#30 tag 24jam
Kumpulan Doa Isra Mikraj, Cek di Sini Saja!
Kumpulan doa ini dianjurkan diamalkan di siang maupun malam Isra Mikraj. Seperti diketahui, dalam Islam peristiwa Isra Mikraj ini diperingati setiap tanggal 27... | Halaman Lengkap [561] url asal
#kumpulan-doa #isra-mikraj #amalam-isra-miraj #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 16/01/26 16:57
v/95473/
Kumpulan doa ini dianjurkan diamalkan di siang maupun malam Isra Mikraj. Seperti diketahui, dalam Islam peristiwa Isra Mikrajini diperingati setiap tanggal 27 Rajab yang bertepatan dengan tanggal 16 Januari 2026 nanti. Hari istimewa, di mana Nabi Muhammad melakukan perjalanan Agung dari Masijdil Haram ke Masjidil Aqsa dan ke langit ketujuh.Apa saja doa-doa yang dianjurkan diamalkan di hari istimewa tersebut? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut doa-doa yang bisa dipanjatkan sepanjang bulan Rajabini:
1. Doa malam Isra Mikraj
Allohumma thohhir lisaanii minal kadzibi wa qolbii minan nifaaqi wa ‘amalii minar riyaa-i wa bashorii minal khiyaanati fa innaka ta’lamu khoo-inatal a’yuni wa maa tukhfish shuduuru.Artinya "Ya Allah, sucikanlah lisanku dari dusta, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, sucikanlah amalku dari riya, sucikanlah penglihatanku dari khianat, sesunguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh hati."
2. Doa Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Beliau adalah sahabat Rasulullah dan juga sebagai seorang khalifah yang sangat patuh dan taat akan perintah Allah dan Rasul-Nya. Beliau juga sangat memuliakan bulan ini dengan membaca doa malam pertama bulan Rajab yaitu:Artinya: “Ya Allah, limpahkan rahmat ta'dzim kepada Muhammad dan keluarganya yang menjadi pelita-pelita hikmah, pemilik kenikmatan, sumber perlindungan. Jagalah kami sebab (keberkahan) mereka dari keburukan. Dan jangan engkau ambil kami dalam kondisi tertipu, tidak pula dalam keadaan lupa. Jangan jadikan akhir urusan kami sebagai penyesalan. Ridhailah kami. Sesungguhnya ampunan-Mu bagi orang-orang yang zalim, dan aku bagian orang yang zalim itu.
Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang tidak pernah bisa membahayakan-Mu, berilah aku sesuatu yang memang tak ada manfaatnya sama sekali untuk-Mu. Sesungguhnya Engkau itu maha luas rahmat-Nya. Hikmahnya yang sangat indah. Berikan kami kelapangan dan ketenteraman, keamanan dan kesehatan, serta rasa syukur, selamat sentosa dan ketakwaan. Berikan kesabaran dan kejujuran kepada kami dan orang-orang yang Engkau cintai. Berikan kami pula kemudahan yang tidak ada kesulitannya sama sekali.
Semoga itu semua juga Engkau berikan bagi keluarga kami, anak kami, saudara-saudara kami seagama. Dan Engkau berikan kepada orang tua yang telah melahirkan kami, dari muslimin muslimat, mu'minin mu'minat." (Syekh Abdul Qadir bin Shalih al-Jilani, al-Ghun-yah, Dārul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997, juz 1, halaman 328-329).
3. Doa Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Beliau adaah seorang ulama tasawuf yang sangat disegani dan dianggap sebagai wali Allah dalam dunia tarekat dan sufisme, berdoa pada malam pertama bulan Rajab dengan bacaan sebagai berikut:Artinya: "Ya Tuhanku, pada malam ini orang-orang yang berpaling (dari rahmat-Mu) telah berpaling, orang-orang yang mempunyai tujuan telah datang (pada-Mu), dan para pencari telah mengharap anugerah dan kebaikan-Mu. Pada malam ini, Engkau mempunyai tiupan rahmat, piagam-piagam penghargaan, aneka macam pemberian dan anugerah. Engkau berikan semua itu terhadap hamba-hamba-Mu yang Engkau kehendaki.
Dan Engkau tidak memberikannya terhadap orang yang tidak memperoleh pertolongan dari-Mu. Inilah aku, hamba-Mu yang sangat berharap pada-Mu, berharap anugerah dan kebaikan-Mu. Apabila Engkau, wahai Tuan kami, telah mengemukakan anugerah-Mu di malam ini terhadap seseorang dari makhluk-Mu, dan Engkau berikan kebaikan padanya dengan berbagai sambungan kelembutan-Mu, maka anugerahkan rahmat atas Nabi Muhammad shalallahu aliahi wasallam beserta keluarganya. Berikanlah atasku dengan kekayaan dan kebaikan-Mu. Wahai Tuhan seru sekalian alam." (Syekh Abdul Qadir bin Shalih al-Jilani, al-Ghun-yah, Dārul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997, juz 1, halaman 328).
Doa Malam Isra Miraj 27 Rajab, Momentum Memohon Ampunan dan Menguatkan Iman
Malam Isra Mi'raj 27 Rajab adalah waktu mustajab untuk berdoa, memohon ampunan, dan memperkuat iman melalui amalan seperti salat, zikir, dan doa. [387] url asal
#isra-miraj #malam-27-rajab #doa-malam-isra-miraj #ampunan-isra-miraj #kekuatan-iman #peristiwa-isra-miraj #salat-lima-waktu #amalan-isra-miraj #zikir-isra-miraj #doa-27-rajab #sejarah-isra-miraj #pesa
(Bisnis.Com - Terbaru) 16/01/26 16:07
v/105414/
Bisnis.com, BANDA ACEH — Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada malam 27 Rajab menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak doa, zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Malam yang sarat makna ini diyakini sebagai waktu mustajab untuk memohon ampunan, keberkahan, serta kekuatan iman melalui berbagai amalan yang dianjurkan para ulama.
Mengutip dari situs BAZNAS (15/01/2026), Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha.
Peristiwa luar biasa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam karena pada saat itulah Allah SWT mewajibkan salat lima waktu kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Dalam menyambut malam Isra’ Mi’raj, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan seperti salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, bershalawat, serta memanjatkan doa. Amalan tersebut menjadi sarana refleksi spiritual untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus menenangkan hati dan jiwa.
Dikutip dari situs NU Online (15/01/2026), salah satu doa yang dianjurkan dibaca pada malam 27 Rajab adalah doa yang diriwayatkan oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri. Adapun bacaan doanya sebagai berikut:
اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ
Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.
Artinya: “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”
Syekh Abdurrahman bin Abdussalam as-Syafi’i dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafaiz menjelaskan bahwa siapa pun yang membaca doa tersebut pada tanggal 27 Rajab lalu menyebutkan hajatnya kepada Allah SWT, maka Allah akan mengabulkan permintaannya, melapangkan urusannya, serta menghidupkan hatinya ketika banyak hati manusia mulai lalai.
Lebih dari sekadar peringatan sejarah, Isra’ Mi’raj mengandung pesan moral mendalam tentang pentingnya menjaga salat, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta keyakinan penuh kepada pertolongan Allah SWT.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa kedekatan spiritual dan keikhlasan ibadah menjadi kunci ketenangan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
Mengenal Sosok Ummu Hani' Sepupu Nabi Muhammad SAW, Saksi Hidup Peristiwa Isra Mikraj
Dikenal dengan panggilan Ummu Hani, bernama lengkap Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Muslimah ini merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW yang... | Halaman Lengkap [661] url asal
#ummu-hani #isra-mikraj #fakhitah-binti-abi-thalib #saksi #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/01/26 12:50
v/104278/
Dikenal dengan panggilan Ummu Hani, bernama lengkap Fakhitah binti Abi Thalibbin Abdul Muthalib bin Hasyim. Muslimah ini merupakan sepupu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Namanya memang tidak sepopuler para shahabiyah , namun Ummu Hani memiliki keistimewaan di mata Rasulullah, karena ia merupakan saksi peristiwa besar yang dialami Nabi SAW yakni Isra Mikraj.Mengenal Ummu Hani bisa diketahui saat membaca buku-buku hadis Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadhush Shalihin. Dari beberapa literatur itu, beberapa kali terlintas sebagai periwayat hadisNabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ia adalah sepupu Nabi dan kakak perempuan dari dua orang laki-laki istimewa; Ali bin Abi Thalib dan Ja’far bin Abi Thalib.
Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Ada juga yang meriwayatkan nama Ummu Hani’ adalah Hindun. Tapi yang populer dan banyak periwayatannya adalah Fakhitah. Nabi Muhammad sangat mencintai sepupu-sepupunya, anak dari pamannya Abu Thalib. Ketika orang tua dan kakek Nabi wafat, sang pamanlah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Nabi SAW membalas kasih sayang pamannya dengan memberi perhatian dan cinta kepada sepupu-sepupunya yang masih kecil.
Diriwayatkan, sebelum masa kerasulan, Rasulullah pernah melamar Fakhitah. Namun Abu Thalib menolak tawaran itu. Dan menerima pinangan Hubayra bin Abi Wahb. Karena bani Makhzum, klan Hubayra, pernah menikahkan putri mereka dengan salah seorang dari kabilah Abu Thalib. Sehingga untuk menjaga hubungan baik, kabilah Abu Thalib membalas perlakuan itu. Nilai inilah yang berlaku dalam tradisi Arab kala itu. Akhirnya Fakhitah menikah dengan Hubayra.
Pasangan ini tinggal di Mekah dan dikaruniai empat orang anak. Yang tertua bernama Hani’. Karena itu Fakhitah dikenal dengan Ummu Hani’ (ibunya Hani’). Namun sayang, sang suami enggan memeluk Islam. Saat Fathu Makkah, ia lari keluar Mekkah. Enggan memeluk Islam.
Ummu Hani’ pernah menemui Rasulullah di hari penalukkan Kota Makkah. Ia menceritakan, “Aku pergi menemui Rasulullah pada tahun penaklukkan Kota Mekah. Saat itu beliau sedang mandi. Dan putrinya Fatimah menutupinya (dengan tabir). Kuucapkan salam. Beliau (di balik tabir) bertanya, ‘Siapa itu?’ ‘Aku, Ummu Hani’ binti Abi Thalib’, jawabku. ‘Marhaban Ummu Hani’, sambut beliau. Usai mandi beliau menunaikan shalat 8 rakaat dengan berbalut satu pakaian. Setelah shalat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saudaraku –Ali bin Abi Thalib-, ingin membunuh seseorang yang aku lindungi, Fulan bin Hubayra’. Rasulullah bersabda, ‘Sungguh kami melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani’’. ‘Jika demikian jelas masalahnya’, jawab Ummu Hani’. (HR. al-Bukhari juz: 5. Hal: 2280).
Ketika Ummul Mukminin Khadijah wafat, Rasulullah merasa begitu sedih. Dalam keadaan itu, beliau sering menemukan penghiburan di rumah Umm Hani’. Keluarganya mendukung dan menghiburnya saat beliau sedang berkabut duka. Umm Hani’ adalah sosok penting dalam sejarah Islam. Dari rumahnya, di bawah atap yang menjadi langit keluarganya, sebuah kemukjizatan pernah terjadi. Kediamannya yang penuh berkah menjadi saksi peristiwa Isra Mi’raj.
Nabi Muhammad SAW datang ke rumah Umm Hani’, melakukan shalat malam lalu tidur di sana. Malam itu, rumah Ummu Hani’ dikunjungi malaikat paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, untuk menjemput Nabi Muhammad SAW. Dari sanalah peristiwa Isra Mi’raj bermula. Perjalanan satu malam menuju Jerusalem dan Sidratul Muntaha dimulai. Saat fajar tiba, Nabi pun kembali ke tempat yang sama. Kemudian Nabi SAW mengabarkan Ummu Hani’ tetang perjalanannya. Ia pun mengimani sabdanya.
Hadis-hadis yang Diriwayatkan
Dari Abdurrahmaan bin Abi Laila. Ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha kecuali Ummu Hani’. Sungguh ia pernah mengatakan, “Sesungguhnya Nabi SAW pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu Makkah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan rakaat. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. al-Bukhari no. 1176).Dari Ummu Hani’. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepadanya, “Peliharalah kambing wahai Ummi Hani’, karena ia pergi dengan kebaikan dan kembali dengan kebaikan.” (HR. Ahmad No.25667).
Dan masih banyak hadis-hadis lain yang beliau riwayatkan. Untuk usianya, tidak ada sumber yang dapat dijadikan rujukan tentang kapan wafatnya Ummu Hani’. Kabar yang disepakati tentang usianya adalah Ummu Hani’ hidup hingga lebih dari 50 H.
Kisah Lengkap Isra Mikraj, Mukjizat Luar Biasa Nabi Muhammad SAW
Dalam peristiwa Isra Mikraj terdapat banyak hikmah dan pelajaran berharga. Inilah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu mukjizat besar Baginda Nabi... | Halaman Lengkap [1,077] url asal
#isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #kisah-isra-miraj #mukjizat-nabi-muhammad #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 15/01/26 05:15
v/103841/
Umat Islam selalu memperingati Isra Mikrajpada 27 Rajab yang tahun ini jatuh pada Jumat (16 Januari 2026) besok. Di dalamnya terdapat banyak hikmah dan pelajaran berharga. Inilah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu mukjizat besar Baginda Nabi SAW.Diyakini pada tanggal 27 Rajab ini, Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam melakukan perjalanan istimewa dari Makkah hingga ke tempat tertinggi Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam saja. Allah meng-isra'-kan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari hingga menembus tujuh lapis langit. Dalam riwayat, beliau melakukan Isra Mikrajsatu tahun sebelum Hijrah.
Peristiwa yang tidak biasa, namun bagi Allah jika Dia berkehendak maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis Palestina dan dilanjutkan ke langit hingga tempat paling tinggi Sidratul Muntaha.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) di Palestina. Sedangkan Mikraj adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa menuju 'Arasy untuk menghadap Allah Ta'ala.
Apabila membahas Isra Miraj, pikiran kita akan tertuju ke tempat paling tinggi yaitu Sidratul Muntaha. Di sinilah tempat perhentian terakhir Nabi Muhammad SAW saat Isra Mikraj.
Di tempat paling tinggi ini Rasulullah SAW bertemu dengan Rabb Yang Maha Agung. Kemudian menerima perintah salat 5 waktu sehari yang awalnya 50 waktu.
Kisah Lengkap Isra Miraj Rasulullah SAW
1. Jibril Membelah Dada Nabi Muhammad SAW
Sebelum diperjalankan dari Masjidil Haram Makkah, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk membelah dada mulia Nabi Muhammad SAW untuk dibersihkan dari sifat-sifat buruk. Para Malaikat membawa Rasulullah ke sumur Zamzam dan melentangkannya. Jibril untuk membelah bagian atas dada mulia Nabi, hingga bawah perutnya.Jibril berkata kepada Mikail: "Berikanlah aku semangkok air Zamzam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya". Lalu dia keluarkan hatinya dan membasuhnya hingga tiga kali dan mencabut apa-apa yang mengganggu hatinya. Mikail kemudian membawa tiga mangkuk air Zamzam, lalu didatangkan satu mangkuk dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman lalu menuangkanya ke dada Rasulullah SAW.
Setelah itu, Baginda Nabi diperjalankan dengan Buraq, hewan tunggangan para Anbiya yang sangat cepat didampingi Malaikat Jibril.
2. Singgah di Lima Tempat
Sebelum menuju Masjidil Aqsa di Palestina, Rasulullah SAW singgah di lima tempat. Setiap persinggahan beliau selalu mengerjakan salat dua rakaat.1. Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah Al-Munawwarah.
2. Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa 'alaihissalam dari Fir'aun.
3. Thur Sina, yaitu sebuah bukit yang merupakan tempat Nabi Musa menerima Kitab Taurat.
4. Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam.
5. Masjidil Aqsa Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut. Baitul maqdis merupakan tempat suci ketiga setelah Mekkah dan Madinah.
Sesampainya di Masjidil Aqsa, Beliau disuguhi dua buah gelas yang masing-masing berisi susu dan arak. Nabi Muhammad SAW mengambil sebuah gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat padanya karena beliau telah memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya.
Setelah menjadi imam di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW dinaikkan ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah bersama Malaikat Jibril.
3. Singgah di Tujuh Lapis Langit
Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha ini, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit yaitu:1. Langit pertama bertemu Nabi Adam 'alaihissalam.
2. Langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Ishaq 'alaihimussalam.
3. Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf 'alaihissalam.
4. Langit keempat bertemu dengan Nabi Idris 'alaihissalam.
5. Langit kelima bertemu dengan Nabi Harun 'alaihissalam.
6. Langit keenam bertemu dengan Nabi Musa 'alaihissalam. Di sini Rasulullah berdialog dengan Nabi Musa terkait perintah salat 50 waktu.
7. Langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam, bapaknya para Nabi (Abul Anbiya).
4. Naik ke Sidratul Muntaha
Setelah melewati ketujuh lapis langit tersebut, Nabi Muhammad SAW diajak ke Baitul Makmur yaitu tempat Malaikat melaksanakan Thawaf dan dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha.Ketika Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha , beliau diselimuti awan yang berwarna-warni. Itulah tempat terakhir Jibril menemani Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan Nabi Muhammad SAW melihat Malaikat Jibril dengan 600 sayapnya di Sidratul Muntaha. Setiap sayapnya menutupi ufuq langit dan dari sayap-sayapnya berjatuhan permata dan Yaqut serta lain-lainnya yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Kemudian Nabi diangkat ke tempat sangat tinggi hingga beliau mendengar suara goretan Al-Qolam (pena yang menulis segala apa yang ada di alam semesta). Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan Allah 'Azza wa Jalla tanpa ditemani Jibril. Beliau menerima perintah salat dari sang Khaliq.
Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan, dinamakan Sidratul Muntaha (pohon puncak) karena ilmu Malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah SAW.
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dinamakan Sidratul Muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana." (Ta'liqat 'ala Shahih Muslim, Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1/145).
Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya: "Wahai Jibril, apakah keduanya ini?" Dia menjawab, "Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat." (HR Al-Bukhari 3207)
Di tempat tertinggi inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah sholat sebanyak 50 waktu sehari. Ketika hendak turun Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa, dan beliau bercerita tentang perintah sholat yang diterimanya dari sang Khaliq.
Mendengar itu, Nabi Musa meminta Nabi Muhammad SAW untuk kembali menghadap Allah guna meminta keringanan. Akhirnya berkat kasih sayang Allah, Nabi Muhammad mendapat keringanan menjadi 5 waktu sholat dalam sehari.
5. Kembali ke Makkah
Setelah menempuh perjalanan agung menembus tujuh lapis langit, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah. Rasulullah dibuat sedih karena Abu Jahal dan kaumya mendustakan beliau. Sayyidina Abu Bakar-lah orang pertama yang membenarkan perjalanan Nabi Muhammad SAW.Kaum musyrik Makkah bertanya kepada Abu Bakar: "Apakah kamu mempercayainya bahwa dia telah berjalan semalam ke Baitul Maqdis dan kembali ke Mekkah sebelum Subuh?". Abu Bakar menjawab: "Iya, sungguh aku mempercayai apa yang lebih hebat dari itu semua. Aku mempercayainya dengan segala kabar langit yang dia kabarkan setiap pagi maupun sore hari." Oleh sebab itulah Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq (yang berkata benar).
Demikian kisah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang penuh hikmah dan pelajaran berharga. Kiranya tidak berlebihan ungkapan yang disampaikan Habib Ahmad bin Novel Jindan dalam satu kajiannya: "Sungguh jika seluruh masa dihabiskan hanya untuk membicarakan tentang peristiwa agung Isra Miraj, maka masa akan sirna sedangkan mutiara-mutiara Isra Miraj tak kunjung habis untuk dipetik."
Hukum Merayakan Isra Mikraj, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Hukum merayakan Isra Mikraj penting diketahui umat Islam. Dan di Indonesia, Isra Mikraj ini diperingati setiap tahun dan menjadi salah satu hari libur nasional... | Halaman Lengkap [698] url asal
#ustaz-farid-numan-hasan #isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #hukum-merayakan-isra-mikraj #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/01/26 05:15
v/101432/
Hukum merayakan Isra Mikraj penting diketahui umat Islam. Dan di Indonesia, Isra Mikraj ini diperingati setiap tahun dan menjadi salah satu hari libur nasional PBHI (peringatan Hari Besar Islam).Bagi umat Islam, Isra Mikrajbiasa diperingati setiap tanggal 27 Rajab, dan tahun ini jatuh pada Jumat (16 Januari 2026). Peristiwa ini dikenal sebagai kejadian luar biasa atau mukjizatyang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Tentang bagaimana hukum memperingatinya? Masih ada selisih pendapat di antara para ulama. Menurut Ustaz Farid Nu'man Hasan (Dai lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia), perbedaan pendapat dalam hal ini sudah lama karena memang mustahil menghilangkan perbedaan pendapat fiqih. Bahkan perbedaan pendapat sudah terjadi sejak masa sahabat Nabi, di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Yang Melarang
Di antaranya para ulama Arab Saudi dan pengikutnya di dunia. Termasuk para ulama di Asy-Syabakah Al-Islamiyyah, yang diketuai oleh Syekh Abdullah Al-Faqih hafizahullah. Mereka beralasan, bahwa hal ini tidak ada dasarnya dalam Islam. Jika memang baik niscaya umat terbaik sudah mencontohkannya.Mereka mengatakan: "Sesungguhnya acara maulid yang dilaksanakan pada malam Isra Mi'raj adalah bid'ah, dan bukan berasal dari agama Islam yang mana Allah Ta'ala utus Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengannya. Hal ini karena beberapa alasan, pertama, Nabi dan para sahabatnya yang mulia, serta para imam Islam, tidak pernah membuat acara pada malam Isra dan Mi'raj.
Jika memang memperingatinya adalah hal yang disyariatkan niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya dibanding kita, karena mereka generasi yang paling bersemangat dibanding kita dalam melakukan kebaikan dan mengejar pahala yang besar. (Fatawa asy Syabakah al Islamiyah no. 38815)
Yang Membolehkan
Pihak yang membolehkan seperti Darul Ifta' al Mishriyyah, termasuk para ulama di Indonesia umumnya. Alasannya hal-hal baru yang sejalan dengan ajaran Islam itu tidak terlarang. Bukan termasuk bid'ah yang tercela. Betapa sering para sahabat nabi melalukan hal-hal atas inisiatif mereka namun tidak ada yang mengingkarinya.Mereka memfatwakan:
فإن قيل: إن هذا أمر مُحدَثٌ، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».. [رواه مسلم]، قلنا: نعم، ولكن من أحدث فيه ما هو منه فليس بردٍّ، بل هو حسن مقبول؛ فهذا سيدنا بلال رضي الله تعالى عنه وأرضاه لم يتوضأ وضوءًا إلا وصلَّى بعده ركعتين، وهذا صحابي جليل يقول بعد الرفع من الركوع: ربنا ولك الحمد حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، وعلِم النبي صلى الله عليه وآله وسلم بذلك وسمعه؛ فبشَّرهما، بالرغم من أن الشرع لم يأمر بخصوص ذلك.وتلاوة القرآن الكريم وذكر الله تعالى من الدين، وإيقاع هذه الأمور في أيِّ وقت من الأوقات ليس هناك ما يمنعه، فالأمر في ذلك على السعة.
"Sesungguhnya peringatan ini ( Isra Mikraj ) di bulan Rajab, adalah boleh secara syar'i. Hal itu tidak apa-apa selama tidak terkandung di dalamnya hal-hal yang diharamkan, tetapi di atas Al-Qur'an, dzikir, dan peringatan. Hal ini tidak ada dalil tentang larangannya.
Jika ada yang bilang: "Ini perkara baru, padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Siapa pun yang menciptakan hal baru dalam urusan agama ini, maka tertolak." (HR Muslim)."
Kami katakan: "Ya, tetapi apa-apa yang baru tapi ada dasarnya maka bukan termasuk yang tertolak, bahkan itu hal yang baik dan bisa diterima. Inilah Sayyidina Bilal radhiallahu 'anhu, beliau tidaklah berwudhu melainkan setelahnya salat dua rakaat. Seorang sahabat yang mulia, membaca setelah bangkit dari ruku: "Rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih", dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar hal itu, justru Rasulullah memberikan kabar gembira kepada keduanya, meskipun secara khusus syariat tidak memerintahkan hal itu.
Al-Qur'an dan zikrullah termasuk bagian dari agama. Maka, Mewujudkan hal ini di waktu kapan pun tidak ada hal yang melarangnya, maka dalam hal ini kita harus berlapang dada.
Sikap Umat Islam Indonesia
Ustaz Farid Nu'man Hasan mengatakan, silakan pilih mana yang paling kuat, dengan timbangan ilmu, namun jangan inkari yang lain, dan jangan rusak persaudaraan. Apalagi sampai dituduh beda aqidah, beda manhaj. Sikapilah seorang muslim tetap muslim, walau dia berbeda dengan yang lainnya beberapa atau banyak masalah fiqih atau cabang.Teladani Para Salaf Saat Berselisih Pendapat
Imam Yahya bin Sa'id Al-Qaththan rahimahullah berkata: "Para ahli fatwa sering berbeda fatwanya, yang satu menghalalkan yang ini dan yang lain justru mengharamkannya. Tapi, mufti yang mengharamkan tidaklah menganggap yang menghalalkan itu binasa karena penghalalannya itu. Mufti yang menghalalkan pun tidak menganggap yang mengharamkan telah binasa karena fatwa pengharamannya itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlih, 2/161)Ada nasihat yang bagus sebagai berikut: "Bukanlah aib dan cela manakala kita berbeda pendapat. Tetapi yang aib dan cela adalah sikap fanatik (ta’ashub) dengan satu pendapat saja dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Menyikapi khilafiyah dengan cara seperti inilah (toleran) yang akan menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu pemikiran. Cukuplah manusia itu terhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim adalah muslim, seperti yang dikatakan oleh Zaid radhiyallahu 'anhu. (Majmu'ah Ar-Rasail, Mu’tamar Khamis, hal. 187)
Kisah-kisah Isra Mikraj (6) : Bumi pun Merasa Bangga kepada Langit
Kisah terjadinya peristiwa agung Isra Mikraj membuat bumi merasa bangga pada langit. Bagaimana penjelasan tentang kebanggan bumi ini? Simak ulasannya berikut ini.... | Halaman Lengkap [421] url asal
#isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #kisah-isra-miraj #penciptaan-langit-dan-bumi #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/01/26 05:15
v/99492/
Kisah terjadinya peristiwa agung Isra Mikrajmembuat bumi merasa bangga pada langit. Bagaimana penjelasan tentang kebanggan bumi ini? Simak ulasannya berikut ini.Kisah ini diceritakan dalam Kitab Tanbihul Ghafilin, Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H). Dikisahkan bahwa bumiberkata kepada langit: "Wahai langit, aku lebih baik darimu karena Allah menghiasku dengan berbagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-anaman, beberapa gunung dan lain-lain". Langit pun berkata: "Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu karena matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, 'Arasy, Kursi dan surga ada padaku".
Bumi tak mau kalah seraya berkata: "Hai langit, di tempatku ada rumah yang dikunjungi dan tempat bertawaf para Nabi, para utusan dan arwah para wali dan kaum shalihin (orang-orang saleh)".
