Bisnis.com, JAKARTA — Tepat pada tanggal hari ini, empat tahun yang lalu, Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina. Selama itu, penderitaan kemanusiaan dan kerugian material terus membengkak.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) mengonfirmasi terdapat 55.550 korban sipil, yang mana 15.378 di antaranya berujung pada kematian per bulan ini. Bahkan, angka riil diyakini jauh lebih tinggi lantaran akses ke banyak area garis depan dan wilayah pendudukan berulang kali ditolak.
Eskalasi korban jiwa justru menunjukkan tren peningkatan belakangan ini. Tahun lalu, tercatat 2.514 orang tewas, menjadikannya angka kematian tahunan terbesar sejauh ini.
Anak-anak turut menjadi kelompok paling terdampak; lebih dari 3.200 anak telah tewas atau terluka sejak Februari 2022. Tragisnya, jumlah korban anak pada tahun 2025 mengalami lonjakan sebesar 10% dibandingkan tahun sebelumnya, menandai tahun ketiga berturut-turut di mana PBB mencatat peningkatan jumlah korban anak.
Konflik ini juga memicu krisis demografi yang signifikan. Sekitar 3,7 juta warga Ukraina saat ini masih berstatus sebagai pengungsi internal. Meskipun lebih dari 4,4 juta orang telah kembali ke rumah mereka—termasuk lebih dari satu juta orang dari luar negeri—masih ada ratusan ribu pengungsi yang tidak dapat kembali ke daerah asalnya akibat operasi militer yang sedang berlangsung.
"Perang yang menghancurkan ini adalah noda pada kesadaran kolektif kita, dan tetap menjadi ancaman bagi perdamaian serta keamanan regional maupun internasional," ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterre memperingati empat tahun konflik tersebut, dikutip dari situs resmi PBB, Selasa (24/2/2026).
Kerusakan Infrastruktur
Dilansir dari situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), total kerusakan infrastruktur sejauh ini telah melampaui angka US$195 miliar atau setara sekitar Rp3.279,51 triliun (kurs JISDOR 23 Februari 2026 sebesar Rp16.818 per dolar AS). Dampak terhadap stabilitas ekonomi makro Ukraina sangat masif dan membutuhkan intervensi jangka panjang.
PBB mengestimasi bahwa biaya rekonstruksi dan pemulihan Ukraina diproyeksikan akan mencapai hampir US$588 miliar atau sekitar Rp9.888,98 triliun) untuk periode 10 tahun ke depan. Angka fantastis ini setara dengan hampir tiga kali lipat dari estimasi Produk Domestik Bruto (PDB) Ukraina pada 2025.
Pembengkakan biaya pemulihan ini terjadi akibat kerusakan berkelanjutan pada sektor perumahan, energi, dan infrastruktur kritis lainnya yang terus menjadi sasaran tembak pasukan Rusia.
Krisis Energi & Ancaman Musim Dingin
PBB melaporkan bahwa kondisi ekonomi di lapangan semakin diperparah oleh cuaca musim dingin yang sangat keras, yang mana suhu udara anjlok hingga di bawah minus 20 derajat Celcius. Serangan beruntun Rusia terhadap infrastruktur energi telah menyebabkan ratusan ribu warga Ukraina harus bertahan hidup tanpa akses pemanas ruangan dan pasokan listrik.
Di area garis depan, masyarakat melaporkan kekurangan pasokan generator dan material perbaikan yang kronis. Kepala Operasi Lapangan UNICEF di Ukraina Kenan Madi mengungkapkan bahwa suhu di dalam apartemen warga bahkan bisa turun drastis hingga menyentuh dua atau tiga derajat Celcius tanpa adanya pemanas.
"Ini menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka," ujarnya.
Pemadaman listrik berkepanjangan ini bertransformasi menjadi ancaman bagi kelompok paling rentan, termasuk kelompok lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, dan penderita penyakit kronis.
Di luar krisis fisik, konsekuensi psikososial dari krisis energi ini tidak kalah parah; kegelapan, isolasi, dan ketidakpastian yang konstan menguras tenaga bahkan bagi mereka yang paling tangguh.