Bisnis.com, JAKARTA — Perputaran ekonomi kreator di media sosial tidak lagi hanya berpihak pada akun dengan jumlah pengikut besar. Kreator dengan audiens yang lebih kecil justru semakin menonjol karena mampu menghadirkan konten yang terasa lebih dekat, sesuai dengan kebutuhan pengikutnya, dan konon kini lebih disukai brand.
Di berbagai platform, kemunculan akun-akun kecil dengan topik yang spesifik semakin mudah ditemukan. Mulai dari ulasan makanan rumahan, tips olahraga sederhana, hingga rekomendasi produk sehari-hari, konten yang terasa jujur dan kontekstual sering kali lebih menarik perhatian dibanding promosi yang terlalu dikemas.
Dalam Influencer Marketing Benchmark Report 2026, para pemilik jenama disebut semakin gencar melibatkan kreator dengan jumlah pengikut kecil dibanding memperluas kolaborasi dengan kreator besar atau selebritas.
Sebanyak 42,86 persen brand tercatat meningkatkan penggunaan nano creator, sementara 32,08 persen memperluas kolaborasi dengan micro creator. Di sisi lain, peningkatan kerja sama dengan macro creator hanya mencapai 14,71 persen, sedangkan kolaborasi dengan selebritas berada di angka 18,18 persen.
Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, melihat adanya dinamika baru dalam ekosistem influencer di media sosial. Salah satunya ditandai dengan munculnya influencer lokal yang umumnya masih berada pada kategori nano atau mikro.
Konten-konten mereka belakangan lebih sering menghiasi FYP (for your page) di halaman utama. Hal ini karena konten yang dibuat terasa lebih relevan dengan keseharian masyarakat.
Hal berbeda terjadi pada influencer nasional atau yang berada di level makro atau selebritas. Konten-konten mereka justru kian terasa jauh bagi sebagian masyarakat di daerah.
Selain itu, katanya, beberapa kasus yang menimpa influencer dan selebriti juga membuat kepercayaan publik terhadap mereka menurun. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir, masalah pilihan politik bisa menjadi trigger kepercayaan terhadap infleuncer ataupun selebriti.
Di sisi lain, banyak jenama kini lebih memilih mengalokasikan anggaran kepada influencer mikro karena dinilai memiliki peran yang lebih fleksibel. Mereka tidak hanya mempromosikan produk melalui unggahan, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam penjualan sebagai afiliator.
"Affiliator sekarang lebih banyak digunakan oleh perusahaan untuk menjual barangnya. Mereka live hingga berjam-jam untuk menawarkan produknya. Berbeda dengan influencer besar yang hanya posting, setelah itu udahan," katanya.
Nailul Huda juga melihat saat ini lokapasar juga masih didominasi oleh tren live shopping. Dengan demikian, kebutuhan untuk mempromosikan dan menjual lewat tangan-tangan afiliator pun makin tinggi.
Tak hanya itu, pelaku UMKM yang tidak memiliki akses untuk bekerja sama dengan influencer besar cenderung mengandalkan micro bahkan nano influencer. Melalui kreator dengan basis pengikut yang lebih spesifik, produk dapat dipromosikan secara lebih terarah sesuai dengan wilayah atau komunitas pengikut mereka.
"Bagi UMKM untung, bagi sang influencer bisa menjadi 'selebritis daerah' dan ada uang yang masuk. Sangat relevan sekali saya lihat di anak muda di daerah. Meraka akan melihat pekerjaan sebagai influencer atau content creator sebagai pekerjaan yang menjanjikan," imbuhnya.
Menurut laporan Market.us, nilai pasar industri ini juga akan terus naik. Pada 2026 nilainya diperkirakan mencapai US$221,3 miliar dan diproyeksikan meningkat signifikan menjadi sekitar US$486,4 miliar pada 2030.