JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah Rachel Stefanie Halim (44) sempat tersandung ketika dituntun maju ke atas panggung di Plataran Tiga Dari, Gelora, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Saat itu, Jakarta di pengujung hari dan hanya terasa hangat.
Di Hutan Taman Kota, kompleks Gelora Bung Karno (GBK), orang-orang duduk santai menunggu surya tenggelam.
Namun, di sebuah ruangan orang-orang khidmat menyimak Rachel.
Perempuan itu menceritakan bagaimana ia memulai bisnisnugget dari dapur kecil di rumahnya hingga akhirnya memiliki merek Nugget Keraton.
“Awalnya saya sendiri yang mencoba, lalu cari tahu caranya bagaimana supaya seorang disabilitas netra seperti saya ini bisa melakukannya semua sendiri,” kata Rachel dalam konferensi pers yang digelar DANA.
Adapun Rachel merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memenangkan program DisBerdaya 2026.
Program itu merupakan bagian dari SisBerdaya yang juga diprakarsai DANA.
Program itu mendampingi 6.000 perempuan pelaku UMKM, termasuk penyandang difabel seperti Rachel dan mendorong mereka melakukan presentasi hingga memasarkan produknya.
Rachel mengikuti program itu karena tidak merasa tidak bisa memasarkan produknya sendiri.
“Saya ingin terus belajar bagaimana cara mengembangkan usaha saya, Nugget Keraton ini. Karena jujur saya bisa buatnya, tapi kadang-kadang marketing-nya itu agak sulit gitu,” kata Rachel.
Usaha nugget Rachel dimulai pada masa pandemi Covid-19.
Saat itu, ia mengolah daging ayam menjadi nugget untuk konsumsi sendiri.
Tanpa ia duga, nugget olahannya mendapatkan respons baik dari orang lain.
Sebagai penyandang tunanetra, Rachel membutuhkan peralatan tertentu dalam memproduksi nugget.
“Kebetulan saya dibantu oleh sebuah timbangan bicara khusus disabilitas netra. Dari situ saya semakin mandiri,” ujar Rachel.
Cerita Rachel memproduksi nugget menginspirasi rekan-rekannya sesama penyandang tunanetra.
Mereka penasaran bagaimana Rachel bisa mengolah daging ayam menjadi makanan setengah jadi.
Rachel lalu menjelaskan proses membuat nugget di tangan penyandang tunanetra.
Rekan-rekan Rachel akhirnya belajar wirausaha.
“Saya mulai merekrut reseller dari teman-teman disabilitas juga. Jadi saya yang buat, mereka yang bantu pasarkan,” tutur Rachel.
Freepik IlustrasiMimpi Punya Gerai Nugget dan Keterbatasan Alat
Memulai usahanya dari bawah, Rachel memimpikan kelak bisa memiliki gerai nugget-nya sendiri.
Ia memiliki harapan besar bisa mempekerjakan rekan-rekannya yang menyandang tunanetra.
“Mimpi ke depan saya ingin punya gerai nugget sendiri yang bisa menyerap tenaga kerja khususnya teman-teman netra,” ujar Rachel.
Meski demikian, Rachel mengaku bisnis yang dilakoninya bukan tidak menghadapi tantangan.
Karena membuat produk makanan, ia harus mengurus legalitas perizinan, termasuk sertifikat halal.
Ia pernah mengikuti program pemerintah namun ternyata pengurusan sertifikat halal harus membayar cukup mahal lantaran menggunakan bahan dasar unggas.
Oleh karena itu, ia akan menggunakan hadiah dari kompetisi DisBerdaya 2026 dari DANA untuk mengurus sertifikasi halal.
Selain itu, ia juga akan menggunakan uang hadiah tersebut untuk membeli alat produksi nugget.
Menurutnya, peralatan memasak yang ramah untuk difabel langka di pasaran.
Timbangan bicara misalnya, didapatkan dari Kanada.
“Alat-alat yang akses buat kami disabilitas netra itu masih langka dan harus impor, harganya lumayan,” ucap Rachel.
DANA Harap Perempuan Bisa Berdampak
Director of Communication DANA Indonesia Olavina Harahap, mengatakan program SisBerdaya sudah dimulai sejak 2023 lalu.
Melalui program itu, pihaknya berupaya merangkul dan menjangkau perempuan pelaku UMKM.
Program itu di antaranya meliputi pelatihan wirausaha hingga bantuan modal yang diharapkan bisa membantu perempuan mengembangkan bisnis UMKM miliknya.
“Kami harap para sister ini bisa kembali ke daerah masing-masing, ke rumah masing-masing, dan menginspirasi lagi perempuan-perempuan lain di sekitarnya supaya bisa turut berdaya juga,” ujar Ola.
DANA percaya, ketika perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengakses pengetahuan hingga teknologi mereka bisa membangun usaha, keluarga hingga komunitas.
“Dampaknya bukan hanya ke usaha yang dibangun tapi juga ke keluarga, komunitas, dan ke ekonomi di sekitar perempuan-perempuan Indonesia,” tutur Ola.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang