#30 tag 24jam
Kisah Jin Sakhr Merebut Takhta Nabi Sulaiman, hingga Kerajaannya Kembali pada 10 Muharram
Kisah ini tentang jin di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam. Jin Sakhr namanya, bahkan jin ini sempat melakukan kudeta di Kerajaan Nabi Sulaiman Kisah ini tentang... | Halaman Lengkap [650] url asal
#peringatan-10-muharram #nabi-sulaiman #hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/06/26 17:50
v/259875/
Kisah ini tentang jin di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam. Jin Sakhr namanya, bahkan jin ini sempat melakukan kudeta di Kerajaan Nabi Sulaiman . Akibatnya, Nabi Sulaiman kehilangan tahtanya. Namun, pada 10 MuharramAllah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman tersebut.Kisah ini disebutkan dalam beberapa literatur tafsir, tatkala memasuki pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan fitnah (ujian) yang Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya:
Artinya: “Sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan kami letakkan sebuah jasad di atas singgasananya. Kemudian dia bertaubat”. ( QS Shad/38 :34)
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam kitabnya An-Nafahat Al-Makkiyah menafsirkan ayat ini sbb:
(Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain. Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.
Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu. Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya.
Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya (dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman.
Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya. Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang.
Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ, "Aku adalah Sulaiman."
Akan tetapi orang-orang mengingkarinya (kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari; yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.
Dikisahkan, ketika Nabi Sulaiman memerangi raja kafir, beliau menikahi anak perempuan raja kafir tersebut. Karena istrinya selalu rindu kepada ayahnya, istrinya memohon kepada Nabi Sulaiman untuk dibuatkan patung yang menyerupai ayahnya.
Lambat waktu ternyata istri Nabi Sulaiman ini, menyembah patung ayahnya, di luar pengetahuan Nabi Sulaiman. Karena menyembah patung itu, istrinya kemudian diikuti oleh setan.
Suatu ketika pada saat Nabi Sulaiman wudlu, Nabi Sulaiman memiliki cincin sakti yang tidak boleh dibawa ke kamar mandi, sehingga dititipkan kepada istrinya. Ternyata itu bukan istrinya melainkan setan yang menyamar sebagai istri Nabi Sulaiman.
Oleh karena jimat Nabi Sulaiman adalah cincin, maka hilang sebagian kekuatannya.
Ujian Nabi Sulaiman
Perihal kisah ini dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Shad ayat 34 tersebut. Kendati demikian, para ulama tafsir berbeda-beda dalam menafsirkan ayat tersebut.Paling menonjol dan mengundang perbedaan adalah perihal kisah jimat Nabi Sulaiman as. Dalam kisah itu disebutkan bahwa setelah jin sukses mencuri jimat Nabi Sulaiman, maka jin menggagahi semua istri sang nabi selama 40 hari.
Tafsir sejenis, selain yang ditafsirkan Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, adalah:
Konon Nabi Sulaiman as menikahi seorang wanita yang sangat beliau cintai, namanya Jaradah. Hanya saja ia menyembah berhala di rumah Nabi Sulaiman, tanpa sepengetahuan beliau.
Dikisahkan bahwa kekuatan Nabi Sulaiman, baik yang berkenaan dengan kerajaan maupun kenabian beliau, terletak pada cincin yang ia pakai.
Pada suatu hari ketika hendak memasuki kamar kecil, beliau menitipkan cincinnya kepada salah seorang istrinya, Aminah. Sebelum beliau menyelesaikan hajatnya, datanglah setan yang menyamar dalam bentuk Nabi Sulaiman dan mengambil cincin tersebut lalu menduduki singgasana Nabi Sulaiman. Akibatnya, Nabi Sulaiman kehilangan kekuatannya, dan berubah bentuk, kemudian terusir dari kerajaannya.
Ath-Thabari menyebutkan bahwa nama setan (jin) tersebut adalah Sakhr, demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Qatadah. Menurut pendapat lain nama setan itu adalah Asif, kata Mujahid. Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Asruwa, yang juga kata Mujahid. Sedangkan menurut As-Saddi, nama setan itu adalah Habyaq.
Si iblis berkuasa dan menguasai para istri Nabi Sulaiman, sampai pada masa haidh mereka. Hingga akhirnya Nabi Sulaiman menemukan cincinnya kembali, dalam perut seekor ikan yang dia dapatkan dari seorang nelayan tempat beliau bekerja, dst”.
Peristiwa di Bulan Muharram : Di Hari Asyura, Nabi Idris AS Diangkat ke Langit
Peristiwa atau kisah para nabi yang diyakini terjadi di bulan Muharram, adalah kisah Nabi Idris alaihissalam. Tepatnya pada 10 Muharram atau Hari Asyura , diyakini... | Halaman Lengkap [1,371] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #bulan-muharram #hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 17:45
v/253655/
Peristiwa atau kisah para nabiyang diyakini terjadi di bulan Muharram, adalah kisah Nabi Idris alaihissalam. Tepatnya pada 10 Muharram atau Hari Asyura, diyakini sebagai hari Allah SWT mengangkat Nabi Idris ASke langit.Dalam Al Quran Allah SWT berfirman,
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.” ( QS Maryam : 56-57 ).
Ibnu Katsir dalam kitabnya berjudul Qashash Al-Anbiya menjelaskan mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” kemungkinan besar maksud dari “tempat” itu seperti dijelaskan dalam hadis Isra Mikraj yang disebutkan dalam Kitab Shahihain, yaitu bahwasanya Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris ketika beliau berada di langit keempat (lapisan keempat dari tujuh lapis langit). (HR Bukhari dan Muslim).
Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Yunus bin Abdil A'la, dari Ibnu Wahab, dari Jarir bin Hazim, dari Al A'masy, dari Syimr bin Athiyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, "Aku pernah mendengar Ibnu Abbas bertanya kepada Kaab, 'Apa maksud dari firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi?"
Kaab menjawab, "Ketika itu Nabi Idris diberikan wahyu oleh Allah, “Sesungguhnya Aku akan mengangkat amalanmu pada setiap hari seperti amalan anak Adam lainnya”
Maka Idris pun berkeinginan untuk menambah amalannya sebelum berakhir masa hidupnya. Lalu ia datang kepada salah satu malaikat yang ditugaskan untuk menemaninya di dunia dan berkata, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku begini begini, begini, maka dari itu berbicaralah kamu kepada malaikat maut untuk mengakhirkan ajalku agar aku dapat menambah amalanku.”
Maka malaikat itu menaikkan Nabi Idris ke atas tubuhnya (di antara dua sayap) lalu membawanya ke atas langit (untuk dipertemukan langsung dengan malaikat maut). Ketika mereka berada di langit keempat, tak disangka ternyata mereka bertemu dengan malaikat maut di sana.
Maka malaikat yang membawa Nabi Idris pun menyampaikan kepada malaikat maut tentang permintaan Nabi Idris. Lalu malaikat maut bertanya, “Di manakah Nabi Idris sekarang?”
Malaikat itu menjawab, “Dia sekarang berada di atas punggungku.”
Malaikat maut berkata, "Sungguh luar biasa! Aku baru saja diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa Nabi Idris di langit keempat, namun tentu aku bertanya-tanya, mengapa aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di langit keempat sedangkan ia tinggal di muka bumi.”
Maka setelah itu malaikat maut pun mencabut nyawa Nabi Idris di sana. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.”
Ketika menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan kisah yang hampir sama dengan beberapa tambahan, yaitu Nabi Idris berkata kepada malaikat tersebut, “Tanyakanlah kepada malaikat maut berapa sisa dari umurku?”
Lalu malaikat itu bertanya kepada malaikat maut dengan membawa serta Nabi Idris: “Berapa lama lagi sisa umur Idris?”
Malaikat maut menjawab, “Aku tidak tahu sebelum aku memeriksanya.”
Lalu malaikat maut pun memeriksa sisa usia Nabi Idris, kemudian ia berkata, “Anda bertanya kepadaku tentang seseorang yang usianya hanya tersisa sedikit sekali.”
Lalu malaikat itu menoleh ke sayapnya di mana Nabi Idris berada saat itu, namun ternyata Nabi Idris telah dicabut nyawanya tanpa terasa olehnya.
Ibnu Katsir mengatakan ini adalah salah satu riwayat israiliyat (palsu), dan di dalamnya juga terdapat kalimat yang tidak dikenali pada riwayat lain.
Ibnu Abi Najih juga meriwayatkan, dari Mujahid, mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.” Ia berkata, "Ketika diangkat ke atas langit Nabi Idris tidak dalam keadaan meninggal dunia, sebagaimana ketika diangkatnya Nabi Isa Alaihissalam?”
Apabila maksud dari riwayat ini bahwa Nabi Idris belum meninggal dunia sampai sekarang, maka tentu hal itu harus diperdebatkan. Namun jika maksudnya adalah ia diangkat ke atas langit selagi masih hidup kemudian nyawanya dicabut di sana, maka hal itu sama seperti riwayat dari Kaab Al Ahbar sebelumnya. Wallahu a'lam.
Al Aufi juga meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” ia berkata,” Nabi Idris diangkat ke langit keenam, lalu ia meninggal dunia di sana.”
Riwayat ini juga disebutkan oleh Adh Dhahhak. Namun hadis Muttafaq Alaih (yakni hadis yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim) yang menyatakan bahwa ia berada di langit keempat adalah riwayat yang paling benar. Dan riwayat ini juga menjadi pilihan Mujahid dan sejumlah ulama lainnya.
Hasan Basri mengatakan, ”Yang dimaksud dengan kata tinggi pada firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” adalah surga.
Beberapa ulama Ahli Kitab menyatakan bahwa diangkatnya Nabi Idris ke atas langit adalah ketika ayahnya, Yared bin Mahlaeel masih hidup. Wallahu a'lam. Menurut Ibnu Katsir, sebagian mereka menduga bahwa Idris itu hidup di zaman Bani Israil, bukan sebelum Nabi Nuh.
Pelesir ke Neraka dan ke Surga
Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam bukunya yang diterjemahkan Abdul Halim dengan judul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” menyebutkan bahwa Malaikat Maut meminta izin kepada Allah untuk berziarah kepada Idris.Dia diizinkan, lalu datang kepada Idris dalam rupa seorang laki-laki. Idris bertanya kepadanya, “Hai laki-laki, siapa engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah Malaikat Maut; aku telah meminta izin kepada Tuhanku untuk berziarah kepadamu, maka berikanlah aku izin untuk itu!”
Idris berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku mempunyai satu keperluan kepadamu.”
“Apa keperluanmu itu?” tanya Malaikat Maut.
Idris menjawab, “Cabutlah nyawaku saat ini!”
“Sesungguhnya Tuhanku belum mengizinkanku untuk melakukan itu,” ujar Malaikat Maut.
Pada waktu itu, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang ada dalam benak hamba-Ku; cabutlah rohnya!”
Karena telah mendapatkan izin, maka pada waktu itu juga dia mencabut ruhnya. Akan tetapi, kemudian Allah menghidupkannya lagi ketika itu juga. Idris berkata, “Hai Malaikat Maut, aku masih punya permintaan yang lain.”
“Apa itu?” tanya Malaikat Maut.
Idris berkata, “Bawalah aku ke neraka jahanam agar aku bisa melihat kengeriannya!”
Allah mengizinkan Malaikat Maut untuk melakukan perjalanan itu. Maka, dibawalah Nabi Idris oleh Malaikat Maut datang ke malaikat penjaga neraka.
Allah memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka, “Letakkanlah hamba-Ku di pinggir jahanam agar dia bisa melihat apa yang terdapat di dalamnya.”
Setelah Nabi Idris berada di sana dan melihat isi jahannam, dia pingsan karena melihat kengeriannya. Lalu Malaikat Maut menghampirinya dan membawanya lagi ke tempat asalnya.
Semenjak melakukan perjalanan ke neraka jahanam Nabi Idris tidak memakai cela di matanya menjelang tidur. Tidak bersenang-senang dengan makanan yang enak-enak dan minuman yang lezat. Dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap karena kengerian yang pernah dia lihat.
Nabi Idris mencurahkan diri beribadah kepada Allah dan menikah dengan seorang wanita yang kemudian mengandung anak laki-laki. Setelah anak itu terlahir, dia diberi nama Matusyilakh dan cahaya yang ada di kening Nabi Idris pindah ke kening anaknya.
Setelah anak itu besar dia diberi wasiat oleh Nabi Idris; diserahi suhuf, tali, dan tabut; dan dia diwasiati agar membaca suhuf (wahyu Allah) dan selalu mendirikan salat.
Nabi Idris berkata kepadanya, “Hai anakku, aku akan naik ke langit. Aku tidak tahu apakah akan kembali atau tidak. Maka, terimalah dariku apa yang akan kuwasiatkan kepadamu.”
Kemudian Nabi Idris masuk ke mihrabnya dan meminta kepada Allah agar diperlihatkan surga seperti Dia telah memperlihatkan neraka.
Atas permintaan Idris tersebut, Allah memerintahkan kepada Malaikat Ridwan, malaikat penjaga surga, untuk menurunkan sebuah tangkai dari surga. Maka, Ridwan menurunkan tangkai dari pohon Thuba. Kemudian Nabi Idris berpegangan ke tangkai itu dan naik ke langit. Lalu Malaikat Ridwan memasukkannya ke dalam surga.
Nabi Idris melihat nikmat-nikmat yang ada di sana. Setelah cukup lama berada di dalam surga, Malaikat Ridwan berkata kepadanya, “Silakan keluar! Engkau telah melihat surga dan isinya.”
Nabi Idris berkata, “Aku tidak akan keluar. Allah berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati ( QS Ali ‘Imran [3] : 185, QS Al-Anbiyaa’ [21] : 35, QS Al-‘Ankabuut [29] : 57), dan aku telah merasakannya.
Dia pun berfirman: Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu ( QS Maryam [19] : 71), dan aku pernah mendatanginya.
Dan Dia juga berfirman: Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya (surga) ( QS Al-Hijr [15] : 48), maka aku tidak akan keluar dari surga.”
Maka, Allah mewahyukan kepada Ridwan, “Katakanlah kepada hamba-Ku, Idris, hendaklah dia jangan keluar dari surga untuk selama-lamanya.”
Wahab bin Munabbih mengatakan, Nabi Idris telah naik ke langit ketika dia berumur 365 tahun. Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa Nabi Idris dan Nabi Isa bin Maryam hidup di langit. Terkadang Nabi Idris berada di langit keempat untuk beribadah kepada Allah di langit dan terkadang bersenang-senang di surga.
Mengapa Hari Asyura Sakral bagi Syiah? Jejak Berdarah Tragedi Karbala
Bagi penganut Syiah, Hari Asyura atau 10 Muharram, memiliki kedudukan yang sangat sakral dan nilai historis yang tak terlupakan. Mengapa demikian? simak ulasannya... | Halaman Lengkap [1,285] url asal
#golongan-syiah #hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #keutamaan-hari-asyura
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 15:53
v/253464/
Bagi penganut Syiah, Hari Asyura atau 10 Muharram, memiliki kedudukan yang sangat sakral dan nilai historis yang tak terlupakan. Hal ini disebabkan karena cucu Nabi Muhammad SAW yang bernama Husain bin Ali bin Abi Thalib wafat terbunuh pada hari Asyuratersebut.Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, M.Ag dalam karya tulisnya berjudul "Asyura: Antara Doktrin, Historis dan Antropologis Perspektif Dakwah Pencerahan" menjelaskan setelah Yazid dibaiat sebagai Amirul Mukminin (khalifah) di Syam, Husain diajak oleh kelompok Yazid untuk turut membaiat Yazid. Akan tetapi Husain menolak, dan beliau segera meninggalkan Madinah menuju Makkah .
Ketika penduduk Kufah (Irak) yang mendengar sikap Husain terhadap Yazid, mereka langsung mengirim berbagai surat kepada Husain. Ada lebih dari 500 surat yang diterima Husain. Inti dari isi surat itu ada 3 hal, yakni: penduduk Kufah tidak membaiat Yazid. Kedua, penduduk Kufah hanya mau taat jika Husain dan keluarga Ali sebagai khalifah. Ketiga, mengundang Husain untuk datang ke Kufah agar bisa dibaiat.
Untuk menyelidiki kebenaran ini, Husain mengirim Muslim bin Aqil (sepupu Husain) agar memeriksa keadaan di Kufah yang sebenarnya. Sesampainya Muslim bin Aqil tiba di Kufah, dia singgah di rumah Hani bin Urwah.
Di rumah ini, banyak penduduk Kufah yang membaiat Husain melalui perwakilan Muslim bin Aqil. Merasa bahwa penduduk Kufah telah loyal terhadap Husain, Muslim mengirim surat kepada Husain, agar segera datang ke Kufah, karena semua telah disiapkan.
Berita tentang sikap penduduk Kufah tersebut didengar oleh Yazid. Ketika itu, Kufah termasuk daerah kekuasaan Bani Umaiyah dengan gubernur Nu’man bin Basyir ra., salah satu sahabat terpercaya Nabi SAW. Namun karena Nu’man tidak perhatian dengan kejadian baiat Husain di Kufah, beliau dinon-aktifkan dan wilayah Kufah diserahkan kepada Ubaidillah bin Ziyad, yang ketika itu menjadi gubernur Bashrah. Sehingga Ubaidillah memegang kekuasaan dua wilayah, Bashrah dan Kufah.
Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah. Namun Hani’ tidak mau mengaku, hingga dia dipenjara. Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil datang bersama 4000 orang Syiah (pembela) Husain yang membaiatnya dan mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Peristiwa ini terjadi siang hari.
Ubaidullah bin Ziyad merespon pengepungan Muslim bin Aqil dengan mengancam akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut para pembela Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan ketika matahari terbenam pada hari itu, hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.
Muslim pun ditangkap danan Ubaidullah memerintahkan agar dan dia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk berwasiat kepada Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash mengirim surat kepada Husein. Keinginan terakhir Muslim pun dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad.
Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki akal”.
Setelah itu, Muslim bin Aqil kemudian dibunuh, tepatnya tanggal 9 Zulhijjah, hari Arafah.
Sementara itu, Husain berangkat dari Makkah menuju Kufah di tanggal 8 Dzulhijah. Banyak sahabat Nabi SAW menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Ibnu Umar ra menemui Husain ra meraya menasihati: “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”.
Husain tetap enggan untuk membatalkan keberangkatannya. Ibnu Umar pun memeluknya seraya menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah agar tidak dibunuh”.
Sahabat yang lain, Abu Said alKhudri ra memperingatkan Husain ra., “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka. Mohon jangan engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun.”
Singkat cerita Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala bersama 72 orang yang mendampinginya. Kemudian tibalah 4000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad di bawah pimpinan Umar bin Saad.
Husein bertanya, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbala: Karbun wa Balaa’.” Karbun artinya bencana dan Balaa’ artinya musibah.
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husain ra menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu dia menawarkan 3 hal, “Aku ada 3 pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang, atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam untuk membaiatnya, atau (3) aku pergi ke daerah perbatasan dan ikut bergabung bersama kaum muslimin dalam jihad melawan daerah kafir.
Ubaidullah bin Ziyad menyetujui tawaran Husain. Namun tiba-tiba sosok jahat Syamr bin Dzil Jausyan memprotes. “Jangan. Jangan kabulkan tawarannya, sampai dia menjadi tawananmu, wahai Ubaid.”
Syamr sendiri masih termasuk kerabat dekat Ubaidillah. Mendengar usulan ini, Ubaidillah merasa mendapat dukungan. Dia pun menyetujuinya. Namun Husain menolak untuk menjadi tawanan Ubaidullah. Maka mulailah terjadi ketegangan antara pasukan Husain yang berjumlah 72 orang dengan pasukan Irak 4000 orang. Husain pun berceramah mengingatkan status dirinya dan kedekatannya di sisi Rasulullah SAW. Hingga sekitar 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein.
Meskipun demikian, peperangan yang sangat tidak berimbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husain ra seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya. Masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba datang Syamr bin Dzil Jausyan–semoga Allah menghinakannya– meneriakkan, ”Apa yang kalian lakukan, segera serang dia.”
Syamr pun melemparkan panah lalu mengenai Husain ra dan ditambah tombak Sinan bin Anas yang mengenai dada Husain ra. Beliau pun terjatuh dan dikeroyok hingga akhirnya terbunuh sebagai syahid. Kejadian berdarah tersebut terjadi di hari Jumat, 10 Muharam, hari Asyura.
Tragedi Karbala
Tragedi Karbala tersebut menyisakan luka mendalam di kalangan pendukung fanatik Ali dan keluarga Nabi SAW. Dari tahun ke tahun Asyura dianggap menjadi momen bersejarah yang terus diperingati bahkan diagungkan. Mereka meratapi peristiwa berdarah tersebut dengan cara berkabung, menangis, bahkan merintih dan melukai anggota badan sebagai bentuk kesedihan mendalam dan turut merasakan penderitaan ahlul bait tersebut.Sebaliknya kalangan Nashibah, kelompok yang menampakkan kegembiraan dan suka cita karena peristiwa tersebut. Mereka adalah kelompok yang memang dari awal membenci Husain ra. Mereka menjadikan asyura sebagai hari raya. Karena itu, kelompok ini menganjurkan kaum muslimin untuk memberikan banyak kelonggaran di hari Asyura. Turunan dari anjuran ini adalah munculnya keyakinan hari menggembirakan anak yatim, hari keluarga, dan sebagainya.
Ibnu Taimiyah mengatakan, "Tidak disangsikan lagi bahwa Husain ra terbunuh dalam keadaan terzalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain ra merupakan tindakan maksiat kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah dan yang lainnya. Husain ra berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan".
Meski pun demikian, di halaman yang sama Syaikhul Islam menegaskan bahwa pembunuhan kejam terhadap Husien tidak lebih besar ketimbang pembunuhan-pembunuhan yang pernah di lakukan Bani Israil terhadap para Nabi mereka. Pembunuhan terhadap para Nabi dan ajaran mereka yang ditinggalkan kaumnya merupakan musibah besar bagi setiap kaum beriman, karena di sana terdapat kezaliman dan penghinaan terhadap ajaran agama itu sendiri.
Pembunuhan terhadap khalifah-khalifah sebelumnya pun—pada hakikatnya—merupakan rentetan musibah demi musibah. Oleh sebab itu, muslim Suni menyikapi peristiwa Karbala secara moderat dan proporsional. Tidak berlebihan dalam kesedihan dan tidak pula menganggapnya sebagai hari agung. Tanggal 10 Muharram diyakini sebagai hari yang mulia untuk memperbanyak amal saleh terutama puasa yang disyariatkan.
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Apa itu Hari Asyura? Dan mengapa hari tersebut di bulan Muharram ini begitu istimewa dalam Islam? Simak ulasan dan penjelasannya yang dirangkum Sindonews untuk... | Halaman Lengkap [917] url asal
#bulan-muharram #hari-asyura #keutamaan-hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #kemuliaan-hari-asyura
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 05:15
v/252730/
Apa itu Hari Asyura? Dan mengapa hari tersebut di bulan Muharram ini begitu istimewa dalam Islam? Simak ulasan dan penjelasannya berikut ini.Hari Asyura atau tanggal 10 Muharram begitu istimewa dan memiliki keutamaan bagi umat Islam. Pada tahun 2026 ini, Hari Asyura bertepatan dengan tanggal 25 Juni 2026 nanti. Seperti diketahui, dalam kalender hijriyah, Muharram adalah bulan pertama dan merupakan salah satu bulan-bulan yang diagungkan Allah ( Asyhurul Hurum ).
Dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 36, Allah Ta'ala mengabarkan 4 bulan yang wajib dimuliakan yaitu Zulkaidah, Zulhijjah,Muharramdan Rajab. Pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri sendiri dan sebaliknya dianjurkan memperbanyak amal saleh.
Dalam surah lain (Surah Al Fajar ayat 1-3), Allah Ta'ala berfirman dengan kalimat sumpah: "Wal-Fajri (demi waktu Fajar), wa laya lin 'Asyrin (demi malam yang sepuluh), wassyaf'i wal-watri (demi yang genap dan yang ganjil).
Para mufassir menjelaskan ayat "demi malam yang sepuluh" itu adalah 10 hari terakhir bulan Ramadan, 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan 10 hari pertama bulan Muharram .
Sebelum kalender Hijriah mulai digunakan, umat Islam menggunakan 'Am Al-Fil’ (tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW untuk menentukan tanggal dan waktu. Tetapi Khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khattab (RA) membuat kalender baru dengan mengumumkan bahwa tahun Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menjadi tahun pertama dalam Kalender Hijriyah.
Merujuk kepada firman Allah dalam Al-Qur'an , para sahabat dan salafunassaleh (ulama terdahulu) menjadikan Muharram sebagai bulan memperbanyak amal saleh. Di bulan ini mereka menghidupkan puasa sunnah, berzikir dan memperbanyak amal kebaikan. Mereka tau bahwa keutamaan Muharram begitu mulia di sisi Allah sehingga tidak mau lewat begitu saja. (Baca Juga: Menghiasi Bulan Muharram dengan Amalan Sesuai Sunah Rasul )
Keistimewaan Hari Asyura
Di dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang sangat agung yaitu hari ke-10 yang dikenal dengan nama 'Asyura . Dalam catatan islamicfinder disebutkan, awalnya puasa 10 Muharram merupakan suatu kewajiban. Namun kemudian puasa diwajibkan hanya di bulan Ramadhan saja dan puasa 10 Muharram dibuat opsional.Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidah 'Aisyah RA bahwa Nabi SAW bersabda: "Barang siapa yang berniat puasa (pada hari Asyura ) maka lakukanlah; dan barang siapa yang berniat meninggalkannya dapat melakukannya." (Sahih Al-Bukhari)
Akan tetapi, perlu diingat berpuasa selama bulan Muharram merupakan amalan mulia dan paling berpahala di antara puasa opsional (Nafil) merujuk pada hadis Nabi berikut: "Puasa terbaik (paling afdhol) setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulannya Allah, Al-Muharram ." (HR An-Nasai)
Asyura merupakan hari paling suci di antara semua hari pada bulan tersebut. Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, beliau berpuasa pada hari 'Asyura dan mengarahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari ini. Tetapi ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa pada hari ini dibuat opsional. Namun, menurut banyak hadis otentik, puasa pada hari Asyura adalah sunnah Nabi SAW .
Keistimewaan puasa 'Asyura ini sebagaimana sabda Beliau SAW: "Dan puasa di hari 'Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim)
Peristiwa Penting di Hari Asyura
Ulama ahli fiqih dan pakar hadis kelahiran Samarkand (Uzbekistan), Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H) dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, meriwayatkan dari Ikrimah berkata Hari Asyura ialah hari diterimanya tobat Nabi Adam 'alaihissalam. Dan hari itu pula turunnya Nabi Nuh 'alahissalam dari perahunya, maka ia berpuasa sukur kepada Allah subhanahu wa ta'alaKemudian hari itu pula Fir'aun ditenggelamkan dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa 'alaihissalam. Bani Israil pun berpuasa di Hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur mereka.
Imam Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Maisarah berkata:
"Siapa yang melapangkan keluarganya pada hari Asyura maka Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun itu". Sufyan berkata: "Telah kami coba maka kami rasakan kebenarannya."
Said bin Jubair dari Ibn Abbas RA berkata, ketika Nabi SAW baru hijrah ke Madinah mendapatkan kaum Yahudi puasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya kepada mereka tentang itu.
Jawab mereka: "Hari ini Allah memenangkan Nabi Musa dan Bani Israil terhadap Fir'aun dan kaumnya, maka kami puasa karena mengagungkan hari ini."
Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih layak (berhak) mengikuti jejak Musa dari kamu". Maka Nabi SAW menyuruh sahabat berpuasa.
Terkait keistimewaan Hari 'Asyura , Allah Ta'ala memuliakan para Nabi-nabi dengan sepuluh kehormatan, yakni
1. Allah menerima taubat Nabi Adam AS.
2. Allan menaikkan derajat Nabi Idris AS.
3. Hari berlabuhnya perahu Nabi Nuh AS.
4. Nabi Ibrahim lahir pada hari Asyura dan diangkat sebagai khalilullah juga diselamatkan dari api.
5. Allah menerima taubat Nabi Daud AS 6. Allah mengangkat Nabi Isa AS ke langit.
7. Allah menyelamatkan Nabi Musa AS.
8. Allah menenggelamkan Fir'aun.
9. Allah mengeluarkan Nabi Yunus AS dari perut ikan.
10. Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman AS.
Semua peristiwa itu terjadi pada Hari Asyura . Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sayydah Aisyah RA berkata: Bangsa Quraisy biasa berpuasa pada hari Asyura sejak zaman jahiliyah, juga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam biasa berpuasa di Makkah. Kemudian setelah hijrah ke Madinah dan telah turun perintah wajib puasa bulan Ramadan, maka Nabi SAW bersabda:
"Saya dahulu telah menyuruh kamu sebagai perintah wajib suara Asyura, dan kini terserah siapa suka boleh puasa dan yang tidak suka boleh meninggalkannya". Sayyidah Aisyah RA berkata: " Hari Asyura itu hari kesembilan (tanggal 9), pendapat lain menyebut tanggal 11 Muharram. Tetapi yang umum adalah tanggal 10 dan disunnahkan puasa tanggal 9 yang disebut Hari Taasu'a".
Keutamaan puasa Asyura ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :
"Dan puasa di hari Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun yang lalu." (HR Muslim).
Demikian ulasan tentang keistimewaan Hari Asyura. semoga bermanfaat
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Salah satu kisah bulan Zulhijjah adalah tentang doa Nabi Zakariya alaihissalam. Nabi utusan Allah ini lulus dari berbagai ujian, sehingga sang Khalik mengijabah... | Halaman Lengkap [580] url asal
#kisah-hikmah #peristiwa-penting-di-bulan-dzulhijjah #kisah-para-nabi #kisah-nabi-zakaria #doa-nabi-zakaria-memohon-anak
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/05/26 17:45
v/225211/
Salah satu kisah bulan Zulhijjahadalah tentang doa Nabi Zakariya alaihissalam. Nabi utusan Allah ini lulus dari berbagai ujian, sehingga sang Khalik mengijabah doa beliau untuk memperoleh anak yang saleh di umur 90 tahun atau bahkan ada yang menyebut di umur beliau 120 tahun.Peristiwa penting itu terjadi pada tanggal 3 Zulhijjah. Dikisahkan, suatu malam Nabi Zakariyaduduk di mihrabnya dan bermunajat kepada Allah, berdoa dengan khusyuk dan yakin. Dengan suara yang lemah lembut beliau berdoa:
"Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian dari keluarga Ya'qub, yang akan meneruskan pimpinan dan pembimbing kepada Bani Isra'il."
"Aku risau sepeninggalku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali akidah dan imannya bila aku tinggalkan tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikanku."
"Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang istriku adalah seorang perempuan mandul. Namun kekuasaan-Mu tidak terbatas, dan aku berdoa Engkau berkenan mengurniakan seorang anak yang saleh dan Engkau ridha padaku."
Allah pun mengabulkan doa Nabi Zakariya dan berfirman: "Wahai Zakariya, kami sampaikan kabar gembira padamu, kamu akan mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Yahya yang saleh dan membenarkan kitab-kitab Allah, menjadi pemimpin yang dianut, menahan diri daripada nafsu dan godaan setan, dan kelak akan menjadi seorang Nabi."
Kemudian Nabi Zakariya berkata: "Ya Allah, bagaimana aku dapat memperoleh keturunan sedang istriku seorang yang mandul dan akupun sudah lanjut usia."
Allah berfirman: "Hal demikian itu mudah bagi-Ku. Tidakkah telah Ku-ciptakan kamu, sedangkan waktu itu kamu tidak ada sama sekali."
Permintaan Nabi Zakariya ini dilatarbelakangi karena kemandulan istrinya seperti yang diutarakan Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim yang ia kutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas .
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar juga turut memberikan pendapat bahwa ketika itu Nabi Zakariya juga sudah sangat tua, usianya diperkirakan sekitar 90 tahun lebih.
Sebagaimana fitrah manusia yang menginginkan keturunan, Nabi Zakariya pun ingin memiliki keturunan. Di samping itu juga agar nantinya ada dari keturunannya yang melanjutkan perjuangannya. Lantas ia pun berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 89 .
Dalam lanjutan Surat Al-Anbiya’ ayat 90, yang berisi salah satu fragmen kisah Nabi Yahya, Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut dengan menganugerahkan seorang anak saleh yang bernama Yahya.
Kisah Nabi Yahya sendiri disebut 5 kali dalam Al-Quran, yaitu pada Surat Ali Imran (3) : 39, Surat Maryam (19) : 7, 12-15, dan Surat Al-Anbiya’ (21) : 89-90.
Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa Nabi Zakariya adalah seorang yang khusyuk, hanya menggantungkan segala harapan kepada Allah, dan selalu bersegera dalam mengerjakan amal saleh hingga ia dipuji Allah sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Anbiya ayat 90.
Kemudian dalam Surat Ali Imran ayat 39, Allah juga menceritakan bahwa Ia mengutus malaikat untuk mengunjungi Nabi Zakariya yang sedang sholat di mihrab. Malaikat itu membawa kabar gembira bahwa Nabi Zakariya akan dikaruniai seorang anak bernama Yahya.
Nama Yahya, menurut Buya Hamka, berasal dari bahasa Ibrani “Yohanes” yang diarabkan. Nama tersebut belum pernah dipakai oleh seorang pun sebelum Nabi Yahya.
Tak lama kemudian, janji Allah pun menjadi kenyataan, istri Nabi Zakariya mengandung. Kemudian lahirlah seorang putra bernama Yahya.
Putra yang bernama Yahya ini Allah janjikan sebagai orang membenarkan kalimat-kalimat Allah, menjadi seorang pemimpin yang terpelihara, dan menjadi seorang nabi yang saleh seperti yang termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 39 .
Diangkatnya Yahya menjadi seorang nabi dan rasul oleh Allah ini sekaligus menjadi jawaban bagi doa yang senantiasa dipanjatkan Nabi Zakariya. Nabi Yahya pun kelak melanjutkan risalah yang diemban ayahnya.
Fakta Menarik Bulan Zulhijjah, Banyak Kisah Agung Para Nabi Terjadi di Dalamnya
Terdapat beberapa sejarah penting atau peristiwa mulia di Bulan zulhijjah. Peristiwa tersebut pernah terjadi kepada para Nabiyullah. Peristiwa apa saja itu? Simak... | Halaman Lengkap [540] url asal
#keutamaan-bulan-zulhijjah #peristiwa-penting-di-bulan-dzulhijjah #kisah-sejarah-di-bulan-dzulhijjah #kisah-para-nabi #dzulhijjah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/05/26 09:13
v/224532/
Terdapat beberapa sejarah penting atau peristiwa mulia di Bulan Zulhijjah. Peristiwa tersebut pernah terjadi kepada para Nabiyullah. Peristiwa apa saja itu?Dijelaskan dalam kitab Durrat al-Nasihin, Ibnu Abbas radhiyalalahu'anhu meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang peristiwa-peristiwa mulia ini.
9 Peristiwa Penting di Bulan ZUlhijjah:
1. Peristiwa Nabi Adam yang diampuni Allah
Pada tanggal 1 Zulhijjah, kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam alaihissalam dan Siti Hawa diampuni oleh Allah Ta'ala. Nabi Adam telah membuat kesalahan karena memakan buah terlarang yang diturunkan Allah SWT dari surga ke bumi bersama Hawa.2. Peristiwa Nabi Yunus dikeluarkan dari dalam perut ikan
Nabi Yunus alaihissalam dimakan ikan besar setelah meninggalkan kaumnya yang menolak dakwah Nabi Yunus. Saat berada di dalam perut ikan tersebut, Nabi Yunus mengucapkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Pada tanggal 2 Dzulhijjah Allah SWT mengabulkan doa itu dan mengembalikan Nabi Yunus ke daratan.3. Doa Nabi Zakaria diijabah
Nabi Zakaria alaihissalam yang tidak mempunyai anak selalu pantang menyerah untuk berdoa kepada Allah SWT agar istrinya mengandung seorang putra. Dengan kegigihan Nabi Zakaria dalam menjalani ujian, Allah SWT akhirnya mengijabah doa Nabi Zakaria itu pada tanggal 3 Zulhijjah saat umurnya sudah 120 tahun.4.Peristiwa Maryam melahirkan Nabi Isa
Pada tanggal 4 Zulhijjah Nabi Isa alaihissalam lahir. Malaikat Jibril pernah berkata kepada Maryam dalam surat Ali Imran ayat 42-47 bahwa dia akan melahirkan anak laki-laki yang suci. Perkataan itu terbukti dan ia pun dicemooh oleh masyarakat.5. Nabi Musa Lahir dan dirawat di lingkungan Fir’aun
Nabi Musa lahir ketika Fir'aun menerapkan kebijakan untuk membunuh semua anak laki-laki di Mesir. Tepatnya, pada tanggal 5 Dzulhijjah, Ibu Nabi Musa yang baru saja melahirkan segera menghanyutkan Nabi Musa di sungai Nil dan kemudian ditemukan oleh Asiyah, istri Fir'aun.6. Peristiwa Allah Ta'ala membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW
Pada 6 Zulhijjah, Allah membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 6 Dzulhijjah, Allah akan menurunkan rahmat-Nya dan terhindar dari siksa selama-lamanya.7. Peristiwa pintu pintu neraka ditutup dan dikunci
Pada tanggal 7 Zulhijjah, pintu-pintu neraka ditutup dan dikunci, dan baru akan dibuka setelah hari kesepuluh dari bulan Zulhijjah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 7 Zulhijjah, maka akan terhindar dari 30 pintu kesusahan dan dibukakan baginya 30 pintu kemudahan.8. Peristiwa Nabi Ibrahim diperintahkan membangun Kakbah
Pada tanggal 8 Zulhijjah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Kakbah. Ketika bangunan Kakbah telah jadi, Nabi Ibrahim merenung apakah yang ia lakukan mendapat pahala atau tidak. Maka disebutlah hari kedelapan dari bulan Zulhijjah dengan yaum al-tarwiyah yang artinya hari merenung dan berfikir.Ada yang mengatakan Nabi Ibrahim bermimpi mendapat tugas dari Allah untuk menyembelih Ismail. Maka, seharian Nabi Ibrahim berfikir apakah perintah itu benar-benar dari Allah atau dari Setan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah, Allah akan memberinya pahala yang nilaianya hanya Allah yang tahu.
9. Peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail
Sebelumnya pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi. Kemudian Nabi Ibrahim yakin betul bahwa mimpinya di malam kesembilan Dzulhijjah itu benar-benar dari Allah dan bukan dari Setan. Hari ini disebut yaumu arafah karena tempat yang digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail dinamakan Arafah.
Menelusuri Jejak Sejarah Islam: 9 Peristiwa Penting di Bulan Syawal
Menelusuri jejak sejarah dalam peradaban Islam di bulan Syawal, penting diketahui oleh umat Islam. Setidaknya ada 9 peristiwa bersejarah pasca Ramadan tersebut.... | Halaman Lengkap [587] url asal
#sejarah-islam #idulfitri #bulan-syawal #peristiwa-penting-di-bulan-syawal #idulfitri-1447-h
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/03/26 05:15
v/170911/
Menelusuri jejak sejarah dalam peradaban Islamdi bulan Syawal, penting diketahui oleh umat Islam. Setidaknya ada 9 peristiwa bersejarah pasca Ramadan tersebut. Peristiwa apa saja?Syawal (شوال) berasal dari kata Syala yang berarti naik atau meninggi. Pada bulan ini, kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di sisi Allah, karena telah melewati bulan ujian dan ibadah selama Ramadan. Syawal merupakan bulan pertama pembuktian nilai-nilai takwa.
Bulan Syawal memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadan dan meneruskannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, berarti dia telah berpuasa satu tahun penuh." (HR Muslim No 1164)
Pada bulan Syawal banyak peristiwa bersejarah dalam peradaban Islam . Berikut peristiwa penting di bulan Syawal yang perlu diketahui umat Islam:
Peristiwa Penting Sejarah Islam di Bulan Syawal
1. Tanggal 27 Syawal Tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW berdakwah ke Thaif
Beliau berdakwah sekaligus-mencari suaka karena kerasnya permusuhan kafir Qurays setelah wafatnya Abu Tholib. Namun beliau mendapatkan pengusiran dari warga Thaif. Meski diusir, Nabi justru mendoakan warga Thaif. Inilah salah satu akhlak mulia Rasulullah yang patut kita teladani.2. Syawal Tahun ke-1 Hijriyah, Kelahiran Abdullah bin Zubair
Beliaulah bayi pertama Muhajirin yang lahir di Madinah, setelah tersebarnya isu seorang ahli tenung Yahudi telah menyebarkan tenungnya kepada kaum muslimin sehingga mereka mandul semua. Di bulan Syawal Tahun 1 Hijriyah, terjadi Perang Bani Qainuqa, klan Yahudi yang berkhianat terhadap perjanjian damai.3. Syawal Tahun ke-2 Hijriyah, Nabi Muhammad menikahi Sayyidah Aisyah putri Abu Bakar
Beliaulah perempuan yang paling berkah untuk umat ini karena telah menyebarluaskan ilmu kepada ummat ini. Umat Islam patut berutang budi kepada beliau karena jasanya yang sangat agung.4. Syawal Tahun ke-4 Hijriyah, Nabi Muhammad menikahi Ummu Salamah
Ummu Salamah adalah seorang janda yang berhijrah 2 kali bersama suaminya, setelah Abu Salamah meninggal dalam menunaikan tugas dakwah, maka Nabi menikahinya untuk menguatkan Islam.5. Tanggal 17 Syawal Tahun ke-3 Hijriyah, Perang Uhud
Salah satu perang yang disebut-sebut dalam Al-Qur'an sebagai salah ujian ketaatan kepada sunnah dan perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sebuah pelajaran berharga, akibat meninggalkan satu sunnah maka kaum muslimin mendapat musibah yang besar.6. Tanggal 18 Syawal Tahun ke-5 Hijriyah, terjadi Perang Khandaq (Ahzab)
Sebuah perang yang diabadikan Allah sebagai nama salah satu Surah dalam Al-Qur'an. Perang yang fonumenal, dengan taktik dan strategi yang baru dalam peperangan yang belum pernah dikenal sebelumnya. Perang untuk membuktikan keimanan atas janji Allah melawan kepungan pasukan gabungan Qurays, sekutunya dan Yahudi, dengan kemenangan yang luar biasa.7. Tanggal 6 Syawal Tahun ke-8 Hijriyah, terjadi Perang Hunain
Perang yang terjadi setelah Futuh Makkah pada Ramadan tahun 8 Hijriyah, karena gengsi suku baduy mereka ingin menundukkan Qurays setelah ditaklukkan Rasulullah. Awalnya kaum muslimin kalah, karena mulai tumbuh bibit kesombongan pada mereka karena merasa banyaknya jumlah pasukan. Namun Allah memenangkan kaum muslimin disebabkan keteguhan para As-Sabiqunal Awaalin (sahabat yang awal masuk Islam) yang tetap kokoh dan tangguh dalam keimanan.8. Syawal Tahun ke-14 Hijriyah, Penaklukan Mada'in, ibukota imperium Persia
Amirul Mukminin Umar bin Khattab menaklukkan Madyan, dan istana Raja Parsi yang dikenal dengan nama Istana Putih.9. Tanggal 13 Syawal Tahun ke-194 Hijriyah, Imam Al-Bukhari Lahir di Bukhara, Uzbekistan
Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam al-Bukhari berhasil menuliskan sebanyak 9.082 hadis dalam karya monumentalnya bertajuk al-Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, yaitu kitab yang paling shahih setelah Al-Qur'an.Demikian peristiwa penting di bulan Syawal. Semoga Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadan berikutnya dengan keimanan dan mengharap ridha-Nya.
Kisah Teladan di Bulan Ramadan: Abu Bakar Ash Shiddiq Setia Mendampingi Rasulullah di Perang Badar
Kisah teladan di bulan Ramadan ini datang dari sahabat Nabi SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat perang Badar terjadi, Abu Bakar tidak pernah jauh dan selalu mendampingi... | Halaman Lengkap [571] url asal
#kisah-sahabat-nabi #perang-badar #kisah-abu-bakar-ashshiddiq #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 15:45
v/152131/
Kisah teladan di bulan Ramadanini datang dari sahabat Nabi SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat perang Badarterjadi, Abu Bakar tidak pernah jauh dan selalu mendampingi Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam. Peperangan yang terlihat mustahil itu, akhirnya dimenangkan umat Muslim dengan pertolongan Allah dan doa-doa Rasulullah SAW.Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Abu Bakr As-Siddiq - Yang Lembut Hati" mengisahkan kala itu pihak Muslimin membangun sebuah dangau di barisan belakang, sehingga jika nanti kemenangan berada di pihak mereka, Rasulullah dapat kembali ke Madinah . Hal itu seperti diusulkan oleh Sa'd bin Mu'az.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Nabi tinggal dalam dangau itu sambil mengawasi jalannya pertempuran. Pada saat pertempurah berkecamuk, Rasulullah melihat jumlah pihak musuh yang begitu besar sedang pasukan muslimin hanya sedikit. Beliau berpaling ke arah kiblat, menghadapkan diri dengan seluruh hati sanubarinya kepada Allah.
Beliau berdoa membisikkan permohonan dalam hatinya agar Allah memberikan pertolongan, sambil katanya:
"Allahumma ya Allah! Inilah Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepada-Mu."
Sementara Rasulullah masih hanyut dalam doa, sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Dalam keadaan serupa itu ia terangguk sejenak terbawa kantuk, dan ketika itu juga tampak olehnya pertolongan Allah itu datang. Beliau sadar kembali, kemudian beliau bangun dengan penuh rasa gembira. Beliau keluar menemui sahabat-sahabatnya sambil berkata kepada mereka:
"Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap seorang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia gugur, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga."
Abu Bakar di Perang Badar
Demikianlah keadaan Rasulullah. Tidak yakin akan kemenangan pasukan muslim yang hanya sedikit itu dalam menghadapi lawan yang jauh lebih banyak, dengan diam-diam jiwanya mengadakan hubungan dengan Allah memohon pertolongan. Kemudian terbuka di hadapannya tabir hari yang amat menentukan itu dalam sejarah Islam.Abu Bakar tetap di samping Rasulullah. Dengan penuh iman ia percaya bahwa Allah pasti akan menolong agama-Nya. Dengan hati penuh kepercayaan akan datangnya pertolongan itu. Dengan penuh kekaguman akan Rasulullah dalam doanya kepada Allah, dengan perasaan terharu kepada Rasulullah karena kekhawatiran yang begitu besar menghadapi nasib yang akan terjadi hari itu, ketika itulah Rasulullah berdoa mengimbau, bermohon dan meminta kepada Allah akan memenuhi janji-Nya.
