Bisnis.com, JAKARTA — Penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan melakukan kocok ulang indeks, dengan pengumuman hasil peninjauan pada 10 Februari ini. Lalu, bagaimana dampaknya?
Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi menjelaskan sejumlah emiten mulai masuk radar investor sebagai kandidat kuat untuk masuk ke dalam indeks global ini.
“Dari hasil riset kami, Bumi Resources (BUMI) muncul sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard,” tulis Prasetya dalam risetnya.
Selain BUMI, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) juga memiliki peluang signifikan untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard. Selain itu, sejumlah emiten lain seperti DEWA, ISAT, ADMR, COIN, BIPI, BUVA, TINS, BULL, dan SSIA juga masuk dalam radar karena telah memenuhi kriteria MSCI dari sisi kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas perdagangan.
“Masuknya emiten-emiten ini ke dalam indeks MSCI Small Cap berpotensi mendorong peningkatan visibilitas di mata investor global, meskipun estimasi aliran dana asingnya relatif lebih terbatas dibandingkan kategori Global Standard,” ujarnya.
Sebaliknya, kata dia, proses rebalancing MSCI juga membawa potensi tekanan bagi saham-saham yang berisiko keluar dari indeks.
Menurutnya, INDF menjadi salah satu emiten yang kami nilai berpotensi terdampak di kategori MSCI Indonesia Global Standard, sementara beberapa saham lain seperti AALI, MIDI, ACES, dan CLEO juga berpeluang keluar dari MSCI Indonesia Small Cap.
“Potensi arus keluar dana asing dari saham-saham tersebut perlu dicermati investor, terutama menjelang periode pengumuman dan implementasi indeks,” ujar Prasetya.
Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan MSCI menargetkan perubahan metodologi free float khusus Indonesia mulai berlaku pada Index Review Mei 2026, dengan pendekatan yang lebih konservatif melalui pembandingan data emiten dan data KSEI untuk mencerminkan saham yang benar-benar tradable.
“Karena bobot MSCI berbasis free-float adjusted market cap, saham dengan kepemilikan terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan bobot. Sementara itu, emiten dengan struktur kepemilikan lebih bersih dan likuid berpeluang relatif diuntungkan,” kata Liza, Senin (26/1/2025).
Liza menjelaskan perubahan ini berpotensi memicu rotasi foreign flow dari dana pasif dan ETF MSCI, dengan tekanan jual pada saham yang bobotnya turun dan minat beli pada saham yang bobotnya lebih stabil atau naik.
Di pasar domestik, lanjut Liza, investor dan trader biasanya merespons dengan front-running, lonjakan volatilitas menjelang pengumuman dan tanggal efektif, serta perhatian lebih besar pada isu free float dan tata kelola.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.