Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia diramal akan menembus US$100 per barel seiring kekacauan pengiriman dari negara teluk yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perang Iran Vs Amerika-Israel. Produsen utama minyak dunia di kawasan akan mengurangi produksi seiring penuhnya tangki penyimpanan darat namun jalur distribusi lewat Teluk Persia tidak dapat dilintasi akibat ancaman Iran.
Bloomberg pada Senin (9/3/2026) melaporkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi minyak karena kapasitas penyimpanan menipis, mengikuti jejak Irak yang produksinya kini turun sekitar 60%. Negara-negara sekitar diramal juga segera mengikuti langkah pemangkasan karena kapal tanker minyak menghindari Selat Hormuz yang dikuasai Iran seiring memasuki hari kesembilan perang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan untuk memperluas target area penyerangan dan warga Iran yang sebelumnya tidak menjadi sasaran. "[Serangan berlanjut] sampai mereka menyerah atau, kemungkinan besar, benar-benar runtuh!" katanya dalam sebuah unggahan di media sosial.
Kalangan analis dan pedagang minyak menterjemahkan peringatan itu bahwa perang akan membawa harga minyak semakin dekat dengan ambang batas psikologis $100 per barel. Brent sudah naik 30% minggu lalu menjadi US$92,69 per barel. Harga minyak mentah itu melompat 8,52% dalam sehari. Minyak yang sebagian besar ditambang di Amerika atau West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak tajam menjadi US$90,90 per barel alias naik 12,21% dalam sehari.
Kenaikan harga juga diramal semakin dekat seiring sejumlah kontrak berjangka telah melewati level psikologis. Kontrak berjangka minyak mentah Murban dari Abu Dhabi ditutup pada level US$103 per barel pada akhir pekan lalu. Sementara kontrak berjangka minyak mentah Oman berada di US$107. Kontrak berjangka minyak mentah China di Bursa Energi Internasional Shanghai juga melonjak ke US$109.
“Setiap hari tambahan gangguan akan menambah tekanan, dan dalam skenario itu, pada dasarnya tidak ada batasan harga dalam jangka pendek,” kata Stefano Grasso, manajer senior di 8VantEdge Pte yang berbasis di Singapura.
Sejumlah produsen telah menyesuaikan kondisi ini. Irak memangkas produksi menjadi 1,7 juta-1,8 juta barel per hari dari sekitar 4,3 juta barel per hari sebelum konflik. Sementara itu, Arab Saudi memilih jalur berputar dengan mengalirkan minyak lewat Laut Merah. Data Bloomberg mencatat pengiriman dari terminal di kawasan Laut Merah telah melonjak hingga sekitar 2,3 juta barel per hari sepanjang bulan ini. Meski demikian, angka tersebut jauh di bawah 6 juta barel per hari yang diekspor negara itu dari Teluk Persia dalam beberapa bulan terakhir.

Langkah AS
Ketakutan kapal tanker melewati Teluk Persia dijawab AS dengan menyediakan pengawalan militer dan mengumumkan akan meluncurkan reasuransi maritim. Fasilitas tersebut akan menanggung kerugian hingga sekitar $20 miliar. Menteri Energi AS Chris Wright kemarin mengatakan kenaikan harga memperhitungkan premi ketakutan yang diyakni tidak akan bertahan lama. Dia mengklaim kondisi perang hanya akan bertahan beberapa minggu.
Bagi pemilik kapal dan penyewa kapal yang beroperasi di wilayah tersebut, asuransi bukanlah kondisi yang menghambat lalu lintas. Para pengusaha mengkhawatirkan keselamatan kapal dan awaknya serta membutuhkan pengawalan angkatan laut penuh seperti Operasi Prosperity Guardian di Laut Merah atau kondisi lebih baik lagi yakni penghentian perang
Bloomberg menyebut kenaikan harga paling berdampak di Asia. Jepang yang mengambil lebih dari 90% minyak mentahnya dari kawasan Teluk Persia membuka peluang menggunakan cadangan minyak nasional. Sedangkan China telah membatasi ekspor minyak untuk menjaga pasokan dan mengendalikan harga domestik. Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali pembatasan harga minyak untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Sementara itu di Eropa, harga minyak untuk kapa jet melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $1.528 per ton atau setara $190 per barel.
Analis di ING Groep NV menyebut skenario empat minggu terutama disebabkan Amerika melumpuhkan persenjataan Iran sehingga meningkatkan keamanan perlintasan di Teluk Persia.Skenario paling dramatis dari bank tersebut adalah gangguan total selama tiga bulan terhadap aliran minyak dan gas alam cair. Hal ini kemungkinan akan menyebabkan harga minyak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang kuartal kedua 2026.