Itulah yang diulangnya, diulang sekali lagi, hingga mantelnya terjatuh, itulah yang membuatnya berdoa sambil ia mengembalikan mantel itu ke bahu Nabi: "Rasulullah, dengan doamu Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu."
Haekal mengatakan banyak orang yang sudah biasa dengan, suatu kepercayaan sudah tak ragu lagi, sampai-sampai ia jadi fanatik dan kaku dengan kepercayaannya itu. Bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi melihat muka orang yang berbeda kepercayaan.
Mereka menganggap bahwa iman yang sebenarnya harus fanatik, keras, dan tegar. Sebaliknya Abu Bakar, dengan keimanannya yang begitu agung dan begitu teguh, tak pernah goyah dan ragu, jauh dari sikap kasar.
Sikapnya lebih lunak, penuh pemaaf, penuh kasih bila iman itu sudah mendapat kemenangan. Dengan begitu, dalam hatinya terpadu dua prinsip kemanusiaan yang paling mendasari: mencintai kebenaran, dan penuh kasih sayang.
Demi kebenaran itu segalanya bukan apa-apa baginya, terutama masalah hidup duniawi. Apabila kebenaran itu sudah dijunjung tinggi, maka lahir pula rasa kasih sayang, dan ia akan berpegang teguh pada prinsip ini seperti pada yang pertama. Terasa lemah ia menghadapi semua itu sehingga matanya basah oleh air mata yang deras mengalir.
Perang Badar, Bukti Kekuatan Doa dan Keyakinan
Dalam sejarah Islam, perang Badar adalah pertempuran terbesar pertama melawan kaum kafir Quraish ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Dalam sejarah Islam,... | Halaman Lengkap [2,145] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #perang-as-vs-iran #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 12:35
v/151814/
Dalam sejarah Islam, perang Badar adalah pertempuran terbesar pertama melawan kaum kafir Quraish ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).Dinukil dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" karya Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah, berikut penjelasan lengkapnya tentang perang Badartersebut.
Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Kafir Quraisydari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu merekapun segera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.
Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah SAW berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab b. Mundhir b. Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Nabi turun di tempat tersebut, ia bertanya: "Rasulullah, bagaimana pendapat tuan berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekadar pendapat tuan sendiri, suatu taktik perang belaka?"
"Sekadar pendapat saya dan sebagai taktik perang," jawab Rasulullah SAW.
"Rasulullah," katanya lagi. "Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dan mereka, lalu sumur-sumur kering yang di belakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."
Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Rasulullah SAW dan rombongannya segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat temannya itu, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dia juga manusia seperti mereka, dan bahwa sesuatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar mereka. Dia perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka sendiri.
Selesai kolam itu dibuat, Sa'd b. Mu'adh mengusulkan: "Rasulullah," katanya, "kami akan membuatkan sebuah dangau buat tempat Tuan tinggal, kendaraan Tuan kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh. Kalau Tuhan memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan kendaraan itu Tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada tuan tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Sekiranya mereka dapat menduga bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Dengan mereka Tuhan menjaga tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang bersama tuan."
Rasulullah SAW sangat menghargai dan menerima baik saran Sa'd itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangun. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Yathrib.
Di sini orang perlu berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah SAW, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya. Semua mereka mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar dari kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Tetapi, sungguhpun begitu, mereka berani menghadapi, mereka melawan.
Sekarang pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa jumlah kaum Muslimin lebih kurang 300 orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka sendiri.
Mengingat bahwa banyak pemimpin Quraisy ikut serta dalam angkatan perang ini,beberapa orang memncemaskan kalau-kalau banyak dari mereka itu yang akan terbunuh, sehingga Makkah sendiri nanti akan kehilangan arti. Sungguhpun begitu mereka masih takut kepada Abu Jahal yang begitu keras, juga mereka takut dituduh pengecut dan penakut. Tetapi tiba-tiba tampil 'Utba bin Rabi'a ke hadapan mereka itu sambil berkata:
"Saudara-saudara kaum Quraisy, apa yang tuan-tuan lakukan hendak memerangi Muhammad dan kawan-kawannya itu, sebenarnya tak ada gunanya. Kalau dia sampai binasa karena tuan-tuan, masih ada orang lain dari kalangan tuan-tuan sendin yang akan melihat, bahwa yang terbunuh itu adalah saudara sepupunya, dari pihak bapa atau pihak ibu, atau siapa saja dari keluarganya. Kembali sajalah dan biarkan Muhammad dengan teman-temannya itu. Kalau dia binasa karena pihak lain, maka itu yang tuan-tuan kehendaki. Tetapi kalau bukan itu yang terjadi, kita tidak perlu melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak kita inginkan."
Mendengar kata-kata 'Utba itu, Abu Jahal naik darah. Ia segera memanggil 'Amir bin'l-Hadzrami dengan mengatakan:
"Sekutumu ini ingin supaya orang pulang. Kau sudah melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang harus dituntut balas. Sekarang, tuntutlah pembunuhan terhadap saudaramu!"
'Amir segera bangkit dan berteriak: "O saudaraku! Tak ada jalan lain mesti perang!"
Dengan dipercepatnya pertempuran itu Aswad bin 'Abd'l-Asad (Makhzum) keluar dari barisan Quraisy langsung menyerbu ke tengah-tengah barisan Muslimin dengan maksud hendak menghancurkan kolam air yang sudah selesai dibuat. Tetapi ketika itu juga Hamzah bin Abd'l-Muttalib segera menyambutnya dengansatu pukulan yang mengenai kakinya, sehingga ia tersungkur dengan kaki yang sudah berlumuran darah. Sekali lagi Hamzah memberikan pukulan, sehingga ia tewas di belakang kolam itu.
Begitu melihat Aswad jatuh, maka tampillah 'Utba bin Rabi'a didampingi oleh Syaiba saudaranya dan Walid bin 'Utba anaknya, sambil menyerukan mengajak duel. Seruannya itu disambut oleh pemuda-pemuda dari Medinah. Tetapi setelah melihat mereka ini ia berkata lagi:
"Kami tidak memerlukan kamu. Yang kami maksudkan ialah golongan kami."
Lalu dari mereka ada yang memanggil-manggil: "Hai Muhammad! Suruh mereka yang berwibawa dari asal golongan kami itu tampil!"
Ketika itu juga yang tampil menghadapi mereka adalah Hamzah bin Abd'l-Muttalib, Ali bin Abi Thalib dan 'Ubaida bin'l-Harith.
Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaiba, juga Ali tidak memberi kesempatan kepada Walid. Keduanya dibunuh. Lalu Hamzah dan Ali segera membantu 'Ubaida yang kini sedang diterkam oleh 'Utba. Begitu menyaksikan kenyataan itu, pasukan Quraisy maju menyerbu.
Pada pagi Jum'at 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu berhadap-hadapan muka.
Sekarang Rasulullah SAW sendiri yang tampil memimpin Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, di samping perlengkapan yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, ia kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakar.
Sungguh cemas ia akan peristiwa yang akan terjadi hari itu, sungguh pilu hatinya melihat nasib yang akan menimpa Islam sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.
Rasulullah SAW kini menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan, ia mengimbau Tuhan akan segala apa yang telah dijanjikan kepadanya, ia membisikkan permohonan dalam hatinya agar Tuhan memberikan pertolongan. Begitu dalam ia hanyut dalam doa, dalam permohonan, sambil berkata:
"Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan RasulMu. Ya Allah, pertolonganMu juga yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepadaMu."
Sementara ia masih hanyut dalam doa kepada Tuhan sambil merentangkan tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakr lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahunya, sambil ia bermohon:
"Rasulullah, dengan doamu itu Tuhan akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu."
Tetapi sungguhpun begitu, Rasulullah SAW makin dalam terbawa dalam doa, dalam tawajuh kepada Allah; dengan penuh khusyu' dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan isyarat dan pertolongan Tuhan dalam menghadapi peristiwa, yang oleh kaum Muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk itu
tidak pula mereka punya persiapan. Karena yang demikian inilah akhirnya ia sampai terangguk dalam keadaan mengantuk. Dalam pada itu tampak olehnya pertolongan Tuhan itu ada. Ia sadar kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira.
Sekarang ia keluar menemui sahabat-sahabatnya; dikerahkannya mereka sambil berkata:
"Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga."
Jiwanya yang begitu kuat, yang telah diberikan Tuhan begitu tinggi melampaui segala kekuatan, telah tertanam pula dengan ajarannya ke dalam jiwa orang-orang beriman. Dan kekuatan mereka itu sudah melampaui semangat mereka sendiri, sehingga setiap orang dari mereka sama dengan dua orang, bahkan sama dengan sepuluh orang.
Apabila secara integral kemampuan moril ini belum lagi mencapai tujuannya disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat di kalangan Muslimin sebelum terjadi perang, belum dicapainya kekuatan materi sebagaimana yang diharapkan, maka dengan daya iman itu justru ia mempunyai kelebihannya.
Hal ini bertambah kuat lagi tatkala Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya dapat mengerahkan mereka. Maka dengan demikian, jumlah manusia dan perlengkapan yang sangat sedikit itu telah rnendapat kompensasi. Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat ini turun:
"O Nabi! Bangunkanlah semangat orang-orang beriman itu dalam menghadapi perang. Bila kamu berjumlah duapuluh orang yang tabah, mereka ini akan mengalahkan duaratus orang. Bila kamu berjumlah seratus orang, niscaya akan mengalahkan seribu orang kafir; sebab mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.
Sekarang Tuhan meringankan kamu, karena Ia mengetahui, bahwa pada kamu masih ada kelemahan. Maka, jika kamu berjumlah seratus orang yang tabah, akan dapat mengalahkan duaratus orang, dan jika kamu seribu orang, akan dapat mengalahkan duaribu dengan ijin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang berhati tabah." (Qur'an, 8:55-56.)
Keadaan pasukam Muslimin bertambah kuat setelah Rasulullah SAW membangkitkan semangat mereka, turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh.
Ia menyerukan kepada mereka, bahwa surga bagi mereka yang telah teruji baik dan langsung terjun ke tengah-tengah musuh.
Dalam hal ini kaum Muslimin mengarahkan perhatiannya pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Mereka hendak dikikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Mekah dulu, dirintangi memasuki Mesjid Suci dan berjuang untuk Allah.
Bilal melihat Umayya b. Khalaf dan anaknya, begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yang dikenalnya di Mekah dulu. Umayya ini adalah orang yang pernah menyiksa Bilal dulu, ketika ia dibawanya ketengah-tengah padang pasir yang paling panas di Mekah. Ditelentangkannya ia di tempat itu lalu ditindihkannya batu besar di dadanya, dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya berkata: "Ahad, Ahad. Yang Satu, Yang Satu."
Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata: "Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!"
Beberapa orang dari pasukan Muslimin mengelilingi Umayya dengan tujuan jangan sampai ia terbunuh dan akan dibawanya sebagai tawanan.
Tetapi Bilal di tengah-tengah orang banyak itu berteriak sekeras-kerasnya: "Sekalian tentara Tuhan! Ini Umayya b. Khalaf kepala kafir. Takkan selamat aku kalau ia lolos."
Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi, dan Umayya dibunuhnya. Ketika itu Mu'adh b. 'Amr b. Jamuh juga dapat menewaskan Abu Jahal b. Hisyam. Kemudian Hamzah, Ali dan pahlawan-pahlawan Islam yang lain menyerbu ke tengah-tengah pertempuran sengit itu. Mereka sudah lupa akan dirinya masing-masing dan lupa pula akan jumlah kawan-kawannya yang hanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar.
Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara. Kepala-kepala ketika itu sudah lepas berjatuhan dari tubuh Quraisy. Berkat iman yang teguh keadaan Muslimin bertambah kuat juga. Dengan gembira mereka berseru: Ahad, Ahad.
Di hadapan mereka kini terbuka tabir ruang dan waktu, sebagai bantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tangan mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan.
