Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk. (ISAT) mengawali periode tiga bulan pertama 2026 dengan membukukan pertumbuhan laba bersih dua digit seiring kenaikan pendapatan yang terjaga di level moderat.
Berdasarkan laporan keuangan ISAT per 31 Maret 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp1,49 triliun.
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 13,75% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yakni Rp1,31 triliun.
Pertumbuhan laba bersih tersebut seturut dengan realisasi laba per saham perseroan yang naik dari Rp40,65 menjadi Rp46,24 pada akhir Maret 2026.
Pertumbuhan laba ini terjadi di tengah ekspansi pendapatan bersih perseroan yang tumbuh sebesar 12,10% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp15,22 triliun dibandingkan Rp13,57 triliun pada kuartal I/2025.
Secara rinci, mayoritas pendapatan Indosat berasal dari segmen seluler yang berkontribusi Rp12,7 triliun; multimedia, komunikasi data, internet (MIDI) menyumbang Rp2,3 triliun; dan komunikasi tetap senilai Rp212,83 miliar.
Dari sisi operasional, beban pokok perseroan tercatat naik 13,11% YoY menjadi Rp12,20 triliun dari sebelumnya Rp10,78 triliun. Kondisi ini menghasilkan laba sebelum pajak penghasilan senilai Rp1,92 triliun, atau tumbuh 9,31% YoY.
Manajemen Indosat juga mencatatkan penguatan signifikan pada posisi likuiditas. Saldo kas dan setara kas perseroan melonjak 30% menjadi Rp5,56 triliun dibandingkan dengan posisi Maret 2025 yang sebesar Rp4,28 triliun.
Hingga akhir Maret 2026, total aset ISAT mencapai Rp122,10 triliun, tumbuh 2,93% secara year to date (YtD) dari Rp118,62 triliun. Pertumbuhan aset dibarengi dengan kenaikan ekuitas sebesar 3,87% menjadi Rp41,03 triliun.
Sementara itu, total liabilitas perseroan berada di angka Rp81,06 triliun. Pos kewajiban tersebut hanya mengalami kenaikan moderat sebesar 2,46% secara tahunan dari periode kuartal I/2025 yang tercatat senilai Rp79,12 triliun.
PENDAPATAN PER PELANGGAN
Indosat turut mencatatkan pertumbuhan rata-rata pendapatan per pelanggan (average revenue per user/ARPU) pada kuartal I/2026. Namun, di sisi lain, jumlah pelanggan perusahaan berkurang hingga 2 juta dalam 12 bulan.
Merujuk pada laporan info memo, Indosat membukukan ARPU prabayar sebesar Rp44.100 atau naik 14,84% YoY. Pencapaian tersebut turut mendongkrak ARPU gabungan yang tercatat sebesar Rp45.200 atau naik 15,3% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan ARPU tidak disertai dengan pertumbuhan jumlah pelanggan. Pengguna prabayar Indosat berkurang 2 juta pelanggan dari 94 juta pelanggan pada kuartal I/2025 menjadi 92 juta pelanggan pada kuartal I/2026. Sementara itu, pelanggan pascabayar stagnan pada posisi 2 juta pelanggan.
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan bahwa hal itu mencerminkan monetisasi yang makin optimal dan kualitas pelanggan yang semakin meningkat.
Pada saat yang sama, trafik data tumbuh 25,1% secara tahunan, menegaskan meningkatnya peran layanan digital dalam keseharian pelanggan serta pertumbuhan kebutuhan akan konektivitas yang andal dan berkualitas tinggi.
“Kinerja awal tahun yang solid ini menggambarkan konsistensi kami dalam menjalankan strategi dan memberikan nilai yang nyata bagi pelanggan,” kata Vikram dikutip Jumat (1/5/2026).
Untuk mendukung pertumbuhan ini, Indosat terus meningkatkan jaringan 5G guna menghadirkan pengalaman yang lebih lancar bagi pelanggan, sekaligus memungkinkan kapabilitas berbasis AI untuk layanan yang lebih personal.
Sementara itu, Indosat juga memperluas kehadirannya di layanan konektivitas rumah melalui HiFi Air sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan solusi internet yang lebih fleksibel di luar layanan seluler.
Perusahaan juga memperkuat kepercayaan dan keamanan pelanggan melalui fitur berbasis AI seperti solusi anti-spam dan anti-scam. Hal ini mempertegas komitmen dalam menghadirkan konektivitas yang cepat andal, dan aman.