JAKARTA - Gempa besar berkekuatan M6,4 mengguncang Laut Banda, Maluku, Jumat (15/5/2026) pukul 00.53.14 WIB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tidak berpotensi tsunami.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengungkapkan dari hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,4. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 6,20° LS ; 130,53° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 214 Km arah Barat Laut Tanimbar pada kedalaman 151 km.
Dia pun mengatakan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Banda.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust )," ungkapnya.
Wijayanto mengatakan gempabumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Saumlaki, Banda, Tual, Dobo, Masela, Sorong, Raja Ampat, Fak-Fak dan Kaimana dengan skala intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu). Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
Wijayanto kembali menegaskan bahwa dari hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami. "Hingga pukul 01.16 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock)."
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 di Laut Banda, Maluku, Selasa (13.1.2026) pukul 05.59... | Halaman Lengkap [205] url asal
MALUKU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 di Laut Banda, Maluku, Selasa (13/1/2026) pukul 05.59 WIB.
Hari Selasa 13 Januari 2026 pukul 04.59.31 WIB wilayah Pantai Tenggara Maluku Barat Daya, Maluku diguncang gempa tektonik.
"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,3. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 7,81° LS ; 128,97° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 136 Km arah timur laut Maluku Barat Daya, Maluku pada kedalaman 50 km," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, Selasa (13/1/2026).
Dari hasil pengamatan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, ia berkata, gempa bumi yang terjadi bejenis gempa dangkal akibat adanya deformasi batuan dalam slab Banda. Dari hasil analisis mekanisme sumber, ia berkata, gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik.
"Berdasarkan estimasi peta guncangan, gempa ini menimbulkan guncangan di daerah Maluku Barat Daya dengan skala intensitas IV MMI, daerah Mndona Hiera, Maluku Barat Daya dengan skala intensitas III MMI dan daerah Amahai, Maluku Tengah dengan skala intensitas II - III MMI," kata Daryono.
"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotenai tsunami," tambahnya.
Bisnis.com, Jakarta — Sebanyak 47 gempa terjadi di Indonesia dalam 10 jam di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang Minggu (11/1/2026) sejak dini hari tadi. Puluhan gempa bumi dengan magnitudo kecil hingga menengah terjadi dan tersebar di berbagai kawasan, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Berdasarkan rekap Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pukul 10.30 WIB, gempa dengan magnitudo terbesar tercatat berkekuatan 4,9 yang terjadi di wilayah Laut Banda pada pukul 03.43 WIB dengan kedalaman 181 kilometer. Selain itu, gempa bermagnitudo 4,2 juga terjadi di Laut Banda pada pukul 10.07 WIB dan di Kepulauan Talaud pada pukul 02.40 WIB. Sejumlah gempa lainnya berada pada kisaran magnitudo 2 hingga 3 dan tergolong gempa dangkal hingga menengah.
Wilayah Bali dan sekitarnya menjadi salah satu kawasan yang paling sering mengalami guncangan pada hari tersebut. Beberapa gempa tercatat terjadi di kawasan Bali, Laut Bali, dan perairan sekitarnya dengan magnitudo antara 2,1 hingga 2,7 dan kedalaman relatif dangkal. Aktivitas serupa juga terpantau di wilayah Sumbawa dan Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang mengalami rangkaian gempa kecil dalam waktu berdekatan.
Di Pulau Jawa, gempa terjadi di sejumlah titik, termasuk wilayah selatan Jawa dan daratan Jawa, dengan magnitudo berkisar 2,6 hingga 3,0. Sementara itu, di Sulawesi, gempa tercatat di Semenanjung Minahassa dan wilayah Sulawesi bagian tengah dengan magnitudo kecil dan kedalaman dangkal.
Aktivitas kegempaan juga terpantau di wilayah timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua. Gempa terjadi di Laut Banda, Laut Maluku bagian utara, Seram, Halmahera, serta wilayah pesisir utara Papua dan Papua Barat. Sebagian gempa di kawasan ini memiliki kedalaman menengah hingga dalam, mencerminkan aktivitas subduksi lempeng di wilayah tersebut.
