Bisnis.com, JAKARTA - Tidak semua anak yang menangis atau berteriak saat tidur mengalami mimpi buruk. Pada kondisi tertentu, gejala tersebut dapat mengindikasikan adanya gangguan psikologis.
Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, mengatakan anak yang sering terbangun sambil menangis pada tengah malam bisa dipicu oleh beragam hal. Mulai dari mimpi buruk biasa, kondisi fisik maupun psikologis tertentu, hingga faktor lain yang sifatnya bervariasi.
Namun, jika kejadian tersebut muncul pada awal waktu tidur atau berlangsung berulang, disertai kondisi anak tampak tidak sepenuhnya sadar, sulit dibangunkan, serta tidak mengingat apa pun keesokan harinya, besar kemungkinan itu merupakan night terror.
Night terror atau teror malam adalah gangguan tidur yang termasuk dalam kelompok parasomnia, yaitu gangguan yang muncul saat transisi antar fase tidur. Berdasarkan klasifikasi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima oleh American Psychiatric Association (2013), kondisi ini termasuk dalam Non-REM Sleep Arousal Disorders.
"Night terror berbeda secara klinis dari mimpi buruk karena terjadi pada fase tidur non-REM dan anak berada dalam kondisi setengah terbangun (partial arousal), bukan benar-benar sadar," katanya.
Kasandra mengatakan ada beberapa ciri yang bisa dikenali seorang anak mengalami night terror. Night terror umumnya muncul pada satu hingga tiga jam pertama setelah anak tertidur.
Saat terjadi, anak terlihat tidak sepenuhnya sadar, sulit dibangunkan, dan biasanya tidak mengingat peristiwa tersebut keesokan harinya.
Salah satu perbedaan mendasar dari mimpi buruk biasa ialah anak mampu menceritakan isi mimpinya, dan masih mengingat kejadian yang dialaminya. Sementara itu, pada kasus night terror, anak-anak cenderung kesulitan menceritakan apa yang membuatnya terbangun dan menangis, serta cenderung melupakannya keesokan harinya.
Menurut Kasandra, night terror paling sering terjadi pada anak usia 3 tahun–7 tahun dan termasuk kondisi yang cukup umum. Prevalensinya diperkirakan sekitar 3–6 persen pada anak usia prasekolah. Sebagian besar kasus akan berkurang seiring maturasi sistem saraf pusat.
Terkait penyebabnya, Kasandra menjelaskan bahwa studi longitudinal yang dilakukan oleh Jacques Montplaisir mengungkap adanya peran faktor genetik dalam gangguan parasomnia non-REM, termasuk night terror. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kondisi ini dapat memiliki kecenderungan yang diturunkan dalam keluarga.
Di luar faktor keturunan, sejumlah pemicu lain yang kerap ditemukan antara lain kelelahan atau kurang tidur, tekanan emosional dan kecemasan, demam maupun gangguan fisik, perubahan rutinitas harian, hingga pengalaman traumatis.
"Stres dan ketidakstabilan pola tidur dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya episode pada anak yang secara biologis rentan," imbuhnya.