Bisnis.com, SEMARANG - Jawa Tengah membuka kuartal pertama tahun 2026 dengan catatan positif. Di tengah dinamika ketidakpastian global, Jawa Tengah berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,89% (year-on-year/yoy) pada Kuartal I/2026.
Capaian ini menunjukkan tren peningkatan yang konsisten jika dibandingkan dengan realisasi pada Kuartal IV/2025 yang tercatat sebesar 5,84% (yoy).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebesar 5,79% (yoy).
Selain itu, performa ini juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,61% (yoy). Kinerja ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan ekonomi daerah di awal tahun anggaran.
Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga tetap menjadi motor penggerak utama dengan pangsa mencapai 60,01% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Sektor ini tumbuh 5,08% (yoy), meningkat secara signifikan dari kuartal sebelumnya yang sebesar 4,44% (yoy). Peningkatan ini terutama dipicu oleh tingginya aktivitas ekonomi selama periode perayaan hari besar.
M. Noor Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa kuatnya konsumsi ini didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat, terutama selama momentum mudik Idulfitri 2026.
"Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat Jawa Tengah terutama saat momentum mudik lebaran Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026," jelasnya, dikutip Jumat (8/5/2026).
Selain konsumsi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi mencatatkan akselerasi hingga di angka 9,61% (yoy). Capaian ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 6,24% (yoy).
Keberlanjutan pembangunan pabrik di kawasan industri serta pengerjaan proyek strategis nasional menjadi penopang utama kenaikan aliran modal di wilayah Jawa Tengah. Sektor investasi terus menunjukkan tren positif sebagai basis pertumbuhan jangka panjang.
Konsumsi pemerintah juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 19,36% (yoy) pada periode laporan ini. Lonjakan didorong oleh akselerasi perbaikan infrastruktur jalan raya di berbagai kabupaten dan kota guna menyambut arus mudik Lebaran 2026.
Dari sisi Lapangan Usaha (LU), sektor Industri Pengolahan masih memegang kontribusi terbesar, yakni 32,69% dari total PDRB Jawa Tengah.
Sektor ini tumbuh positif sebesar 4,04% (yoy) seiring dengan masih kuatnya kinerja manufaktur. Namun, pertumbuhan di sektor ini mengalami perlambatan jika dibandingkan periode sebelumnya.
Nugroho menyebut bahwa perlambatan pada Industri Pengolahan dipicu oleh gangguan pada jalur logistik utara Jawa akibat bencana banjir yang menghambat moda transportasi kereta api.
Hal ini tercermin dalam penurunan indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Industri berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia pada Kuartal I/2026. Kendati demikian, sektor konstruksi justru menunjukkan arah sebaliknya dengan pertumbuhan pesat.
Sektor Konstruksi tumbuh sebesar 11,91% (yoy) pada Kuartal I/2026, naik tajam dari 6,85% (yoy) pada Kuartal IV/2025. Percepatan ini tidak lepas dari pembangunan berbagai fasilitas publik dan infrastruktur strategis yang dilakukan secara masif oleh pemerintah daerah.
"Akselerasi pembangunan gedung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dan Sekolah Rakyat juga menjadi pendorong peningkatan kinerja konstruksi pada triwulan I 2026," jelas Nugroho.
Program pemerintah pusat itu juga ikut berdampak ke sektor usaha lain. Penyediaan akomodasi dan makan minum dilaporkan tumbuh di angka 14,14% (yoy).
Angka tersebut jadi yang tertinggi dibanding sektor usaha lain. Selain faktor Makan Bergizi Gratis, peningkatan okupansi hotel selama momentum Ramadan dan HBKN ikut menjadi pendongkrak kinerja pertumbuhan pada sektor usaha ini.
Nugroho melanjutkan bahwa secara umum perekonomian Jawa Tengah berada dalam tren yang cenderung optimis. Keyakinan itu tercermin dari data perilaku konsumen yang telah dihimpun BI sebelumnya.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jawa Tengah tercatat meningkat dari 117,56 pada Kuartal IV/2025 menjadi 123,82 pada Kuartal I/2026.
"Hal ini mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan tetap berada di zona optimistis," pungkasnya.