Bisnis, JAKARTA — Asia Tenggara kian menjadi medan perebutan pasar industri aplikasi global seiring melonjaknya konsumsi konten digital, pertumbuhan industri gim, serta ledakan popularitas drama pendek berbasis mobile.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, TikTok mengandalkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan pengalaman native di dalam platform untuk menarik pengembang aplikasi memperluas bisnisnya di kawasan.
Potensi pasar Asia Tenggara menjadi semakin menarik di tengah pertumbuhan ekonomi aplikasi global yang masih kuat. Berdasarkan data Sensor Tower, konsumen dunia mengunduh 149 miliar aplikasi sepanjang 2025 dengan nilai transaksi dalam aplikasi mencapai US$167 miliar.
Salah satu pertumbuhan tercepat terjadi pada kategori short drama atau drama pendek. Pada kuartal I/2026, unduhan global kategori tersebut melonjak 140% secara tahunan.
Asia Tenggara menjadi kontributor terbesar dengan porsi 32% terhadap total unduhan global dan mencatat pertumbuhan mencapai 220% secara tahunan.
Pengguna di kawasan ini bahkan menghabiskan hampir 40 menit per hari untuk menikmati konten drama pendek yang dirancang khusus untuk perangkat mobile.
Selain drama pendek, industri gim juga terus menjadi magnet pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group (BCG), nilai industri gim global diproyeksikan mencapai sekitar US$350 miliar pada 2030.
Melihat peluang tersebut, TikTok mulai memperluas perannya dari sekadar platform distribusi konten menjadi ekosistem yang menghubungkan proses penemuan pengguna, keterlibatan, hingga monetisasi dalam satu platform.
General Manager Global Business Solutions Southeast Asia and Japan TikTok Yuke (Ray) Hu mengatakan industri aplikasi saat ini memasuki fase baru setelah teknologi AI membuat proses pengembangan aplikasi menjadi semakin mudah dan cepat.
"Industri aplikasi kini memasuki fase pertumbuhan baru seiring dengan kehadiran solusi AI yang semakin memudahkan pembuatan aplikasi dan menurunkan hambatan dalam proses pengembangannya," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat persaingan bergeser. Tantangan terbesar bukan lagi membangun aplikasi, melainkan mendapatkan perhatian pengguna dan mempertahankan keterlibatan mereka.
Oleh karena itu, TikTok memperkenalkan sejumlah solusi baru yang memungkinkan pengembang menghadirkan pengalaman langsung di dalam platform.
Dalam TikTok Apps Summit 2026 yang mempertemukan lebih dari 150 pengambil keputusan perusahaan aplikasi dan gim dari enam negara Asia Tenggara di Singapura, TikTok memperlihatkan fitur Mini Dramas dan Mini Games, menjadi salah satu andalannya dalam mempertahankan retensi penonton.
Oengguna dapat menemukan, menonton, memainkan, hingga melakukan transaksi tanpa harus meninggalkan aplikasi TikTok.
Perusahaan juga meluncurkan TikTok Growth Max, solusi iklan otomatis berbasis AI yang dirancang untuk membantu pengembang meningkatkan akuisisi pengguna, memperkuat keterlibatan, hingga mendorong konversi.
TikTok turut mengintegrasikan model video AI Dreamina Seedance 2.0 ke dalam platform Symphony untuk mempercepat proses pembuatan materi promosi berbasis AI.
Di sisi lain, perusahaan melihat peluang ekspansi global semakin terbuka bagi pengembang aplikasi Asia Tenggara.
Berdasarkan data internal TikTok, penerbit aplikasi yang melakukan ekspansi ke luar Asia Tenggara mencatat pertumbuhan pendapatan dua kali lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya beroperasi di pasar regional.
Kondisi tersebut mendorong persaingan antarplatform untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi pengembang aplikasi yang ingin memperluas pasar.
TikTok menilai kemampuan mengubah perhatian pengguna menjadi aktivitas ekonomi akan menjadi faktor pembeda utama dalam persaingan industri aplikasi ke depan.
"Kesuksesan saat ini datang dari kemampuan untuk mengubah relevansi budaya yang muncul secara instan menjadi nilai jangka panjang," kata Yuke.