Gempa Hari Ini Minggu, 11 Januari 2026 dari Pukul 00.01 WIB-10.30 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan wilayah Laut Banda, Maluku diguncang gempa bumi Magnitudo 5,2, Minggu (7.12.2025) pukul 11.55 WIB.... | Halaman Lengkap [152] url asal
MALUKU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan wilayah Laut Banda, Maluku diguncang gempa bumi Magnitudo 5,2, Minggu (7/12/2025) pukul 11.55 WIB. Gempa tektonik ini tepatnya berlokasi di laut pada jarak 152 Km arah barat laut Tanimbar, Maluku Tenggara Barat, Maluku pada kedalaman 86 km.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, fenomena alam yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas intraslab lempeng banda. Getaran gempa ini dirasakan di tiga daerah.
"Gempa bumi ini menimbulkan guncangan di Molu Maru, Wuar Labobar, Maktian Maluku Tenggara Barat dengan skala intensitas III - IV MMI," ujar Daryono, Minggu (7/12/2025).
Hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Dia menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ucapnya. Bedasarkan hasil monitoring BMKG, tidak terjadi gempa susulan hingga pukul 12.15 WIB.
Bisnis.com, JAKARTA - Gempa magnitudo 6,8 mengguncang kawasan Tanimbar Maluku malam ini.
Dikutip dari akun twitter BMKG disebutkan jika gempa magnitudo 6,8 itu terjadi pada Selasa 28-Oktober 2025 pukul 21:40:18 WIB.
Adapun pusat gempa berlokasi di titik 6.81 LS,130.13 BT (183 km BaratLaut TANIMBAR).
Gempa tersebut berkedalaman 185 Km, dan BMKG mengatakan tidak berpotensi tsunami.
Tanimbar berada di Provinsi Maluku, Indonesia, tepatnya sebagai ibu kota dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Kepulauan ini merupakan gugusan pulau yang terletak di antara Laut Banda dan Laut Arafura, di bagian timur Indonesia.
Pusat administrasi kabupaten ini berada di Saumlaki, yang terletak di Pulau Yamdena
Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan ... [1,688] url asal
Jakarta (ANTARA) - Ratusan penumpang berdesakan di dermaga kecil Banda Neira, Maluku Tengah. Di bawah langit sore yang perlahan meredup, mereka menanti kapal Pelni yang akan berangkat menuju Ambon.
Di pulau yang hanya bisa dijangkau lewat laut dan udara terbatas, setiap kedatangan kapal menjadi peristiwa besar. Bukan sekadar perjalanan, tapi pertaruhan waktu, logistik, dan nasib banyak orang.
Banda Neira, pulau mungil di gugusan Laut Banda, menyimpan sejarah besar yang mengubah wajah dunia. Dari sinilah pala pernah menjadi rebutan bangsa Eropa, ratusan tahun lalu.
Kini, sejarah itu berganti rupa. Banda Neira tidak lagi menjadi pusat perdagangan rempah dunia, melainkan simbol ketabahan masyarakat di wilayah terluar yang bertahan dengan irama laut.
Berbanding terbalik dengan Jakarta yang bergerak dengan moda transportasi canggih, Banda Neira masih hidup dengan kesabaran. Di sini, waktu berjalan pelan bersama jadwal kapal yang tidak menentu.
Warga harus menunggu tiga, hingga empat hari, hanya untuk keluar pulau. Kapal Pelni menjadi satu-satunya tumpuan, menyeberang selama 14 jam menuju Ambon, berdamai dengan ombak, jarak, dan waktu.
Susana Pelabuhan di Banda Neira, Maluku Tengah padat saat kapal Pelni bersandar, yang hendak mengangkut calon penumpang untuk berlayar ke Ambon, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Begitulah Banda Neira. Di antara laut yang biru dan langit yang luas, setiap keberangkatan kapal, bukan hanya rutinitas, tapi denyut kehidupan yang menjaga pulau ini tetap bernapas.
Bangunan tua berwarna biru di tepi pelabuhan menjadi saksi kesibukan sore itu. Deretan motor parkir rapat, sementara warga menenteng karung, koper, dan tas hendak masuk ke dalam kapal.
Ketika tangga besi dibentangkan ke lambung kapal putih bertuliskan “PELNI”, antrean panjang mulai bergerak perlahan, meniti pijakan sempit, dengan hati-hati sambil membawa barang bawaan.
Bukan hanya penumpang yang naik, tetapi juga logistik kehidupan, beras, minyak, sayur-mayur, hingga paket dari keluarga di Ambon dan Jakarta, semua ikut menumpang harapan dalam satu pelayaran.
