Bisnis.com, JAKARTA — Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, meneken kerja sama dengan Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), terkait pengembangan pusat perawatan (maintenance, repair, and overhaul/MRO) dan komponen pesawat di Kertajati, Jawa Barat.
Presiden Airbus Asia-Pacific Anand Stanley menyampaikan, pihaknya mendukung pengembangan industri kedirgantaraan di Indonesia, sejalan dengan Indonesian Aerospace Industry Ecosystem Development Masterplan 2024-2045.
“Kami melihat sebagai Airbus untuk berinvestasi selama 20 tahun, untuk meningkatkan kemampuan industri Indonesia di bidang teknologi, manufaktur, produksi pesawat, MRO, transfer pengetahuan, capacity building, dan pengembangan SDM,” ujarnya dalam Joint Declaration of Intent di Kantor Bappenas, Rabu (6/5/2026).
Saat ini pun, Indonesia telah menjadi pemasok untuk komponen pesawat Airbus A320, A330, A350, dan H225.
Melalui kerja sama ini, bersama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Garuda Maintanance Facility (GMF), Airbus berharap Indonesia dapat turut memproduksi komponen A220 dan produk lainnya untuk mencapai standar global.
Terlebih, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4% per tahun dan akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6%.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua pihak akan menjajaki berbagai peluang kemitraan strategis yang sejalan dengan Peta Jalan Pengembangan Ekosistem Industri Kedirgantaraan Indonesia 2022–2045. Fokus peluang kerja sama mencakup penguatan kapabilitas industri di dalam negeri, serta pengembangan sektor perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, and overhaul/MRO) untuk berbagai lini produk Airbus.
Kemitraan ini juga bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antarpulau melalui pengembangan infrastruktur bandara dan layanan penerbangan guna mendukung pertumbuhan lalu lintas udara yang efisien dan berkelanjutan, yang diproyeksikan meningkat hingga empat kali lipat pada tahun 2045.
Melalui proyeksi peningkatan tersebut, kebutuhan pesawat Indonesia juga diperkirakan naik tiga kali lipat, dari sekitar 550 unit armada aktif saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikan, Indonesia juga merupakan mitra strategis Airbus di kawasan Asia Pasifik. Tercermin dari komposisi pesawat Airbus yang beroperasi di Indonesia mencapai 80% untuk penerbangan domestik, khususnya A320.
Dirinya menekankan pembangunan industri kedirgantaraan Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas transaksi dan pemakaian pesawat, juga mencakup rantai pasok industri pesawat terbang.
“Karena dalam catatan saya ini, satu unit pesawat A320 saja misalnya membutuhkan 4 juta komponen dari 30 negara termasuk Indonesia,” tuturnya.
Rachmat berharap dengan penguatan kapasitas industri kedirgantaraan Indonesia, tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai pasok dan nilai global.
Dengan demikian, supply chain atau rantai pasok lebih mudah karena komponen tersedia di dalam negeri dan lebih murah karena tidak bergantung pada impor.
“Harapannya PTDI bisa menjadi tier 1 supplier bagi Airbus, yang artinya PTDI bisa mulai membuat sayap utuh A220 atau bahkan pesawat, yang nanti akan membangun pabrik di Kertajati,” lanjutnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui, bahwa industri MRO di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Terlebih terhadap tren turunnya jumlah pesawat yang beroperasi di Indonesia, dan juga tekanan biaya tinggi.
“Namun demikian, seharusnya kita harus bisa lebih optimis, bahkan kita harus mempersiapkan diri agar bisa menyambut dan memanfaatkan sepenuhnya prospek cerah dari industri kedirgantaraan, termasuk MRO, untuk kepentingan merah putih,” tuturnya.