Bisnis.com, SURABAYA — Masyarakat alias Arek Jawa Timur menarik kredit Rp623 triliun di perbankan hingga November 2025. Kredit itu setara dengan pertumbuhan 2,29% secara tahunan (year on year).
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari mengatakan dalam data yang regulator miliki, penyaluran kredit ke arek Jawa Timur terutama untuk kredit investasi 6,36% dan kredit konsumtif 5,99%. Sedangkan pinjaman usaha melalui kredit modal kerja turun -1,12%.
“Kondisi ini mengindikasikan dunia usaha dan masyarakat [Jawa Timur] sedang melakukan penyesuaian terhadap tingkat suku bunga dan kondisi ekonomi, sehingga ekspansi kredit berlangsung secara lebih selektif,” katanya dikutip Kamis (29/1/2026).
Dia menyebut jika dilakukan pemilahan data berdasarkan sektor ekonomi, pinjaman rumah tangga menyumbanf 30,32% dari pinjaman yang disalurkan. Selanjutnya perdagangan besar dan eceran 25,71%, industri pengolahan 19,49%, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 7,80%.
Meskipun laju pertumbuhan kredit melambat, namun hal tersebut dapat mencerminkan sikap kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, seiring dengan penyesuaian strategi manajemen risiko di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Di sisi lain, tabungan arek Jawa Timur di perbankan alias Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 4,49% yoy menjadi Rp826,887 triliun.
Sementara itu, dari likuiditas industri perbankan pada November 2025 pada level yang memadai dan terjaga. Hal ini mencerminkan efektivitas manajemen risiko dan kehati-hatian perbankan dalam menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPК (AL/DPK) masing-masing sebesar 160,98% dan 33,77% jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50,00% dan 10,00%.
Sementara LDR tercatat sebesar 75,35% dan masih terdapat ruang dalam mengantisipasi peningkatan kredit.
Dia meyakinkan, kualitas kredit tetap terjaga, dengan rasio NPL net perbankan pada November 2025 sebesar 1,53% dan NPL gross sebesar 3,49%. Kenaikan NPL tersebut merupakan bagian dari proses normalisasi kualitas kredit pascarestrukturisasi dan dinamika sektor usaha tertentu.
Disisi permodalan, dia menegaskan, Capital Adequacy Ratio (CAR) November 2025 tercatat sebesar 31,02%, meningkat dibandingkan Desember 2024 sebesar 29,57%.
“Peningkatan CAR ini mencerminkan penguatan struktur permodalan, baik melalui pengelolaan aset tertimbang menurut risiko yang lebih optimal maupun melalui penguatan modal bank,” ucapnya.
Dia menegaskan pula, kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai pada November 2025.