Kapal Pelni menjadi urat nadi yang menyambung Banda Neira dengan dunia luar. Tanpanya, harga-harga kebutuhan bisa melambung tinggi dan arus ekonomi di pulau itu akan terhenti.
Di antara hiruk pikuk itu, beberapa awak kapal berseragam putih berjaga di tangga kapal. Mereka membantu penumpang naik satu per satu, memastikan semua bisa berangkat dengan aman dan tenang.
Hening seketika menyelimuti dermaga, saat sebuah ambulans masuk pelabuhan. Warga spontan menyingkir, memberi jalan bagi tandu sederhana yang membawa seorang perempuan lemah yang diarak masuk ke dalam KM Sangiang.
Wajahnya pucat, namun matanya terbuka lemah menatap kapal yang akan membawanya ke rumah sakit di Ambon. Di matanya, kapal ini adalah harapan yang menyeberangi laut untuk menyelamatkan hidupnya.
Seorang wisatawan, salah satu calon penumpang kapal Pelni KM Sangiang yang akan berlayar dari Banda Neira ke Ambon, meneteskan air mata saat melihat pasien diturunkan dari ambulans untuk dirujuk ke rumah sakit di Ambon, menggunakan kapal yang sama, di Banda Neira, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Seorang perempuan berkerudung abu-abu berdiri terpaku di sisi pelabuhan. Air matanya jatuh pelan, bukan karena perpisahan, tapi karena tersentuh melihat betapa besar arti kapal bagi kehidupan di Banda Neira.
Bagi warga pulau itu, Pelni bukan sekadar kapal besar yang berlabuh dan berangkat. Ia adalah jembatan kemanusiaan, membawa logistik, kesehatan, pendidikan, dan rasa keterhubungan antar-pulau.
Setiap peluit panjang yang terdengar, bukan hanya tanda keberangkatan, tapi juga pernyataan bahwa negara selalu hadir di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).
Kapal pun perlahan berlayar meninggalkan dermaga membawa manusia, barang, dan harapan melintasi Maluku, menjaga denyut kehidupan yang tak pernah padam.
Transportasi andalan
Mirna (37 tahun) menjadi salah satu wajah ketekunan Banda Neira. Dari rumah kayunya yang sederhana, ia menjalankan usaha kecil menjual barang pecah belah, pakaian, dan buah segar untuk warga sekitar.
Rumahnya, sekaligus menjadi toko kecil, tempat warga datang membeli kebutuhan harian, sambil bertukar kabar. Di ruang sempit itulah roda ekonomi Banda Neira berputar sederhana, tapi pasti.
Sebagian besar barang dagangan didatangkan dari Ambon dan Makassar. Mirna mengandalkan adiknya di Makassar untuk mengirimkan pesanan, sehingga ia tidak perlu sering bepergian jauh, cukup menunggu kapal datang.
Setiap awal dan akhir bulan, Mirna biasanya berangkat ke Ambon menggunakan kapal Pelni, entah Pangrango atau Labobar. Ia menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan ketersediaan kapal agar stok tetap aman.
Perjalanan itu bukan hal mudah. Ia harus menunggu tiga, hingga empat hari, sampai kapal tiba, lalu menempuh pelayaran 14 jam ke Ambon dalam cuaca yang kadang tidak bersahabat. Namun, semua dijalani dengan sabar.
Sejumlah calon penumpang kapal Pelni hendak memasuki KM Sangiang yang akan berlayar dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025). ANTARA/Harianto
Selain berdagang langsung, Mirna juga memanfaatkan media sosial. Ia memotret dagangan dan memostingnya di media sosial agar pembeli dari luar Banda bisa memesan, tanpa harus datang langsung.
Kapal Pelni, baginya bukan hanya sarana transportasi, tetapi urat nadi kehidupan. Selama bertahun-tahun, pengiriman barang berjalan aman, tanpa kehilangan, membuat kepercayaan warga terhadap layanan ini tetap tinggi.
Hanya saja, jadwal kapal tidak selalu pasti. Pangrango biasanya beroperasi satu atau dua kali sepekan, sementara Labobar yang berlayar jauh dari Jawa, sering penuh penumpang dan tidak selalu bisa memuat barang.
Ketika kapal sedang docking, aktivitas logistik di Banda Neira pun terganggu. Barang tertahan, stok menipis, dan harga kebutuhan mulai naik. Semua berharap kapal cepat kembali berlayar menembus ombak.