Bumi berkata lagi: "Hai langit, sesungguhnya pemimpin para Nabi dan Rasul bahkan kekasih Allah dan seutama-utamanya wujud dan manusia paling sempurna tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syariatnya juga di tempatku".
Mendengar itu langit tidak dapat berkata apa-apa. Langit mendiamkan diri dan kemudian menghadap Allah Ta'ala dan berkata: "Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan bumi . Karena itu aku meminta kepada-Mu supaya Nabi Muhammad SAW Engkau naikkan ke padaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan berbangga atasnya".
Kemudian Allah Ta'ala mengabulkan permintaan langit. Allah memberi wahyu kepada Malaikat Jibril 'alaihissalam pada malam tanggal 27 Rajab. "Janganlah engkau ( Jibril ) bertasbih pada malam ini dan engkau Izrail jangan mencabut nyawa pada malam ini".
Jibril bertanya: "Ya Allah, apakah kiamat telah sampai?"
Allah Ta'ala berfirman: "Tidak, wahai Jibril . Tetapi pergilah engkau ke Surga dan ambillah Buraq dan kemudian temui Nabi Muhammad SAW dengan Buraq itu". Kemudian Jibril pergi dan dia melihat 40.000 Buraq sedang bersenang-senang di taman Surga dan di wajah masing-masing terdapat nama Muhammad .
Di antara 40.000 Buraq itu, Jibril melihat seekor Buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibril menghampiri Buraq itu lalu bertanya: "Mengapa engkau menangis ya Buraq?"
Buraq itu berkata: "Ya Jibril , sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun. Maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku sesudah itu menjadi rindu kepadanya dan aku tidak mau makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan".
Jibril berkata: "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu". Kemudian Jibril memakaikan pelana dan kekang kepada Buraq itu dan membawanya kepada Nabi Muhammad SAW . Buraq yang diceritakan inilah yang membawa Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra' dan Mikraj . Masya Allah Tabarakallah.
Kisah Buraq Menangis karena Merindukan Rasulullah SAW
Ada satu kisah Buraq menangis karena kerinduan ingin bertemu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kisah Buraq ini diceritakan dalam Kitab Tanbihul Ghafilin... | Halaman Lengkap [471] url asal
#buraq #isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/01/26 18:20
v/99351/
Ada satu kisah Buraqmenangis karena kerinduan ingin bertemu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kisah Buraq ini diceritakan dalam Kitab Tanbihul Ghafilin karya Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H).Dikisahkan pada malam 27 Rajab, Malaikat Jibril 'alaihissalam dan Izrail mendapat perintah dari Allah 'azza wa jalla agar bertasbih dan tidak mencabut nyawa pada malam tersebut.
Jibril bertanya: "Ya Allah, apakah Hari Kiamat telah tiba?"
Allah Ta'ala berfirman: "Tidak, wahai Jibril. Tetapi pergilah engkau ke Surga dan ambillah Buraq dan kemudian temui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersama Buraq itu".
Kemudian Jibril pergi dan dia melihat 40.000 Buraq sedang bersenang-senang di taman Surga dan di wajah masing-masing Buraq terdapat nama Muhammad.
Di antara 40.000 Buraq itu, Jibril melihat seekor Buraq yang sedang menangis bercucuran air matanya. Jibril menghampiri Buraq itu lalu bertanya: "Mengapa engkau menangis wahai Buraq?"
Buraq itu berkata: "Ya Jibril, sesungguhnya aku telah mendengar nama Muhammad sejak 40 tahun. Maka pemilik nama itu telah tertanam dalam hatiku dan aku menjadi rindu kepadanya sehingga tidak mau makan dan minum lagi. Aku laksana dibakar oleh api kerinduan".
Jibril berkata: "Aku akan menyampaikan engkau kepada orang yang engkau rindukan itu". Kemudian Jibril memakaikan pelana dan kekang kepada Buraq itu dan membawanya kepada Bagina Nabi.
Dalam riwayat lain disebutkan, ketika Jibril melihat seluruh Buraq, ia mendapati satu Buraq duduk menyendiri menjauh dari yang lain. Buraq itu menangis dan tangisannya terbentuk sungai mutiara yang indah yang mengalir deras dari matanya yang merupakan tangisan cinta dan kerinduan.
Jibril mendekati Buraq itu dan berkata: "Semua Buraq lain bersholawat memuji Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan gembira, tetapi mengapa kau di sini sendirian menangis, apa yang membuat kau menangis?
Buraq itu berkata: "Ketika Allah menciptakan Buraq dan memberi tahu kami bahwa salah satu dari kami akan membawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka semenjak hari itu aku menangis tak pernah berhenti."
Aku pun berdoa kepada Allah: "Ya Rabb, hatiku terbakar karena cintaku kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku memohon kepada-Mu untuk menjadi Buraq yang membawa Nabi Muhammad ke Surga-Mu."
Jibril berkata: "Kalau begitu kaulah yang aku pilih untuk membawa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam."
Syekh Muhyidin ibn Arabi mengatakan: "Pada saat itu pula air mata Buraq itu berhenti menangis karena rasa bahagia bahwa ia akan membawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."
Dari puluhan ribu Buraq, Allah memilih Buraq tersebut menjadi Buraq yang mulia karena membawa Rasulullah dalam perjalanan Isra' dan Mikraj pada malam 27 Rajab.
Ketika melakukan perjalanan Isra' Mikraj, Rasulullah didampingi Malaikat Jibril yang berada di sebelah kanannya, sedangkan Mikail di sebelah kirinya. Ibnu Sa'ad berkata bahwa yang memegang pelananya adalah Jibril, dan yang memegang tali kekangnya adalah Mikail.
Buraq tersebut menemani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menembus tujuh lapis langit dan berakhir di Sidratul Muntaha hingga bertemu Allah 'Azza wa Jalla.
Inilah Hadis yang Menjelaskan Perjalanan Isra Mikraj dengan Buraq
Hadis yang membahas Isra Mikraj disampaikan Ibnu Katsir saat menafsirkan Al-Quran surat al-Isra ayat 1. Hadis tersebut antara lain yang diriwayatkan Imam Ahmad... | Halaman Lengkap [1,094] url asal
#hadis-nabi #buraq #isra-mikraj #kecepatan-buraq #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/01/26 15:48
v/99264/
Hadis yang membahas Isra Mikrajdisampaikan Ibnu Katsir saat menafsirkan Al-Quran Surat Al-Isra ayat 1. Hadis tersebut antara lain yang diriwayatkan Imam Ahmad dari dari Anas ibnu Malik. Dalam hadis ini dikisahkan peristiwa Isra Mikraj secara lengkap.Begini arti bunyi hadis tersebut:
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda seperti berikut:
Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan yang berwarna putih; tubuhnya lebih tinggi dari keledai, tetapi lebih rendah dari begal. Ia meletakkan kedua kaki depannya di ufuk batas jangkauan penglihatannya. Aku menaikinya dan Jibril membawaku berjalan hingga sampailah aku di Baitul Muqaddas.
