Bisnis.com, CIREBON —Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Cirebon, Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha kecil.
Salah satunya usaha pangkas rambut yang mengaku mengalami penurunan omzet hingga 50% akibat terganggunya operasional dan berkurangnya jumlah pelanggan selama listrik padam.
Pemilik The Djawara Barbershop, Kholid Mawardi, mengatakan pemadaman listrik yang terjadi berulang kali membuat aktivitas usaha di tiga cabangnya tidak berjalan normal. Gangguan paling terasa terjadi saat pemadaman berlangsung pada jam-jam produktif ketika jumlah pelanggan biasanya meningkat.
“Pemadaman listrik berulang kali berdampak pada penurunan omzet kami. Penurunannya bahkan mencapai 50 persen,” kata Kholid kepada Bisnis, Selasa (22/6/2026).
Menurut dia, durasi pemadaman berbeda di setiap lokasi. Namun, salah satu cabangnya mengalami pemadaman cukup lama, yakni sekitar 5,5 jam, mulai pukul 13.00 hingga 18.30 WIB. Kondisi tersebut terjadi pada waktu yang biasanya menjadi salah satu periode tersibuk bagi usaha jasa pangkas rambut.
Kholid mengelola tiga cabang barbershop yang tersebar di Kota dan Kabupaten Cirebon. Dua cabang berada di wilayah Kota Cirebon, sedangkan satu cabang lainnya berada di Kabupaten Cirebon.
Ia menjelaskan, pemadaman listrik tidak hanya menghambat aspek teknis pelayanan, tetapi juga memengaruhi kenyamanan pelanggan. Mesin cukur yang digunakan sebagian besar mengandalkan baterai isi ulang sehingga memerlukan pasokan listrik untuk pengisian daya secara berkala.
“Mesin cukur harus dicharge baterainya. Saat listrik mati dalam waktu lama, operasional menjadi terganggu,” ujarnya.
Selain itu, padamnya listrik membuat pendingin ruangan dan penerangan tidak dapat berfungsi. Akibatnya, suasana di dalam barbershop menjadi panas dan kurang nyaman bagi pelanggan yang sedang menunggu giliran maupun yang sedang mendapatkan layanan.
Menurut Kholid, kondisi tersebut membuat sebagian pelanggan memilih membatalkan niat untuk potong rambut. Mereka enggan menunggu karena tidak mengetahui kapan listrik akan kembali menyala.“Ruangan menjadi panas dan gelap. Banyak pelanggan yang akhirnya memilih pulang dan membatalkan potong rambut,” katanya.
Meski demikian, beberapa pelanggan tetap bersedia dilayani ketika baterai mesin cukur masih mencukupi. Namun, selama proses berlangsung, keluhan terkait suhu ruangan yang panas tetap muncul.“Mereka tetap potong rambut, tetapi mengeluh karena gerah, berkeringat, dan tidak nyaman,” ujar Kholid.
Pelaku usaha berharap gangguan pasokan listrik dapat segera diatasi agar aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan normal. Kholid menilai keberlanjutan layanan kelistrikan sangat penting untuk menjaga produktivitas usaha dan kepercayaan pelanggan.
“Kami berharap permasalahan pemadaman listrik ini segera diselesaikan. Kami ingin usaha bisa berjalan normal tanpa terganggu pemadaman yang berulang,” katanya.