Mirna selalu berdoa agar Pangrango segera turun beroperasi lagi. Kapal itu adalah jembatan utama yang membuat roda ekonomi di pulau kecil tetap bergerak dan kebutuhan warga terus terpenuhi. Bagi masyarakat Banda Neira, Pelni adalah wajah nyata kehadiran negara untuk rakyat.
Banda Neira, pulau kecil di jantung Laut Banda, berdiri tenang di antara ombak biru yang berlapis riak sejarah. Di sinilah masa lalu kolonial Belanda masih bernapas lewat benteng, rumah tua, dan kisah perjuangan.
Manajer Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda (kiri) bersama pegawai Pelni lainnya menjawab pertanyaan awak media dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Misi kemanusiaan
Di wilayah-wilayah 3TP, kapal Pelni, selain mendukung mobilitas dan logistik, sering menjadi ambulans terapung, menempuh gelombang panjang demi membawa pasien ke rumah sakit rujukan di kota besar, seperti Ambon. Tidak jarang, di atas kapal ini pula seorang bayi pertama kali melihat dunia.
Kapal Pelni memiliki fasilitas poliklinik di setiap armada penumpang, lengkap dengan tempat tidur, obat-obatan dasar, hingga tabung oksigen. Beberapa kapal, bahkan menempatkan tenaga medis atau dokter untuk menangani kondisi darurat selama pelayaran. Semua layanan kesehatan itu diberikan tanpa biaya karena difasilitasi oleh negara lewat perusahaan tersebut.
Meskipun demikian, tidak sedikit pula penumpang yang datang tanpa surat rujukan resmi dari otoritas kesehatan. Dalam situasi mendesak, pihak kapal tetap memberi ruang, mencatat peristiwa dengan berita acara, dan mengutamakan sisi kemanusiaan dibanding aturan kaku. Di laut luas, waktu sering kali lebih berharga dari dokumen.
Kisah penumpang sakit yang harus ditandu, malam itu, hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang menggambarkan peran ganda Pelni.
Ketika wisatawan terjebak akibat letusan Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur, kapal Pelni diarahkan untuk menjemput mereka menuju pelabuhan terdekat. Di saat semua moda transportasi lain berhenti, kapal Pelni tetap berlayar.
Demikian pula, saat bencana melanda Palu, kapal yang biasanya mengangkut penumpang sipil berubah menjadi kapal kemanusiaan. Di dalam ruang yang biasanya dipenuhi koper dan karung, berubah menjadi susunan bantuan logistik dan peralatan penyelamat.
Sejumlah penumpang non seat tidur di lorong-lorong kecil kapal Pelni dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Bagi Pelni, laut bukan sekadar jalur niaga, tapi juga jalur empati. Di dalam dek baja yang mengarungi samudra, tersimpan kisah tentang pelayanan publik yang tetap berdenyut di tengah tuntutan bisnis.
Pelni berada dalam posisi unik, di mana "kaki kiri" perusahaan berpijak pada misi sosial, sementara "kaki kanan" berdiri pada tuntutan komersial. Dua sisi yang jarang bisa dijalankan bersamaan oleh perusahaan transportasi lainnya.
“Kalau swasta pasti profit, profit, dan profit, sementara Pelni harus siap kapan pun menjalankan penugasan sosial," ujar Manager Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda di atas KM Sangiang, yang berlayar menembus malam gelap lautan Banda dari Banda Neira menuju Ambon.
Kapal-kapal Pelni menjadi tulang punggung logistik dan penumpang di wilayah timur Indonesia.
Memaksimalkan armada
Saat ini, terdapat 25 kapal penumpang aktif dari total 26 armada, sementara satu kapal masih menjalani perawatan pascakebakaran di Makassar. Selain itu, terdapat 30 kapal perintis, satu kapal ternak, satu kapal rede, dan 11 kapal barang yang melayani berbagai jalur.
Dari seluruh armada tersebut, sekitar 10 kapal melayani kawasan timur Indonesia, wilayah dengan bentang lautan luas dan fasilitas transportasi yang sangat terbatas. Sisanya tersebar di klaster tengah dan barat, di mana moda transportasi lain, seperti pesawat atau kereta masih tersedia.