Di tengah-tengah medan pertempuran yang sedang sibuk dikunjungi malaikat maut memunguti leher orang-orang kafir itu, Rasulullah SAW berdiri. Diambilnya segenggam pasir, dihadapkannya kepada Quraisy. "Celakalah wajah-wajah mereka itu!" katanya sambil menaburkan pasir itu kearah mereka. Sahabat-sahabatnya lalu diberi komando.
Serentak pihak Muslimin menyerbu ke depan, masih dalam jumlah yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi yang membunuh musuh, sudah bukan mereka lagi yang menawan tawanan perang. Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang tertanam dalam jiwa mereka itu kekuatan moril mereka bertambah, sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula. Dalam hal ini firman Allah turun:
"Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Aku bersama kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu. Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam hati orang-orang kafir itu. Pukullah bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap ujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12)
"Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga." (Qur'an, 8: 17)
Tatkala Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNya dan setelah ternyata pula kemenangan berada di pihak orang-orang Islam, ia kembali ke pondoknya. Orang-orang Quraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
Inilah perang Badar, yang kemudian telah memberikan tempat yang stabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yang merupakan suatu pendahuluan lahirnya persatuan seluruh semenanjung di bawah naungan Islam, juga sebagai suatu pendahuluan adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luas sekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar di dunia, yang sampai sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.
Perang Badar, Pertempuran Pertama Umat Islam Lawan Kafir Quraish
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Quraish. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Perang Badar... | Halaman Lengkap [1,666] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #ramadan-2026 #perang-as-vs-iran
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 11:18
v/151709/
Perang Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan kaum kafir Qurais y. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang.Berikut penjelasan kisahnya yang Dinukil dari buku "Sejarah Hidup Muhammad" karya Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah.
Pada hari kedelapan bulan suci Ramadantahun kedua Hijrah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) berangkat dengan sahabat-sahabatnya meninggalkan Medinah. Imam salat diserahkan kepada 'Amr b. Umm Maktum, sedangkan pimpinan Medinah kepada Abu Lubaba dari Rauha'. Dalam perjalanan ini pasukan muslim didahului oleh dua bendera hitam. Mereka membawa tujuhpuluh ekor unta, yang dinaiki dengan cara silih berganti. Setiap dua orang, setiap tiga orang dan setiap empat orang bergantian naik seekor unta.
Dalam hal ini Rasulullah SAW juga mendapat bagian sama seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Dia, Ali b. Abi Thalib dan Marthad b. Marthad al-Ghanawi bergantian naik seekor unta. Abu Bakar, Umar dan Abdur-Rahman b. 'Auf bergantian juga dengan seekor unta. Jumlah mereka yang berangkat bersama Rasulullah SAW dalam ekspedisi ini terdiri dari 305 orang, 83 di antaranya Muhajirin, 41 orang Aus dan yang selebihnya dari Khazraj.
Karena dikuatirkan Abu Sufyan akan menghilang lagi, cepat-cepat mereka berangkat sambil terus berusaha mengikuti berita-berita tentang orang ini di mana saja mereka berada.Tatkala sampai di 'Irq'z-Zubya mereka bertemu dengan seorang orang Arab gunung yang ketika ditanyai tentang rombongan itu, ternyata ia tidak mendapat berita apa-apa.
Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah wadi bernama Dhafiran; di tempat itu mereka turun. Di tempat inilah mereka mendapat berita, bahwa pihak Quraisy sudah berangkat dari Mekah, akan melindungi kafilah mereka.
Ketika itu suasananya sudah berubah. Kini kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar bukan lagi berhadapan dengan Abu Sufyan dengan kalifahnya serta 30 atau 40 orang rombongannya itu saja, yang takkan dapat melawan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, melainkan Makkah dengan seluruh isinya sekarang keluar dipimpin oleh pemuka-pemuka mereka sendiri guna membela perdagangan mereka itu.
Andaikata pihak Muslimin sudah dapat mengejar Abu Sufyan, dan beberapa orang dari rombongan itu sudah dapat ditawan, unta beserta muatannya sudah dapat dikuasai, pihak Quraisypun tentu akan segera pula dapat menyusul mereka. Soalnya karena terdorong oleh rasa cintanya kepada harta dan ingin mempertahankannya. Mereka merasa sudah didukung oleh sejumlah orang dan perlengkapan yang cukup besar. Mereka bertekad akan bertempur dan mengambil kembali harta mereka, atau bersedia mati untuk itu.
Tetapi sebaliknya, apabila Rasulullah SAW kembali ke tempat semula, pihak Quraisy dan Yahudi Medinah tentu merasa mendapat angin. Dia sendiri terpaksa akan berada dalam situasi yang serba dibuat-buat, sahabat-sahabatnya pun terpaksa akan memikul segala tekanan dan gangguan Yahudi Medinah, seperti gangguan yang pernah mereka alami dari pihak Quraisy di Mekah dahulu.
Ya, apabila ia menyerah kepada situasi semacam itu, mustahil sekali kebenaran akan dapat ditegakkan dan Tuhan akan memberikan pertolongan dalam menegakkan agama itu.
Sekarang ia bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy menurut berita yang sudah diterimanya. Abu Bakar dan Umar juga lalu memberikan pendapat.Kemudian Miqdad bin 'Amr tampil mengatakan:
"Rasulullah, teruskanlah apa yang sudah ditunjukkan Allah. Kami akan bersama tuan. Kami tidak akan mengatakan seperti Banu Israil yang berkata kepada Musa: "Pergilahkamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah. Kami di sini akan tinggal menunggu. Tetapi, pergilah engkau dan Tuhanmu, dan berperanglah, kami bersamamu akan juga turut berjuang."
Semua orang diam. "Berikan pendapat kamu sekalian kepadaku," kata Rasul lagi.
Kata-kata ini sebenarnya ditujukan kepada pihak Anshar yang telah menyatakan Ikrar 'Aqaba, bahwa mereka akan melindunginya seperti terhadap sanak keluarganya sendiri, tapi mereka tidak mengadakan ikrar itu untuk mengadakan serangan keluar Medinah.
Tatkala pihak Anshar merasa bahwa memang mereka yang dimaksud, maka Sa'd bin Musadh yang memegang pimpinan mereka menoleh kepada Rasulullah SAW.
"Agaknya yang dimaksud Rasulullah adalah kami," katanya.
"Ya," jawab Rasul.
"Kami telah percaya kepada Rasul dan membenarkan," kata Sa'd pula, "Kamipun telah menyaksikan bahwa apa yang kaubawa itu adalah benar. Kami telah memberikan janji kami dan jaminan kami, bahwa kami akan tetap taat setia. Laksanakanlah kehendakmu, kami di sampingmu. Demi yang telah mengutus kamu, sekiranya kau bentangkan lautan di hadapan kami, lalu kau terjun menyeberanginya, kamipun akan terjun bersamamu, dan tak seorangpun dari kami akan tinggal di belakang. Kami takkan segan-segan menghadapi musuh kita besok. Kami cukup tabah dalam perang, cukup setia bertempur. Semoga Tuhan membuktikan segalanya dari kami yang akan menyenangkan hatimu. Ajaklah kami bersama, dengan berkah Tuhan."
Begitu Sa'd selesai bicara, wajah Rasulullah SAW tampak berseri. Tampaknya beliau puas sekali; seraya katanya: "Berangkatlah, dan gembirakan! Allah sudah menjanjikan kepadaku atas salah satunya dari dua kelompok itu. Seolah-olah kini kehancuran mereka itu tampak di hadapanku."
Merekapun lalu berangkat semua. Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah SAW pergi lagi dengan untanya sendiri. Beliau menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini ia menanyakan gerombolan Quraisy, yang kemudian daripadanya diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.
Lalu kembali lagi ia ke tempat sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin'l-Awwam, Sa'd bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya segera ditugaskan mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Kurir ini segera kembali dengan membawa dua orang anak. Dari kedua orang ini Rasulullah SAW mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi. Ketika mereka menjawab, bahwa mereka tidak mengetahui berapa jumlah pihak Quraisy, ditanya lagi oleh Rasulullah SAW:
"Berapa ekor ternak yang mereka potong tiap hari?"
"Kadang sehari sembilan, kadang sehari sepuluh ekor," jawab mereka.
Dengan demikian Nabi dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka terdiri dari antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua anak itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy ikut serta memperkuat diri
Lalu katanya kepada sahabat-sahabatnya: "Lihat. Sekarang Makkah sudah menghadapkan semua bunga bangsanya kepada kita."
Mau tidak mau, sekarang ia dan sahabat-sahabatnya harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.
Bilamana Ali sudah kembali dengan kedua orang anak yang membawa berita tentang Quraisy itu, dua orang Muslimin lainnya lalu berangkat lagi menuju lembah Badar. Mereka berhenti di atas sebuah bukit tidak jauh dari tempat air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya, dan di sini mereka mengisi air itu.
Sementara mereka berada di tempat air, terdengar ada suara seorang budak perempuan, yang agaknya sedang menagih utang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab:
"Kafilah dagang besok atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan utang segera akan kubayar."
Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah SAW.
Tetapi, dalam pada itu Abu Sufyan sudah mendahului kafilahnya mencari-cari berita. Ia khawatir Rasulullah SAW sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat air ia bertemu dengan Majdi bin 'Amr.
"Ada kau melihat orang tadi?" tanyanya.
Majdi menjawab bahwa ia melihat ada dua orang berhenti di bukit itu sambil ia menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim itu tadi berhenti. Abu Sufyanpun pergi mendatangi tempat perhentian tersebut. Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta dan setelah diperiksanya, diketahuinya, bahwa biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib.
Cepat-cepat ia kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali sekarang ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah SAW sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.
Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang yang tadinya mempunyai harapan penuh akan beroleh harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang bertukar pikiran dengan Nabi dengan maksud supaya kembali saja ke Medinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Mekah hendak berperang. Ketika itu datang firman Tuhan:
"Ingat! Tuhan menjanjikan kamu salah satu dari dua kelompok (musuh) itu untuk kamu. Sedang kamu menginginkan, bahwa yang tidak bersenjata itulah yang untuk kamu. Tetapi Allah mau membuktikan kebenaran itu sesuai dengan ayat-ayatNya, dan akan merabut akar orang-orang yang tak beriman itu."
Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu.
Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy mengatakan: Kamu telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.
Tetapi Abu Jahal ketika mendengar kata-kata ini, tiba-tiba berteriak: "Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi. Biar orang-orang Arab itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita."
Soalnya pada waktu itu Badar merupakan tempat pesta tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi akan ditafsirkan oleh orang-orang Arab - menurut pendapat Abu Jahal - bahwa mereka takut kepada Rasulullah SAW dan teman-temannya. Dan ini berarti kekuasaan Rasulullah SAW akan makin terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya satuan Abdullah bin Jahsy, terbunuhnya Ibn'l-Hadzrami, dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.
Mereka jadi ragu-ragu: antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas b. Syariq, orang yang cukup ditaati mereka.
Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir. (Bersambung)
Peristiwa Penting Bulan Ramadan, Salah Satunya Perang Badar
Ada sejumlah peristiwa sejarah penting bagi umat Islam, terjadi di bulan Ramadan . Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan suci tersebut? Ada sejumlah... | Halaman Lengkap [1,243] url asal
#perang-badar #peristiwa-penting-di-bulan-ramadhan #peristiwa-sejarah-di-bulan-ramadhan #sejarah-peperangan-islam #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/03/26 09:42
v/151560/
Ada sejumlah peristiwa sejarahpenting bagi umat Islam, terjadi di bulan Ramadan . Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bulan suci tersebut?Dirangkum dari berbagai sumber, inilah 9 peristiwa penting yang terjadi di bulan suci Ramadanyang perlu diketahui umat muslim.
Peristiwa Penting di Bulan Ramadan
1. Bulan Diturunkan Al-Quran
Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al- Qur'an sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pemisah antara yang benar dan salah.Allah Ta'ala berfirman:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (QS. Al Baqarah: 185)
Para pakar tafsir dan hadis mencatat, Allah juga menurunkan kitab-kitab dan suhuf yaitu kitab-kitab kecil selain Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur'an kepada para rasul sebelumnya pada bulan Ramadan.
