Bisnis.com, JAKARTA – PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) diproyeksi meraup pertumbuhan laba bersih yang cukup signifikan sejalan dengan langkah perseroan memperkuat seluruh ekosistem bisnis minyak dan gas (migas), mulai dari upstream, midstream hingga downstream.
Perseroan sendiri belum merilis laporan keuangan kuartal III/2025. Dari data terbaru yang sudah dirilis, sepanjang semester I/2025 RAJA membukukan pertumbuhan pendapatan, meski di sisi bottom line laba bersih perseroan masih susut.
Sebagaimana diketahui, Emiten afiliasi Happy Hapsoro ini bersama emiten milik Prajogo Pangestu PT Petrosea Tbk. (PTRO) pada Agustus lalu merampungkan akuisisi 100% saham Grup Hafar. Porsi RAJA dalam akuisisi ini mencapai 49%, dengan nilai akuisisi sebesar Rp384,22 miliar yang terdiri dari Rp230,53 miliar untuk akuisisi PT Hafar Daya Konstruksi (HDK) dan Rp153,69 miliar untuk akuisisi PT Dafar Daya Samudera (HDS).
Sekretaris Perusahaan PT Rukun Raharja Tbk. Yuni Pattinasarani mengatakan akuisisi Hafar Group merupakan bagian dari implementasi rencana jangka panjang RAJA dalam melakukan ekspansi ke sektor infrastruktur migas.
Hafar Group dipilih karena memiliki kompetensi di bidang offshore engineering, procurement, construction & installation (EPCI) serta kepemilikan surat izin usaha pengangkutan laut (SIUPAL) yang dapat dimanfaatkan perseroan untuk memasuki bisnis perkapalan minyak dan gas.
"Dengan demikian, akuisisi ini menjadi langkah strategis awal perseroan dalam memperluas portofolio usaha dan memperkuat posisi di industri energi terintegrasi," ujar Yuni dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (19/11/2025).
Tidak berhenti di sana, bulan ini manajemen RAJA juga mengumumkan pendirian satu anak perusahaan baru bernama PT Banawa Rezeki Optima (BRO) yang bergerak di bidang aktivitas konsultasi manajemen lainnya, aktivitas perusahaan holding, dengan fokus pada kegiatan usaha angkutan laut luar negeri dan dalam negeri.
Yuni mengatakan, pendirian BRO merupakan langkah strategis perseroan dalam rangka ekspansi kegiatan usaha yang selaras dengan rencana pengembangan usaha RAJA. Pembentukan entitas tersebut diharapkan memperkuat posisi RAJA dalam industri serta membuka peluang pertumbuhan usaha di masa mendatang.
Menilik jaringan anak usaha RAJA di tiap sektor, di sisi upstream RAJA memiliki PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) dengan kepemilikan 70%. Berikutnya di sisi midstream, RAJA memiliki sejumlah anak usaha seperti PT Triguna Internusa Pratama dengan kepemilikan 99,9%, PT Petrotech Penta Nusa (99,9%), dan PT Heksa Energi Mitraniaga (85%). Berikutnya di sisi donwstream lini bisnis distribusi dan perdagangan gas, RAJA punya PT Panji Raya Alamindo dengan kepemilikan 67%.
Tidak sampai sana, RAJA juga melebarkan sayap membuat inisiatif baru lini usaha pembangkit tenaga listrik dengan anak usahanya PT Raharja Daya Energi (99%), lini usaha petrokimia ada PT Banggai Amonia Indonesia (40%), dan di lini bisnis fasilitas LNG ada PT Karya Mineral Jaya (55%).
Sementara itu, Direktur Utama PT Rukun Raharja Tbk, Djauhar Maulidi mengatakan pihaknya tak menutup kemungkinan membawa anak usaha di lini bisnis midstream melantai di bursa, menyusul RATU yang resmi tercatat di bursa sejak 8 Januari 2025.
"Tentunya di tahun depan akan dilakukan stabilisasi dulu. Jadi, tentu kalau IPO, kami melihat peluang. Apakah peluang itu ada? Kami akan lihat. Tentunya kalau IPO, kami melihat peluang," ujarnya dalam online paparan publik, Senin (27/10/2025).
