Bisnis.com, JAKARTA — Perayaan Idulfitri pada sejumlah negara di Timur Tengah berlangsung dalam bayang-bayang konflik yang belum mereda.
Kebahagiaan yang seharusnya mewarnai perayaan Idulfitri tidak banyak terlihat, terutama di negara-negara yang terdampak konflik. Di Lebanon, Gaza, hingga Iran, warga menghadapi krisis ekonomi, kerusakan hingga kehilangan tempat tinggal akibat perang sehingga sulit merayakan hari raya secara normal.
Di Beirut, Lebanon, seorang pengungsi Suriah bernama Allah mengatakan dirinya kini tidak memiliki tempat tinggal setelah rumahnya di Dahiyeh hancur akibat serangan Israel.
Alaa mengatakan dirinya telah menghabiskan hari dengan berkeliling ibu kota Lebanon untuk mencari tempat berlindung. Serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Kini, yang dia pikirkan hanya mencari tempat aman. Perayaan Idulfitri yang dimulai pada Jumat bahkan tidak terlintas di benaknya. Alaa pun mengaku tidak memiliki rencana apa pun untuk perayaan Idulfitri tahun ini. Fokusnya hanya mendapatkan sebuah tenda.
“Saya ditolak untuk tinggal di sekolah, lalu saya tidur di corniche. Kemudian petugas dari pemerintah kota menyuruh saya datang ke tepi laut pusat kota Beirut," ujar Alaa dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (21/3/2026).
Alaa belum berhasil mendapatkan tenda dan untuk sementara harus tidur di ruang terbuka. Namun, sebagian orang di kawasan tersebut telah mendirikan tenda, mengubah pusat kota yang biasanya dipenuhi restoran dan bar mahal menjadi kawasan pengungsian bagi warga yang terdampak konflik.
Di seluruh Lebanon, lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi. Warga Lebanon pun tidak mengetahui kapan perang akan berakhir, terutama karena mereka belum sepenuhnya pulih dari konflik dengan Israel yang berlangsung antara Oktober 2023 hingga November 2024.
Kondisi ini membuat perayaan hari raya menjadi sulit, situasi yang juga dialami negara lain yang terdampak konflik saat ini.
Iran
Sementara itu, di Iran, yang telah memasuki pekan ketiga serangan Amerika Serikat dan Israel, masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Selain perang yang belum menunjukkan tanda akan segera berakhir, krisis ekonomi yang sudah lebih dulu terjadi membuat banyak warga kesulitan membeli kebutuhan yang biasanya dibeli saat musim liburan.
Berbelanja di tempat ramai seperti Grand Bazaar Teheran juga dinilai berisiko karena sebagian kawasan tersebut rusak akibat pemboman.
Aspek religius Idulfitri juga memunculkan sensitivitas tersendiri bagi sebagian warga Iran yang menentang pemerintah. Sebagian dari mereka memandang ekspresi religius sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam Iran.
Tahun ini, perayaan Nowruz atau Tahun Baru Persia juga jatuh pada Jumat, sehingga sebagian kelompok oposisi lebih memilih merayakan Nowruz dan menghindari kegiatan yang berkaitan dengan Idulfitri.
Gaza
Sementara itu, di Jalur Gaza, banyak warga Palestina tetap ingin merayakan Idulfitri. Namun krisis ekonomi yang dipicu perang Israel membuat hal tersebut sulit dilakukan.
Pembatasan Israel terhadap masuknya barang ke Gaza—yang semakin diperketat sejak perang dengan Iran dimulai—telah mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan, termasuk mainan anak-anak.
Khaled Deeb (62), warga Gaza City yang tinggal di rumahnya yang rusak sebagian, mengatakan dirinya datang ke pasar Remal untuk melihat harga buah dan sayur menjelang Idulfitri.
“Dari luar, suasana Idulfitri terlihat ramai dan meriah,” kata Khaled sambil menunjuk pasar yang padat pengunjung. “Namun secara finansial, kondisinya sangat buruk. Banyak orang meninggalkan rumah mereka dan sekarang tinggal di tenda pengungsian. Semua orang kehilangan segalanya selama perang.”
Khaled mengaku tidak mampu membeliint buah dan sayuran tersebut dan harus melewati Idulfitri tanpa itu. Menurutnya, hanya “raja” yang mampu membeli kebutuhan tersebut, bukan “orang miskin dan kelelahan” seperti dirinya.
Kondisi itu semakin berat karena dia masih mengingat kehidupannya sebelum perang, ketika dirinya memiliki supermarket.
“Pada saat Idulfitri, saya biasa memberi hadiah kepada anak perempuan dan saudara perempuan saya lebih dari 3.000 shekel (sekitar US$950) saat berkunjung, belum termasuk menyiapkan rumah, membeli pakaian baru untuk anak-anak, serta permen dan cokelat untuk menyambut hari raya,” ujarnya.
Namun, semua itu tidak akan terjadi pada Idulfitri tahun ini, bahkan meskipun ada gencatan senjata di Gaza.
Sentimen serupa disampaikan Shireen Shreim, ibu dari tiga anak. Dia menyebut, kebahagiaan Idulfitri saat ini tidak lengkap.
“Kami baru keluar dari dua tahun perang dengan kesulitan besar, dan kini harus menghadapi kehidupan ketika bahkan kebutuhan paling dasar pun sulit didapat," jelasnya.
Dengan Israel yang dinilai belum menunjukkan tanda akan menghentikan serangan terhadap warga Palestina maupun negara lain di kawasan, Shireen mengaku tidak tahu kapan Gaza akan benar-benar dibangun kembali.
Shireen menyebut dirinya tinggal di apartemen dengan dinding yang hampir seluruhnya hancur. Dia dan suaminya menutup lubang tersebut dengan terpal dan kayu.
"Kami masih lebih beruntung dibandingkan yang lain. Setiap kali pulang ke rumah, saya merasa sedih. Orang-orang tinggal di tenda dari nilon dan kain di jalanan tanpa tempat tinggal yang layak. Bagaimana mereka bisa merayakan Idulfitri?” lanjutnya.