Bisnis.com, JAKARTA — Ada kalanya yang paling menakutkan bukanlah monster di kegelapan, melainkan sesuatu yang kembali dari masa lalu dengan wajah yang kita cintai.
Itulah premis mengganggu sekaligus emosional yang diusung dalam The Mummy, film horor supernatural Amerika yang mengguncang layar bioskop sejak April 2026.
Film ini ditulis dan disutradarai oleh Lee Cronin, sosok yang dikenal luas di dunia horor berkat karyanya Evil Dead Rise. Kali ini Cronin bekerja sama dengan dua produser legendaris genre horor, James Wan melalui Atomic Monster serta Jason Blum lewat Blumhouse Productions.
Kolaborasi tiga nama besar ini menjadi sinyal bahwa The Mummy versi 2026 hadir dengan ambisi yang jauh melampaui sekadar reboot nostalgia.
Berbeda drastis dari adaptasi sebelumnya yang cenderung mengusung aksi petualangan penuh kejar-kejaran di padang pasir, Cronin memilih pendekatan yang lebih gelap, intim, dan mengganggu secara psikologis.
Ia menempatkan horor bukan di reruntuhan piramida yang eksotis, melainkan di ruang paling rentan dalam kehidupan manusia: rumah dan keluarga.
Kisah berpusat pada Charlie Cannon, seorang jurnalis yang diperankan Jack Reynor, yang hidupnya runtuh sejak putri kecilnya, Katie, menghilang secara misterius delapan tahun lalu di tengah gurun pasir Kairo. Tak ada jejak, tak ada penjelasan.
Charlie menghabiskan bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kehilangan yang tak pernah sembuh, ditemani istrinya yang diperankan Laia Costa serta luka yang terus menganga.
Lalu, tanpa peringatan, Katie kembali.
Namun kepulangannya bukanlah akhir dari penderitaan, melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih kelam. Katie, yang kini diperankan Natalie Grace, tidak kembali sebagai gadis kecil yang dahulu pergi.
Ia hadir dalam kondisi seperti mumi hidup yang mengerikan, tubuhnya membawa jejak delapan tahun di alam yang tak seharusnya dijamah manusia. Reuni yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan dalam hidup Charlie berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.
Perilaku Katie pun berubah drastis. Ia menunjukkan energi kelam yang sulit dijelaskan, gestur asing yang bukan milik anak yang dulu dikenal, serta kehadiran supernatural yang memicu kejadian-kejadian mengerikan di sekitar keluarga.
Pertanyaan paling menyiksa bagi Charlie pun muncul: apakah sosok di hadapannya masih anak perempuannya, atau sesuatu yang lain yang hanya mengenakan wajahnya?
Di balik teror tersebut tersimpan misteri sebuah sarkofagus berusia 3.000 tahun yang menjadi benang merah antara dunia kuno Mesir dan kutukan yang kini menghantui keluarga Cannon. Elemen ini menambah lapisan mitologi yang kaya tanpa mengorbankan fokus emosional cerita.
Di situlah kekuatan The Mummy versi Cronin terasa. Film ini tidak hanya membangun ketakutan dari sosok monster, melainkan dari cinta orang tua yang membutakan. Trauma, kerinduan, dan ketidakmampuan untuk melepaskan justru menjadi bahan bakar horor sesungguhnya dalam cerita ini.