Bisnis.com, SOLO - Ada pesan menarik antara Ratu Belanda, Máxima Zorreguieta, dengan salah satu pelaku UMKM Batik di Laweyan Solo beberapa waktu lalu.
Salah satunya yakni mendorong UMKM akar rumput, terlebih di Kota Bengawan tersebut, untuk memanfaatkan fasilitas keuangan yang relevan dengan usaha mereka.
Sebagaimana diketahui, Ratu Belanda Máxima Zorreguieta, dalam kapasitasnya sebagai Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA), mengunjungi UMKM perempuan di Kampung Batik Laweyan, Solo.
Dalam kunjungannya tersebut, Ratu Maxima melakukan berbagai aktivitas, termasuk mempelajari proses membatik menggunakan canting.
Diketahui, Ratu Máxima membuat motif ‘Wahyu Tumurun’ yang sarat makna, melambangkan permohonan kepada Sang Pencipta demi kehidupan yang penuh berkah, rahmat dan anugerah.
Saat proses membatik, Ratu Máxima berbincang dengan Ibu Eny mengenai akses permodalan dari Amartha dan dampaknya terhadap usaha yang dirintis sejak 2017.
Eny mengaku bahwa sejak bergabung dengan Amartha, ia memanfaatkan modal awal sebesar Rp5 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kini rutin mengikuti pameran di berbagai kota.
Di sisi lain, kehadiran Ratu Máxima menjadi pengalaman berkesan baginya.
“Saya merasa sangat senang dan bangga dikunjungi Ratu Máxima. Beliau sangat mengapresiasi budaya lokal, terutama batik yang merupakan warisan budaya Indonesia. Ia juga berpesan agar terus memajukan usaha dengan memanfaatkan fasilitas keuangan yang ada,” ungkap Ibu Eny.
Dalam kunjungan tersebut, Ratu Máxima sekaligus melihat bagaimana pembiayaan dan pendampingan Amartha membantu pelaku usaha perempuan akar rumput memperluas usaha serta menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga.
Penasihat Khusus Sekjen PBB itu juga menyampaikan betapa pentingnya pendampingan untuk UMKM Perempuan akar rumput di Indonesia.
"Indonesia telah mencatat capaian luar biasa dalam kepemilikan rekening bank. Namun, inklusi keuangan tidak berhenti di sana. Masyarakat membutuhkan pendampingan agar layanan keuangan dapat membantu mereka mewujudkan impian dan meningkatkan perlindungan finansial. Temuan dari kunjungan ini akan kami diskusikan bersama otoritas terkait dan perusahaan fintech seperti Amartha untuk merancang solusi keuangan yang lebih relevan bagi masyarakat Indonesia," lanjut dia.
Ratu Máxima juga bertemu dengan mitra Amartha lainnya, Ibu Yuanita Komalasari (Puci), pemilik usaha minuman herbal jamu yang memanfaatkan pembiayaan Amartha untuk menambah peralatan dan memperluas kapasitas produksi.
Selama berdialog dengan para pengusaha batik dan produsen minuman jamu, Ratu Máxima menilai model pembiayaan produktif Amartha memberikan dampak nyata bagi inklusi keuangan.
Sebagai informasi, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp35 triliun modal usaha kepada 3,3 juta UMKM perempuan di berbagai desa di Indonesia.