Bisnis.com, JAKARTA — Banyaknya pilihan mainan di pasaran membuat sebagian orang tua kini semakin selektif saat memilih produk untuk anak, terutama di tengah semakin besarnya paparan gawai pada usia dini.
Di tengah kondisi itu, memilih mainan tidak lagi sekadar soal hiburan. Orang tua juga mulai mencari permainan yang sesuai usia sekaligus dapat mendukung proses tumbuh kembang anak.
Chief Executive Officer (CEO) Lilla, Chrisanti Indiana, mengatakan kebingungan orang tua dalam memilih mainan merupakan hal yang cukup umum terjadi saat ini. Menurut dia, banyak orang tua ingin memberikan stimulasi yang tepat, tetapi di saat yang sama dihadapkan pada banyaknya pilihan produk dengan fungsi yang beragam.
Chrisanti menilai penting bagi orang tua untuk memahami bahwa bermain dapat menjadi bagian dari proses belajar. Karena itu, pemilihan mainan sebaiknya mempertimbangkan usia anak, tingkat kesulitan, serta manfaat perkembangan yang bisa didapatkan.
“Sekarang pilihan mainan sangat banyak dan anak-anak juga sudah lebih cepat terpapar layar digital. Tantangannya adalah bagaimana orang tua bisa memilih cara bermain yang tetap menyenangkan, tetapi sekaligus mendukung perkembangan anak dan memberi ruang interaksi bersama,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu contoh permainan yang banyak diminati adalah puzzle bertingkat atau level up puzzle. Jenis permainan ini dirancang dengan tingkat kesulitan berbeda sesuai tahap usia anak.
Chrisanti menjelaskan level up puzzle terdiri dari delapan tingkatan. Pada level awal, anak hanya diminta mencocokkan dua potongan gambar sehingga cocok untuk balita yang baru mulai mengenal bentuk dan pola.
Seiring bertambahnya level, jumlah potongan dan tingkat kerumitan gambar juga meningkat. Dengan begitu, anak tidak hanya dilatih untuk mencocokkan gambar, tetapi juga belajar memecahkan masalah secara bertahap.
Dia menambahkan setiap gambar dalam puzzle juga memiliki cerita tersendiri. Hal itu memberi ruang bagi orang tua untuk ikut terlibat melalui percakapan sederhana selama anak bermain.
“Puzzle itu bukan hanya soal menyusun gambar. Setiap gambar punya cerita, jadi orang tua juga bisa ikut bercerita sambil bermain. Dari situ anak bukan hanya belajar mencocokkan bentuk, tetapi juga belajar memahami cerita dan berinteraksi,” jelas Chrisanti.
Selain puzzle, Chrisanti juga menyoroti permainan kategori storytelling yang kini banyak diminati orang tua. Salah satunya adalah storybook torch, yaitu permainan berbentuk senter yang menampilkan gambar cerita ke dinding.
Dalam satu paket, permainan ini berisi beberapa cerita anak yang dapat dimainkan bersama. Orang tua dapat mematikan lampu ruangan, menyorotkan gambar ke tembok, lalu membacakan atau mengembangkan cerita bersama anak.
Menurut Chrisanti, aktivitas sederhana seperti itu dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan. Interaksi tersebut juga dinilai dapat memperkuat kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
“Permainan seperti ini terlihat sederhana, tetapi manfaatnya cukup luas. Anak bisa berimajinasi, kreativitasnya terasah, dan yang penting kemampuan bahasanya juga ikut terstimulasi karena mereka mendengar, memahami, lalu mencoba merespons cerita,” katanya.
Dia menilai kemampuan bahasa menjadi salah satu aspek perkembangan yang sering menjadi perhatian orang tua, khususnya pada usia balita. Selain perkembangan kognitif dan motorik, kemampuan berbicara juga menjadi bagian penting dalam tahap tumbuh kembang anak.
Karena itu, Chrisanti menilai pengalaman bermain idealnya tidak hanya membuat anak merasa senang. Lebih dari itu, bermain juga bisa menjadi cara yang alami untuk menjadikan proses belajar dan stimulasi sebagai pengalaman yang menyenangkan bagi anak maupun orang tua.