkatkan kinerja investasi menjelang tutup tahun.
Selain faktor musiman tersebut, sejumlah katalis positif juga dinilai turut memperkuat prospek pasar, seperti potensi pelonggaran kebijakan moneter, stabilitas ekonomi global dan domestik, serta situasi geopolitik dan politik dalam negeri yang relatif kondusif.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56