Sejumlah penumpang non seat tidur di lorong-lorong kecil kapal Pelni dalam pelayaran kapal Pelni KM Sangiang dari Banda Neira ke Ambon, Kamis (23/10/2025) malam. ANTARA/Harianto
Sementara itu, Pelni harus memutar otak agar tetap berlayar di tengah keterbatasan armada tua. Beberapa kapal sudah berusia lebih dari 40 tahun, melintasi ribuan mil laut dari generasi ke generasi, menjadi saksi perjalanan ekonomi dan kemanusiaan di Indonesia Timur.
Untuk membeli satu kapal baru tipe besar, dibutuhkan dana sekitar Rp1,5 triliun. Pelni, yang setiap tahunnya hanya mampu menyisihkan sekitar Rp200 miliar dari laba operasional, memperkirakan butuh waktu hingga satu dekade untuk mengumpulkan biaya pengadaan satu kapal baru.
Padahal, dari kajian, kebutuhan ideal untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara mencapai 80 kapal penumpang. Jumlah itu diyakini cukup untuk memperpendek waktu tunggu masyarakat di pulau-pulau kecil yang kini harus menunggu hingga dua minggu untuk kedatangan kapal berikutnya.
Realitas di Banda Neira menggambarkan perlunya pemenuhan kebutuhan transportasi. Di tengah pesona wisata sejarah dan alamnya, masyarakat di pulau itu harus menunggu kapal Pelni tiga hingga empat hari sekali, sementara pesawat kecil hanya terbang dua kali sepekan, dengan kapasitas tidak lebih dari selusin orang.
Kondisi itu membuat setiap kedatangan kapal seperti peristiwa besar. Tidak hanya penumpang dan logistik, kapal Pelni membawa harapan, membawa pasien yang ingin sembuh, membawa barang dagangan yang menopang ekonomi pulau, dan kadang membawa cerita lahirnya kehidupan baru di tengah laut.
Meski belum mampu menyetor dividen besar bagi negara, peran Pelni di wilayah kepulauan timur menjadi tidak tergantikan. Ia bukan hanya operator pelayaran, melainkan simbol kehadiran negara di perbatasan samudra, tempat profit sering kali tidak sebanding dengan makna kemanusiaan yang dihadirkan.
Pelni menjadi nadi kehidupan dan kemanusiaan di pelosok tanah air, menjaga harapan, logistik, dan keterhubungan pulau-pulau timur Indonesia di tengah keterbatasan armada dan jarak yang memisahkan.
Gempa M 5,9 mengguncang Maluku Tenggara. BMKG menyatakan tidak ada potensi tsunami dan belum ada laporan kerusakan. Masyarakat diminta tetap tenang. [350] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 5,9 mengguncang Maluku Tenggara dan Maluku. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi terjadi pada pukul 18.46.11 WIB wilayah Laut Banda, Maluku Tenggara, Maluku.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 5,9. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 6,34° LS ; 131,11° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 192 Km arah Barat Daya Maluku Tenggara Barat, Maluku pada kedalaman 120 km.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya deformasi batuan dalam slab Banda (Intra-slab). Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust)," tulis BMKG.
Gempa bumi ini dirasakan di Kota Kaimana dan Fak-Fak dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu), Kota Saumlaki, Sorong dan Larat dengan skala Intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).
"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," imbuhnya.
Hingga pukul 19.08 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah.
Gempa bumi berkekuatan 5,2 magnitudo mengguncang wilayah Laut Banda, Maluku pada pagi ini, Senin (20.10.2025) pukul 05.44 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa... | Halaman Lengkap [245] url asal
MALUKU - Gempa bumi berkekuatan 5,2 magnitudo mengguncang wilayah Laut Banda, Maluku pada pagi ini, Senin (20/10/2025) pukul 05.44 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,1.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 7,48° LS ; 130,78° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 79 Km arah Barat Laut Tanimbar, Maluku Tenggara Barat, Maluku pada kedalaman 60 km.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi batuan dalam lempeng Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik (oblique thrust fault)," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam keterangannya, Senin (20/10/2025).
Daryono menambahkan berdasarkan estimasi peta guncangan (shakemap), gempa bumi ini menimbulkan guncangan di daerah Tanimbar Selatan, Maluku Tenggara Barat dengan skala intensitas III MMI. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 06.10 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock)," ucapnya.
Daryono mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," ucapnya.
(cip)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56