Ibnu Katsir Rahmatullah, berkata mengenai ayat ini dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim (I/460-461 –Darul Hadits), “Allah menyanjung bulan Ramadan dibanding bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena itu, Allah mengistimewakannya. Hal ini juga memperjelas surah al-Qadr ayat 1yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. “ Sedang malam kemuliaan yang dimaksud merupakan malam Lailatul Qadr yang jatuh pada bulan Ramadan.
2.Pembebasan Kota Makkah
Fathul Makkah atau pembebasan Makkah merupakan peristiwa yang terjadi pada 630 M tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, yaitu saat Rasulullah beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Kabbah.Pada 628 M, Kaum Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Dalam perjanjian tersebut terdapat kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata selama sepuluh tahun. Hubungan antara kaum Quraisy dan Muslim pun membaik. Hingga kemudian kesepakatan 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, yang menyerang Bani Khuzzah yang merupakan sekutu Muslim. Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi Rasulullah menolak.
Kemudian sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Kaum Quraisy ketakutan, banyak suku-suku (kafir) yang meletakan senjata. Abu Sufyan akhirnya masuk Islam. Sebagai penghormatan atasnya, Nabi mendoakannya. Kemudian beliau berseru, ”Barang siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia akan aman; barang siapa yang menutup pintu ruahnya, ia akan aman; dan barang siapa yang memasuki masjidil Harrom dia juga aman”. Penduduk Makkah pun kemudian berbondong-bondong menyatakan masuk Islam. Pada saat kemenangan itu, Nabi tidak pernah merasa dendam atas derita yang dialami dulu di Makkah. Setiap kejahatan yang pernah beliau derita telah ia lupakan. Bahkan kemenangan itu terjadii tanpa ada pertumpahan darah.
3.Perang Badar
Peristiwa ini merupakan pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, dalam keadaan sedang berpuasa dan kurang dalam segi perlengkapan, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”. (QS Al-Imran:123)
4. Peristiwa Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Tabuk
Ketika pengaruh Nabi Muhammad SAW tersebar ke pelosok Semenanjung tanah arab, ia memberikan pukulan kepada rom yang menjadi kekuatan besar di masa itu. Lantas herkules, kaisar rom timur (bizantin) memutuskan untuk memblokir pengaruh umat islam dengan utara tanah arab.Bila berita itu sampai ke pengetahuan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, beliau mengarahkan umat islam berkumpul untuk menghadapi Rom dan mengutip zakat. Pada waktu itu tanah arab dilanda panas dan kesusahan. Iman umat islam saat itu benar-benar teruji. Namun, mereka tetap taat kepada perintah Nabi Muhammad SAW. Beliau sendiri memimpin tentara sebanyak 30.000 anggota ke utara Madinah.
Bila tentara islam tiba di tabuk, tentara rom tidak berada di situ. Sebaliknya rom menarik diri saat mengetahui serangan pasukan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam yang banyak. Tentara islam terus mengasak rom sehingga Termeterai perjanjian antara islam dan rom. Sebagai persetujuan, rom tunduk dan bernaung di bawah pemerintahan Nabi Muhammad dan dikenakan pajak sebesar 3.000 dinar setiap tahun.
5. Islam Sampai ke Yaman
Yaman terletak di selatan semenanjung Tanah Arab. Nabi muhammad mengutus Ali bin Abi Thalib dengan membawa surat beliau untuk penduduk yaman khususnya suku Hamdan. Dalam periode satu hari, semua mereka memeluk agama islam secara aman. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-10 hijrah.6. Khalid bin Walid Meruntuhkan Berhala Al ‘uzza
Setelah umat islam membebaskan kota Makkah, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyucikannya dengan memusnahkan 360 patung di sekeliling Ka'bah. Lima hari sebelum berakhirnya ramadhan tahun ke-9 hijrah, ia mengirim khalid al walid untuk memusnahkan patung al 'Uzza di nakhla.Menurut kepercayaan arab jahiliyah, al 'Uzza adalah patung dewi terbesar di situ. Ia sering disebut oleh masyarakat arab saat melafalkan sumpah. Khalid al Walid melaksanakan tugas itu dengan bergerak menuju ke nakhla lalu menghancurkan patung al 'Uzza. Setelah itu, penyembahan patung pun berakhir.
7. Penyerahan Kota Ta'if
Kota Ta'if pernah mencatat sejarah ketika penduduknya mengusir Nabi Muhammad SAW saat berdakwah di sana. Setelah beliau dan umat islam berhasil membebaskan Makkah, kaum Bani Thaqif bersikeras tidak mau tunduk kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Nabi Muhammad SAW dan tentara islam mara ke Taif lalu mengepungnya dalam waktu lama. Akhirnya rombongan mereka datang ke Makkah di bulan Ramadan tahun ke-9 hijrah dengan menyerahkan kota Ta'if sebagai tanda menyerah. Patung al laata yang dipuja sebelum ini dimusnahkan.8. Pembebasan Andalusia (Spanyol)
Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Siberia yang diperintah oleh orang islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492 Masehi. Pada 28 Ramadhan tahun ke-92 hijrah, panglima islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk menawan andalus. Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa.Setelah pasukan islam mendarat, tariq membakar kapal-kapal tentara islam agar mereka tidak berpikir untuk mundur. Akhirnya andalus ditawan dan menyelamatkan rakyatnya yang dizalimi. Islam bertapak di andalus selama delapan abad dan merusak peradaban yang tinggi nilainya kepada dunia barat.
9. Tentara Islam Mengalahkan Tentara Mongol
Pada tahun 126 sampai 1405 Masehi, kaum mongol melebarkan penaklukannya hampir semua benua Asia. Menurut catatan, kekaisaran penaklukan mereka meliputi seluas 33 juta kilometer persegi. Jenderal tentara Mongol dikenal sebagai Genghis Khan. Dalam misi penaklukan itu, mereka membunuh lebih sejuta rakyat negara yang dikalahkan. Penaklukan mereka menjangkau sampai ke Moscow dan Kiev.Pada tahun 1258, tentara pimpinan jenderal Hulagu Khan merebut Kota Baghdad yang menjadi kemegahan dinasti Abbasiah. Dalam serangan itu, banyak umat islam terbunuh dan banyak buku karangan sarjana islam dibuang ke dalam Sungai Furat dan Dajlah sehingga airnya menjadi hitam karena tinta.Pada 15 Ramadan 658 hijrah bersamaan 1260 Masehi, tentara islam bangkit membuat serangan balas. Tentara islam dan para ulama pimpinan sultan qutuz dari dinasti Mamluk, Mesir mara ke Palestina setelah Mongol menguasainya. Kedua pihak bertemu di 'ain jalut.
Dalam pertempuran itu, tentara islam meraih kemenangan dan berhasil menawan Kitbuqa Noyen, seorang letnan kristen yang memberi nasihat kepada Hulagu Khan untuk menyerang Baghdad. Kitbuqa akhirnya dieksekusi. Kemenangan itu adalah suatu yang luar biasa saat Mongol yang terkenal dengan kekerasan akhirnya kalah pada tentara islam.
Kumpulan Kisah Nabi SAW di Bulan Ramadan, Dari Terima Wahyu Al Quran hingga Perintah Segerakan Berbuka Puasa
Kumpulan kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang dialami Beliau di Bulan Ramadan menarik untuk disimak. Apa saja kisah Baginda Nabi SAW ini? Kumpulan... | Halaman Lengkap [2,247] url asal
#nabi-muhammad-saw #peristiwa-sejarah-di-bulan-ramadhan #kisah-nabi-muhammad #bulan-suci-ramadan #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/02/26 05:15
v/133102/
Kumpulan kisah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalamyang dialami Beliau di Bulan Ramadan menarik untuk disimak. Kisah-kisah tersebut tentu saja sangat bersejarah, baik peristiwa yang menakjubkan maupun upaya Beliau dalam memperjuangkan nasib umatnya.Dirangkum dari sejumlah referensi, berikut kisah-kisah Nabi Muhammad SAW yang terjadi di Bulan Ramadan:
1. Menerima Wahyu Al-Quran
Kisah pertama yakni ketika Nabi Muhammad SAWdalam menerima wahyu dari Allah SWT. Mengutip dari buku '49 Teladan dalam Al-Quran', dijelaskan bahwa sejarah turunnya Al-Quran kepada Rasulullah diperkirakan memakan waktu kurang lebih selama 23 tahun atau sekitar 22 bulan 22 bulan 2 hari.Disampaikan Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saat beliau sedang berkhalwat atau bermeditasi di Gua Hira yang ada di Bukit Jabal Nur. Peristiwa tersebut bertepatan pada tanggal 17 Ramadan malam hari yang disebut sebagai malam Lailatul Qadar. Pada saat itu Rasulullah berusia 40 tahun.
Surat dalam Al-Quran yang pertama kali diturunkan adalah Surat Al-Alaq ayat 1-5. Terkait diturunkannya Al-Quran di malam Lailatul Qadar telah disampaikan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1 dan Ad Dukhan ayat 2-3.
Adapun bunyi dari kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut:
"Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr."
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar" (Q.S. Al-Qadr: 1).
"Wal-kitâbil-mubîn. Innâ anzalnâhu fî lailatim mubârakatin innâ kunnâ mundzirîn."
Artinya: "Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas. Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan" (Q.S. Ad-Dukhan: 2-3).
2. Memenangkan Perang Badar
Perang Badar adalah perang antara umat Muslim dan kaum Quraisy, yang dikenal sebagai perang besar pertama dalam Sejarah Islam. Perang ini mengalami perpecahan pada 17 Ramadan di tahun kedua Hijriah.Merujuk pada Islamic Relief, penyebab adanya perang Badar disebabkan oleh perseteruan di antara keduanya. Kaum Quraisy seringkali menghalangi jalan penyebaran ajaran Islam. Mereka menyulitkan para Muslimin yang ingin berbagi ajaran Allah SWT, seperti yang diceritakan dalam Kitab As-Sirah an-Nabawiyah oleh Abdul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi.
Saat itu, perbandingan pasukan antara Muslim dan Quraisy berbanding jauh, di mana mereka berisikan kurang lebih 1.000 prajurit, dengan 100 ekor kuda. Sedangkan umat Muslim hanya terdiri dari sekumpulan 300 laki-laki dengan dua ekor kuda. Dengan perbandingan jumlah yang sangat signifikan, dapat dikatakan bahwa umat Muslim akan dengan mudahnya dikalahkan oleh suku Quraisy.
Dalam Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah oleh Shafiyurrahma al-Mabarakfuri, perang ini mengambil waktu saat kafilah dagang Quraisy yang sedang perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah, dihadang oleh pasukan Madinah. Kafilah dagang Quraisy tersebut membawa kekayaan penduduk Makkah, sebanyak 1.000 ekor unta membawa harta benda bernilai 5.000 dinar.
Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW berkata pada para Muslim, “Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Halangi ia, semoga Allah SWT memberikan barang rampasan itu pada kalian.”
Peperangan pun dimulai. Tak ada rasa takut tergambar di wajah Nabi Muhammad SAW selama ia dan pasukannya berjalan dari Madinah menuju medan peperangan. Dengan menyiapkan taktik serta siasat dari Nabi Muhammad SAW, pasukan Muslim sampai pada mata air Badar lebih dahulu dibandingkan kaum Quraisy. Hal ini sebagai upaya untuk mengamankan air beserta cadangannya di tengah lembah gurun Badar.
Orang yang pertama kali gugur adalah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang kaum Quraisy yang kasar, yang berusaha merebut pasokan air dari para Muslim. Tetapi, gerakannya itu dihalangi oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Kemudian, ia menebas kaki Al-Aswad hingga terputus dan membuatnya tercebur dalam mata Air Badar, hingga berakhir meninggal dunia dihabisi oleh Hamzah.
