Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) terus mendorong bahan bakar ramah lingkungan. Ini dilakukan dengan mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur berbasis Used Cooking Oil (UCO) atau avtur campuran minyak jelantah.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, pihaknya juga sebelumnya telah mengembangkan BBM ramah lingkungan yang terus berevolusi seperti B20, B30, hingga B40.
Menurutnya, perjalanan Pertamina dalam mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan bukan hanya kisah sukses ekonomi, tetapi juga perjalanan ekologi yang mendalam.
“Ini bukan hanya perjalanan sukses dalam hal ekonomi karena menciptakan penghematan devisa yang signifikan bagi negara, tetapi juga sebagai perjalanan ekologi. Menempatkan prinsip Environmental, Social, and Governance [ESG] sebagai inti adalah sesuatu yang sangat berarti,” ujar Agung melalui keterangan resmi dikutip Minggu (12/10/2025).
Dia mengatakan, keberhasilan Pertamina dalam menerapkan program biodiesel sejak B20 hingga B40 telah memberikan dampak besar terhadap kemandirian energi nasional.
“Sejak penerapan B20 dan kini B40, Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dengan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Agung menyoroti inovasi Pertamina dalam mengembangkan SAF yang berasal dari minyak jelantah.
Menurutnya, bahan bakar ini tidak hanya berperan penting dalam menurunkan emisi karbon hingga 84%, tetapi juga mendukung terbentuknya ekonomi sirkular di masyarakat.
“Kami telah menggunakan SAF itu dari minyak goreng masyarakat untuk terbang. Jadi ini bukan hanya tentang mengurangi emisi karbon, tetapi juga bagian dari ekonomi sirkular karena masyarakat dapat menukar minyak jelantah menjadi rupiah, yang kemudian diolah menjadi bahan bakar berkelanjutan dan efisien,” jelasnya.
Agung menambahkan bahwa keberhasilan pengembangan bahan bakar ramah lingkungan oleh Pertamina menjadi bagian penting dari transformasi energi nasional.
Menurutnya, program ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor energi hijau serta mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Ini adalah perjalanan transformasi Pertamina untuk mendukung agenda nasional mengenai bahan bakar nabati. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi pelopor energi bersih di kawasan Asia Tenggara,” ucapnya.