Lalu aku menambatkan hewan itu di lingkaran tempat para nabi biasa menambatkan hewan tunggangannya. Aku memasuki masjid dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya, sesudah itu aku keluar.
Jibril menyuguhkan kepadaku sebuah wadah berisikan khamr dan sebuah wadah lagi berisikan susu. Maka aku memilih wadah yang berisikan air susu, dan Jibril berkata, "Engkau memperoleh fitrah."
Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang terdekat, lalu Jibril mengetuk pintunya, dan dikatakan kepadanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Jibril." Dikatakan lagi, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukakanlah bagi kami (pintu langit terdekat), tiba-tiba aku bersua dengan Adam, dan Adam menyambut kedatanganku serta berdoa kebaikan untukku.
Setelah itu Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, ia mengetuk pintunya. Maka dikatakan kepadanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan kepadanya, "Siapakah yang bersamamu itu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukalah pintu langit yang kedua bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan dua orang nabi anak bibiku yaitu Yahya dan Isa, maka keduanya menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.
Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, lalu Jibril mengetuknya maka dikatakan kepadanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan kepadanya, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukalah pintu langit yang ketiga untuk kami, tiba-tiba saya bersua dengan Yusuf as, dan ternyata dia telah dianugerahi separo dari ketampanan. Yusuf as menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.
Jibril membawaku lagi naik ke langit yang keempat, dan ia mengetuk pintunya. Maka dikatakan, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan lagi, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukakanlah pintu langit yang keempat bagi kami. Tiba-tiba saya bersua dengan Nabi Idris. Lalu Nabi Idris menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku. Kemudian Allah SWT berfirman: Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam: 57)
Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kelima. Jibril mengetuk pintunya, lalu dikatakan, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Dan siapakah orang yang bersamamu itu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan Harun as. Harun menyambut kedatanganku, lalu mendoakan kebaikan buatku.
Jibril membawaku naik ke langit yang keenam. Ia mengetuk pintunya, lalu dikatakan kepadanya, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Dan siapakah orang yang bersamamu itu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan pula, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami, tiba-tiba saya bersua dengan Musa as. Lalu Musa menyambut kedatanganku dan mendoakan kebaikan buatku.
Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, dan Jibril mengetuk pintunya, maka dikatakan, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menmenjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya."
Maka dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Tiba-tiba saya bersua dengan Nabi Ibrahim as yang ternyata sedang bersandar di Baitul Ma'mur. Dan tiba-tiba saya melihat Baitul Ma'mur dimasuki setiap harinya oleh tujuh puluh ribu malaikat, lalu mereka tidak kembali lagi kepadanya.
Selanjutnya Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, tiba-tiba saya jumpai Sidratul Muntaha itu daun-daunnya seperti daun telinga gajah besarnya, dan buah-buahannya seperti gentong besarnya. Tatkala Sidratul Muntaha itu dipengaruhi oleh perintah Allah yang mencakup kesemuanya, maka berubahlah bentuknya.
Pada saat itu tiada seorang pun dari makhluk Allah SWT yang mampu menggambarkan keindahannya. Allah menurunkan wahyu-Nya kepadaku, dan Dia memfardukan atas diriku salat lima puluh kali setiap siang dan malam hari.
Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada. Musa bertanya, "Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas umatmu?" Saya menjawab, "Lima puluh salat setiap siang dan malam hari." Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu. Karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Sesungguhnya aku pernah mencoba Bani Israil dan menguji mereka."
Maka saya kembali kepada Tuhanku dan berkata, "Wahai Tuhanku, berikanlah keringanan buat umatku." Maka Dia meringankan lima salat buatku.
Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada, dan Musa bertanya, "Apakah yang telah engkau lakukan?" Saya menjawab, "Allah telah memberikan keringanan lima kali salat buatku." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukannya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan kepada-Nya buat umatmu."
Saya terus menerus bolak balik antara Musa dan Tuhanku, dan Tuhanku memberikan keringanan kepadaku lima kali sholat setiap saya menghadap. Akhirnya Allah berfirman, "Hai Muhammad, semuanya lima kali salat setiap siang dan malam hari. Setiap kali salat berpahala sepuluh kali lipat, maka semuanya genap menjadi lima puluh kali salat. Barang siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan, lalu dia tidak mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala satu kebaikan; dan jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan baginya pahala sepuluh kebaikan. Barangsiapa yang berniat akan mengerjakan suatu keburukan, lalu dia tidak mengerjakannya, maka amal keburukan itu tidak dicatat. Dan jika dia mengerjakannya, maka dicatatkan satu amal keburukan."
Maka saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada dan saya ceritakan kepadanya segala sesuatunya. Maka Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya."
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya saya telah bolak-balik kepada Tuhanku sehingga aku merasa malu (kepada-Nya)."
Menurut Ibnu Katsir, Imam Muslim meriwayatkannya dari Syaiban ibnu Farrukh, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz ini.
Benarkah Kecepatan Buraq Mencapai 4.320.000.000 km/jam? Begini Penjelasannya
Berapa sebenarnya kecepatan Buraq, tunggangan Nabi Muhammad SAW saat perjalanan Isra Mikraj? Begini penjelasan Prof Agus Purwanto, Guru Besar Teori Fisika di Institut... | Halaman Lengkap [641] url asal
#buraq #isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #kecepatan-buraq #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/01/26 11:50
v/99110/
Berapa sebenarnya kecepatan Buraq, tunggangan Nabi Muhammad SAW saat perjalanan Isra Mikraj? Begini penjelasan Prof Agus Purwanto, Guru Besar Teori Fisika di Institut Teknologi Sepuluh November.Menurut Prof Agus Purwanto, peristiwa Isra Mikrajtidak bisa dijelaskan dengan Teori Relativitas Khusus yaitu dengan teori Kecepatan Cahaya, karena jika memakai teori tersebut, Rasulullah SAW belum keluar dari sistem tata surya.
"Sehingga, untuk menjelaskan peristiwa tersebut bisa mengunakan Teori Relativitas Umum. Berarti mengisyaratkan adanya ruang dengan dimensi tinggi, immaterial atau gaib di sekitar kita," ungkapnya dalam dalam sebuah Pengajian Online Memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Cahaya ini diketahui oleh ilmuan dan diidentifikasi bahwa kecepatan cahayaitu 300.000 km/detik. "Sehingga jika cahaya ini melingkar mengelilingi bumi, maka satu detik ini bisa mengelilingi bumi sekitar 6 sampai 7 kali,” jelasnya.
Ia meneruskan, Isra sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan Mikraj yang artinya bergerak ke langit ke tujuh (sidratul muntaha).
Jika disimplikasi, maka isra adalah perjalanan horizontal dan mikraj adalah perjalanan vertikal. “Kita asumsikan kejadian mulai bakda sholat isya atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang subuh. Jadi membutuhkan waktu 8 jam, karena perjalannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu yang sama 4 jam,” urai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini seperti dilansir laman resmi Muhammadiyah.