Adapun, bisnis utama midstream RAJA meliputi infrastruktur migas berupa pipa, kompresor gas dan fasilitas terminal LPG. Perseroan memiliki jaringan pipa minyak dan gas masing-masing sepanjang 360 kilometer (km) dan 245 km.
Pipa tersebut memiliki kapasitas penyaluran gas sebesar 65 mmscfd dan kapasitas kompresor gas mencapai 60 mmscfd. Sementara itu, fasilitas terminal LPG mempunyai kapasitas sebesar 1.000 mt per hari.
Sepanjang semester I/2025, RAJA meraup pendapatan US$127,6 juta, tumbuh 3% year on year (YoY) dibanding US$123,5 juta. Pendapatan tersebut sebesar US$73,7 juta atau 58% disumbang dari lini bisnis upstream, US$28,8 juta atau 22% dari lini bisnis midstream, dan US$25,2 juta atau 20% disumbang lini downstream.
Sejalan dengan tahap awal ekspansi bisnis yang menyisakan PR efisiensi bisnis, laba bersih RAJA sepanjang semester I/2025 susut 4% YoY menjadi US$15,4 juta, meski pendapatan meningkat. Dari angka laba bersih ini, lini bisnis upstream berkontribusi sebesar 29%, midstream 21%, dan downstream mencapai 50%.
Adapun secara tren tahunan, pendapatan sektor midstream konsisten menunjukkan peningkatan. Berturut-turut dari 2022, 2023 dan 2024 sebesar US$22,5 juta, US$50,9 juta, dan US$53,5 juta.
"Tentunya kalau misalkan sudah bagus, sudah stabil income-nya, dan punya prospek baik itu pertumbuhan dan segala macam, tentu peluang itu akan kami pertimbangkan untuk dilakukan IPO. Tunggu saja," tandasnya.
Dalam rangka peningkatan kinerja lini bisnis midstream, RAJA akan memulai pembangunan pipa bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Timur pada kuartal I 2026. Capital expenditure (capex) yang disiapkan perseroan untuk membangun pipa BBM tersebut mencapai US$50 juta hingga US$60 juta.
Proyek pipa BBM ini menjadi salah satu dari sembilan proyek yang masuk daftar rencana perusahaan untuk dieksekusi. Djauhar merinci, pertama, perseroan melalui anak usahanya telah menandatangani perjanjian peningkatan jual beli saham bersyarat untuk akuisisi perusahaan perdagangan gas yang beroperasi di wilayah Banten.
Kedua, RAJA dalam tahap uji tuntas untuk mengakuisisi dua perusahaan pelayaran yang memiliki aset operasional berupa dua unit kapal Liquified Natural Gas Carrier (LNGC) dan satu unit Very Large Gas Carrier (VLGC).
Ketiga, perseroan bersama dengan mitra tengah melakukan studi kelayakan untuk pembangunan LNG terminal di daerah Banten dan saat ini tengah memfinalisasi lingkup investasi serta skema komersial dan proses perizinan
Keempat, perseroan tengah mempersiapkan proyek LNG plant di Kalimantan, seperti persiapan pengadaan lahan, finalisasi perjanjian jual beli gas, permohonan alokasi gas dan kajian bankable feasibility study.
Kelima, perseroan tengah melakukan persiapan operasional komersial fasilitas compressor di Sengkang, Sulawesi Selatan pada kuartal IV/2025 Keenam, perseroan masih dalam tahap negosiasi komersial terkait rencana investasi infrastruktur hilir migas di Indonesia Timur
Ketujuh, perseroan akan memulai pembangunan pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalimantan Timur pada kuartal I/2026 Kedelapan, perseroan tengah melakukan uji tuntas untuk akuisisi beberapa pembangkit EBT seperti pembangkit listrik tenaga air dan biomassa. Kesembilan, perseroan tengah melakukan uji tuntas untuk akuisisi fasilitas sistem penyediaan air minum di area Jabodetabek.
"Dari sembilan proyek ini, ada beberapa proyek yang sudah kita cadangkan dananya, yaitu dari ekuiti sebagian, dari bank sebagian. Sampai saat ini perusahaan belum ada rencana untuk melalukan penerbitan obligasi. Saat ini, strategi pembiayaan kami sampai dengan hari ini adalah menggunakan ekuiti perusahaan, dari dukungan bank juga," tandasnya.
