Bisnis.com, TOKYO — Isu karbon kembali menggelinding di arena Japan Mobility Show 2025, tetapi tak lagi berpusar pada elektrifikasi otomotif. Kini produsen besar melirik energi alternatif yang tak mendisrupsi manufaktur, salah satunya bioetanol.
Produsen otomotif seperti Toyota Motor Corporation yang belakangan memposisikan diri sebagai perusahaan mobilitas, bahkan tengah memburu pengembangan energi alternatif.
Salah satu yang diusung ialah bahan bakar berbasis nabati alias biofuel. Indonesia sendiri telah akrab dengan penggunaan biofuel seperti biodiesel yang kini diklaim membantu pemerintah mengerem impor BBM.
Namun, kini terbuka peluang lebih besar penggunaan masif biofuel seiring dengan pengenalan etanol sebagai bahan bakar kendaraan. Di dunia, penggunaan bioetanol telah lazim dilakukan.
Negara seperti Brasil telah mapan menjadikan bioetanol sebagai penopang utama kebutuhan energi untuk transportasi.
Keberhasilan Brasil layak diadopsi berbagai negara. Bioetanol diyakini bakal banyak membantu negara berkembang dalam memangkas emisi karbon.
Terutama berkaitan dengan ongkos industri yang harus ditanggung. Lewat penggunaan bioetanol, rantai pasok industri terutama berkaitan komponen mesin bisa bertahan, tidak ditanggalkan selayaknya kendaraan listrik.
Namun sebaliknya, produksi bioetanol besar-besaran kembali mencuatkan isu pangan. Sejauh ini bahan baku bioetanol mayoritas menggunakan bahan pangan, seperti jagung, hingga tebu.
Persoalan inilah yang dipecahkan Toyota Motor Corporation (TMC). TMC secara serius mengejar inovasi agar kemunculan bioetanol tak mengusik kepentingan pangan.
President Carbon Neutral Engineering Development Center Keiji Kaita mengatakan perusahaan tengah menggelar penelitian bioetanol berbasis nonpangan. Mayoritas sumber bahan baku itu berasal dari limbah tanaman atau sisa produksi.
“Sisa perasan tebu, mungkin juga batang atau daun jagung yang dibuang para petani,” ungkapnya seusai kegiatan Toyota Global Workshop, di Tokyo, pada Jumat (31/10/2025).
Dia meyakini keberadaan bioetanol sejalan dengan komitmen transisi energi dari pemerintah. “Tidak hanya untuk mengikis karbon, tetapi hal itu membantu mengurangi impor bahan bakar,” jelas Kaita.
Lebih jauh, proyek penelitian oleh TMC itu ikut mendukung target penggunaan E10 yang telah dilontarkan presiden.
“Kami juga telah bekerja sama dengan Pertamina,” kata Kaita.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah telah mengeluarkan target E10 sebanyak 1,2 juta kiloliter etanol pada 2028.
“Itu sesuai arahan Pak Menteri, atau lebih cepat dari 2028,” ungkapnya kepada Bisnis.
Untuk misi tersebut, Eniya menjelaskan saat ini Pertamina selaku perusahaan pelat merah telah menyusun peta jalan. “Tidak hanya Pertamina, namun nanti bisa bermitra dengan Pertamina,” ungkapnya.
Dia menegaskan untuk bahan baku bioetanol, pemerintah meminta seluruhnya berasal dari dalam negeri.
Pemerintah pun tengah berupaya membereskan hambatan produksi dan komersialisasi bioetanol. “Harga Bioetanol setiap bulan dikeluarkan oleh ESDM. Saat ini jika pemakaian sebagai bahan bakar ada masalah cukai yg masih diterapkan, dan saat ini dalam proses pembahasan untuk bisa menurunkan harga komersialnya,” tutup Eniya.