Agus menjelaskan, karena perjalanan dilakukan bersama Buraq, maka dapat diasumsikan bahwa Rasulullah dalam peristiwa itu bergerak dengan kecepatan tertinggi di alamnya, yaitu kecepatan cahaya. Maka dalam satu jam Rasulullah bisa menempuh jarak sampai 4.320.000.000 km.
Sementara, terkait dengan tata surya, ilmuwan mengidentifikasi jarak antara Matahari dengan Bumi adalah 149.600.00 km. Sehingga waktu yang diperlukan cahaya dari Matahari ke Bumi itu hanya 8 menit.
Prof Agus menerangkan, jika demikian, cahaya yang dirasakan oleh manusia di bumi adalah bukan cahaya yang dipancarkan seketika oleh matahari, melainkan cahaya yang dipancarkan 8 menit sebelumnya. “Kemudian planet terluar, Neptunus itu diketahui jaraknya 4.335.000.000 km. Jadi ini masih lebih besar dari jarak yang ditempuh oleh cahaya selama 4 jam, artinya Baginda Rasulullah dalam waktu 4 jam belum sampai di Neptunus. Ternyata belum sampai keluar dari Tata Surya kita,” ungkapnya.
Jadi menghitung perjalanan Rasulullah dengan teori relativitas khusus tidak memadahi. Selain itu, jika suatu objek bergerak dengan kecepatan cahaya, maka massanya itu akan meledak. Dengan demikian penjelasan ini tidak memadahi, karena itu harus kita tinggalkan.
Prof Agus menyarankan untuk merujuk kepada QS Al Isra’ ayat 1.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
“Memperjalankan itu berarti memindah suatu objek dalam hal ini Rasulullah dari satu titik ke titik lain, dari satu dimensi ke dimensi yang lain, ini berarti dimensi ruang. Dan kemudian peristiwa ini terjadi pada malam hari, ini adalah masalah waktu. Ayat tersebut memberi isyarat bahwa, inilah kosmologi Islam, bahwa realitas itu terdiri dari ruang, waktu, materi, dan ruh,” terangnya.
Prof Agus menambahkan, dalam QS Az Zumar ayat 46, dapat diindikasikan bahwa langit ke-7 adalah gaib atau di luar jagad raya, artinya langit ke tujuh posisinya di luar ruang material. Jadi Mikraj yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah masuk ke dimensi yang lebih tinggi ke luar material atau langit ke tujuh untuk menerima perintah salat.
“Ini susah memang kalau mau mengambarkan alam di luar ruang material, tapi kita yakin dan menerima hadis-hadis sahih. Bahwa di sekitar majelis takliim kita ini kan ada banyak malaikat lalu lalang, tapi malaikat yang banyak ini berada di luar dimensi kita. Sehingga kita tidak pernah bertabrakan, karena malaikat berada di dimensi yang lebih tinggi dari pada kita. Jadi Rasulullah menghilang masuk ke langit ke tujuh,” urainya. “Jadi Mikraj itu menembus dimensi ruang menuju ke dimensi yang lebih tinggi, immaterial atau gaib” ujarnya.
Wallahu A'lam
Apa Sebenarnya Buraq? Inilah Gambarannya Menurut Hadis
Buraq merupakan tunggangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam saat melakukan perjalanan Isra Mikraj. Seperti apa sebenarnya buraq ini? Simak ulasannya berikut... | Halaman Lengkap [404] url asal
#buraq #isra-mikraj #peringatan-isra-mikraj #peristiwa-penting-bulan-rajab #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/01/26 09:41
v/99046/
Buraq merupakan tunggangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam saat melakukan perjalanan Isra Mikraj. Baginda Rasul menggambarkan Buraq seperti seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal. Menariknya, Buraq itu sempat enggan dinaiki Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam .Al Imam Ibnu Katsir dalam menafsiri Surat Al-Israayat 1 menjelaskan, perjalanan Nabi kala itu kecepatanya melebihi kecepatan cahaya.
Diriwayatkan Imam Ahmad , Rasulullah SAW pernah bersabda seperti berikut: Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan yang berwarna putih; tubuhnya lebih tinggi dari keledai, tetapi lebih rendah dari baghal. Ia meletakkan kedua kaki depannya di ufuk batas jangkauan penglihatannya.
Aku menaikinya dan Jibril membawaku berjalan hingga sampailah aku di Baitul Muqaddas. Lalu aku menambatkan hewan itu di lingkaran tempat para nabi biasa menambatkan hewan tunggangannya.
Aku memasuki masjid dan melakukan salat dua rakaat di dalamnya, sesudah itu aku keluar. Jibril menyuguhkan kepadaku sebuah wadah berisikan khamr dan sebuah wadah lagi berisikan susu. Maka aku memilih wadah yang berisikan air susu, dan Jibril berkata, "Engkau memperoleh fitrah."
Dalam sebuah hadis dari Musnad Ahmad diterangkan pada mulanya buraq menunjukkan keliarannya, ia terkesan enggan ditunggangi Rasulullah SAW.
Artinya: Dari Qatadah, dari Anas, sesungguhnya Nabi Muhammad didatangkan Buraq yang sudah dipersiapkan pelananya untuk ditunggangi namun Buraq sulit dikendalikan (liar), kemudian Jibril dengan sigap mengendalikannya seraya berkata kepada Buraq: Apa yang menyebabkan engkau bersikap demikian (liar)? Demi Allah, tidak ada orang paling mulia yang akan menunggangi engkau kecuali beliau (Nabi Muhammad). Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya (karena malu).
Memahami bahwa dirinya sebagai kendaraan pilihan yang bertugas mengantar manusia pilihan, yaitu Nabi Muhammad, maka berubahlah sikapnya menjadi jinak penuh ta’dzim kepada Rasulullah. Kemudian mereka (Rasulullah, Jibril dan Buraq) bertiga berangkat bersama menuju Baitul Maqdis. Sebagaimana diterangkan dalam hadis riwayat Hakim dalam kitab Mustadrak:
Artinya: Dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah SAW berkata: Aku telah disediakan buraq, akupun duduk di belakang jibril dan berangkatlah bersama. Setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.
Dari beberapa keterangan di atas dapat diambil poin sebagai berikut; Buraq adalah alat transportasi super cepat, memiliki bentuk seperti binatang tunggangan, ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal (peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai), warnanya putih.
Ciri berikutnya langkah kakinya sejauh ujung pandangan, bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan, tidak ada keterangan jelas terkait jenis kelaminnya apakah laki-laki atau perempuan, bersayap, dan seterusnya.