Ramalan Kinerja Keuangan RAJA
Melansir Bloomberg Terminal, konstituen meramal pendapatan RAJA sepanjang 2025 ini akan mencapai US$266 juta, meningkat dari realisasi US$254 juta sepanjang 2024. Berikutnya pada 2026, pendapatan RAJA ditaksir sebesar US$272,50 juta, meningkat 2,44% dari estimasi 2025.
Dari sisi bottom line, laba bersih RAJA di akhir 2025 diestimasi akan tumbuh positif, sebesar 9,58% dari realisasi 2024 menjadi US$28 juta. Laba bersih 2026 juga ditaksir melonjak menjadi US$31 juta, tumbuh 10,71% dari estimasi 2025.
Adapun, sebanyak tiga analis (100%) merekomendasikan buy RAJA dengan target harga Rp5.610, mencerminkan potensial return sebesar 18,1% dari harga Rp4.750. Pada perdagangan hari ini, Rabu (19/11/2025), RAJA ditutup naik 2,60% ke Rp4.740. Level harga ini mencerminkan penurunan 0,42% dalam sepekan terakhir, tetapi melompat 62,33% dalam tiga bulan terakhir.
Salah satu yang menyematkan buy pada RAJA adalah analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap dan Fadhlan Banny. Dalam riset yang terbit 18 November 2025, Samuel Sekuritas memberi target harga RAJA di Rp7.000.
Dalam riset tersebut juga memberikan forecast keuangan, bahwa RAJA di akhir 2025 diprediksi akan membukukan pendapatan sebesar US$266 juta dan laba bersih sebesar US$28 juta. Sedangkan di 2026, pendapatan dan laba bersih perseroan masing-masing diramal mencapai US$278 juta dan US$31 juta.
"Akuisisi midstream Hafar Group meningkatkan estimasi laba bersih 2025–2026 sebesar 12%–22%," tulis riset tersebut.
Samuel Sekuritas menilai akuisisi Hafar Group tidak hanya memperkuat eksposur RAJA terhadap konstruksi dan logistik migas, tetapi juga semakin memantapkan hubungan sinergis antara Hapsoro Group dan PTRO milik Prajogo Pangestu.
Adapun bila dibedah tiap lini bisnis, Samuel Sekuritas mengestimasi ekspansi di lini midstream akan menghasilkan tambahan pendapatan pada 2026 sekitar US$10 sampai US$11 juta. Sedangkan ekspansi di lini midstream-downstream, diperkirakan akan memberi tambahan laba bersih sekitar US$6 juta pada tahun buku 2026.
Sementara itu, riset yang diterbitkan Henan Putihrai Sekuritas mencatat sederet program prioritas pemerintahan Prabowo yang berpotensi menguntungkan emiten migas seperti RAJA beserta entitas anak usahanya yang lain.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa untuk mencapai target lifting yang ditetapkan Presiden Prabowo untuk periode 2028–2029, pemerintah akan menerapkan tiga langkah strategis.
Langkah strategis itu adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur idle yang masih tersedia, mengoptimalkan produksi dari sumur yang ada melalui penerapan teknologi maju, termasuk metode Enhanced Oil Recovery (EOR), serta mempercepat pengembangan 300 sumur yang telah dieksplorasi tetapi masih tanpa Plan of Development (PoD).
Sedangkan menilik sumber daya yang Indonesia punya, pemerintah menghitung total produksi minyak dan gas Indonesia mencapai 1.829 MBOEPD dari 164 wilayah kerja per Juli 2025. Pemerintah telah menetapkan target produksi minyak 2025 sebesar 605 KBOPD, meskipun realisasi hingga Juli sedikit di bawah, yakni 598 KBOPD.
"Ke depan, target produksi minyak dan gas yang lebih tinggi diperkirakan menjadi katalis positif bagi RATU," tulis riset tersebut.
Sedangkan di segmen midstream, pemerintah memperluas jaringan gas rumah tangga (jargas) melalui program City Gas Tour 2025 di berbagai kota. Untuk merealisasikan proyek Prabowo ini, Kementerian ESDM menetapkan anggaran 2026 sebesar Rp21,67 triliun, naik dari Rp8,12 triliun.
"Hal ini dapat mendukung kemandirian energi yang berpotensi menguntungkan RAJA," jelas riset itu.