Bisnis.com, SURABAYA – Sisi sayap barat dari Gedung Negara Grahadi, Surabaya, yang terdampak pasca-peristiwa demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu akhirnya dilakukan perbaikan, dengan biaya mencapai Rp12,7 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan status bangunan tersebut tergolong sebagai cagar budaya sehingga wajib dilestarikan. Tindak lanjut perbaikan tersebut dapat dilakukan usai koordinasi Pemprov Jawa Timur dengan Tim Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya.
"Jadi keadaan Grahadi ini sudah di dalam koordinasi sejak awal dengan tim dari cagar budaya. Kita ingin memastikan semaksimal mungkin ini mirip dengan aslinya. Kita memaksimalkan keserupaan dan kemiripan dengan bangunan aslinya. Meskipun tentu tidak bisa persis seperti aslinya," ungkap Khofifah dikutip Senijn (6/4/2026).
Rangkaian proses pemugaran terdiri atas rekonstruksi atap, replikasi engsel, kusen, dan pintu, ekspos hasil ekskavasi arkeologi dan balok kayu, serta penataan ulang seluruh ruangan yang hangus terbakar.
Mengingat bangunan sayap barat Grahadi juga termasuk dalam bangunan cagar budaya, terdapat spesifikasi khusus dalam pemugaran ini yang bertujuan untuk mengembalikan gedung agar serupa dengan bentuk aslinya.
Salah satunya adalah pengerjaan bagian dinding yang menggunakan kapur yang diproduksi di Jerman. Material tersebut, tutur Khofifah, memiliki karakteristik khusus, sehingga tidak merusak struktur dinding yang masih tersisa sebelumnya.
"Jadi bangunan ini dibangun tanpa semen. Kapur yang digunakan itu sekaligus sebagai perekat, dan ada beberapa konstruksi dan bagian-bagian lama yang existing, seperti kusen yang ada di sini, tidak akan dirombak," paparnya.
Khofifah menjelaskan rangkaian proses pemugaran bangunan sayap barat Grahadi dimulai dengan identifikasi awal lewat pengumpulan batu bata, genteng, dan material lain dari gedung yang terbakar. Sehingga, pembangunan dapat menyamai bentuk sebelumnya.
"Proses ini sudah diidentifikasi dan dikawal oleh tim dari cagar budaya dan banyak elemen lainnya. Betapa identifikasi dan detail proses tidak sederhana. Sehingga kita berharap bahwa ke depan tidak ada lagi cagar budaya yang kemudian dijadikan sasaran siapa pun," ungkapnya.
Pemulihan bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi telah melalui proses kajian yang melibatkan berbagai tenaga ahli pemugaran, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur dan berbagai instansi terkait.
Berdiri pada 1810, pemugaran ditargetkan untuk menjaga nilai historis dengan menampilkan elevasi lantai asli melalui metode ekskavasi. Lantai tersebut memiliki peningkatan ketinggian sekitar 50 centimeter sejak awal pembangunan, sehingga nantinya lantai asli akan diekspos menggunakan lantai kaca sebagai media edukasi sejarah dan teknologi konstruksi masa lalu.
Masa pelaksanaan pemugaran dilakukan selama 210 hari kalender, di mana nilai kontrak pekerjaan mencapai Rp12.763.527.600 yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur.
Selain penggunaan material mortar khusus berbahan dasar campuran kapur dan mineral lain dari luar negeri dan elevasi lantai, pemulihan juga mencakup struktur atap yang diperkuat dengan penambahan ring balok untuk meningkatkan kekuatan hubungan antara atap dan dinding. Sementara lantai akan menggunakan material marmer yang disesuaikan dengan bangunan utama Grahadi.