Kisah-kisah Isra Mikraj (5): Rasulullah SAW Diperjalankan dengan Buraq
Diyakini bahwa perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yang berlangsung di malam hari diperjalankan dengan Buraq. Lantas seperti apakah... | Halaman Lengkap [593] url asal
#buraq #peringatan-isra-mikraj #kisah-isra-miraj #kecepatan-buraq #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/01/26 05:15
v/98924/
Banyak kisah dari peristiwa Isra Mikraj, yang diyakini peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tersebut terjadi pada malam 27 Rajab. Diyakini bahwa perjalanan 'luar biasa' tersebut, Rasulullah SAW diperjalankan dengan Buraq. Lantas seperti apakah sebenarnya Buraqini?Isra Mikraj pun menjadi salah satu mukjizat agung Rasulullah SAWyang diabadikan dalam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman:
Artinya: "Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS Al-Isra ayat 1)
Perjalanan yang diceritakan dalam ayat di atas itu, menggambarkan bahwa kejadian Isra' itu mengambil waktu malam yang singkat dan juga untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra' itu memang benar-benar terjadi di malam hari.
Allah meng-isra'-kan hamba-Nya di malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Alasan Nabi Muhammad diperjalankan pada malam hari, untuk memperlihatkan kepada Nabi tanda-tanda kebesaran Allah. Tanda-tanda itu disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam perjalanannya dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa.
Diperjalankan dengan Buraq
Buraq (البراق) adalah hewan tunggangan para Anbiya. Dalam sebuah riwayat disebut bahwa Buraq adalah hewan yang sangat yang indah berpelana dan bertali kekang. Buraq berwarna putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih kecil dari baghal (hasil perkawinan antara kuda dan keledai). Langkahnya sejauh mata memandang, memiliki dua telinga yang panjang.Apabila mendaki gunung maka terangkat lebih tinggi kaki belakangnya, dan jika dia turun maka terangkat lebih tinggi kaki depannya. Buraq memiliki dua sayap di bagian pinggulnya yang membantu kakinya agar lebih cepat.
Dikisahkan, pada saat Rasulullah SAW ingin menaikinya, Buraq sempat berontak. Lalu Jibril meletakkan tangan ke Buraq sembari berkata: "Tidakkah kau malu wahai Buraq! Demi Allah tidak ada yang menaikimu seorang makhluk yang lebih mulia darinya." Maka Buraq pun tenang dan merasa malu sehingga keringatnya membasahi tubuhnya, lantas Rasulullah pun menaikinya. Buraq adalah kendaraan para Anbiya sebelum Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Buraq memiliki kecepatan tinggi atau secepat kilat ketika bergerak.
Artinya: "Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa didatangkan kepada Nabi Muhammad SAW hewan Buraq di malam melakukan Isra. Buraq itu telah diberi pelana dan tali kendali untuk dinaiki Nabi, tetapi Buraq sulit untuk dinaiki. Maka Jibril berkata kepadanya, "Apakah yang mendorongmu bersikap demikian? Demi Allah, tiada seorang pun yang menaikimu lebih dimuliakan oleh Allah dari pada orang ini." Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya.
Mengenai wujudnya, Rasulullah SAW bersabda dalam satu Hadis dari Anas bin Malik.
Artinya: "Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu seekor hewan yang berwarna putih; tubuhnya lebih tinggi dari keledai, tetapi lebih rendah dari begal. Ia meletakkan kedua kaki depannya di ufuk batas jangkauan penglihatannya. Aku menaikinya dan Jibril membawaku berjalan hingga sampailah aku di Baitul Muqaddas. Lalu aku menambatkan hewan itu di lingkaran tempat para nabi biasa menambatkan hewan tunggangannya. Aku memasuki masjid dan melakukan shalat dua rakaat di dalamnya, sesudah itu aku keluar."
Dahulu hewan Buraq ini merupakan tunggangan para Nabi sebelum Rasulullah SAW. Keistimewaan hewan ini yakni sekali melangkah dapat menempuh jarak jauh sejauh matanya memandang. Kecepatannya sangat dahsyat secepat cahaya.
Hal ini diungkapkan oleh Prof Agus Purwanto, guru besar teori fisika di Institut Teknologi Sepuluh November. Cahayanya diketahui oleh ilmuwan dan diidentifikasi bahwa kecepatan cahaya yang dimiliki buraq sama 300.000 km/detik.
"Sehingga jika cahaya ini melingkar mengelilingi bumi, maka satu detik ini bisa mengelilingi bumi sekitar 6 sampai 7 kali,” ungkap Guru Besar Teori Fisika ITS ini dalam kajian Online Memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Kisah-kisah Isra Mikraj (2) : Rasulullah SAW Melihat Wujud Asli Malaikat Jibril
Kisah-kisah yang terjadi dalam perjalanan Isra Mikraj salah satunya adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam diperlihatkan atau melihat wujud asli Malaikat... | Halaman Lengkap [471] url asal
#malaikat-jibril #isra-mikraj #kisah-isra-miraj #dunia-malaikat #peristiwa-isra-miraj
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 07/01/26 05:15
v/95656/
Kisah-kisah yang terjadi dalam perjalanan Isra Mikrajsalah satunya adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam diperlihatkan atau melihat wujud asli Malaikat Jibril. Berikut penjelasannya.Ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam naik ke langit hingga ke Sidratul Muntaha, Baginda Rasul melihat wujud asli malaikat Jibril. Kisah Isra Mikrajini diceritakan dalam Surat An-Najm ayat 13-18. Bahkan, para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat inilah yang menyebutkan dengan tegas peristiwa mikraj Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman:
Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. ( QS An-Najm : 13-18)
Ibnu Katsir mengutip Imam Ahmad dari Ibnu Mas'ud ra sehubungan dengan makna ayat ini: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat malaikat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.
Bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Aku melihat Jibril (dalam rupa aslinya), ia memiliki enam ratus sayap, dari bulu-bulu sayapnya bertebaran beraneka warna mutiara dan yaqut.
Ibnu Katsir mengatakan sanad hadis ini jayyid (baik) lagi kuat.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: "Jibril datang kepadaku dengan mengenakan pakaian yang bertaburan penuh dengan mutiara."
Selanjutnya Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari dari Masruq yang mengatakan bahwa ketika ia ada di hadapan Aisyah, ia bertanya bahwa bukankah Allah SWT telah berfirman: Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. (QS At-Takwir : 23) Dan firman Allah SWT: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (QS An-Najm: 13)
Tatkala Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah ra ditanya soal itu, kata Ibnu Katsir, beliau menjawab bahwa dialah orang pertama dari umat ini yang menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW.
Lalu beliau SAW menjawab: "Sesungguhnya dia itu hanyalah Jibril." Nabi SAW tidak melihat Jibril dalam rupanya yang asli kecuali hanya sebanyak dua kali. Nabi SAW melihat Jibril as turun dari langit ke bumi, sedangkan cakrawala yang ada antara langit dan bumi tertutup oleh kebesaran tubuhnya.
Sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa aslinya) pada waktu yang lain. (An-Najm: 13), Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Nabi SAW telah melihat Jibril as.
Mujahid juga mengatakan Rasulullah SAW telah melihat Jibril as dalam bentuknya yang asli sebanyak dua kali. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Ar-Rabi' ibnu Anas serta lain-lainnya.
Begitu pula menurut apa yang telah diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab sahih masing-masing melalui hadis Asy-Sya'bi dengan sanad yang sama.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56