Bisnis.com, JAKARTA — PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) memproyeksikan pendapatan dan laba bersih mengalami penurunan hingga sekitar 10% pada 2026 ini dibandingkan dengan pada tahun lalu.
Sekretaris Perusahaan CTRA Aditya Ciputra mengatakan tetap mempertahankan target marketing sales sebesar Rp9,5 triliun pada tahun ini. Sementara itu, perseroan justru memproyeksikan pendapatan dan laba bersih mengalami penurunan hingga sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dia menjelaskan bahwa proyeksi penurunan tersebut bukan disebabkan memburuknya kinerja operasional saat ini, melainkan merupakan dampak dari melemahnya penjualan sepanjang 2025.
"Di perusahaan properti, pendapatan baru diakui ketika pembangunan selesai dan unit diserahterimakan. Jadi ketika pre-sales tahun 2025 turun, dampaknya memang baru terlihat pada pendapatan tahun 2026," ujarnya dalam paparan publik yang dikutip, Senin (29/6/2026).
Adapun pendapatan CTRA selama 2025 tercatat senilai Rp12,7 triliun atau meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp11,2 triliun. Laba bersih CTRA tercatat Rp2,7 triliun atau naik 25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp2,1 triliun.
Menurut perseroan, penurunan pre sales pada tahun lalu terutama berasal dari segmen hunian menengah ke bawah yang terdampak melemahnya daya beli masyarakat.
Sebaliknya, lini properti investasi seperti hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan klinik masih mencatatkan pertumbuhan. Namun, kontribusi bisnis tersebut belum cukup untuk mengompensasi penurunan penjualan di segmen residensial yang masih menjadi penyumbang utama pendapatan.
Untuk mengejar target marketing sales tahun ini, CTRA akan mengandalkan proyek-proyek hunian di segmen menengah atas yang dinilai memiliki permintaan lebih tangguh.
Beberapa proyek utama yang menjadi motor penjualan antara lain CitraGarden City Jakarta, CitraGarden Serpong, CitraGarden Bintaro, serta dua proyek baru yakni Citra Maja Raya dan Citra Bukit Tumbuh. Mayoritas produk yang dipasarkan memiliki harga di atas Rp1,5 miliar per unit.
Perseroan menilai segmen menengah atas masih menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan segmen menengah ke bawah di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Meski demikian, tantangan industri properti dinilai belum mereda. Manajemen menyebut potensi kenaikan suku bunga menjadi risiko utama terhadap penjualan rumah, mengingat sekitar 72% transaksi pembelian konsumen CTRA menggunakan fasilitas KPR.
Apabila suku bunga acuan meningkat dan diikuti kenaikan bunga KPR akibat ketatnya likuiditas perbankan, maka minat masyarakat membeli rumah diperkirakan ikut tertekan.
"Apapun yang berdampak negatif terhadap KPR pasti akan berdampak pada pembelian rumah," ujarnya.
Di sisi lain, CTRA tetap melihat peluang pertumbuhan apabila aktivitas ekonomi nasional semakin membaik. Perseroan menilai pasar properti saat ini lebih banyak ditopang oleh pembeli akhir (end user) dibandingkan investor, sehingga peningkatan daya beli masyarakat akan menjadi faktor utama pemulihan permintaan.
Dia juga mengakui bahwa insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) masih memberikan kontribusi terhadap penjualan. Pada kuartal I/2026, CTRA mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp2,4 triliun dengan sekitar 51% transaksi penjualan memanfaatkan fasilitas tersebut.
Namun, perseroan menilai keberadaan PPN DTP kini bukan lagi menjadi katalis baru karena insentif tersebut telah berjalan cukup lama. Fokus utama perusahaan adalah penguatan segmen menengah atas.
Berdasarkan paparan, CTRA membukukan penurunan pendapatan sebesar 6,4% secara tahunan, dari Rp2,7 triliun pada kuartal I/2025 menjadi Rp2,558 triliun pada kuartal I/2026. Penurunan pada segmen Pengembangan Properti untuk Dijual sebesar 9,2%, sementara segmen Pendapatan Berulang naik 4,6%
Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga mengalami penurunan sebesar 21,5% secara tahunan menjadi Rp518 miliar pada kuartal I/2026.
Sepanjang kuartal I/2026, CTRA telah meluncurkan Klaster Cedarwood @Forestine di proyek CitraGarden City Jakarta, Klaster Hortis Phase 2 di proyek Citra Garden Serpong, dan juga klaster-klaster lainnya. Sementara itu pada semester II 2026, CTRA akan meluncurkan Klaster Lacewood Phase 1@The Forestine dan Klaster Solea Terrace di CitraGarden City Jakarta, Apartemen Kataluna di CitraLand City CPI Makassar, dan lainnya.
Untuk mendukung pengembangan bisnis, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1 triliun pada 2026.
Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat cadangan lahan (land banking), namun bukan untuk ekspansi ke lokasi baru.
Aditya menjelaskan, strategi land banking difokuskan pada penyempurnaan kepemilikan lahan di kawasan yang sudah ada.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.