Bisnis.com, JAKARTA — Pakar klimatologi dan perubahan iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menegaskan bahwa upaya menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem harus difokuskan pada penurunan tingkat kerentanan di tiga sektor utama, yakni manusia, infrastruktur, dan lingkungan.
Dalam diskusi daring yang diselenggarakan BRIN, Erma mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di Sumatra tidak semata-mata dipicu oleh cuaca ekstrem. Menurut dia, lemahnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan ekosistem serta mitigasi yang belum optimal turut memperbesar dampak bencana.
“Fenomena alamnya itu karena cuaca ekstrem, benar. Tetapi kontribusinya kan hanya sedikit. Kalau daya dukung lingkungannya kuat mestinya kan dampaknya tidak separah itu. Berarti memang daya dukung lingkungan itu penting banget dan persentasenya cukup besar dalam hal ini untuk mereduksi dampak,” kata Erma, dikutip dari Antara, Rabu (31/12/2025).
Sejalan dengan itu, Erma mendorong penerapan langkah mitigasi yang lebih komprehensif di tengah kecenderungan meningkatnya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra yang tergolong rentan. Mitigasi, menurut dia, harus dirancang secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek sosial, infrastruktur, dan kondisi lingkungan.
Perencanaan dan implementasi mitigasi tersebut perlu dilakukan tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga jangka menengah dan panjang guna menekan risiko serta meningkatkan ketahanan terhadap bencana.
“Berarti kan kerentanannya kita turunkan. Jangan sampai rentan. Rentan itu dari tiga tadi. Manusianya rentan, infrastrukturnya rentan, lingkungannya rentan,” ujarnya.
Erma menambahkan, langkah-langkah tersebut menjadi makin mendesak seiring dengan meningkatnya dampak perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem. Kenaikan suhu global, lanjut dia, turut memengaruhi kemunculan fenomena cuaca yang sebelumnya jarang terjadi, termasuk siklon tropis di sekitar wilayah khatulistiwa.
Dia menjelaskan bahwa temperatur permukaan Bumi saat ini telah meningkat mendekati 1,5 derajat Celsius dan berpotensi mencapai ambang batas tersebut pada 2029, lebih cepat dari proyeksi sebelumnya.
“Konsekuensi langsung dari kondisi yang 1,5 [derajat Celsius] memang yang pertama kali, yang sangat langsung begitu adalah extreme weatherevent, kejadian cuaca ekstrem yang salah satu indikasinya adalah storm atau badai,” ujarnya.