Selanjutnya, perang semakin pecah dengan jatuhnya 3 penunggang kuda Quraisy yang juga komando pasukan. Hal itu membuat kaum Quraisy naik pitam dan semakin murka dalam penyerangan ke pasukan Muslim.
Sedangkan itu, Rasulullah SAW berdoa dan memohon bantuan pada Allah SWT, memohon akan kemenangan, hingga pada akhirnya dalam riwayat Muhammad bin Ishaw menyebutkan: “Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah SWT kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditungganginya di atas gulungan-gulungan debu.”
Dengan bantuan para malaikat, para Muslim pun berperang. Dalam riwayat Ibnu Sa’ad dari Ikrimah, dia berucap, “Pada saat itu ada kepala orang musyrik yang terkulai, yang tak diketahui siapa yang melakukannya. Ada juga tangan yang terputus, juga tanpa diketahui siapa yang melakukannya.”
Peperangan besar ini terjadi dalam dua jam, yang berakhir kemenangan pada pasukan Muslim. Mereka berhasil meruntuhkan pertahanan kaum Quraisy hingga mereka mundur dan menyerah. Setelah enam tahun berakhirnya Perang Badar, para Muslim berhasil menyebarkan ajaran Islam di Makkah dengan damai, tanpa adanya gangguan dari kaum Quraisy.
Perang besar Badar ini pun disebut dalam surah Ali Imran ayat 123-126
Wa laqad nashrakumullahu bibadriw wa antum adzillah, fattaqullaha la’allakum tasykurun
Artinya: “Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (QS Ali Imran 3:123)
Perang Badar ini memiliki nilai penting dalam ajaran Islam. Ia menggambarkan bagaimana rasa tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT dapat memberikan bantuan tiada tara kepada hambaNya.
3. Pembebasan Kota Makkah
Peristiwa yang dialami oleh Rasulullah selanjutnya yang bertepatan dengan bulan Ramadan adalah melakukan pembebasan Kota Makkah. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam buku 'Makkah: Kota Suci Yang Dirindukan Umat' karya Rizem Aizid, bahwa peristiwa pembebasan Kota Makkah juga dikenal sebagai Fathu Makkah.Dijelaskan bahwa Fathu Makkah merupakan peristiwa yang terjadi pada 10 Ramadan tahun 8 Hijriah. Pada saat itu Rasulullah beserta puluhan ribu pasukannya bergerak dari Madinah menuju Makkah. Mereka menguasai kota tersebut sepenuhnya.
Pembebasan Kota Makkah terjadi tanpa pertumpahan darah. Setelah berhasil melakukannya, Rasulullah dan pasukannya membersihkan Ka'bah dari berbagai patung berhala. Diketahui bahwa patung-patung berhala sebelumnya diletakkan oleh kaum Quraisy di bagian dalam maupun sekitar Ka'bah.
Selesai pembebasan Makkah, Rasulullah meminta Billal bin Rabbah untuk mengumandangkan adzan dari atas Ka'bah. Momentum tersebut juga digunakan oleh umat Islam untuk melakukan sholat secara berjamaah untuk pertama kalinya di sana. Sebaliknya, penduduk Makkah berkumpul di depan Ka'bah dengan menyesali perbuatan buruk mereka kepada Rasulullah.
Rasulullah pun mengampuni dan sama sekali tidak menghukum mereka. Mengetahui hal tersebut, penduduk Makkah berbondong-bondong masuk Islam. Mereka juga bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.
Terkait peristiwa pembebasan Kota Makkah ini disebutkan dalam firman Allah SWT melalui Surat An-Nashr. Adapun bunyi dari surat tersebut adalah sebagai berikut:
"Idzâ jâ'a nashrullâhi wal-fat-ḫ. Wa ra'aitan-nâsa yadkhulûna fî dînillâhi afwâjâ. Fa sabbiḫ biḫamdi rabbika wastaghfir-h, innahû kâna tawwâbâ."
Artinya: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat."
4.Kisah teladan tentang Puasa dari Abu Thalhah
Ada satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Thalhah. Ia merupakan sosok yang sangat rajin menunaikan ibadah puasa. Melalui riwayat Anas bin Malik, diceritakan bahwa Abu Thalhah selalu berpuasa sepeninggalan Nabi Muhammad SAW selama 40 tahun.Dalam buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi dkk, dijelaskan Abu Thalhah tidak menunaikan puasa hanya pada hari-hari yang diharamkan, seperti hari besar, atau saat ia sedang sakit. Selain rajin menunaikan puasa, Abu Thalha juga tak pernah meninggalkan salat malam dan selalu berjihad di jalan Allah.
Ia tak pernah lelah menegakkan ajaran Allah SWT dalam keseharian hidupnya, bahkan hingga sudah berusia lanjut yang renta. Anak-anaknya memperingatkan dengan menasihati Abu Thalhah perihal umurnya yang sudah renta, namun ia tetap bulat akan tekadnya untuk berjihad dan berlaut bersama pasukan pengembara Muslim lainnya.
Seorang anak dari Abu Thalhah berujar:
“Semoga Allah memberikanmu rahmat selalu, wahai ayah kami. Kau sekarang sudah amat tua. Sudah berjuang bersama Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar. Mengapa kau tidak rehat saja dan biarkan kami melanjutkan jihadmu?”
Segera Abu Thalhah menimpali melalui firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 41:
Infirụ khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidụ bi`amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum ing kuntum ta'lamụn
Artinya: "Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,"
Sayangnya, Abu Thalhah wafat dalam perjalanan tersebut. Ia wafat dalam keadaan menjalani ibadah puasa.Di waktu itu, para pasukan Muslim tidak menemukan pulau untuk bersandar agar bisa mengebumikan jenazahnya.
Selama tujuh hari mereka mencari pulau, jenazah Abu Thalhah tetap utuh dan tidak berubah. Jasadnya terlihat seperti orang yang tertidur. Oleh karenanya, dipercayalah bahwa jasad utuhnya itu disebabkan amalan berpuasa yang rajin dilakukannya.
5. Turunnya Perintah Sahur
Kisah teladan Qais bin Shirmah yang merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW satu ini menceritakan bagaimana Allah SWT mengerti keadaan para hambaNya. Meskipun Qais harus bekerja keras sebagai tukang kebun di sebuah kebun kurma, ia selalu taat beribadah. Kisah Qais bin Shirmah yang terkenal adalah saat ia jatuh pingsan di tengah waktu bekerja, dikarenakan tak sempat makan dan minum saat sahur.Kisah inilah yang menjadi asal muasal turunnya firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 187, mengenai perintah sahur dalam menjalani ibadah puasa bulan Ramadan.
Dalam riwayat Abu Daud, pada saat zaman Rasulullah SAW, para umat Islam yang sudah menunaikan salat Isya, mereka tak diperkenankan untuk mengonsumsi makanan maupun minuman. Hadis riwayat tersebut menjelaskan bahwasanya pada waktu itu, puasa dimulai setelah Isya. Hal ini disebabkan, sehabis Isya ialah waktu orang-orang akan mulai masuk ke waktu tidurnya.
Pada awal-awal perintah berpuasa diwajibkan pada umat Islam, belum ada ketentuan yang mengatur dengan jelas mengenai batasan waktu diperbolehkannya untuk makan dan minum ketika berpuasa. Beberapa sahabat Nabi yang akan berpuasa, tertidur dan tak sempat melakukan sahur di dini hari.
Akibatnya, di esok hari, mereka berpuasa dalam keadaan perut kosong dari semalam. Salah satu sahabat Nabi yang bernama Qais bin Shirmah, mengalamai hal ini.
Qais bin Shirmah adalah seorang yang berasal dari kaum Anshar, yang bekerja sebagai tukang kebun kurma. Sifatnya yang taat akan ibadah, tak mengecualikannya dalam berpuasa meskipun memiliki pekerjaan yang cukup berat dan keras.
Walaupun berpuasa, ia tak sedikitpun mengurangi rasa giat dan semangat bekerjanya. Saat memasuki waktu berbuka puasa, ia pun kembali ke rumah dan bertanya pada istrinya tentang makanan berbuka. Akan tetapi, istrinya menjawab tidak ada sedikitpun makanan yang tersedia.
Ia berkata, “Maafkan aku suamiku. Hari ini kita tak ada makanan sedikitpun. Tunggu sebentar, akan ku carikan makanan untukmu.” Sang istri pun pergi keluar rumah, sedangkan Qais bin Shirmah yang kelelahan dari bekerja, jatuh terlelap dengan perut yang kosong.
Saat si Istri pulang membawa makanan, ia melihat suaminya yang tertidur dan enggan untuk membangunkannya. Sehingga di keesokan harinya, Qais tetap pergi bekerja walau tak sempat makan apapun sejak berpuasa kemarin. Akan tetapi, saat dirinya tengah bekerja, tiba-tiba ia jatuh dan pingsan.
Para sahabat Nabi yang lain mengetahui hal ini pun langsung mengabari Rasulullah, karenanya turunlah ayat 187 dari QS Al-Baqarah yang berbunyi:
Uhilla lakum lailatas-shiyaamir-rofasu ilaa nisaaa-ikum, hunna libaasul lakum wa angtum libaasul lahunn, ‘alimallohu annakum kungtum takhtaanuuna angfusakum fa taaba ‘alaikum wa’afaa ‘angkum, fal-aana baasyiruuhunna wabtaghuu maa kataballohu lakum, wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul-khoithul-abyadhu minal-khotil-aswadi minal-fajr, summa atimmush-shiyaama ilal-laiil, wa laa tubaasyiruuhunna wa angtum ‘aakifuuna fil-masaajid, tilka hududullohi yubayyinullohu aayaatihii lin-naasi la’allahum yattaquun
Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
Dari kisah teladan sahabat Nabi Muhammad SAW satu ini, dapat kita ambil pelajarannya mengenai ketaatan seorang hamba Allah pada perintahNya.
6. Perintah Menyegerakan Berbuka Puasa
Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW, saat kita menunaikan berpuasa, maka penting bagi kita mendahulukan berbuka puasa ketika adzan Maghrib berkumandang jelas. Akan tetapi, ternyata ada seseorang yang lebih suka menunda-nunda waktu berbuka. Hal yang sangat berbanding terbalik sekali dengan anjuran Nabi.Ada sebuah kisah di mana ada seorang laki-laki yang dikenal sebagai ahli puasa. Ia menunaikan banyak ibadah berpuasa, tetapi ia justru suka mengakhirkan waktu berbuka puasanya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menceritakan kisah ini dalam Al-Ruh dari Al-Qairuwani yang menerima berita dari seorang syeikh begitu memiliki banyak keutamaan. Syeikh itu menerima kabar dari seorang ahli fikih. Yang di mana, ia bercerita, kala itu, mereka pernah berteman dengan seorang lelaki yang sering berpuasa, bahkan terus menerus berpuasa tanpa ada hentinya. Sayangnya, ia terbiasa mengakhirkan waktu berbuka.
Tatkala tidur, orang itu melihat ada dua orang hitam yang seolah menarik lengan atasnya dan bajunya untuk dibawa ke perapian yang menyala merah dan melemparkan ke dalamnya.
Lelaki itu bertanya, “Mengapa kalian melakukan ini?”
Kedua orang hitam itu menjawab, “Karena engkau menyalahi sunnah Rasulullah SAW. Sesungguhnya ia memerintahkan untuk selalu mendahulukan waktu berbuka, tetapi engkau justru mengakhirinya.”
Kemudian, di pagi harinya, sebangunnya ia dari tidur, ia menyadari bahwa mimpi semalam benar terjadi. Wajah dari lelaki ahli puasa tersebut menjadi hitam sebab terbakar api. Sehingganya, ia menjadi malu dan menutupi wajahnya dari hadapan orang-orang sekeliling.
Oleh karena itu, nantinya di bulan Ramadan esok, sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, segerakanlah untuk berbuka puasa jika sudah memasuki waktunya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56